Pulang yang bukan (Sekadar) Pulang
PULANG, MUDIK, LIBURAN. MANA YANG UTAMA?

Wanita itu setengah mengeluh. Mengapa setengah karena tak sepenuhnya mengeluh. Setiap tahun dia pulang ke rumah orangtuanya, membawa suami dan anak, sampai dua pekan. Pada akhir tahun pun begitu. Tapi tidak untuk Lebaran. Orangtuanya menganggap dia jarang pulang. Saudara dan ipar, yang biarpun datang hanya semalam, lebih diperhitungkan sebagai yang pulang — bukan berlibur.
Tentu akan tafsir terhadap ini. Silakan Anda berdiskusi. Lalu saya tambahi kasus lain.
Seorang pria, beserta adik dan kakaknya, ketika masih SMA dan kuliah punya kesepakatan. Isinya: jika kelak mereka tinggal berpencar di kota yang berlainan maka Natal tidak harus pulang ke rumah orangtua.
Bukan karena kelewat jadi abangan atau sekular sehingga menjauhi Natal melainkan semata karena alasan rasional. Sekitar tutup tahun itu apa-apa mahal, termasuk ongkos perjalanan dan penginapan. Urusan menengok orangta bisa dipilihkan hari yang lain, yang lebih lega.
Di kemudian hari ada yang tetap konsisten, ada yang tidak. Alasan yang pulang tidak antara lain karena kangen dan kasihan terhadap orangtua. Yang tidak pulang? Juga tetap kangen dan kasihan, tetapi “akal sehat” masih dikedepankan.
Bagaimana Anda melihat ini? Selamat berdiskusi selagi menyambut Hari Raya.
Selamat Idul Fitri untuk Anda yang merayakan. Seperti harapan dan pinta tahun sebelumnya, bagikanlah hikmah dan berkah yang Anda petik kepada sesama — antara lain melalui blog.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- Saya jadi ketawa ngeliat komentar @pakde Totot pada kolom komentar blogpost "Memahami FPI" punya @pamantyo baca saja -> http://t.co/RjtBfBdd May 19, 2012 sibair (Bair)
- :'( RT @dannytumbelaka: @TonnySukirno @PamanTyo bangaip @motulz RIP Donna Summer... May 18, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Maunya sih Ngingetin
March 31, 2007 by AntyoYANG PENTING NEMPEL.
Atas nama promosi sekalian menjalankan fungsi pelayanan masyarakat, kumpeni bisa melakukan langkah kreatif. Misalnya menyebar stiker dengan pesan keamanan. Soal desain adalah pasal satu. Setelah itu, pasal berikutnya, adalah lokasi penempelannya. Stiker ini saya jumpai di tembok sebuah Alfamart, dekat parkiran motor, dengan ketinggian penempelan yang tak menggiring mata karena di [...]
Recent Comments
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
jimmy» Nice Informasinya gan,, sangat membantu sekali.. :)
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Met idul fitri paman…maaf lahir batin *telat* ^_^
masalahnya kesepakatan yang sudah mentradisi sudah kadung terpatri
Selamat mudyik bg yg mudyik. Muah.
Selamat Idul Fitri Paman! Mudik kah? Saya kebagian tugas nyirem tanaman dan tanggungjawab utk domestic pets hahaha..
selamat merayakan lebaran bagi yang merayakan, mohon maaf lahir bathin.
met lebaran paman…
met liburan :)
Please add 7 and 1 = 8
Selamat Mudik, Selamat Idul Fitri, Paman…
Maafkan saya, Paman…
Mari berbagi melalui blog
salam…lebaran pak Tyo…
Bingung Paman, sebelum kebingungan ini membuat kata2ku ilang,
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin
tahun ini ga pulang, paman.
istri hamil 7 bulan, ga boleh naik pesawat.
tahun2 lalu biasanya pulang ga pas lebaran. karena pertimbangan biaya. apa2 serba mahal kalo uda dekat lebaran, natal dan lebaran haji. Tentu saja, musim liburan sekolah.
Kita milih hari2 yang ga termasuk kategori diatas. eman-eman duit’e cuma dibakar buat ongkos pesawat. :)
Sejak Kakek dan Nenek “berpulang”, saya enggak pernah lagi “berpulang”.
Biasanya saya ikut “berpulang” ke rumah Nenek, kota terbesar kedua setelah Ibu Kota. Berdesakan, berjejalan, berebutan, dan bersikutan untuk masuk ke dalam. Kalau enggak bisa lewat jendela kecil naik kereta ekonomi. Yang penting “tersangkut” di jendela, ditarik ke dalam hingga “terbawa”. Paling banter kereta Bima, yang namanya argo-argoan itu mah cerita kereta baru. Hebatnya lagi meski keretanya ekonomi, enggak ada cerita Lebaran anjlok keretanya, … hahahaha. Wuih, asyiknya mudik berkereta!
Sejak awal, ayah ibu tidak mengharuskan anak-anaknya pulang saat Lebaran, apalagi jika Lebaran berada di tengah masa ujian semesteran. Setelah berkeluarga dan anak kecil, ibu juga tak mewajibkan pulang untuk kami yang tinggal jauh dari kampung, karena sulitnya transportasi (lha masih mahasiswa aja susah, apalagi bawa anak kecil). Namun kami, sebagai anaknya, mencoba agar minimal ada salah satu dari putranya ibu yang pulang kampung…biasanya adalah adik saya yang jadi dosen, dan rumahnya 3,5 jam perjalanan normal dari Madiun.
