Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Mencari Sampul Rekaman yang Apik

Minggu, 23 November 2008 @ 19:08 | Lihat Baca Dengar

KEBODOHAN DI ERA MUSIK DIGITAL UNDUHAN :D

teenage death star cd, 2008

Manakah yang lebih bagus untuk sampul rekaman Indonesia tahun 2008: CD Teenage Death Star (TDS) atau Dewi Lestari dalam paket RectoVesto? Mari berterima kasih kepada demokrasi karena beda kepala boleh beda pendapat. Artinya orang gondrong dan botak tak dilarang untuk seiya-sekata.

teenage death star cd, 2008

Ehm, saya sedang tergelitik oleh satu hal: adakah blog kolaboratif yang membahas sampul rekaman Indonesia?

Yang langsung terbayang layak ketiban sampur untuk urusan beginian tentu Benny Chandra van Soerabaia. Dia fotografer yang senantiasa mengikuti perkembangan musik (dan film). Kayaknya kegatalan dia layak mendapatkan penyaluran.

the sigit, 2007Benny layak berkolaborasi dengan Pur, redaktur Koran Tempo, yang mengikuti perjalanan musik Indonesia sejak dulu. Lantas mereka berdua mau menggandeng bloggers siapa lagi, marilah kita lihat.

Kesan saya — semoga salah — sebagian bloggers lebih hirau lagu, tapi kurang peduli kemasan. Wajar sih, wong urusannya berbeda. Lagu untuk didengar, sampul untuk dilihat, dan keduanya tidak harus berhubungan. Dan bukan tidak mungkin, sebagian orang lebih ingat klip video ketimbang sampul CD. Bisa juga ada bumbu opini: “Sampul boleh bagus, tapi kalau saya nggak suka lagunya ngapain juga saya nilai? Nambahin kerjaan aja.”

Jalan pengantar bukannya tak ada. Pemutar musik digital pada PC maupun Mac, bahkan pada gadget, bisa menampilkan artworks. Kekurangannya, yang muncul hanya sosok dwimatra sampul, padahal ada sampul yang tak hanya selembar gambar.

cd prisa dan laskar pelangi

Nah, di sinilah urusannya jadi menarik. Masih layakkah kita membahas sampul CD padahal makin banyak orang menikmati musik digital, bahkan label pun menjual musik sebagai unduhan ketengan atau sebagai USB flash disk?

Urusan bisa dipersempit lagi. Inilah perubahan zaman. Lagu berformat MP3 tinggal ambil atau salin sehingga urusannya semata pasal dengaran — tak beda dari mendengarkan radio. Info pendukung sudah ada di internet, dan isinya lebih komplet, pun lebih interaktif daripada kemasan CD.

Jadi buat apa membuat blog macam itu kalau bukan membahas artifak industrial? Bukankah harga CD player bikinan Eropa, yang bodoh itu (tidak bisa memutar MP3, tanpa amplifier), lebih mahal daripada iPod Touch 8GB?

cd miss kadaluwarsa, eki, 2008 -- gak ada di radio? heheheYa, ya, ya… Mungkin memang itu soalnya. Saya sendiri juga nggak begitu paham karena tak mengikuti perjalanan musik Indonesia — apalagi luar Indonesia. Intinya: sampel saya terbatas begitu juga referensi musikal maupun visual saya. Karena itulah saya butuh rujukan dari teman-teman, termasuk Bah Reggae dari Republik Semprul Sontoloyo dan blogger cendekia seperti Totot.

Maka dalam keterbatasan itu saya menganggap sampul TDS itu bagus, mewakili sosok FastForward Records (Bandung) yang tahun lalu bikin kemasan bagus untuk The S.I.G.I.T, Polyester Embassy (Tragicomedy), dan RNRM (Outbox).

Adapun CD Laskar Pelangi (Miles Music) bagi saya isinya bagus tapi sampulnya biasa, sekadar mengikuti paket pemasaran filmnya (yang juga bagus). Ini memang jebakan yang terhindarkan seperti halnya CD musik yang menjadi bagian dari pertunjukan (Miss Kadulawarsa, EKI). Kalau kemasan Prisa (Aquarius) bolehlah. Ceria remaja terwakili dalam kemasan yang maunya dark.

Tahun lalu sih kayanya banyak yang menarik. Amlop ala Efek Rumah Kaca (Pavilliun Records [2005?]) cukup kuat, tapi belum sekuat Thom Yorke. Adapun Zeke and the Popo (Space in the Headlines, Blackmores Records) itu pas, mewakili musiknya. Sedangkan Trisum (1st, Sony BMG) itu bagus.

Tahun lalu juga ada CD Keenan Nasution (Dengarkan… Apa yang telah Kau Buat?) yang beredar terbatas, dengan nomor seri segala. Box set-nya ciamik.

Artifak, artifact, ataupun artifuck (oops maaf), bagi saya kemasan rekaman itu menarik. Untuk rekaman luar, salah satu yang memikat adalah Tool (10,000 Days, Sony BMG, 2006). Kemasan CD menjadi mainan, disertai kacamata trimatra untuk meneropong halaman artworks dalam buklet.

NB: blog berikutnya yang kita butuhkan adalah poster film Indonesia — ini jatah Totot, Benny, dan Menteri Desain RI.

