Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Membatasi Lagu Asing

Kamis, 04 September 2008 @ 00:30 | Umum

MALAYSIA HENDAK MENGEREM MUSIK INDONESIA?

Terkabarkan sebagian pegawai industri rekaman Malaysia ingin perbandingan 90:10 untuk pengudaraan lagu lokal dan asing. Termasuk dalam asing adalah (terutama) Indonesia. Alasannya, popularitas lagu dari luar Malaysia akan mengganggu penjualan rekaman artis setempat. Amy Search, menurut Antara, mengatakan bahwa jam 10 malam ke atas Malaysia sudah seperti Jakarta karena semua radio menyiarkan lagu-lagu Indonesia hingga dinihari.

Taruh kata berita Antara itu benar, apakah keinginan itu masuk akal? Secara “politik kebudayaan” pemerintah Malaysia, melalui Menteri Penerangan Zainuddin Maidin, tahun lalu sudah menyatakan takkan membendung musik dan film Indonesia.

Dari sisi semangat kesepakatan niaga regional tampaknya juga sulit. Masa sih produk rekaman mau dibatasi, terlebih label besar yang menerbitkan rekaman musisi Indonesia juga punya kantor di Malaysia.

Saya tak hendak menarik jauh persoalan menjadi “artis Malaysia tak menyukai artis Indonesia”. Maksud saya, misalkan organisasi artis dan industri musik Indonesia menuntut pembatasan musik asing saya pun takkan setuju.

Menolak karya musikal semata berdasarkan asal negara adalah aneh. Jadi misalkan toko CD di Indonesia dilarang menjual rekaman Ofra Hazra karena dia orang Israel, itu pun aneh. Sama anehnya dengan dulu ada pembatasan pengudaraan lagu mandarin, kanto-pop, dan entah apalagi pokoknya berbahasa Cina, dari mana pun negara asal perekam dan artisnya.

Pada sisi yang paling dasar musik adalah soal dengaran. Asal cocok di kuping, bahkan misalnya pendengarnya tak paham bahasa dalam liriknya, itu adalah hak bagi penikmatnya.

Di luar hak dalam berselera adalah kemajuan teknologi. Tak mungkin membendung lagu karena internet menyediakan penyiaran, pengunggahan, dan pengunduhan. Bahwa di sana ada ranjau hukum, karena menyangkut hak cipta, itu soal lain lagi.

Nah, kembali ke kabar Antara yang dikutip oleh beberapa media itu (antara lain Kompas dan The Jakarta Post), ada hal yang aneh. Sejauh saya dapatkan, tak banyak media online eh daring Malaysia yang mengabarkan. Ihwan Ahmad Sahidah mungkin bisa bercerita.

©: Foto: utusan.com.my

Ada 49 komentar | trackback | Depan

#49

Tigis | 13 04 2009 @ 9.02.47

wah telat gue nih bacanya. Baru nemu dr google soalnya hehe. Tp ikutan komen gpp yah :)

kalo menurut gue justru musisi malaysia punya peluang go international jauh lebih tinggi ketimbang musisi indonesia. Kenapa? coba simak karya2x mreka yg dilantunkan dlm bhs inggris. Rata2x asik. Bandingkan dgn kita. Payah. So, mungkin memang Indonesia bisa lebih maju dlm musik2x berbahasa Indonesia (atau melayu kalo di malaysia), tp dlm urusan membuat lagu2x dlm bahasa inggris mreka jauh lebih bisa.


#48

JW | 14 12 2008 @ 21.08.41

Terlepas posting terakhir di September, tetep nimbrung ah. Biarin aja dilarang. Kalo orang2 malaysia memang gandrung beneran sama ungu dll, toh mereka akan datang ke show di indo. Pemasukan juga buat indo kan.


#47

Catshade | 15 09 2008 @ 0.13.06

Deep down inside, ini kayaknya menunjukkan watak para pelaku industri (di bidang apapun) di Malaysia yang terlena oleh kebijakan subsidi dan proteksionismenya pemerintah Malaysia. Bagus sih untuk mendukung muatan lokal, tapi daya saingnya jadi lemah…


#46

ely yusnita | 13 09 2008 @ 12.34.40

saya dapat memahami kekecewaan muzik Malaysia yang kurang mendapat tempat di negerinya sendiri….tapi pembatasan muzik Indonesia di sana bukanlah solusi yang tepat, siapa yang bisa menolak keinginan pasar? jika peminat disana justru lebih menyukai lagu or muzik luar (indonesia)…. ada apa dengan muzik Malaysia, koreksilah dimana kesalahan diri sebelum menunjukan kesalahan orang lain….
Maju terus industri muzik Indonesia…