Kalaupun bisa pulang, biasanya setelah Lebaran, namun masih di bulan Syawal, sehingga jalan tidak padat sekali (ini cerita dulu belum ada libur bersama)….dan sekaligus menjemput si mbak yang rumahnya tetangga kampung suami di Kediri.
Sekarang, Lebaran cukup di Jakarta, tapi hari kedua Lebaran mesti ke Bandung karena tugas suami masih banyak, si bungsu juga sibuk menulis thesis…saya yang agak kosong, baru seminggu setelah Lebaran ada kegiatan.
kasus pertama karena si ibu yang setengah mengeluh itu masih sekota dengan orang tua. sedangkan saudaranya yang lain walau sehari adalah pulkam karena tinggal jauh dari ortu mereka alias tak sekota.
kasus dua terkait rasional dan tidak sebetulnya sekadar masalah momen. Murah bila tak pulkam di hari raya makah kekhusukan dan ketakziman kurang afdol rasanya.
kurang lebih begitu.
:P
Slamat libur Lebaran, Paman !
sugeng riyadin paman :)
iya paman, saya termasuk yg males mudik waktu lebaran. lebih enak milih hari laen yg lebih longgar. tapi mudik pas lebaran sebenernya ada enaknya juga, bisa ketemu ama sebagian besar keluarga di satu waktu, kalo di hari biasa kita mesti datengin satu-satu tuh supaya bisa ketemuan.
Kadang (bahkan banyak) yang perlu ‘rumah’ kultural untuk pulang. Untuk sekadar sandaran identitas.
Jengah kalau dapat pertanyaan “aslinya mana?” untuk dijawab dengan “Jakarta” atau “Bandung” sementara tidak asli genetis Betawi atau Parahyangan.
selamat idul fitri buat Paman Tyo dan semua pengunjung blog ini.
sekaian nitip link artikel tentang tradisi Lebaran di kalangan Batak muslim :
http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/09/29/lomang-bukan-ketupat-ciri-khas-lebaran-di-tapanuli-selatan/
Saya sudah lama tidak menganggap penting tradisi mudik.
Ketika belum berkeluarga, terakhir sholat Ied di kampung itu tahun 1997, saat Jakarta banjir besar. Setelah itu selalu pulang setelah sholat Ied dan keliling tetangga dulu.
Setelah berkeluarga, karena mertua di Tangerang, istilah mudik ke Tangerang jadi aneh, karena justru melawan arus mudik. Sholat Ied kalau tidak kami lakukan di kampung sendiri, ya di kampung mertua. Namun karena demi “keadilan” (tidak melulu sholat Ied kampung mertua terus), sesekali kami jadinya mudik dan sholat Ied di kampung ortu.
Tahun ini, untuk pertama kalinya saya tidak mudik ke kampung ortu maupun ke kampung mertua. Sebelumnya pernah kalau tidak salah dua kali hanya mudik ke rumah mertua.
Tahun ini, ortu saya justru ya “keliling”, sejak mulai liburan sekolah, beliau sudah melawan arus mudik dari “jawa” ke bogor ke rumah adik, rencananya pada H+2 akan melawan arus balik meneruskan muhibahnya ke rumah saya di Bandung.
bagaimanapun makna lebaran menurut kebanyakan orang bukanlah pulang ke rumah orang tua dengan ongkos yang lebih mahal, tetapi sudah merupakan tradisi kuat yang rasanya tidak bisa dipisahkan lagi, walau sampai saat ini mudik bukanlah tradisi yang berasal dari Islam.
paman, nyuwun pangapunten sedaya kalepatan kawula nggih….
sampun kesupen lho angpaw-nipun :D
salam dumateng keluarga, mugi tansah pinayungan dumateng ngarsanipun gusti kang murbeng dumadi, gusti kang adamel gesang.
ayuk berbagi lewat blog om… eh paman… maaf lahir batin ya atas semua salah silap dan khilaf selama ni…. lebur semua dosa di hari nan fitri… berharap ridho dari Sang Maha Segala…. amin….
saya mikirnya ilmu sosial dan ilmu budaya bukan matematika, yang 2+3 adalah 5. tetapi ilmu sosial lebih cenderung pada korelasi humanisme. Jdi.. Dari 2 kasus paman tyo hari ini, saya hanya bisa bilang… dari sudut pandang mana kita akan menilai dan cati solusinya.
Sudut pandang religi, akan bilang menjenguk orang tua mempunyai nilai lebih pada moment yang sakral. Tetapi samakah jika ditinjau dari segi sosial ekonomi dengan perhitungan biaya pada (moment sakral) lebaran lebih mahal 3 kali lipat?
Terima kasih, Paman. Ada gurat bahagia membaca ucapan paman dengan kartu lebaran yang penuh makna. Mobil jalan menaik, bukankah penuh arti?
Saya tidak pulang tahun ini. Tapi, saya tetap sungkem dengan Ibu melalui telepon.