MUNGKIN KARENA WAKTU LUANG TAK MENDAPATKAN PENYALURAN.

Maaf, jangan salah sangka dulu. Bukan bulan puasanya yang saya persalahkan, tapi memang ada saja orang yang keterlaluan. Bukan orang dewasa, tapi anak-anak tanggung. Misalnya, pada jam tarawih sebagian warga was-was, bahkan seksi keamanan RT pun harus ekstrawaspada sehingga pernah tak ke masjid untuk bertarawih. Penyebabnya: tawuran antarbocah kampung.

Siapa? Di mana? Anak-anak usia kelas 3 sampai 6 SD dari dua kampung dari luar kompleks saya. Permukiman mereka tersela oleh kompleks perumahan. Siang hari anak-anak itu saling tantang, dengan arena favorit kawasan saya. “Entar liat aja di kompleks,” kata si penantang. Arena favorit mereka, entah kenapa, adalah RT saya — titik yang sama-sama terjauh dari rumah mereka.

Beberapa kali Ramadan itu terjadi. Mungkin ada regenerasi. Tahun lalu saya nyaris kena lempar batu besar. Saya menghindar, tapi tulang kering Pak Satpamwan yang terkena dan berdarah. Mereka tak peduli apakah batu akan memecahkan mobil bahkan kaca rumah.

Saya pernah memergoki mereka membawa sarung yang diputar-putar. Ujungnya berat. Ternyata berisi batu.

Tempo hari mereka keterlaluan, bergerombol, bising, di dekat rumah ketua RT lain. Ketika ditegur mereka malah menantang sekalian meledek Pak RT. Pak RT segera ke kampung mendatangi orangtua anak-anak bangor itu.

Itu belum seberapa. Beberapa tahun lalu, dalam “gelaran rutin bulan puasa”, ada seorang anak terluka. Kalau tak salah karena menyerempet pagar. Orangtuanya tak terima, hampir muncul kesalahpahaman, karena kabar yang dia terima anaknya dianiaya “orang kompleks”.

Yang terbaru, kemarin, ada anak kelas 5 atau 6 SD, anak warga RT saya, ditemukan teler setelah dicekoki entah minuman apa. Tak ada bau alkohol, tapi anak itu sempoyongan.

Sebelumnya sekelompok remaja tanggung dari salah satu kampung penyuka masalah kedapatan linglung di dekat pos ronda RT saya. Yang masih kuat menjawab mengaku kelelahan setelah mengamen. Temannya yang tak kuat menjawab setiap kali diberdirikan langsung nglumpruk tanpa tenaga bahkan seperti tidur.

Setelah diusir mereka memapah temannya, tapi kemudian ditinggalkan di dekat rumah Pak Haji seberang rumah saya. Lagi-lagi Pak Keamanan menghalau mereka.

Kemarin, dalam ronda jelang jam sahur, beberapa warga punya inisiatif kalau kembali terjadi setori dan ada yang bisa ditangkap, anak-anak itu diserahkan saja ke polisi. Kalau warga menahan sendiri, bisa-bisa diserbu orang sekampung.

Saya ingat, dulu setap pagi bulan puasa kalau melintas Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur, beberapa kali menjumpai tawuran remaja. Perang batu di jalanan.

Anehnya, di kawasan saya, seminggu sebelum Lebaran keributan itu biasanya sirna. Entah kenapa. Semoga kali ini lebih cepat sirna.

Terhadap masalah sosial seperti ini, saran berjarak tapi santun adalah, “Ajak dialog dong orangtuanya. Lantas ditanya masalah lu apa?”

Tapi tampaknya tak sesederhana itu. Anda punya saran?

Tagged with:
 

62 Responses to Ribut Ribet Bulan Puasa

  1. Kang Nur INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    Ulama dan aktivis masjid setempat/terdekat mustinya peduli dalam hal ini. Saya Islam, dan subhanallah da kala ikut mbantu di kegiatan masjid di ndeso saya. Saya prihatin bila orang dari kalangan agama hanya memperhatikan masalah ritual-individual. Kalalah ini berakar kpd permasalahan sosial setempat; mestinya orang masjid juga ikut peduli. Jangan hanya ngurusi masalah peribadatan saja tanpa peduli sosial.

  2. Qky INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    wallah… repot juga, yak Oom…
    Panggil aja Jagoan kampungnya Oom, biar beliau yg ngasih tahu ke anak “bangor” tanggung… atau tutup aja pintu kompleks…??@?#$

  3. fg INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    mereka itu tadinya di sekitar rumah saya oom. saya keluar pake seragam tentara bicara bak komandan militer, blasss mereka bubar dan tak kembali lagi berhari2.. kalo besok2 bikin ribut lagi saya keluar pake seragam kuntilanak :D

  4. dhany INDONESIA Google Chrome Windows says:

    yang salah…..?
    ah banyak juga yang salah,
    tak selalu anak-anak yang hanya cari perhatian dengan cara, waktu dan tempat yang salah.
    lantas ortunya terawih keluar kota apa..??

  5. my_sayang INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    Kalo mau tega si… mending para Bangors itu diadu satu lawan satu, Kalo ga mau tega ya kasih mereka karambol, catur dll biar pada main dan ga usil.

  6. sejutaasa INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Setuju mas, media pendidikan pertama adalah keluarga, mohon berkenan saya link…

  7. anno'a INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    paling sederhana perang petasan ma perang meriam tombom….
    tapi dulu gw ma tem2an manicng bareng sambil nunggu buka

  8. ario saja INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    we.. la dalah kok kelas 3-6 tawuran, klo gede mau tau aja.

  9. Niff INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    beri mereka mainan pasti beres deh… :D

  10. AngelNdutz INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    ditindak sajalah. anak sekarang gak bisa dikasih ati

  11. Kardjo INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    secara naluri alamiah, anak-anak yang bertarung adalah laki-laki. Coba paman bikin inisiatif, cari anak-anak perempuan sebaya mereka yang cantik-cantik… dan beri mereka pembekalan untuk bisa membujuk cowok2 calon preman tersebut untuk kencan…

    Pasti pada ‘ho-oh’ … Aman deh!!

    Hihi™

  12. antown INDONESIA Mozilla Firefox Mac OS says:

    saya tahunya cuma dari tipi ‘man. belom pernah dan tidak berharap tahu langsung. cos katanya kampung matraman katanya juga serem ya??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.