Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Kuping Kuno, Kuping Modern

Rabu, 03 September 2008 @ 15:20 | Umum

PAKET MUSIK LAWAS VERSUS KEMASAN MP3.

“Hari gini beli CD player, tuner, amplifier, sama segala macemnya? Jadul banget itu orang. Nggak beda ama petani yang beli kompo segede badak,” kata seseorang tentang orang lainnya. Menurutnya, tuntutan hari ini adalah format MP3 dan sejenisnya, yang disetel di komputer dan pemutar musik digital yang dilengkapi radio. Itulah yang, menurutnya, “Modern, keren, praktis.”

Orang yang dianggap jadul hanya menahan tawa. Dia malas beradu pendapat, dengan alasan yang diucapkan kepada orang lainnya lagi, “Beda referensi, beda kuping, susah diajak diskusi. Biarin aja.” Sungguh santun.

Termasuk dalam beda referensi adalah si jadul masih memelihara piringan hitam, dan terus membeli piringan hitam (termasuk yang rilis ulang).

Si jadul, dan kaumnya, memisahkan alat dengaran dan alat tontonan (bioskop rumah). Lagi-lagi, bagi yang merasa modern, itu dianggap aneh, karena musik kok cuma stereo kanan dan kiri plus subwoofer bertenaga besar tapi lembut. Artinya, bagi si trendi, “Sama aja kagak canggih.”

Saya tidak mempunyai kewenangan untuk menengahi hal begituan karena saya memang awam soal hi-fi. Biarlah masing-masing kubu merasa canggih dan berselera. Dan itu adalah kemedekaan.

Tapi itu menjadi masalah ketika pengabdi MP3 merasa dihina oleh orang toko audio, “Suara kaleng kok didengerin. CD biasa, biar kata orisinal, juga isinya suara kaleng, Bos! Apalagi kalau audionya cemen…”

Si pengabdi musik berformat digital merasa terhina karena dia yakin yang didengarnya bukan suara kaleng. Lebih dari itu, ya tadi, dia malah yakin dirinya modern, punya kuping yang sehat, dan selera musik normal (tak sudi membeli rekaman musisi tak dikenal yang tak ada di TV dan radio). Bukankah label pun akhirnya menjual lagu secara ketengan dalam format digital? Bukankah semua micro hi-fi anyar sekarang sudah punya colokan USB?

Kalau bagi saya, ini soal hiburan. Kalau masing-masing pihak sudah puas dan bahagia dengan pilihan teknologinya ya ndak masalah to? Ngapain ribut? Lantas ngapain jadi blog? Saya meneruskan pertanyaan beberapa orang.

Nah kalau menurut Anda, mana yang lebih “modern, canggih dan melek teknologi”: orang yang masih pakai CD dan PH (berikut peranti pendukungnya) atau orang yang pakai iPod (atau yang mirip) lalu docking-nya dihubungkan ke sistem spiker tambahan?

© Ilustrasi: pemutar musik baju: entah • peranti: ap.com

Ada 29 komentar | trackback | Depan

#29

bAp | 03 11 2008 @ 10:13:38

iPod [sejenisnya] hanya bagus buat mobile tp kaloh kwalitas tetep HiFi yg full pro-surround, biar suaranya muter-2 ndak cuma kanan-kiri ;) sama dengan nntn pilem pake VCD/DVD [pirate edition pula] sama di bioskop..jelas beda mantepnya :)


#28

egghead | 10 09 2008 @ 11:08:23

iPod aja gak kebeli, apalagi ‘hifi gede-2′.

Tau lagu-2 ngetrend cuma dari pengamen di bis kota dan dari anak-2 SD yg nyanyi lagu cintah (radio saya udah lama terlego).