#45

Indra | 11 09 2008 @ 10.56.50

“Alasannya, popularitas lagu dari luar Malaysia akan mengganggu penjualan rekaman artis setempat. Amy Search, menurut Antara, mengatakan bahwa jam 10 malam ke atas Malaysia sudah seperti Jakarta karena semua radio menyiarkan lagu-lagu Indonesia hingga dinihari”
kayanya kata-Kata ini cuma buat orang yang ga mampu bel TV atau langganan ASTRO Malaysia..
SUsah, Kalo miskin ide..
Inget Pakcik, Music is universal and everyone can hear..Or Cut your ear and just keep mouth…P E A C E


#44

Tomy Khoji | 10 09 2008 @ 10.02.54

Frustasi..terus berkembang menjadi “dengki”.gak apa2 memang mereka tidak bakal siap menghadapi globalisasi musik. kaciann…? la iya.. lahhh…


#43

gajah_pesing | 09 09 2008 @ 14.56.57

mereka malu untuk mengakui kebesaran musik Indonesia kita.. Salam kenal..


#42

escoret | 09 09 2008 @ 13.58.49

kata eka,vocalis the brandals yg udah pernah ke malesia;”hampir tiap2 sudut kota malesia,banyak di jumpai kaset2 indonesia dan tak jarang di tipi2 mrk,artis2 kita sering manggung secara live !

di indonesia bisa ga kyk gitu..??
artinya,lagu2 malesia di batasi..????


#41

pramudyaputrautama | 09 09 2008 @ 13.28.08

akhirnya ada juga yang bisa dibanggakan dari “Made in Indonesia” yang gak bisa di”bendung” ama Malaysia.
Buat para Band, Musisi Indonesia … terus tingakatkan kualitas musik kalian. Kita “serang” industri musik Malaysia.


#40

Edi Psw | 09 09 2008 @ 10.04.08

Bagaimana dengan di Indonesia? Tapi kalau kualitas lagu-lagu kita bisa setara bahkan melebihi lagu-lagu barat, kan nggak perlu ada pembatasan seperti itu.


#39

andril21 | 09 09 2008 @ 8.51.46

semuanya dimohon tenang.. ingat malaysia masih termasuk negara bekembang dan jauh tertinggal daripada kita. wajar kalo mereka minta ruang untuk mengembangkan musik dan industri musiknya sendiri. kita kan juga rada gerah kalo orang kita lebih suka denger SLIPKNOT (moga-moga bener nulisnya) daripada konsen dengerin Arian 13 bareng SERINGAInya.
**HAPPY BIRTHDAY TO Mr. PRESIDENT**


#38

d3n5 | 08 09 2008 @ 22.12.12

Dengan adanya berita seperti ini kan semua jadi tau dan juga merupakan satu indikasi bahwa mereka sebenarnya ga punya kualitas, baik dr segi musiknya ataupun moralnya yang begitu picik


#37

pnsgila | 08 09 2008 @ 11.27.46

Yah salah sendiri, musiknya gak kreatif. Kalah sama punya kita. Ya wajarlah…


#36

Mas Kopdang | 08 09 2008 @ 10.03.43

Indonesia aja gak boleh apalagi dengerin lagu “Beirut” donk..
:P


#35

edratna | 07 09 2008 @ 17.52.34

Pembatasan tsb saya rasa tak mudah…kan bisa beli CD nya?


#34

ebeSS | 07 09 2008 @ 11.21.00

99 : 1 ya ga papa . . . ter gantung kampas rem nya . . . :p


#33

Wirawan Winarto | 06 09 2008 @ 17.13.50

kalo mau mengurangi lagu-lagu asing, kenapa lagu-lagu Indonesia itu nggak diklaim saja sama Malaysia? hehehe…


#32

pelintas | 06 09 2008 @ 17.04.33

Lebih dr sekedar masa’alah lagu encik2 ! hubungan malay - RI dilihat dr sisi sono (yg selalu membahasakan diri saudara serumpun)
emang selalu aneh,gak jujur,ada sesuatu yg terasa berada di balik tabir kemunafikan. Ada semacam perasaan selalu ingin lbh superior,pertanyaannya adalah mengapa hanya terhadap Indonesia saja,mungkin para ahli sejarah yg dpt mengupasnya.Sepertinya malah musik barat lebih menjajah disana dan udah terjadi sejak jaman kuda gigit besi,kok sama Indonesia aje mereka sewot ? Mo membatasi selera seni ? ah…betapa kerdil !


#31

dhany | 06 09 2008 @ 10.09.03

lha mbak siti itu jadi artis terkaya disono karena di endonesa suaranya laris


#30

vlisa | 05 09 2008 @ 18.26.34

Umumnya yang dibatasi itu makan, paman. Supaya ndak jadi gendut…juga hawa napsu (apa saja)….apa lagi bulan puasa begini. hehehehe (*kaboer*).


