BENARKAH TAK SEMUA BANGSA MENGENAL JONGKOK?

Saya mengartikannya sebagai ganjal pantat. Itulah dingklik (Jawa: dhingklik), yang menurut KBBI berarti “bangku pendek untuk duduk atau untuk meletakkan kaki”. Si ganjal pantat itu masih “ada sedia” di pasar swalayan. Yang berbahan kayu lebih murah daripada yang plastik. Dingklik kayu Rp 22.000. Dinglik plastik Rp 24.000.
Saya tahu perbedaan harga itu dari seorang blogger, keponakan Kolonel Sanders, yang sedang memulai jualan sega kucing di Kramat Pela, Jakarta Selatan. “Yang plastik itu,” katanya, “lebih mahal tapi kalo diduduki bisa mleyot.”
Tapi tenanglah, dingklik itu bukan untuk diduduki pengunjung. Hanya untuk pengganjal pantat orang warung saat membakar tahu dan tempe bacem.
Duduk di atas dingklik adalah jongkok yang terganjal sehingga kaki dan pinggul tak capai, lagi pula keseimbangan tubuh lebih terjaga.
Apa sih istimewanya jongkok? Ini lebih ringan daripada lesehan. Mereka yang berbobot lebih dengan kesentosaan yang payah akan sulit berlama-lama lesehan, sejak memulai sampai mengurai sila lalu berdiri. Dalam bberapa kasus, mereka juga kesulitan untuk jongkok.
Tak ada yang istimewa dengan jongkok. Teman saya bercerita, ketika dia belajar antropologi di Leiden, Negeri Belanda, ada mata kuliah bikin film. Mahasiswa dari Asia tak bermasalah dengan posisi badan memegang kamera yang dimulai dari berdiri tegak menuju jongkok. Sebagian bule, katanya, hampir terjengkang.
“Mungkin karena kita terbiasa pakai kloset jongkok,” katanya. Saya bilang, orang Indonesia modern yang memakai kloset duduk sejak kecil pun tak bermasalah dengan jongkok.
Saya mencoba memutar ingatan tentang apa yang saya lihat di negeri lain, juga dari ingatan menonton film, tentang orang-orang kurang kerjaan di trotoar. Mereka berdiri atau duduk selonjor di atas semen. Jarang yang jongkok. Tentu, jongkok yang saya maksudkan adalah pantat tetap mengambang, tak bertumpu pada tanah, dan punggung tak menyandar ke tembok atau pun pintu gulung.
Boleh jadi ingatan saya terbatas tapi dari contoh yang tidak muwakil (representatif) saya melakukan generalisasi. Anda yang berada di negeri lain mungkin bisa mengoreksi ingatan saya.
Saya tak tahu apakah orang kulit putih mengenal dingklik. Dalam sebuah buku kamus visual, sejauh saya ingat, ragam tempat duduk mereka tak mengenal dingklik. Padahal dingklik dekat dengan jongkok. Oh ya, saya belum ke Ace Hardware untuk mengecek dingklik (kayu) gaya Amrik.
Sebagai aktivitas tubuh yang naluriah, jongkok saya andaikan bisa dilakukan oleh sebagian besar primata – termasuk manusia. Namun pendapat ini pun mungkin ngawur karena saya tak paham primatologi.
Yang saya ingat sampai hari ini hanyalah petikan parikan Jawa, “dhingklik oglak-aglik“. Artinya dingklik yang sambungan sikunya tak lagi kokoh sehingga bergoyang ketika diduduki.
Adapun soal jongkok, KBBI sudah memodernkan diri. Jongkok juga diartikan sebagai kiasan untuk, misalnya, inteligensi yang rendah. Mungkin anggota tim kamus, kalau dia/mereka bukan orang Jakarta, teringat salah satu film Warkop: IQ Jongkok.
Barangkali Anda punya catatan soal jongkok ini?





blonty | 18 12 2008 @ 0:59:52
yang kuingat sebagian namun tak paham: jongkoK joyoK boyoK
hebiryu | 27 11 2008 @ 10:40:18
maksudnya campuran padang & manado gitu
hebiryu | 27 11 2008 @ 10:39:52
istriku orang padang + manado selalu marah2 klo aku jongkok.
katanya aku satu2nya orang jawa yang jongkok. hahahahahaha ..
