Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Jangan Mengalah!

Minggu, 21 September 2008 @ 23:57 | Komedi Indonesia

REBUTAN RUANG DAN NEGOSIASI RIMBA.

“Jangan kasih kesempatan. Satu masuk, belakangnya ngikut,” kata seseorang ketika saya jadi sopir. Petuah itu sering muncul dari orang lain. Sangat sering. Intinya: jangan sekali-kali mengalah.

Yang dimaksud jangan dikasih kesempatan itu bisa mobil lain, bisa sepeda motor. Adapun mobil, itu bisa taksi, segala jenis angkot, dan sedan bagus mahal.

Kalau menuruti panas hati, bisa-bisa street rage berlangsung saban hari. Program olah batin terbagus bagi orang Jakarta bukan di kelas yoga dan meditasi melainkan di jalan raya.

PASANG BADAN 1 | Kalau minta dengan sopan tak diberi, carilah jalan sendiri asal berani sodok dan siap lecet.

Dulu hampir setiap hari saya mengalaminya di Jalan Panjang, Kebon Jeruk (ketika belum ada busway). Ada saja penyerobot yang malas mengantre di lajur kanan menjelang putaran U. Beberapa penyerebot kalau diklakson membuka jendela. Separuh dari mereka seperti minta pemakluman. Separuhnya lagi menampakkan bahasa tubuh, “Emang napa? Masalah lu apa?”

Sekarang di Jalan Radio Dalam, Jakarta Selatan, saya sering mengalami. Setiap orang semaunya. Mereka yang mau ikut aturan dan ingin sopan akan ditegur oleh pengendara lain karena dianggap lamban dan menghalangi.

PASANG BADAN 2 | Kernet bus kota selalu menjadi bentara penyibak jalan tanpa peduli lampu merah.

Yang penting bagi setiap orang adalah lebih dulu sampai di tengah perempatan. Mau lampu merah, kuning, atau hijau, itu soal lain. Titik temu di tengah perempatan adalah peluang terakhir untuk tawar-menawar berebut ruang. Fait accompli hanyalah cara, bukan tujuan.

Apa yang sebetulnya terjadi di jalan raya Ibu Kota?

Banyak orang cenderung mau menangnya sendiri — apapun kendaraannya. Prinsipnya ogah terhalangi. Tapi kalau kita dalam posisi atau situasi menghalangi ya nyaman saja.

Saya tak menegur sopir ketika bus yang saya naiki menerobos lampu merah dan menyerobot di perempatan. Sopir yang trengginas adalah dambaan penumpang yang maunya bayar, duduk manis, sampai.

Saya hanya menegur secara basa-basi jika ojek yang saya boncengi melawan arus, memotong jalan, dan melakukan kengawuran lainnya. Bukankah alasan saya naik ojek adalah untuk menembus kemacetan?

PASANG BADAN 3 | Mulanya motor mengambil jalur milik arah berlawanan. Akhirnya motor mau mengalah setelah Mercy menunggu lama.

Jika menyangkut perilaku di jalanan jangan cuma merujuk — sambil menghina — sopir angkot. Pengemudi Range Rover juga bisa semaunya memotong antrean, tak peduli itu sopir atau majikan. Tak jarang lampu sen mobil bagus itu tidak berfungsi. Setara bajaj.

Bahwa di luar negeri itu orang kita bisa tertib, ah sudahlah itu cerita kuno. Di sini yang dari hari ke hari kian terasa kasar dan liar adalah cara berebut ruang — baik ruang di jalan raya, ruang di kaki lima, maupun ruang publik lainnya. Jika pengelola pasar atau mal kelas menengah ke bawah itu lengah, maka pemilik kios akan memasang dagangan sampai ke lorong.

PASANG BADAN 4 | Petugas parkir dan satpamwan harus selalu siap ditabrak kendaraan ketika mengaba mobil keluar dari parkiran.

Berebut ruang. Itulah yang terjadi. Ruang hanya bertambah jika mengambil punya orang — dengan maupun tanpa tawar-menawar.

Repotnya, kalau orang lain diam atau mengalah, maka si pemenang sudah menganggapnya sudah menjalani proses tawar-menawar dalam kesetaraan.

