KERUPUK DALAM KEHIDUPAN SAYA.

Tempo hari, pas siang, perut saya lapar banget, tapi tak ada warung buka. Maklum masih awal bulan puasa. Ketimbang asam lambung naik saya ambil kerupuk dari dapur kantor lalu minum teh manis hangat. Teman saya geli campur kasihan. Apalagi saat mendengar suara krauk-kriuk-krauk. Solusinya: kedai Oen Pao harus mengantarkan pesanan.

Kerupuk apa yang saya makan? Aha! Wujudnya Anda tahu. Lihat saja gambar di atas. Tapi sebutan untuk cemilan itu ternyata beragam: kerupuk, kerupuk biasa, kerupuk kampung (lho?), kerupuk putih, kerupuk kaleng, “kerupuk yang bukan kerupuk udang”, dan entah apa lagi.

Harga kerupuk ini sekarang Rp 500,00 per keping eh per lembar. Sebagian orang (Jawa?) menjadikannya sebagai lauk.

Banyak orang bilang, si kriuk krauk itu tak bergizi. Kalau pun ada rendah sekali. Selain itu juga tidak mengenyangkan. Tapi tak sedikit orang yang memadukannya dengan sambal rujak atau lotis.

Bentuk kerupuk kampung ini tak hanya bundar. Ada juga yang empat persegi panjang. Warna selain putih biasanya kuning dan jingga. Biarpun harga sama rasanya bisa berbeda. Maklum produsennya berlainan.

Tentang kerupuk, itu meninggalkan banyak kenangan di benak saya. Pertama: penjajanya. Kedua: wadahnya. Ketiga: pabriknya.

Penjaja? Ya. Dulu, waktu masih bocah, saya senang sekali melihat sepeda penjaja kerupuk. Dari belakang si pengendara tak terlihat karena tertutup oleh kotak besar wadah kerupuk.

Saya selalu menggangap kotak itu kurang pintunya — padahal kata teman-teman sudah banyak (setidaknya tiga). Saya membayangkan anak kecil bisa masuk ke dalam kotak besar berbahan seng itu.

Perihal wadah, tampaknya dari dulu tak berubah. Tetap berupa kotak seng dengan jendela kaca. Dulu nenek saya selalu membeli kerupuk sekotak. Lha kotaknya itu milik si penjual.

Ketika saya sudah berkeluarga, pengalaman berkerupuk ala Mbah Putri itu diulang oleh istri saya. Kotaknya juga milik si penjual. Kami tinggal refill secara prabayar. Akhirnya refill berhenti, kotak tak kunjung diambil. Dari orang lain kami tahu bahwa si aki kerupuk ternyata sudah meninggal.

Tentang pabrik? Ya inilah pabrik yang masuki pertama kalinya saat saya kelas satu SD: pabrik kerupuk. Sebelumnya saya hanya tahu pabrik dari luarnya, biasanya dalam perjalanan ke luar kota. Misalnya pabrik gula dan pabrik kertas — semuanya bercerobong.

Di pabrik kerupuk itulah saya terkesan oleh cara pekerjanya mencetak kerupuk mentah. Mereka memakai tutup kaleng pastiles Wybert yang diletakkan di atas telapak tangan, lantas digeser-geser ketika menadah pecototan dari adonan terigu. Penekan agar adonan terus mecotot adalah batu pemberat.

Mereka bekerja cuma bersinglet bahkan bertelanjang dada. Bau apek keringatnya menggenangi ruangan. Ketika saya mengenal pabrik berikutnya, yaitu pabrik tahu, saya melihat orang-orang yang berkeringat tanpa baju. Ternyata pengalaman mereka saya ulangi, dengan terpaksa, ketika saya bekerja di sebuah media saat AC sentral dimatikan. Telanjang dada! :D

Itulah hubungan saya dengan kerupuk yang hingga kini belum putus. Banyak kisah. Yang saya tak habis pikir kenapa kerupuk cirebon yang digoreng dengan pasir itu disebut “kerupuk melarat”. Menghina betul.

Saya juga tak paham kenapa ada kerupuk kecil yang dinamai “kerupuk tersanjung”. Kabarnya istilah itu muncul saat demam sinetron Tersanjung pada tahun 90-an.

Boleh tahu pengalaman Anda dalam berkerupuk? Bagilah di sini…

40 Responses to Kampung, Melarat & Tersanjung

  1. brian AUSTRALIA Internet Explorer Windows says:

    dimana-mana sejarah pabrik kerupuk punya orang CIAMIS.

  2. [...] berapa banyak? Saya tak sanggup menghitung. Saya hanya tahu harga eceran selembar (?) kerupuk itu Rp 500. Kalaupun saya bisa menjawab, maka murid cerdas seperti Lintang, anak nelayan dalam film Laskar [...]

  3. mas kopdang INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    enaknya krupuk itu kalao sudah menciut terkena kuah bakso atau bumbu ketoprak.
    ada gejres maknyus sekaligus kemretak..
    :P

  4. yati INDONESIA Google Chrome Windows says:

    err….ini bukan rasis.
    kalo liat wajah, saya dikira orang jawa. tapi pas makan bersama, orang jadi tau saya bukan orang jawa. sama sekali ga doyan kerupuk. :d

  5. Tetty MALAYSIA Mozilla Firefox Windows says:

    Gara-gara paman, kami kemarin beli krupuk seperti yang tertera dalam gambar untuk makan. Tapi, emang enak sih?

    Tapi, kami makan dengan soto, uenak sekali.

  6. yuswae INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    krupuk itu seperti candu,paman.
    sudah waktunya dilarang..
    :D

  7. mpokb INDONESIA Google Chrome Windows says:

    ehem, makan nasi pake krupuk saja memang kurang bergizi, tapi enak, hehe.. selain orang indonesia, orang mana lagi yg hidangan utamanya pake kerupuk yak?

  8. yudhi INDONESIA Google Chrome Windows says:

    Di dekat pabrik mburuh saya harga krupuk sekarang ini bukan 500 dhe, tapi 1000. untung, pagupon saya bukan dekat pabrik. kalau dekat pabrik, wah, cilaka, soalnya yang satu ini termasuk spesial dan harus ada waktu ketika makan :D. kriuk..

  9. mantan kyai NORWAY Opera Mini says:

    Kerupuk emang ga ada matinya.

  10. Hedi INDONESIA Google Chrome Windows says:

    kalo saya makan krupuk seperti di gambar itu sering batuk, makanya kalo di rumah pasti saya goreng lagi

  11. tanteangga INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    kalau paman datang ke bandung,,,
    terimalah kerupuk seblak sebagai tanda perkenalanku.

    kerupuk seblak? kaga ada matinyee…

  12. Epat INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    ada kerupuk kemplang di lampung, ada kaitannya dengan kemplang bahasa jawa kah?

  13. bocah INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    Dulu waktu SD sering dipisuhi ibu guru: pantesan bodho, sarapane mung lawuh capuk (kecap sama kerupuk).

    Anehnya pas kuliah, dosen saya malah bilang dia yang dulunya cuma makan krupuk bisa jadi dosen. Sementara mahasiswanya (yaitu saya)yang makan telur sama daging malah bodo. Nah, kalau gitu krupuk bikin jos apa malah jadi oneng?

  14. ngodod INDONESIA Flock Linux says:

    suer om…, rasanya saya ndak seperti lagi makan lo gak ditemenin kerupuk. hambar… nista betul makan kali itu rasanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.