KEPANTASAN MENURUT ZAMAN.

“Sampeyan kayak pastor atau bruder,” ledek seseorang terhadap temannya yang suka pakai jins dengan baju batik — tapi tanpa sepatu sandal. Itu terjadi sudah lama, ketika batik belum mendemam lagi seperti belakangan ini. Entahlah, apakah Lebaran nanti lebih banyak batik daripada tahun lalu.
Ada lagi seorang pemakai baju batik — lengan pendek, bertema tropis — yang sering diledek sebagai turis. Berpantalon maupun bercelana pendek (termasuk ketika ngantor), dia sering berbaju batik santai.
Itu pun dengan catatan: dia tak punya kemeja batik lengan panjang yang bermotif “layak pesta”. Kalau pun bermotif klasik, itu pun dari jenis yang lusuh, bekas jarik. Lagi-lagi itu terjadi ketika mata kita belum dihajar oleh batik, terutama batik yang dipakai para wanita di segala kesempatan dan cuaca seperti sekarang ini.
Alhasil pemakai lama batik itu sekarang malah tak berbatik. Bukan karena bosan mendapat cap pria “simpatik” (simpanse pakai batik), tapi justru karena tak ingin dianggap korban mode. Suatu kali tanpa rencana, salah satu dari pria sial itu bersama istrinya sama-sama berbatik. Ledekan yang dia terima seperti yang pernah dia lontarkan ke banyak orang: “Hahaha, sarimbit look ya?”
Sebetulnya kunci berbusana adalah nyaman dan percaya diri. Peduli amat dengan kelumrahan. Sepanjang tak merugikan orang lain apa salahnya kan?
Jadi jika selama delapan tahun ini masih ada pria yang gemar ngantor pakai jaket hitam, suatu hal yang tampak generik pada jam bubaran kantor, ya biar saja.
Juga biar saja dengan seorang pria yang langsung membuang jaket-jaket hitamnya pada setahun pertama tren hitam karena dia merasa tak nyaman dikembari sejuta umat.
Nah, omong-omong soal mode, masyarakat kita punya kesewenang-wenangan. Kalau Anda bukan siapa-siapa, dan berani mendahului tren, maka Anda akan dianggap nyeleneh, bahkan bukan tidak mungkin dicap berselera buruk, ketinggalan zaman, tidak fashionable. Tapi jika Anda adalah “siapa”, maka Anda dicap “berani” bahkan “konsisten”.
Masih soal berbeda, karena sengaja maupun tanpa sengaja, memang bisa mengundang tanggapan berlainan, bergantung pada waktu. Memakai kaos dengan desain gaya 70-an pada tahun 1998 akan dianggap jadul, seakan menghentikan jarum jam. Tetapi lima tahun kemudian kaos yang sama akan dianggap keren.
Tentang gaya busana, tentu banyak domainnya. Di kalangan birokrat, sejak tahun 70-an ada pemaksaan baju safari. Pemakainya belum tentu bahagia apalagi nyaman. Di Fisipol UGM dulu ada dosen namanya Herqutanto Sosronegoro, bekas diplomat. Selera humornya kadang bagus. Suatu kali dia masuk ke kelas dengans setelan safari. Dia permisi, “Maaf, saya pakai baju berburu.” Hanya sedikit mahasiswa yang tertawa. Malah ada yang menanya temannya “Maksudnya apa to?”
Safari yang dekat golkarisme itu memang sudah mengalami modifikasi. Bukan lagi setelan khaki, dengan epolet pada baju, melainkan jas berlengan pendek. Safari gaya Afrika kadang malah dengan celana pendek.
Saat safari dan golkarisme menguat, kalangan partikelir pun tertular. Pada awal 90-an tak sedikit eksekutif yang seragamnya mirip safari. Bermula dari sektor konstruksi kemudian menyebar. Baju dan pantalon berbahan sama. Mana orang kantor swasta dan mana pegawai kecamatan tidak beda penampilannya — tapi beda bahan, beda kualitas jahitan, dan beda kendaraan.
Sekarang setelan (mirip) safari halus, terutama yang berbahan gelap, lebih banyak dipakai oleh satpam, pengawal, dan sopir. Cobalah menyewa mobil bagus, dan kenakanlah pakaian macam itu, maka petugas valet akan menganggap Anda sombong sekaligus aneh. Sopir kok ogah markir sendiri.

Tentang celana pendek tadi? Cobalah amati foto-foto perjuangan tahun 40-50-an. Banyak pria berkemeja tapi bercelana khaki pendek dan mereka tak dianggap kurang sopan. Mau contoh? Lihat foto pengibaran Sang Merah Putih saat proklamasi. Juga foto Tan Malaka di Lapangan Ikada (19 September 1945) di samping Bung Karno.