Marwoto Adi | 27 11 2008 @ 10:10:22
KB dengan DHINGKLIK…
DEPOK, SINDUR POS (9 September 2008).Dalam rangka kampanye Keluarga Berencana, petugas BKKBN berkunjung ke desa Sumberejo untuk bisa berdialog langsung dengan para akseptor KB. Satu persatu Ibu-ibu di desa itu diajaknya bicara.
Petugas : “Bu Broto pakai apa, Bu?”
Bu Broto : “Pakai IUD”
Petugas : “Bu Sami pakai apa, Bu?”
Bu Sami : “Pakai susuk”
Petugas : “Bu Karjo pakai apa, Bu?”
Bu Karjo : “Pakai suntik”
Petugas : “Bu Madre’i pakai apa, Bu?”
Bu Madre’i : “Pakai dingklik!”
Petugas : “Pakai apa Bu?”
Bu Madre’i : “PAKE DINGKLIK!!!”
Petugas : “Gimana caranya?”
Bu Madre’i : “Suami saya sukanya main sambil berdiri. Karena dia lebih pendek dari saya, maka dia perlu mancik ke atas dingklik. Ketika suami saya sudah mulai ngos-ngosan & merem-melek, Tak tendang dingklik-nya!”
Iwak Asin | 20 11 2008 @ 13:47:45
Allow pak Dhe…
sing puaaling penak kuwi ndodok ning pinggir kali…
rasane lueeewegoh…
opo maneh ngangetno awak isuk2x neng ngarepe tumang dek pawon…
wuih… anget, plus iso goreng pisang goreng pisang pisan…
enek ora yo dhingklik mlebu expor-impor ?
kwak kwik kwek | 11 11 2008 @ 17:08:55
Hla iki sing nduwe ngomah jane ngono menyang ngendi to yo, kok blogombalane nganti sawanen, kesuwen ora ditiliki ki :D
oepil-kok-asin? | 11 11 2008 @ 14:20:48
mau khas mana pun…
mau jongkok….
mau duduk….
minumnya teh botol sosro….
toilet jongkok eropa | 08 11 2008 @ 14:08:45
kata orang belanda, justru toilet jongkok itu khas prancis. paman mau pesan toilet jongkok ala prancis, rusia, italia atau yunani? silakan pilih, di wiki ada :D
Jenk | 07 11 2008 @ 21:56:15
Itulah mengapa closet di luar sana tingi-tinggi…
kalo di kampung kan masih banyak yang dengan mudahnya, suka tak suka, harus dingklik/jongkok.
jaka | 07 11 2008 @ 20:39:30
Yaaa … betul … orang Eropa sptnya menganggap jongkok bukan posisi badan yang dianjurkan. Teman saya orang Jerman (dari desa gitu, jadi bisa dianggap mewakili masyarakat “native” Eropa) pernah bareng ke suatu seminar di Wuhan Cina. Di bis kita lihat orang2 nongkrong (jongkok) di pinggir jalan. Dia bilang: ‘lihat itu, orang2 duduknya aneh gitu’. Dia bilang pakai kata “komisch” yg artinya aneh/lucu (dengan nuansa negatif spt memalukan). Saya cuma heran waktu itu, kok jongkok di pinggir jalan dibilang aneh, soalnya jaman saya SMA dulu nunggu MetroMini juga sambil jongkok. Jadi ini spt “bestätigung”.
bubba | 07 11 2008 @ 17:42:37
dan tak semua bangsa mengenal ‘jet shower’ pakdhe…
edratna | 05 11 2008 @ 21:14:57
Enakan dingklik bikinan sendiri paman….lebih mantap
antowi | 03 11 2008 @ 16:31:37
Kalau lompat jongkok yang “menangan” adalah KODOK. Soale “Teko - Teko nDodhok” :p
Freddy Hernawan | 03 11 2008 @ 13:53:38
lompat jongkok juga ada :)
fg | 01 11 2008 @ 13:56:04
utk tatakan kaki kiri buat “action” pas menggitarrr di panggung *halah* :D
bah reggae | 31 10 2008 @ 13:42:32
Klo tak salah, ada bahsa inggrisnya jongkok. Lalu, katanya, bhs itu kode. Artinya, mosok ada kode tp gak ada yg dikodein.
