Prangko? Anda Masih Ingat?
BARANG LANGKA DALAM KESEHARIAN KITA.

Kemarin ada surat tiba di rumah. Tidak diantarkan oleh kurir partikelir melainkan Pak Pos. Yang terakhir tadi juga caraka swasta karena pegawai PT Pos Indonesia sudah tidak dianggap sebagai anggota Korpri. Tak seperti antaran lain (via pos) yang dicap oleh mesin tera, amplop itu berprangko. Temanya Lebaran. Edisi 2006.
Rasanya sudah lama saya tak melihat prangko. Mungkin Anda pun begitu. Lalu lintas pesan tertulis yang kita libati telah berganti SMS, e-mail, dan bahkan Plurk. Tanpa prangko.
Saya menduga peredaran prangko kian berkurang. Itu berarti koleksi para filatelis semakin berharga. Yang saya tidak tahu, selama lima tahun terakhir ini berapakah pertumbuhan jumlah filatelis.
Selanjutnya prangko mungkin kita lupakan. Kita hanya tahu saudaranya prangko, yaitu meterai. Tapi meterai pun sudah tergantikan oleh mesin tera, bahkan beberapa dokumen cukup menyebut meterai telah terbayar. Kini warung-warung dekat rumah tak punya papan nama “Depot Benda Pos”.
Ketika prangko telah kita lupakan, generasi mendatang mungkin heran sekaligus bingung kalau ada ungkapan “lengket seperti prangko” (pernah menjadi bahasa iklan). Hanya kakek dan nenek mereka, kalau ingat, yang bisa mengisahkan bahasa prangko. Misalnya jika prangko ditempelkan secara miring berarti “segera dibalas”.
Ah, tak sepahit itu. Jawaban TTS masih dikirim melalui kartu pos. Dan kabarnya peserta rubrik jodoh masih mengawali perkenalan dengan surat via pos.
Nah, kalau seterusnya berkorespondensi via pos, bisa-bisa incaran sudah digaet orang karena kelamaan nunggu. Seperti cerita di komik Lucky Luke: kiriman untuk seorang wanita diterima oleh anaknya, karena sekian tahun surat tak jelas rimbanya. “Mamaaaaaa…!” seru anak itu sambil berlari ke dalam rumah setelah menerima surat dari Pak Pos.
Dalam guyon kasar pria, korespondensi via pos sama saja berisiko lamaran tiba ketika si (eks-)gadis sudah menopause. Ups, maaf.
—-
Dari amplop lama:
+ Mengirim tanpa beli prangko
+ Kotak pos belum punah
62 Responses to Prangko? Anda Masih Ingat?
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- Saya jadi ketawa ngeliat komentar @pakde Totot pada kolom komentar blogpost "Memahami FPI" punya @pamantyo baca saja -> http://t.co/RjtBfBdd May 19, 2012 sibair (Bair)
- :'( RT @dannytumbelaka: @TonnySukirno @PamanTyo bangaip @motulz RIP Donna Summer... May 18, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Nasib Designer Phone
August 6, 2007 by AntyoAKHIRNYA MENGALAMI RUDAPAKSA.
Saya jatuh hati kepadanya. Begitu mungil, stylish, dan cantik-mulus dalam kehitamannya. Saya raba. Saya pegang. Sexy. Bisa telentang. Bisa berdiri tegak menyandar. Saya angkat. Bulat sudah niat jahat. Saya akan memerkosanya. Agar dia bisa tampil dan bekerja seperti kebutuhan saya.
Ukurannya tak menyita ruang. Takkan berebut dengan pengisi meja kerja. Dia [...]
Recent Comments
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
jimmy» Nice Informasinya gan,, sangat membantu sekali.. :)
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Wah, prangko, ya? Kalau gak salah ingat : Kecil,pinset,hari pertama,Bandung,Nike Ardilla,di lego 100rb pas bokek.
wah… perangko,, benda buat apaan yah??? buat gambar tempel maenan anak2 ya oomm?
tau lah…
Masih suka pakai Paman..eksotik dan terkesan pribadi… hanya sering tanda tanya, kenapa surat dari Indonesia ke misal Jepang, perangkonya begitu mahal dibanding sebaliknya, termasuk dr Jepang.. yg katanya apa2 mahal heran dg Pos Indonesia…pada perhatian nggak ya..?
waaah perangko lebarannya bagussss…saya ingin beli. Kalau di sini (Jepang) biar tekonologi canggih, perangko masih dipakai. Bahkan ada jadwal penerbitan perangko bertema selama setahun. Dan kalau langka/menarik pasti langsung habis.