Kesetaraan? Ini pun membingungkan. Secara ekonomis sopir Metro Mini di bawah kesejahteraan pemilik Audi A6. Tapi dalam hal adu gesek, nyali sopir angkot lebih tinggi. Opini penumpang dan orang jalanan cenderung berpihak ke sopir angkot daripada ke mobil yang sudah diasuransikan — apalagi jika ditambahi sentimen rasial.

Jalan raya kita adalah ruang yang memungkinkan setiap orang menakar peluang untuk menang dengan bermodalkan naluri rimba. Pepet! Sodok! Orang lain diam dan mengalah itu salah sendiri.

Seorang sopir KWK (KR) Pondokgede pernah menceramahi penumpangnya, termasuk saya, begini:”Apa? Ngikutin aturan? Huh, pejabat aja nggak naati hukum kok kita-kita diminta patuh hukum! Padahal sama-sama nyari makan, kan?”

Sungguh sebuah studium generale yang hebat. Pasti dia guru besar program studi S3 ilmu angot perangkotan.

Catatan:

+ Foto-foto diambil dalam ruas sepanjang satu kilometer di Jalan Radio Dalam Jakarta

+ Bagaimana berlalu lintas dan memperlakukan mobil bagus di Arab Saudi, tanya Haji Fahmi. Untuk Kuwait, tanyalah Didats.

Ada 27 komentar | trackback | Depan

roysuryo

#27

hanny | 09 10 2008 @ 17.56.10

Paman, kesempatan itu diberikan, diraih, atau mesti direbut, ya?


#26

latree | 08 10 2008 @ 10.05.26

males banget ah, hidup nyetir di jakarta…


#25

dikpras | 08 10 2008 @ 2.17.41

Ujaran ndeso: sing waras ngalah, tak berlaku di jalanan Jakarta. Trus mau sampai kapan keadaan macam gini. Kayaknya kok makin hari makin tambah ketidakwarasan itu ya


#24

dikpras | 08 10 2008 @ 2.14.42

Ujaran ndeso: sing waras ngalah, tak berlaku di jalanan Jakarta. Trus mau sampai kapan keadaan macam gini. Kayaknya kok makin hari makin tambah ketidakwarasan itu ya.


#23

Catshade | 01 10 2008 @ 11.18.49

Kalo dua jalur mau rebutan satu jalur, selama ini prinsip saya adalah ‘prinsip retsleting’ atawa ’satu dari kanan, satu dari kiri, satu dari kanan, dst.’

Entah ini distorsi ingatan saya atau kebetulan yang saya ingat adalah saat bulan puasa, tapi biasanya para pengendara mobil yang lain cukup tanggap akan hal itu kok…

@Ahmad Saidah:

Kayakna dari zaman Orba yang opresif dulu lalu lintas kita juga sama semrawutnya…


#22

Oemar Bakrie | 27 09 2008 @ 4.19.24

Di jalan sering terjadi anarkhi oleh mobil bagus sekali (yg membuat orang takut harus ngganti kerusakan) atau oleh mobil jelek sekali termasuk angutan umum (yg membuat kita takut jadi korbannya) …


#21

BARRY | 23 09 2008 @ 22.06.38

Melihat kemacetan Jakarta membuat kepala saya tiba-tiba pusing :)


#20

Luluk | 23 09 2008 @ 21.26.48

Saya mumet kalau di Jakarta, mendingan di Sleman Om:-) Ayem, alon-alon asal kelakon


#19

mantan kyai | 23 09 2008 @ 11.48.43

foto2nya jalan raya .. tp ceritanya kok arena F1 :D


#18

galih | 23 09 2008 @ 11.09.27

saya cuma heran, kok tahan orang2 jakarta itu hidup di jalanan semacet dan sesemrawut itu. di saat transportasi publik yang layak adalah mimpi, di saat jumlah sepeda motor meledak tak terkendali. lalu saya bertanya pada diri sendiri: kenapa saya juga ada di jakarta? siapa suruh datang jakarta?