#29

trendy | 05 09 2008 @ 14.09.15

oalah malah si artisnya kok yang mintak buatin dan memasarkan lagunya sama orang indonesia dan di indonesia!
wkeekkeke


#28

AngelNdutz | 05 09 2008 @ 10.49.16

emang Indonesia TOP abis yah, Paman??

*kesimpulan yg aneh


#27

welink | 05 09 2008 @ 9.03.41

Emang kalo mau jujur kualitas lagu Indonesia jauh lebih baik dari lagu Malaysia, baik dari musikalitas ataupun liriknya. Jadi ya pasti mereka berusaha membatasi. Tapi direm seperti apapun, yang enak akan tetap dicari dan diburu ya nggak? Hidup musik Indonesiaku!


#26

Arsyad Salam | 05 09 2008 @ 8.56.43

Setuju Paman.
lagu dan musik adalah universal. Melarang peredaran musik suatu kaum, sama muskilnya dengan pelarangan buku atau film misalnya. Kalo kabar ini benar2 sahih, maka sungguh disayangkan sikap sebagian artis (dan juga) pemerintah negeri jiran itu. Habis akal dan mati kutu berhadapan dengan suatu yang mustahil dibatasi
Salam


#25

spidolhitam | 05 09 2008 @ 6.02.19

terserah apa maunya lah pak, kadang emang kacang bisa aja lupa dari kulitnya


#24

-=«GoenRock®»=- | 05 09 2008 @ 3.04.20

Untung Dream Theater bukan dari Indonesia ya paman? Muahuahuaha…


#23

Ilham S. | 04 09 2008 @ 23.33.35

Kalau telpon anak2 muda di Malaysia.. nada yg terdengar ring nya banyak yg pakai lagu Indonesia.. ya para musisi lokal pada getem2 kali..Emang banyak yg aneh kok Malaysia… Contoh ni..tadi ada menteri pendidikan tinggi datang ke Uni saya pada buka puasa..dan ceramah siang sebelumnya.. krn Pemerintah setempat dikuasai oposisi.. menteri besar (gubernur) atau stafnya nggak ada yg datang..kayaknya tak diundang pada acara itu.. maaf sedikit OOT..


#22

Hedi | 04 09 2008 @ 21.57.32

Berarti Lez Zeppelin bener, selalu the song remains the same :D


#21

Doli | 04 09 2008 @ 20.24.40

kenapa sih, negara tetangga itu masih aja seperti iri dan dengki ama indonesia kita yg notabene lagi dalam kedaan amburadul??

padahal negaranya udah nyaman, tentram, damai, maju..

saya punya banyak cerita pribadi diblog saya bagaimana saya diperlakukan tidak etis..

tapi sudah saya simpan dalam2..


#20

yuswae | 04 09 2008 @ 18.32.04

kenapa harus dilarang? mestinya diakui aja jadi musik malaysia, seperti batik, angklung, dan reog..
gitu aja kok repot. :D


#19

Nazieb | 04 09 2008 @ 17.13.05

Betul Paman, kalo memang artis lokal dirasa mboseni dan nggak enak, buat apa dipaksa mendengarkan?


#18

qizink | 04 09 2008 @ 15.55.18

Kayaknya bakal jadi polemik lanjutan Rasa Sayange nih!!!


#17

Sky | 04 09 2008 @ 14.07.56

saya sendiri “mabuk” dengan banyaknya band2 indonesia di pasaran… Dahsyat sekali, padahal mereka sudah dizalimi oleh kita2 yang suka membeli/mengunduh mp3 bajakan.

Maju terus industri musik Indonesia…!!!


#16

Tetty | 04 09 2008 @ 14.01.21

Hwa..ha..ha..? koq suamiku masuk juga ke Paman?ha..ha..?

Cape Deeeeech…?! he..he..?


#15

Tetty | 04 09 2008 @ 13.59.25

Sehari setelah acara Pesta Malam Indonesia 2 di KL pada bulan Agutus kemarin, saya mendapat info dari suami saya, Ahmad Sahidah, bahwa ada tulisan dalam salah satu koran Nasional di sana yang menurutnya itu akan membuat saya terhenyak, heran.

Benar ternyata, bagaimana tidak heran, sipenulis menggambarkan musisi kita adalah SAMPAH dan KUDIS bagi produksi musik mereka?

Padahal dalam acara itu ada band besar kita, macam: Slank, Ungu, Sheila on7, Dewi-Dewi juga Samsons.

Musisi Indonesia, Maju terus!


