Bajuku adalah Bajuku
MURTAD, PENCERAHAN INTERNAL, DAN GESEKAN ATAS NAMA AGAMA.
Kaget dan prihatin saya membaca tulisan Epat — bukan terhadap si Epat melainkan pihak-pihak yang dia bahas. Lantas saya meluncur ke lokasi. Hmmm. Oh. Ya ampun. Masih saja ada soal beginian atas nama kebebasan berpendapat. Bisa mendidihkan hati bagi yang tak terima — yang ini atas nama pembelaan.
Sebelum saya berlanjut, baiklah saya akui judul analogis di atas itu kurang tepat. Agama bukanlah baju karena baju bisa gonta-ganti sesuai kepentingan dan acara, bahkan baju bisa dicopot sesuai keperluan. Lebih sial lagi, baju bisa terkenakan karena dipakaikan oleh orang lain. Juga, baju bisa diubah warnanya — misalnya melalui Photoshop.
Bagi saya agama adalah pilihan yang sangat pribadi. Termasuk dalam pribadi ini adalah karena tradisi, lingkungan, keterlanjuran, atau bahkan justru kegelisahan dalam mencerna dan memaknai tapi di sisi lain masih merasa cocok. Tidak soal. Namanya juga pilihan pribadi, kan?
Juga tidak soal jika seseorang kemudian berganti agama. Alasannya umumnya adalah kecocokan dengan yang baru. Misalkan di kemudian hari kecocokan itu luntur dan berbalik menjadi ketidakcocokan, lalu kembali ke agama sebelumnya, itu juga tak soal — tapi tentu alasannya tak sesimpel ganti baju.
Sudah biasa jika oleh kelompok yang ditinggalkan orang yang pindah jalur atau terkonversikan itu dianggap murtad. Itu risiko — sepanjang cuma mendapatkan cap murtad.
Ketika sebagian persoalan masih dalam wilayah pribadi tampaknya gesekan tak terlalu panas. Tapi ketika urusannya menjadi tautan antarkomunal, bahkan yang lebih luas dari itu, maka gesekan bisa timbul.
Salah satu pemicu gesekan adalah “pemaparan kekurangan agama lama”. Kesan saya berganti agama akan menjadi paket komplet jika disertai paparan ke sana-sini.
Repotnya ada saja sebagian pihak dari kalangan agama baru si pemeluk baru yang menjadikan dia sebagai penghibur yang harus ditanggap terus. Seolah dengan mendengarkan “kekurangan agama lain” maka iman penanggap akan dipertebal, sehingga akan merasa lebih terkukuhkan, “Berarti jalan kita selama ini benar.” Seolah belum sah jika menyebut diri benar tanpa menyebut pihak lain salah.
Ketika seseorang cocok dengan agamanya, termasuk dalam kasus agama barunya, bahkan menganggap jalan inilah yang paling benar dan paling terang, maka bagi saya urusannya selesai.
Tapi ketika proses inisiasi tanpa henti itu juga disertai paket komplet (atas nama) pemaparan kekurangan agama lain maka penghinaan, penistaan, dan penyebaran kebencian — atau apapunlah yang intinya mencari perkara — menjadi sangat dekat. Biasanya muncul reaksi panas.
Ini bisa terjadi pada pemeluk agama apa pun. Maka ada saja “paparan mantan suster” dan “kesaksian bekas mubalig” — kadang disertai buku dan video. Pencerahan dari “orang baru” atau “orang lama yang telah kembali” bukan lagi hiburan rohani yang menenteramkan tetapi menjadi pemicu kegelisahan dan kegerahan pihak lain.
Tak cukupkah orang hanya berkata inilah yang cocok bagi saya dan sejauh ini paling benar, tanpa menuding pihak lain sebagai pelaku dan pemelihara jalan salah yang harus dikoreksi?
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Membatasi Lagu Asing
September 4, 2008 by AntyoMALAYSIA HENDAK MENGEREM MUSIK INDONESIA?
Terkabarkan sebagian pegawai industri rekaman Malaysia ingin perbandingan 90:10 untuk pengudaraan lagu lokal dan asing. Termasuk dalam asing adalah (terutama) Indonesia. Alasannya, popularitas lagu dari luar Malaysia akan mengganggu penjualan rekaman artis setempat. Amy Search, menurut Antara, mengatakan bahwa jam 10 malam ke atas Malaysia [...]
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Alhamdulillah…
Coba baca di
http://faithfreedom.myforumportal.com/forum/index.php
atau di
http://gereja.phpbb24.com/forum/index.php
dan
http://masjid.phpbb24.com/forum/index.php
salam.
Alhamdulillah… blog Forum Murtadin Indonesia sudah diblokir blogger.com :)
Sebagai tindaklanjutnya ada gerakan “Flag for Hateful Blog on Blogger.com“.