Jadinya, berdasarkan utak-atik gatuk itu, bule pun semestinya bis jongkok. Apalagi klo teori Darwin itu benar. Mosok, dari brangkang langsung tiba2 bisa berdiri, dan melupakan jongkok?
Krnnya, jika (saat ini) banyak bule gak bisa jongkok, atau di sono tak ada dingklik yg bisa dipakai unk melestarikan perjongkokan, itu mgkin kebiasaan saja tak memelihara “sejarah”.
Sementara di yk, misalnya, sejarah itu dipelihara. Di sana ada laku jongkok jika sowan ke priyagung. Jika bisa jalan jongkok dianggap jawani.
Nah klo jongkok itu statis, dan tak ada priyagung, itu berarti sedang memenuhi panggilan tanah air.
Padahal, hakekatnya sama, jongkok. Tapi yg satu disebut jawani (jika sambil jalan), yg satunya lagi sekadar memenenuhi panggilan tanah air (jika statis).
Yg serem, jika berani menggabungkan ke2 makna jongkok di atas, maka siap2 saja berurusan dengan pitik. Ditotoli pitik. Kepret2 dan ra karu2an.
Kardjo | 30 10 2008 @ 11:56:38
sudah nyala lagi paman blog-nya. tambahin bandwith donk.. hehe.
BTW, sepengetahuan saya, dhingklik diciptakan orang bersamaan dengan terciptanya anglo. Ketika orang memasak diatas anglo maka yang bertugas mengipasi ya duduk di dhingklik itu.. Itu sekitar 200 tahun sebelum Masehi..
Benar atau tidak, sudah tidak ada lagi orang yang bisa dimintai keterangan.
mas kopdang APP | 30 10 2008 @ 0:11:13
waktu ketjil, oleh-oleh dari bedinde di rumah saat pulkam adalah dingklik.
Asoy geboy pas memakainya.
:P
dondanang | 30 10 2008 @ 0:01:36
aku buang airnya bisa duduk bisa jongkok. Maklum militan :D
Masenchipz | 29 10 2008 @ 20:18:29
belom kebiasaan ya… agak susah ngrubah… soalnya dah terbiasa… he..he..
soerdjak | 29 10 2008 @ 19:29:08
heuhue..
udah lama banget ga pernah liat lagi bangku jongkok.
Donny Verdian | 29 10 2008 @ 9:49:39
Wah tulisan yang menarik..
Saya sedang mengusahakan perpindahan boker sytle dari jongkok yang telah saya imani sebagai cara boker terefektif dan ternyaman selama 30 tahhun ke sytle duduk..
Doakan saya bisa!
Qky | 29 10 2008 @ 8:31:40
jengkok buatan sendiri masih awet tuh Pamaan, ada dua, usianya lebih tua dari Ghiffari, masih mobile sampe sekarang
ar1e2000 | 29 10 2008 @ 7:35:35
Man Paman di luar sono kagak ada istilah IQ Jongkok makanya mereka juga kagak bisa jongkok.
di sono juga gak ada yang Oglak-Aglik kecuali gigi nenek tetangga saya yang Oglak-Aglik karena beliaunya udah TOP ( Tua Ompong and Peyot )
andril21 | 28 10 2008 @ 16:52:54
kalo mau liat jongkok ala luar negeri liat aja tim sepak bolanya. ada kok yang bisa jongkok. tapi jongkok bin “ndodhok!!” paling ayem punya Mahatma Gandhi. Wuiih..! keren..!!
