Kuping Kuno, Kuping Modern
PAKET MUSIK LAWAS VERSUS KEMASAN MP3.

“Hari gini beli CD player, tuner, amplifier, sama segala macemnya? Jadul banget itu orang. Nggak beda ama petani yang beli kompo segede badak,” kata seseorang tentang orang lainnya. Menurutnya, tuntutan hari ini adalah format MP3 dan sejenisnya, yang disetel di komputer dan pemutar musik digital yang dilengkapi radio. Itulah yang, menurutnya, “Modern, keren, praktis.”
Orang yang dianggap jadul hanya menahan tawa. Dia malas beradu pendapat, dengan alasan yang diucapkan kepada orang lainnya lagi, “Beda referensi, beda kuping, susah diajak diskusi. Biarin aja.” Sungguh santun.
Termasuk dalam beda referensi adalah si jadul masih memelihara piringan hitam, dan terus membeli piringan hitam (termasuk yang rilis ulang).
Si jadul, dan kaumnya, memisahkan alat dengaran dan alat tontonan (bioskop rumah). Lagi-lagi, bagi yang merasa modern, itu dianggap aneh, karena musik kok cuma stereo kanan dan kiri plus subwoofer bertenaga besar tapi lembut. Artinya, bagi si trendi, “Sama aja kagak canggih.”
Saya tidak mempunyai kewenangan untuk menengahi hal begituan karena saya memang awam soal hi-fi. Biarlah masing-masing kubu merasa canggih dan berselera. Dan itu adalah kemedekaan.
Tapi itu menjadi masalah ketika pengabdi MP3 merasa dihina oleh orang toko audio, “Suara kaleng kok didengerin. CD biasa, biar kata orisinal, juga isinya suara kaleng, Bos! Apalagi kalau audionya cemen…”
Si pengabdi musik berformat digital merasa terhina karena dia yakin yang didengarnya bukan suara kaleng. Lebih dari itu, ya tadi, dia malah yakin dirinya modern, punya kuping yang sehat, dan selera musik normal (tak sudi membeli rekaman musisi tak dikenal yang tak ada di TV dan radio). Bukankah label pun akhirnya menjual lagu secara ketengan dalam format digital? Bukankah semua micro hi-fi anyar sekarang sudah punya colokan USB?
Kalau bagi saya, ini soal hiburan. Kalau masing-masing pihak sudah puas dan bahagia dengan pilihan teknologinya ya ndak masalah to? Ngapain ribut? Lantas ngapain jadi blog? Saya meneruskan pertanyaan beberapa orang.

Nah kalau menurut Anda, mana yang lebih “modern, canggih dan melek teknologi”: orang yang masih pakai CD dan PH (berikut peranti pendukungnya) atau orang yang pakai iPod (atau yang mirip) lalu docking-nya dihubungkan ke sistem spiker tambahan?
© Ilustrasi: pemutar musik baju: entah • peranti: ap.com
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- Saya jadi ketawa ngeliat komentar @pakde Totot pada kolom komentar blogpost "Memahami FPI" punya @pamantyo baca saja -> http://t.co/RjtBfBdd May 19, 2012 sibair (Bair)
- :'( RT @dannytumbelaka: @TonnySukirno @PamanTyo bangaip @motulz RIP Donna Summer... May 18, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Harley-Davidson and the Malioboro Man
December 8, 2006 by AntyoNGGAK SIRIK, NGGAK DIRUGIKAN, TAPI…
Setiap kali memasuki warung bakmi jawa milik wong Gunungkidul di Jakarta itu tetamu tercegat oleh sebuah Harley-Davidson Heritage Softail milik juragan warung. Motor gede itu tanpa penunggang. Berdiri di atas pentas kecil setinggi sekitar 30 cm. Tepat menghadap ke pintu kaca. Sebagian orang bilang, itu pamer.
Lho, apa salahnya [...]
Recent Comments
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
jimmy» Nice Informasinya gan,, sangat membantu sekali.. :)
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Menurut gwa sih sound system yang bagus yang bisa memuaskan pemiliknya.
Sound system kan hanyalah alat yang membantu manusia, bagus tidaknya bukan dari mahalnya tapi berguna atau tidak bagi yang punya.
Ada yang masih belum puas padahal sudah pakai sound system yang sangat teramat MAHAL sekali banget, tapi ada juga yang sudah puas dengan sound system seharga 100rebu.
Kalo gitu kasusnya siapa yang untung, tentu saja pedagang sound system yang untung wkwkwkwkwkw
ipod = temen jalan jarak jauh,
micro hi-fi = baru mampu beli,
analog = ini masih masuk daftar cita-cita ^_^
yg jelas mp3 ga kena buat dengerin gendhing jawa, banyak yang ga keluar suaranya. Idealnya sih beli gamelan set Kyai Kanjeng Kaduk Manis/ Manis Rengga yang mau dijual Kraton Solo, terus ada yang menabuh, saya tinggal merem melek menikmati *modul ngayal on*
iPod [sejenisnya] hanya bagus buat mobile tp kaloh kwalitas tetep HiFi yg full pro-surround, biar suaranya muter-2 ndak cuma kanan-kiri ;) sama dengan nntn pilem pake VCD/DVD [pirate edition pula] sama di bioskop..jelas beda mantepnya :)
iPod aja gak kebeli, apalagi ‘hifi gede-2′.
Tau lagu-2 ngetrend cuma dari pengamen di bis kota dan dari anak-2 SD yg nyanyi lagu cintah (radio saya udah lama terlego).
*balada seorang buruh*
Belum lagi kalo berurusan sama selera musik, Paman. Musik-musik populer jaman sekarang bisa jadi hanya tersedia dalam format yang populer juga, sementara koleksi audiophile lebih musik yang ‘bukan buat semua orang’ yang buat pendengar musik awam seperti saya ini “Opo seeehhh… udah mahal-mahal reff-nya gak catchy” :D
Lagian dari dulu masalah bagus itu enggak masalah rasa. Relatip tiap orang beda perasaan, dan kalo diperdebatkan beresiko menyinggung perasaan.. :D
Paman, foto paling bawah itu piranti PENGUKURAN bikinan Audio Precission, bukan amplifier atau player digital. Fungsinya buat mengukur / plotting respon frekuensi input / output dari sebuah player / amplifier.
Jadi rasanya kok ndak ada hubungannya sama posting ini ya..
BTW, salam kenal
—
j4p yang baik, memang itu peralatan pro, untuk mengekstremkan ilustrasi betapa ada konsumen yang kelewat memanjakan telinganya dengan instrumen yang “nyaris industrial” :)
tyo