Jangan sampai ketinggalan! ;)
Bajuku ya … Bajuku,
Bajumu ya … Bajumu,
Gak usah dicampur bawur
OH iya… HAPPY BIRTHDAY Pak PRESIDEN!!!
ck.. ck.. saya jadi ikutan lihat blognya juga. tapi oke lho! orangnya niat banget nge-blognya. bahannya banyak. pasti authornya juga solid plus hardworker semua. kapan ya “gank-ku” ready to bloging the world. kalau perlu kasih judul “PEMBELA SEMUA YANG KAMU BENCI APAPUN ITU” lumayankan, ngangkat trafic. trus masang iklan. ooh.. so sweet…
he.. he.. ampun paman!!!
iya paman…
bajuku adalah bajuku
masih gatel aja liat baju orang
atau liat orang nggak pake baju
jualan baju emang selalu laku kalau mau lebaran…
The sixth, and last of the Six Basic Fears is the most dreaded of them all. It is called:
THE FEAR OF DEATH! For tens of thousands of years man has been asking the still unanswered questions – “WHENCE?” and “WHITHER?” The more crafty of the race have not been slow to offer the answer to this eternal question, “Where did I come from and where am I going after Death?” “Come into my tent,” says one leader, “and you may go to Heaven after Death.” Heaven was then pictured as a wonderful city whose streets were lined with gold and studded with precious stones. “Remain out of my tent and you may go straight to hell.” Hell was then pictured as a blazing furnace where the poor victim might have the misery of burning forever in brimstone.
No wonder mankind FEARS DEATH!
Untuk 28, mbok pikir dulu sebelum kasih komentar. Agama atau atheis memang soal pilihan pribadi, tidak ada yang akan mengganggu gugat. Anda pun mestinya menghargai pilihan orang2 yang memilih agama sebagaimana juga menghargai pilihan orang2 atheis. Jadi tidak perlu memberi cap ‘memalukan’ kepada orang yang mengungkapkan pembelaan kepada agamanya atau agama saudaranya ketika agama itu dihina atau dilecehkan orang.
Sekadar Anda tahu, bagi orang beragama, Sang Nabi itu lebih dimuliakan daripada diri sendiri atau orang tua. Jadi kalau ada orang menghina nabi dan agamanya-nya,wajar sekali jika pemeluk agama itu marah. Jauh lebih marah daripada Anda ketika diri Anda atau orang tua Anda dihina atau dilecehkan orang di depan hidung Anda. Atau Anda tidak merasa marah kalau Anda atau orang tua Anda dihina dan dilecehkan di depan hidung Anda? Silakan aja, itu hak dan pilihan pribadi Anda. Tetapi jangan pakai ukuran pribadi Anda untuk menilai orang lain.
cari sensasi mungkin paman..
atau cari uang
atau cari popularitas…
pokoke serba mencari d
Saya sudah mengunjungi blognya…
Wow..
Menjadi beragama yang bermacam-macam atau tidak beragama kan urusan pribadi. Tapi kalo sudah memilih ya jadi pemeluk yang baik, yang beretika, yang taat toh…
Kita ngga tau nantinya masuk surga/neraka, tapi paling ngga kita beri diri sendiri dan sesama manusia surga. Baik, damai.
segala sesuatu harus disikapi dengan penuh kebijakan dan kebajikan
halah.. hari gini masih ngeributin agama kayanya memalukan. di negara yg mayoritas penduduknya atheis justru saya menemukan manusia2 yg jauh lebih punya hati nurani daripada di tanah air tercinta (yg konon katanya) masyarakatnya beragama dengan taat. trus agama gunanya apa coba?
[quote]
Ya ampun. Masih saja ada soal beginian
[/quote]
Boss, selama kiamat belon dateng ya kebenaran vs kejahatan tetep ada donk :)
Tentang mana yg benar & mana yg salah, no comment :)
Man, saya tidak bermaksud menggebyah-uyah orang yang ganti baju, pindah agama, itu semua ‘pedagang agama’ (22). Saya percaya, ada cukup banyak orang yang ganti baju memang karena dia menemukan kebenaran, keindahan, kesamaan frekuensi dalam baju barunya. Istilah klasiknya, mereka mendapat hidayah.
Untuk mereka, saya justru salut. Dan saya percaya mereka yang mendapat hidayah itu tidak akan menjelek2an agama lama mereka. Mereka, mungkin, memuji2 baju baru mereka, dan itu wajar, tetapi tidak akan menjelek2an baju lama. Mengapa? Tidak ada satupun agama yang mengajarkan umatnya untuk menjelek2an, menghina, melecehkan nabi dan agama lain. TIDAK ADA! Semua agama melarang menjelek2an, melecehkan, menghina nabi, umat dan agama lain, kecuali satu: agama IBLIS.
Sori, Man, kalau saya buka wacana ini sampai ke iblis segala. Tetapi, saya kira, semua manusia mesti waspada terhadap makhluk yang satu ini. Iblis begitu dendam pada manusia, sehingga ia minta waktu pada Tuhan hanya untuk menggoda manusia agar menyimpang dari Jalan-NYA. Jadi kalau ada orang masuk agama baru seraya menjelek2an, melecehkan, menghina nabi dan agama lamanya, sambil berupaya mengajak (menggoda) orang lain melakukan hal yang sama, waspadalah Man, sungguh dia adalah penjelmaan atau personifikasi iblis di dunia.