cebong ipiet | 28 10 2008 @ 12:41:18
huehuehue gitu ya Paman
maap ini IQ nya rada jongkok jadi ndak tau kalo di luar neheri ky gitu
shafwan hasbi | 28 10 2008 @ 1:37:50
huehuehue
itu mah tempat duduk kalo lage nyuci…
malahan ada yang lebih pendek euy
Manusiasuper | 27 10 2008 @ 22:38:15
Wasir, susah jongkok,,,,
Mihael Ellinsworth | 27 10 2008 @ 22:18:29
Tentu saja tidak semua bangsa mengenal jongkok, paman. Wong ketika saya melihat WC duduk mereka larang penggunanya jongkok. :mrgreen:
-=«GoenRock®»=- | 27 10 2008 @ 21:17:54
Saya pake dingklik juga buat alas leptop kalau lagi pengen autis sambil slonjoran :mrgreen:
yuswae | 27 10 2008 @ 16:55:07
waduh paman, bahaya lho mbahas soal dhingklik sekarang ini. soalnya banyak orang yang sibuk rebutan dhingklik wakil rakyat
Ibunya Aria Gaung | 27 10 2008 @ 15:24:09
pakde, saya jd ingat ibu saya bbrp waktu lalu ndak bisa jongkok. trus kok ya ketemu ahli tusuk jarum. setelah beberapa tusukan di beberapa lokasi… berhasil jongkok sempurna! katanya sih kalau ndak iso jongkok, artinya saraf keseimbangan terganggu.
boyin | 27 10 2008 @ 11:09:47
kalo kayak yang difoto..itu buat anak saya nulis
Tetty | 27 10 2008 @ 10:56:31
Pernah ibuku beli dingklik yang dari plastik untuk di dapur, trus tanteku yang ber-size tubuh besar dateng, dengan seenaknya dia duduki dingklik baru itu, kontan tuh dingklik langsung mleot..,haha?! (cape dech..?!)
So, dingklik paling aman untuk berbagai size tubuh tuh yang terbuat dari kayu, KUAT.
shopgirl | 27 10 2008 @ 5:03:49
Kayanya emang bule ga biasa jongkok. Lha duduk lesehan aja gak biasa kok. Di IKEA biasanya banyak dingklik, tapi buat anak2 yg gak nyampe kalo kudu cuci tangan di wastafel dsb. Jadi jelas2 buat diinjak, bukan buat naruh pantat.. hehehe..
Ahmad | 25 10 2008 @ 10:52:01
Dulu, sebelum menggunakan kompor, ibu saya menggunakan dingklik untuk memasak karena masih memanfaatkan ‘tomang’ untuk memasak. Sayang, barang bersejarah itu telah raib entah ke mana.
Ilham S. | 25 10 2008 @ 6:57:26
Betul Paman, saya juga amati jongkok kayaknya susah bagi orang bule, apalagi sila dan timpuh..wagu tenan posisine..kalau orang Jepang luwes juga..
jaringan | 25 10 2008 @ 3:16:24
Dingklik tak sejenis IQ nya jongkok yang rejeki nya selalu nomplok ;)
bangdod | 24 10 2008 @ 21:43:50
hampir setiap pagi saya jongkok di kamar mandi paman :-D
Hedi | 24 10 2008 @ 19:55:09
tapi kalo ada dhingklik di pawon modern jaman sekarang kok kesannya wagu ya, motto east meets west jadi ga nyambung :D
joko supriyanto | 24 10 2008 @ 19:14:24
kenapa ada IQ jongkong ? apa gara gara ada dinklik ini pakde ?
gus yudi | 24 10 2008 @ 16:39:30
mungkin kalo suatu negara ada mainan gundu (neker-an)baru bisa dibilang ada budaya jongkok… *analogi yg aneh*
adipati kademangan | 24 10 2008 @ 14:53:11
dingklik di tempat saya (dulu) disediakan di depan pawon, buat mengatur perapian agar kontinu. Selain itu dingklik diperlukan juga buat ngulek bumbu “biar tenaganya bertambah” katanya
okta sihotang | 24 10 2008 @ 14:46:21
klo dirumah gw, itu dijadikan tempat duduk mama gw untuk nyuci baju..he..he.he
mantan kyai | 24 10 2008 @ 14:31:34
Kt memang tlatih utk jongkok aka ndodok. :)
Deny Sri Supriyono | 24 10 2008 @ 12:43:45
kalo di keluarga, ngenalnya sebagai jengkok atau dingklik.
