PULANG, MUDIK, LIBURAN. MANA YANG UTAMA?

Wanita itu setengah mengeluh. Mengapa setengah karena tak sepenuhnya mengeluh. Setiap tahun dia pulang ke rumah orangtuanya, membawa suami dan anak, sampai dua pekan. Pada akhir tahun pun begitu. Tapi tidak untuk Lebaran. Orangtuanya menganggap dia jarang pulang. Saudara dan ipar, yang biarpun datang hanya semalam, lebih diperhitungkan sebagai yang pulang — bukan berlibur.

Tentu akan tafsir terhadap ini. Silakan Anda berdiskusi. Lalu saya tambahi kasus lain.

Seorang pria, beserta adik dan kakaknya, ketika masih SMA dan kuliah punya kesepakatan. Isinya: jika kelak mereka tinggal berpencar di kota yang berlainan maka Natal tidak harus pulang ke rumah orangtua.

Bukan karena kelewat jadi abangan atau sekular sehingga menjauhi Natal melainkan semata karena alasan rasional. Sekitar tutup tahun itu apa-apa mahal, termasuk ongkos perjalanan dan penginapan. Urusan menengok orangta bisa dipilihkan hari yang lain, yang lebih lega.

Di kemudian hari ada yang tetap konsisten, ada yang tidak. Alasan yang pulang tidak antara lain karena kangen dan kasihan terhadap orangtua. Yang tidak pulang? Juga tetap kangen dan kasihan, tetapi “akal sehat” masih dikedepankan.

Bagaimana Anda melihat ini? Selamat berdiskusi selagi menyambut Hari Raya.

Selamat Idul Fitri untuk Anda yang merayakan. Seperti harapan dan pinta tahun sebelumnya, bagikanlah hikmah dan berkah yang Anda petik kepada sesama — antara lain melalui blog.

Tagged with:
 

29 Responses to Pulang yang bukan (Sekadar) Pulang

  1. lexi INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    Man,nyuwun pangapunten sedaya kelepatan. Saya bersyukur bisa mengenal paman, dengan blog yang (sering, mungkin selalu, malah) memberi pencerahan.

  2. egghead INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    demi romantisme mudik, tabungan setahun gw amblas buat ongkos kereta + pamer ‘keberhasilan kerja di ibukota’di kampung. tapi gw puwas…!!capek tapi puwasssss

    sekarang mulai nabung lagi buat mudik taon depan…

  3. Sky INDONESIA Internet Explorer Windows says:

    Silaturahmi dengan orang tua memang bagian dari ibadah. Ibadah itu bagian dari agama. Kadang memang agama agak sulit diterima oleh akal sehat. Karena agama pada dasarnya adalah percaya, bukan mempertanyakan. Lha wong cinta juga kadang ngga bisa pake logika kok.

    Bagaimana saya? No comment… Karena ortu dan mertua saya dekat, jadi tak perlu memikirkan tiket pesawat maupun tuslah menjelang hari raya :))

  4. didi INDONESIA Mozilla Firefox Windows says:

    saya realistis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.