*balada seorang buruh*


#27

Haris | 09 09 2008 @ 18:46:48

Belum lagi kalo berurusan sama selera musik, Paman. Musik-musik populer jaman sekarang bisa jadi hanya tersedia dalam format yang populer juga, sementara koleksi audiophile lebih musik yang ‘bukan buat semua orang’ yang buat pendengar musik awam seperti saya ini “Opo seeehhh… udah mahal-mahal reff-nya gak catchy” :D
Lagian dari dulu masalah bagus itu enggak masalah rasa. Relatip tiap orang beda perasaan, dan kalo diperdebatkan beresiko menyinggung perasaan.. :D


#26

j4p | 09 09 2008 @ 11:24:28

Paman, foto paling bawah itu piranti PENGUKURAN bikinan Audio Precission, bukan amplifier atau player digital. Fungsinya buat mengukur / plotting respon frekuensi input / output dari sebuah player / amplifier.
Jadi rasanya kok ndak ada hubungannya sama posting ini ya..
BTW, salam kenal

j4p yang baik, memang itu peralatan pro, untuk mengekstremkan ilustrasi betapa ada konsumen yang kelewat memanjakan telinganya dengan instrumen yang “nyaris industrial” :)

tyo


#25

John MR | 07 09 2008 @ 22:58:53

It’s so simple ini soal duit, krn analog audio apalagi yang tabung itu mahal, micro hi-fi bagus saja yang paling murah Rp 7 jt, SACD Rp 400,000 belum lagi blue ray audio CD pasti lebih mahal. Disisi lain selera dan referensi juga berperan penting makanya punya duit banyak belum tentu seleranya bagus karena selera tidak bisa beli tapi snobisme dengan duit tebal bisa beli audio mahal karena hanya ikut orang lain gara2 kayaknya keren dan yang mahal pasti bagus :P

Intinya adalah telinga juga harus dilatih atau disekolahkan :D


#24

bah reggae | 07 09 2008 @ 22:08:56

Dulu, ada perang gara2 kaki (bal2an). Lalu, di herman pratikto (bende mataram), hajar karangpandan & gagakseto perang gara2 mata (dlm menilai asyikan mana, maaf, perempuan pantat gede atau kecil). Lha klo sekarang ada perang gara2 kuping, ya namannya kemajon.


#23

Masih bocah | 07 09 2008 @ 19:19:23

Lho, kok saya tergelitik sama
“atau orang yang pakai iPod (atau yang mirip)”
ya?
Selama ini kenalnya mp3/mp4 player ketimbang “mirip iPod” biarpun taunya yang kaya gituan pertama2 itu iPod. Hehe..
Sebenernya ngga salah milih yang mana, yang salah ya menyalahkan orang yang beda selera. Sayang tenaga. Hehe..


#22

dhany | 07 09 2008 @ 3:46:22

betul… beda telinga beda rasa
suara yang paling enak adalah dengerin sinden di alun-2 pas 1 suro
pure….


#21

Yoyo | 04 09 2008 @ 18:35:32

kayaknya iya…..yang jadul itu Paman ya ? wuaaaaaa…………


#20

galih | 04 09 2008 @ 14:00:53

Ealah paman paman…. dasar pintar merangkai kata. Ide sederhana begitu bisa jadi beratus-ratus kata dalam postingan blog. Jangan-jangan orang jadul itu paman sendiri?


#19

didut | 04 09 2008 @ 12:10:45

yg penting bs denger musik
*penghkolektor kaset*


#18

Affan | 04 09 2008 @ 10:10:15

Kuping nggak sensi, tapi dompet yang sensi :P Beli Nokia E51 sudah sekalian dapet radio FM ama MP3 player, sementara saya pernah baca majalah audiophile yg judul artikelnya “Perangkat Audiophile yang terjangkau bagi pemula”, eh dilihat2 yg paling murah total harganya 39 juta… :P


#17

pelintas | 04 09 2008 @ 9:01:28

@ mantan kyai same kite…eh ngomong2 kate orang suare kresek2 kalo dengerin PH lama justeru menambah nuansa tersendiri.


#16

mantan kyai | 04 09 2008 @ 3:21:48

kalo kuping saya gak sensi paman … asal bunyi ajah … mau musik yg gmn juga ayuukk ajah :D


#15

oscar | 03 09 2008 @ 22:26:15

saya pemakai ipod yang isi mp3-nya diripping dari CD asli (jika ada yg bersedia CD aslinya dipinjam)dengan bitrate maksimum. kalo ga ada ya mp3 colongan dari internet. dari docking cuma disambung ke speaker aktif abal2.
buat saya orang dengan selera jadul (tapi audio quality dijamin bos) itu punya uang banyak untuk beli power amplifier, speaker, woofer dan termasuk CD audio asli (apalagi yang edisi audiophile) saya belum mampu je…


#14

sandalian | 03 09 2008 @ 20:59:29

Karena saya belum punya rumah sendiri, maka perangkat multimedia yang portabel dan multifungsi yang akan saya pilih.