©: Ilustrasi novica.com / national geographic




pramudyaputrautama | 11 09 2008 @ 10:53:52
btw orang-orang bule yang kerja di gedung tempt saya bekerja aja bangga pake BATIK … masa orang INDONESIA sendiri GENGSI dan MALU
…Mari kita cintai produk dan budaya dalam negeri, jangan sampai diaku-aku ama negara-negara tetangga kita :)
pramudyaputrautama | 11 09 2008 @ 10:51:26
Batik itu budaya Indonesia,
Kalo bukan bangsa Indonesia yang pake Batik, siapa lagi ?
Jadi ngapain ngerasa gengsi, isin kalo pake batik ?
Saya sendiri sering disindir kalo pake batik, ata temen yang bilang “Pak Lurah”, “Mo kondangan” …tapi saya cuek aja, yang penting saya merasa nyaman.
Ayo kita pake Batik baik suasana resmi atau santai … yang penting kan pantes gak ngisin-ngisini.
JURKAM KAMPANYE BATIKISASI
Btw ada yang tahu gak, dimana beli baju batik yang motifnya Wayang/Arjuna Sembadra/Garuda Pancasila / Peta Indonesia dibagian belakangnya ?
Syafrudin Abi-Dawira | 04 09 2008 @ 12:29:24
Tentang PeDe. Istri saya bilang kalau saya terlalu PeDe. Jadi, ya biasa saja sih berbusana tidak lumrah.
Tentang Batik, sejak dulu saya penggemar batik. Tapi karena tidak suka yang lumrah, biasanya saya membuat sendiri, kadang kombinasi antara baju koko dan batik, kombinasi antara beskap dan batik, rompi batik, dst.
Tentang Celana Pendek, berhubung menurut agama saya di atas lutut itu aurat, saya lebih berani pakai kaos dalam tanpa baju daripada pakai celana pendek.
Koen | 04 09 2008 @ 12:25:11
Kisah Seboeah Tjelana Pendek
thea | 04 09 2008 @ 3:42:30
setuju, kunci utama berpakaian itu adalaha rasanya nyaman dan pede, selain fungsi utamanya yaitu menutupi tubuh. jadi peduli banget apa kata orang .
btw, saya cuma dengar nama pak herqutanto, tapi ga sempet diajar beliau:)
oscar | 03 09 2008 @ 22:17:55
masih pake jaket item pas ngantor sama kayak kyai slamet. masa naik motor ndak jaketan, msuk angin je. kantor saya hanya mentolerir pemakaian baju kasual seperti jeans dan sepatu kets. celana pendek tidak.
Robert Manurung | 03 09 2008 @ 18:32:43
pantas atau tidak itu soal kesepakatan dan kekuasaan.
seperti kampanye media massa bahwa ryan si pembunuh sadis itu sudah tobat, pantas nggak, wong menjalani hukuman saja belum ?
sekalian nitip link artikel tentang anak korban mutilasi heri santoso :
http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/09/03/mirahel-belum-tahu-bapaknya-dibunuh-oleh-ryan/
hanny | 03 09 2008 @ 17:20:31
saya lebih suka daster batik hehehe atau pakai rok terusan batik kalo pas liburan :D ademmm
qq | 03 09 2008 @ 16:14:07
Demam batik emang udh merebak kemana2 ya?
Epat | 03 09 2008 @ 15:47:23
tentang celana pendek.
Kenapa jaman sekarang wanita pake celana pendek nan sangat itu terlihat pantas ditempat umum, sedangkan laki-laki tidak?
Kyai slamet | 03 09 2008 @ 15:38:03
Paman! Saya masih pakai jaket hitam buat ngantor :D
Btw paman masih setia dengan kathok-nya. Gak takut kejadian kayak postingan yang lalu?
Takziah kok kathok-an, dasar paman gemblung!