#17

andika | 22 09 2008 @ 21.55.26

ketika semua orang merasa tertekan dan perlu pelampiasan, cara termudah (walaupun salah) adalah dengan menekan pengguna jalan lain
*lupa dapet kata-kata ini dari siapa*


#16

joko supriyanto | 22 09 2008 @ 21.27.11

itu semua ada karena endonesiah


#15

Ahmad Sahidah | 22 09 2008 @ 14.29.26

Negeri Jiran yang kata Freedom House tidak sebaik kita demokrasinya, tapi di jalan warganya tampak santun dan menaati aturan.

Kebebasan kita telah kebablasan.


#14

Hedi | 22 09 2008 @ 13.25.14

di Indonesia ini lucu, orang kok seneng banget punya mental budak. Lha saya sering dimarahi orang kalau berhenti pas lampu merah. Benar2 aneh.


#13

rian | 22 09 2008 @ 11.49.49

Mengopo horus soling rebuton, hinggo bady lo lecet….
Numpa’ dokar wae.. ora lecet, ora sikut-sikutan tapi ambune iku…
ya.. nggak nyambung


#12

mpokb | 22 09 2008 @ 10.38.10

haramkan sistem setoran, naikkan gaji sopir dan kernet bus *mendengarkan “under pressure” kesekian puluh kalinya di earphone*


#11

Kyai slamet | 22 09 2008 @ 8.36.23

Ah, manusia memang mahkluk yang gak jelas. Saat naik motor, memaki-maki bus yang seenaknya mendahului dan memakan marka jalan.
Saat naik bus, memaki-maki motor yang tak mau mengalah turun ke bahu jalan.


#10

bw | 22 09 2008 @ 8.13.31

Jakarta ya? Ha … ha … ha! Kalo di tempat saya yang tidak mau mengalah namanya binatang – dalam arti sebenarnya -, Paman. Sapi menyusui di tengah jalan. Kambing bersanggama juga di tengah jalan. Silaturahmi antar kerbau,lagi-lagi di tengah jalan.


#9

Remo Harsono | 22 09 2008 @ 7.36.23

Alhamdulillah, saya sekarang tambah sabar boss kalo dijalan…dengan resiko disumpah-sumpahin orang dibelakang :(

Resiko lain, sewaktu masih kerja ya pasti telat terus…saya juga ga mau cari alasan…so kayaknya musti kerja sama orang yang lebih sabar :(


#8

caktopan | 22 09 2008 @ 7.18.55

yup, setuju paman.
kalo di batam, macet karena jalanan rusak. ruang semakin sempit. yang bikin dagdigdug, orang2 pada adu cepat nglewatin sepotong jalan yang masih bagus. peduli setan, bakalan nyrempet yang uda duluan.


#7

Dhany | 22 09 2008 @ 5.06.53

negeri ini terlalu banyak orang kaya
bisa “punya” mobil mewah
namun tak punya jiwa

(punya = bukan selalu berarti membeli)


#6

tukang sapu radio | 22 09 2008 @ 4.35.37

semoga sikap seperti ini nggak terjadi di dunia blog dalam merebut trafic


#5

fahmi! | 22 09 2008 @ 3.02.32

wah seru nih, kayaknya kalo di jakarta tuh lebih oke nyetir panser daripada nyetir mercy yah, hehe :D


#4

gagahput3ra | 22 09 2008 @ 2.59.30

Jadi inget papa saya, yang tadinya gak pernah mau kalah di jalanan…tapi dah 3 bulan ini mendadak selalu ngasih jalan untuk orang lain…..akibatnya ya itu tadi…kalo ada temen yg numpang pasti malah diceramahin supaya jangan ngalah :(


#3

Epat | 22 09 2008 @ 1.27.39

saya mau melepaskan dulu sejenak paman dari penatnya ibukota ini. menikmati sejuknya embun pagi di kebun belakang rumah kampung halaman.


#2

Donny Verdian | 22 09 2008 @ 0.57.44

Tumben nomer polisinya nggak diacak, Paman?


#1

kunderemp | 22 09 2008 @ 0.36.47

Karena itu lah pejabat-pejabat publik menyebalkan tetap terpilih berkali-kali. Karena semua, walau tahu itu salah, tidak berani menegur.

Nyatanya, sampai sekarang belum ada tuh cerita penumpang negur supir bis yang lagi ugal2an, seruduk sana-sini, dan ngebut dengan kecepatan tinggi.