Entah besok ketika punya rumah sendiri, sepertinya pengen membuat semacam home teater untuk nonton dan main game :D


#13

BLogicThink [dot] com | 03 09 2008 @ 19:12:04

kuping saya masih kuno tuh….


#12

cm4nk | 03 09 2008 @ 17:51:47

Buat kang Jay…*xixixi* justru dari tulisannya Pman Tyo ntu,saya berpikir kalo digital,mp3 dan embel2nya dianggap murahan (walaupun’canggih’) dibanding PH,dan peralatan audio yang antik lainnya,see? *selaknya mobil klasik*
No offense Kang…saya hanya berusaha melihat motivasi orang dari sisi yang berbeda ;-)


#11

Jay | 03 09 2008 @ 17:16:00

Saya penikmat musik digital High Definition dengan seperangkat speaker analog yang masih pas-pasan.

Buat cm4nk, anda merasa sepuh di dunia digital?


#10

hanny | 03 09 2008 @ 17:15:02

kuping beda-beda, yang didenger beda-beda, yang enak untuk kupingmu belum tentu enak untuk kupingku :D hehehe. mari manjakan kuping masing-masing :)


#9

kw | 03 09 2008 @ 16:47:52

di blok mal kaset (original) di obral 5000. :)


#8

cm4nk | 03 09 2008 @ 16:09:51

Bukan menghina yang make PH,tapi bisakah saya menyebutnya ’sok’ idealis? ’sok’ unik? pengen disebut berbeda ;-),biasanya yg berkelakuan seperti ini adalah yg ‘merasa sepuh’ di bidang menguping musik
=-=-=-=
*siap2 ngambil langkah seribu,dikejar sepuh*


#7

Donny Verdian | 03 09 2008 @ 16:05:30

Wah.. iPod saya masih rusak.
Sudah lama saya menyingkirkan piranti hi-fi segede gaban dan compo jaman jadul dulu.

Tapi, yang tetap tak tertandingi oleh iPod adalah radio yang tetap transistor dan jadi klangenan saya setiap pagi dan malam hari.


#6

Kardjo | 03 09 2008 @ 16:03:31

eh.. hi-fi sudah gak dirubung semut lagi khan??


#5

Kardjo | 03 09 2008 @ 16:00:12

wah.. hihih.. kayaknya ini advertorial dari Apple iPod™ deh.

*makan-makan*


#4

mas kopdang | 03 09 2008 @ 15:56:27

Di Jatiwaringin apa Pondok Gede, ada jagoan pembuat perkakas suara yang selalu juara uji bunyi tingkat dunia.

Sayangnya, masih saja ada yang gengsi untuk pesan merk dalam negeri.

Dulu pernah nyelonong dikupas Bung Budiarto Shambazy dalam “politika-nya”


#3

Epat | 03 09 2008 @ 15:51:46

seng penting suarane cilandak-ciledug paman kekeke…


#2

Bangdod | 03 09 2008 @ 15:36:54

Memang sekarang jaman serba instan Paman, punya MP3 player (termasuk yang built in di Hape) tinggal donlot lagu-lagu kesukaan dari internet, langsung bisa dengerin, bahkan bisa sambil ngedengerin di mobil, motor, ato blogwalking (alah…) Coba kalo kita mau beli PH, kalo blom punya Player (apa lah namanya) gak bisa di dengerin kan. dah gitu gak bisa dibawa kemana-mana pula (nggak kebayang bawa-bawa PH plus playernya di angkot :-/). Tapi tetep, penikmat PH dan sejenisnya adalah kaum penikmat musik sejati…


#1

Kyai slamet | 03 09 2008 @ 15:33:21

Lha saya masih ndengerin radio transistor sw mw.
:D