Yoyo | 03 09 2008 @ 15:36:38
Tan Malaka ? Paman mengidolakan beliau juga kah ?
beyes Kemlinthi | 03 09 2008 @ 15:09:29
Ya…batik sekarang memang bikin neg. Bahkan ITC sekarang kayak ke Pasar klewer.
iway | 03 09 2008 @ 13:45:51
pengen sih kemana-mana pake celana pendek, cuman ga pede sama kaki, bulunya jarang, blum siap dibilang kaki meja :D
Desyana Susanti | 03 09 2008 @ 13:43:24
akulah pencinta batik, sejak hari jumat dinobatkan sebagai hari batik di kantor..hehehe..
baju batik, terusan batik, rok batik, sendal batik, tas batik…..ada batik dimana-mana…
Bangdod | 03 09 2008 @ 13:39:37
di rumah, saya selalu ber celana pendek (istilahnya orang sunda sontog). Di Jakarta yang panas begini ber celana panjang? “hareudang euy”. Nge batik? waduh koleksi batik saya di rumah cuma satu ya paman? Padahal saya pernah punya ide buat Pemerintah dan Pemilik Perusahaan kalo nge batik itu tidak harus hari Jumat, tapi hari kerja yang laen juga diperbolehkan nge-batik. Berhubung batik saya cuma satu, apa boleh buat, gak jadi deh ide itu tersalurkan. Ini komen saya yang pertama di blog ini paman. salam kenal paman
lexi | 03 09 2008 @ 13:23:40
baru ingat, paman sejak kuliah (mungkin sebelumnya) ngefans berat sama Tan Malaka, maka sering pakai celana pendek itu ya…
adipati kademangan | 03 09 2008 @ 13:02:30
itu membuktikan bahwa sekarang batik itu laku keras
Sky | 03 09 2008 @ 12:59:53
tiap jumat saya pake batik
tiap kondangan juga pake batik
kemarin dikasih batik dari mertua, oh kerennya hehehe
:)
Ibunya Aria Gaung | 03 09 2008 @ 12:41:03
aku berhenti pake batik bukan krn takut dibilang korban mode… tp lbh krn mblenger di mana2 kok liat batik….
andre | 03 09 2008 @ 12:21:29
semoga batik terus menjadi trend di negeri ini termasuk kalangan mudanya. tapi semoga juga nasib para pembatiknya membaik. sedih juga kalo ngikuti rangkaian berita kompas beberapa waktu lalu (200 tahun jalan raya pos). coba simak artikel ‘Mensyukuri Remah Industri Batik’ (kompas 3 sepetember), hanya dapet remah-remah.
Donny Verdian | 03 09 2008 @ 11:45:03
Saya orang Jawa tapi nggak terlalu suka berkemeja batik. Saya lebih suka menggunakan jas atau blazer untuk kesempatan-kesempatan resmi. Bukan, bukan karena saya nggak nasionalis dan saya masih cukup primordialis Jawa, tapi karena kalau batik, kebanyakan licin bahannya yang jatuh ke tubuh itu bisa semakin membentuk (shape) perut gendut saya..:)
kw | 03 09 2008 @ 11:04:17
dari dulu sih suka batik. cuman ga pede aja. sekarang trend… malas juga di cap korban mode haha
parta | 03 09 2008 @ 10:57:42
Sekarang setelan (mirip) safari halus, terutama yang berbahan gelap, lebih banyak dipakai oleh satpam, pengawal, dan sopir. Cobalah menyewa mobil bagus, dan kenakanlah pakaian macam itu, maka petugas valet akan menganggap Anda sombong sekaligus aneh. Sopir kok ogah markir sendiri.
he,he,he,he bener juga yach…, makanya saya paling males kalo pakai baju safari ya nanti di kira seperti itu loh paman…
didut | 03 09 2008 @ 10:48:24
skrg sy malah kemana-mana pake celana pendek :P
Aris | 03 09 2008 @ 10:44:01
Kantor saya termasuk yg pertama menganjurkan pegawainya utk memakai batik (bebas bukan seragam) setiap hari Jumat. Sekalian utk mempromosikan penggunaan batik. Dan sekarang kayaknya diikuti oleh kantor2 lainnya.
Selanjutnya atas nama keseragaman (katanya bos-bos), seluruh pegawai di kantor saya pun dibuatkan 2 buah setelan (mirip) safari halus utk dipakai hari Senin dan Selasa. Sementara Rabu dan Kamis bebas.
Belum ada tuch yg berani pakai celana khaki pendek. Mungkin Paman berkenan mampir ke kantor saya dgn bercelana pendek?
mas kopdang | 03 09 2008 @ 10:41:56
Pake celana pendek ndak bagus dan malah ada yang melarang karena sudah terbit peraturan “Dilarang Membawa Senjata Tajam..”
Anang | 03 09 2008 @ 10:39:23
aku suka pake jas…. dan kacamata… hehehehehehe…!!!!!!!!!!
babah | 03 09 2008 @ 10:32:25
hetrix….u yess..u noo
babah | 03 09 2008 @ 10:31:51
premium…
babah | 03 09 2008 @ 10:31:33
pertamax…