Saya sendiri masih sering membeli perangko Indonesia setiap saya mudik.
Salam kenal kenal dari salah satu filatelis.
EM
Kalau sampai situasi dunia pengeposan begini, berarti PT. Pos Indonesia hanya akan menjadi sejarah. Padahal, PT Pos berjasa besar dalam urusan komunikasi di masa dulu. Apakah ini hanyalah lanjutan dari kisah telegram?
dulu depot pos ada mengelilingi kita. sekarang depot isi ulang pulsa hape yang mengelilingi kita.
Wah…jadi ingat beberapa surat dari mantan pacar yang terselip di album foto sejak 12 tahun lalu, jadi pengen buka lagi…
Om ku masih nubie di dunia blog.. nubieeee bgt…
tapi tuk sekedar berkomen ria boleh kan..
pertama kali aku ngirim surat pake prangko itu waktu aku ikutan kuis di majalah bobo yang hadiahnya kasos satria baja hitam…
dan itu perangko terakhir yang aku beli dalam hidupku setelah kaos baja hitam tak kunjung mampir ke rumah ku…
Uang prangko sudah saya belikan pulsa kang …
Repot? Ndak ringkes?
Tapi lebih romantis lho, bayangken seseorang harus berepot-repot menulis diatas kertas, setidaknya alamat di amplop, trus pergi ke Kantor Pos, terus mengantri perangko, terus memasukkan ketempat pengiriman surat. Agh.. So swit.. :D
LOWONGAN KERJA DI JAC.. http://www.jac-recruitment.co.id..
bila prangko mulai dilupakan dan menjadi sejarah ,tapi stidaknya kita dulu pernah menggunakan seperti yang di paparkan,untuk berkirim surat kepada kekasih ,sekarang melalui fasilitas SMS dll itupun segera dilupakan sebagai sejarah kaliya
terakhir beli perangko 4 tahun lalu kayaknya jaman jadi job seeker buat kirim surat lamaran. sekarang mah pake email aja kalo mau apply lebih cepet dan ringkes…
kemajuan dan kecanggihan teknologi memang telah menggilas perangko dkk nya…
kebiasan suka susah tidur,di hotel biasanya gw suka tulis surat tuk bojo.
Sekarang htl dah gak nyediain lagi seh….! jadi gak pernah kirim surat lagi.
Enaknya surat,kita bisa baca2 lagi.Seru…!
Pernah saya kirim surat ke pacar saya lewat jasa pos. Kalo zaman dulu udah biasa, kalo sekarang jadi eksentrik paman.. Romantis. Hihi..
Lagipula tulisan tangan kan lebih personal&menunjukkan karakter. Jadi lebih dekat. [lho?! Kok curhat?!]
mari lestariken prangko!
[nguk?!]
-suka yg jadul2
jaman ibu & bpk saya pacaran, pake surat-suratan tidak ya.??. Jgn2 tidak pk jasa pos alias dititipken teman saja.., tanya ah besok kalo dah mudik hehehe
Langsung inget surat ya pakdhe, omong-omong, tulisan tangan terbanyak yang belakangan saya buat paling hanya isi surat jalan. Rasanya sudah tidak pernah menulis tangan lebih dari 1/4 halaman a4. Weleh. Masih bisa menulis nggak ya? Hayoo… ada yang mau saya kirimi surat tulisan tangan? tapi tolong nanti dibalas dengan diselipi meterai hehehe…
Jaman msh SMP sering lihat surat dengan alamat tidak lengkap di depan pintu kantor pos. Siapa tau ada buat gw yang nyasar di sana.
Jaman itu juga rajin korespondensi sama “sahabat pena” dengan alamat di sekolah (soalnya alamat rumah gak jelas, masuk gang gak ada namanya). Asiknya di sekolah kalo nerima surat ada rasa bangga (yang gak jelas) karena jarang ada teman lain yang punya sahabat pena.
Wah jadi inget prangko gambar paman harto :D
prangko akan terus ada, selama pengiriman paket masih eksis
kecuali kalo paket sudah bisa dikirim via internet, baru deh prangko akan punah :D
inspiratif paman :D .. jadi pengen ngirim surat
dolo iah…semenjak ada haPe dah terlupaKan..
bergeser ke kemajuan teknologi..
Saya masih menggunakan prangko untuk mengirim tulisan ke media, agar mendapatkan perhatian dari pihak redaksi.
Oh ya, sekadar informasi, di negeri jiran, prangko disebut stem, adaptasi dari bahasa Inggeris stamp.
Lalu, prangko itu berasal dari kata apa ya?