buat injekan kaki kalo njemur, buat duduk kalo nyuci piring dan ngulek, dibuat jualan kue-kue-an sama anak, etc.
mulai ada dari jaman kapan ya, paman? :d
yunik | 24 10 2008 @ 12:01:20
harus dipaten juga kayaknya nih… jongkok sebagai kata dengan vokal o yang aneh dan jongkok sebagai posisi (weww enaknya posisi apa aja ya..)
caleg indonesia | 24 10 2008 @ 11:58:17
Satu lagi kekayaan bangsa Indonesia yang tidak dimiliki asing…orang kita sangat kaya budaya dan daya cipta…mungkin belum tau aja maksud dan kegunaannya apa…
Catshade | 24 10 2008 @ 11:42:30
Bagaimana dengan pose duduk bersila, Paman? Khas Indonesia/Asia jugakah itu? Kalau Jepang, setahu saya, memang terkenal dengan daya tahan duduk bersimpuhnya… :D
Cecep | 24 10 2008 @ 11:29:19
dulu waktu masih sering naik angkot di Garut, saya sering kebagian duduk kursi spt itu.
sekarang sih angkot kosong, gak seperti dulu lagi. jadi jarang yang pake kursi ‘tambahan’ lagi :D
wetiga.com » Blog Archive » Uji Coba di Tengah Hujan | 24 10 2008 @ 11:08:04
[...] ini jaringan pertemanan gila. Tau ada krismon kedua malah buka warung,” kata orang nggak penting. Mungkin gila. Juga ngawur. Tapi rencana ini sudah lama. Akhirnya [...]
Haris | 24 10 2008 @ 11:03:48
Sesuatu yang Indonesia sekali yang sampe sekarang saya masih tidak bisa paham: hobi sebagian orang buat nongkrong (jongkok) di ujung jalan tanpa melakukan hal yang spesifik. Kalaupun sekedar mengobrol (kalau memang ada temannya) kan bisa cari tempat (dan posisi duduk) yang lebih nyaman…
Rafki RS | 24 10 2008 @ 10:07:47
Tergantung ukuran bokong juga kali Paman. Wanita biasanya lebih sulit jongkok dibanding laki-laki makanya memerlukan bantuan dingklik. :D
kyai slamet | 24 10 2008 @ 10:06:52
kalo orang yang super tambun katanya gak bisa jongkok ya?
mbah joyo | 24 10 2008 @ 10:03:16
kalo jongkok mungkin mereka takut sobek celananya paman :)
galih | 24 10 2008 @ 9:52:16
Bagi saya, urusan jongkok adalah masalah karena sebelum tiba pada titik yang bernama jongkok, paha sudah terganjal perut duluan :)
mpokb | 24 10 2008 @ 9:52:04
di daerah pedesaan belanda saya pernah ketemu kloset jongkok, lengkap dengan tangki air di atas. untuk membilas, tuas ditarik pakai rantai yg menjulur. persis toilet di rumah2 indonesia yg dibangun pada “jaman londo”.
btw, kirain sudah jadi blogger emeritus, pam.. :P
sapimoto | 24 10 2008 @ 9:45:56
Hmmm…
Masih ada tho yang jualan dingklik kayu??? Sepertinya sudah susah banget mendapatkannya, kecuali dengan pesanan khusus ke tukang kayu…
Anang | 24 10 2008 @ 9:45:12
jongkok itu lebih rendah dari berdiri maupun duduk. jd ya ada istilah iq jongkok..
jongkok dilakukan sewaktu mau angkat besi paman. coba liat. jadi di seluruh dunia mengenal jongkok.
Abihaha | 24 10 2008 @ 9:39:13
Ada sogo jongkok.
Ada harley jongkok, motor tua yang bikin ownernya ngoprek setelan klep setiap 3-5km sekali.
kopisusu | 24 10 2008 @ 9:22:18
Kok bisa ya ada ide IQ+jongkok, apa karena posisi jongkok itu rendah shingga…..udah lah.