#14

Ahmad Sahidah | 04 09 2008 @ 13.53.11

Isu ini sempat memancing respons dari beberapa band Indonesia, seperti Ungu, Sheila on7, dan Slank, yang diwawancarai TV 3 Malaysia ketika mereka diundang untuk acara Malam Indonesia. Dengan rendah hati mereka mengatakan bahwa ini adalah tuntutan yang berlebihan, karena musik Malaysia diterima baik di Indonesia dan hakikatnya musik itu indah karena enak didengar, bukan dipaksakan untuk didengar.

Malah yang menyeramkan salah seorang penulis terkenal, Ku Seman Ku Ismail, menyebut band kita adalah sampah dan kudis yang tidak layak berkembang di tanah Malaysia. Saya masih menyimpan tulisan yang dimuat di koran terkemuka Utusan ini. Ya, anehnya, mengapa koran dengan oplah terbesar ini memuat tulisan yang sangat tendensius.


#13

bah reggae | 04 09 2008 @ 13.49.41

Wooo. Rupanya dimana2 mreka yg berpretensi sbg pengatur selera selalu ada. Di sini, juga ada. Meskipun belum sampe gatel lalu ngajak DPR bikin aturan unk membendung musik2 yg menurutnya tanpa karakter, gak membumi dan entah apalagi.


#12

primadianto | 04 09 2008 @ 13.25.56

wah, kalo gitu musisi-musisi kita harus waspada, jangan-jangan nanti lagu indonesia dicontek sama malay..
hihi..

salam..


#11

Syafrudin Abi-Dawira | 04 09 2008 @ 12.40.19

Menurut perkiraan saya, keunggulan Indonesia dibanding Malaysia tidak hanya dalam Seni Suara, tapi di seluruh wilayah Seni. Ini karena watak Indonesia secara nisbi lebih kreatif.

Misalnya Seni Busana. Menjelang lebaran seperti sekarang ini, amati saja busana lebaran Indonesia dibanding busana lebaran Malaysia.


#10

Doli Anggia Harahap | 04 09 2008 @ 10.53.03

Paman, selama saya kuliah disana, memang isu-isu seperti ini sudah sangat sering dimunculkan. Tapi kemudian kembali tenggelam, karena memang masyarakatnya sendiri yang mau mendengarkan lagu-lagu dari Indonesia.

Katakanlah memang diblok peredaran lagu Indonesia, tapi itu tidak akan mendongkrak penjualan lagu artis Malaysia. Toh masyarakat malaysia juga lebih banyak yang mendownload MP3 daripada membeli yang original.

Jadi, memang harus pandai-pandai seorang artis berkarya aja sih menurut saya.


#9

Malaysia to put the brakes on Indonesian music? « Unspun | 04 09 2008 @ 10.40.50

[...] clipped from blogombal.org [...]


#8

adieska | 04 09 2008 @ 9.51.19

bukti bahwa musisi malaysia nggak mampu bersaing dengan musisi indonesia ini paman :D


#7

bapake | 04 09 2008 @ 9.05.21

Paman bukanya itu seperti himbuan untuk mencintai produk lokal? Kalau itu sih boleh2 saja sepanjang pemerintah tidak ikut campur bikin larangan…Pokoknya yang aneh2 di Malaysia itu udah kita pernah alami juga , pada masa2 Orde baru dulu…
Salam


#6

adithz | 04 09 2008 @ 8.52.05

kalo negara industri lain, berjaya dengan merek2-nya, boleh dong indonesia berjaya dengan komoditas dan artisnya….

maklum, jadi negara industri dibutuhkan kerja keras. Nah yang bagian ini hanya dimiliki segelintir orang saja.


#5

aLe | 04 09 2008 @ 5.30.02

Ganyang Malaysia!!!!! *halah, jadul* ^^


#4

Epat | 04 09 2008 @ 3.05.26

loh…padahal banyak lagu2 indo jaman sekarang yang booming itu yang ke malay-malayan kekeke
jadi aneh realita ini…


#3

thimbu | 04 09 2008 @ 2.48.50

ternyata dalam dunia musik bangsa Indonesia unggul telak dari malaysia =)) =)) =))
atau karena yg dengar itu orang indonesia juga, ya… :)
atau barangkali orang malaysia ngga terlalu suka musik :)
penutupan itu kayaknya banyak kemungkinannya


#2

mantan kyai | 04 09 2008 @ 2.42.56

hahahaha…asal jgn main tutup kayak situsnya oposisi kemaren ajah ya paman …


#1

Donny Verdian | 04 09 2008 @ 1.56.03

Meski beritanya masih simpang-siur, tapi melihat tipikal tetangga kita itu tampaknya mungkin, Paman.

Eh satu pengalaman menarik yang jadi teringatkan kembali karena posting ini, bberapa tahun lalu ketika saya ke KL dan mencoba mampir ke disc store, di bawah label LOCAL MUSIC banyak kudapati CD dari artis-artis negeri kita.

Hi, aneh ya..:)