Ada 19 komentar | trackback | Depan

#19

andril21 | 29 11 2008 @ 1:08:16

saya buta bikin dan idenya,… tapi pendukung dan penikmatnya lho!!! atur dah..


#18

benwal | 27 11 2008 @ 15:07:18

menurut sy justru sampul rekaman yg unik sgt diperlukan di era digital spt skrg ini, karena kalo sampulnya unik, pendengar atau penggemar musik jadi tertarik untuk beli fisiknya (CD, kaset, flashdisk) biar mereka tak cuma bisa dapetin musiknya secara gratis dari ngunduh di internet…
pengalaman pribadi, sy beli cd musik karena liat design sampulnya yg oke, “sekalian koleksi sampulnya deh…” gitu pikiran sy, padahal klo mau bisa aja dapetin lagunya dari ngopy punya temen ato nyari di 4shared, misalnya…
:D


#17

bah reggae | 26 11 2008 @ 19:22:31

Ini menarik. Ide kok ra ono enteke.

Kemasan “unik” mmg boleh saja dibilang “bodoh di era msik digital”, tp, untungnya, belum ada yg senekat yg dibilang Ben di bawah, dikemas dlm ember.

Jika dibikin garis lurus, mgkin “ember” itu titik yg di ujubg sana. Yg di ujung lainnya adalah kemasan praktis, gak malah bikin repot dan/atau jadi mahal.

Selain itu, si Opung dkk di jl Surabaya itu pasti akan cepat bangkrut. Gara2nya, tak kuat mbayar sewa kios baru. Pdhal sewa kios baru itu harus dilakukan krn dagangannya kemasannya “gemuk2″. Malah mungkin ada yg dikemas dalam ember segala. Cuma punya 1 kios gak akan cukup.

Tp, “ember” itu perlu. Prayudi dkk juga bikin baju yg super ribet, atau malah minim, untk kepentingan catwalk. Desainer rambut apalagi. Kruwel2 gak keruan atau jadi sering gidak-gidik ala Juanedi Yk dulu, dan dibilang tren ini itu th sekian.

Mata itu mmg kurang ajar. Tepatnya kurang kerjaan. Seringkali minta lebih melulu. Maka jadilah kemasan yg asyik, tp juga terkadang malah bikin ribet itu. Misalnya, ya, ember itu. Apalagi jika ember itu diisi air lalu CD-nya dicemplungin di situ. Ini jelas bukannya meluaskan apresiasi, tp malah ngajak berantem.

Tp, belakangan, setidaknya Beck di album Information dan Radiohead di In Rainbows malah ngajak konsumen agar “membenci” kemasan yg ditawarkan sang artis. Lalu, sang artis menyediakan aneka bahan spy konsumen bikin sendiri kover/kemasannya.


#16

nonadita | 26 11 2008 @ 15:50:28

Hoo..
Saya dengerinnya lagu dari mp3. Semua CD lagu yang saya punya adalah dapet dikasih dari orang. Jarang merhatiin cover album pulak.

Bila demi desain sampul yang bagus. bisa jadi biaya produksi jadi naik. CD lagu makin nggak kebeli sama orang2 kayak saya :D


#15

ardianzzz | 26 11 2008 @ 10:22:59

coba ngebahas sampulnya band punk yang indie label banget atau yang do it yourself hehe meskipun terkesan asal-asalan tapi kreatif


#14

Mas Kopdang | 25 11 2008 @ 11:32:49

Tuhan memang suka keindahan…
:P


#13

Lakota Moira | 25 11 2008 @ 0:36:25

Nice post…
Love the TDS and also TOOL. Luar Biasa! Aku sudah dari dulu ikuti seniman Alex Gray, dan kaget sekali begitu lihat dia kolaborasi dgn Tool… 2 of my Hero’s become 1 :)

Oh ya, aku ada tambahan satu sampul album favoritku, tapi produksi lama, hehe. Pearl Jam, album No Code.


#12

kwak kwik kwek | 24 11 2008 @ 20:48:26

Eits, satu nama lagi kolektor sampul cs yang harus disebut ya mas Tyo himself. Mantav wis!


#11

pur | 24 11 2008 @ 19:47:49

wah, saya malu disebut-sebut di sini. sebab saya merasa sudah lama tidak intens mengikuti musik indonesia.

tapi saya kira ide tentang apresiasi terhadap sampul rekaman indonesia ini menarik. sebagian dari pendapat saya bertumpu pada alasan sebagaimana yang disebut di bawah: siapa tahu bisa membangkitkan kembali passion buat mengoleksi cd orisinal. lebih persis lagi: produk fisik orisinal.

dan ini kemungkinan yang diperkirakan bakal sering terjadi: sampul hanyalah sebagian saja dari kemasan fisik, sebab artis akan memikirkan lebih banyak kemungkinan wujud kemasan untuk menjual karyanya. beberapa yang sudah melakukannya adalah the mars volta (ada albumnya yang dijual dalam wujud flash disk) dan metallica baru-baru ini. yang biasa dilakukan oleh tool (kemasan dengan visualisasi yang selalu memikat) bisa menjadi acuan.


#10

-=«GoenRock®»=- | 24 11 2008 @ 18:20:45

Makin menarik ya Paman, pengemasan CD2 sekarang. Bisa membangkitkan kembali passion buat mengoleksi CD2 original nih :D


#9

fenny | 24 11 2008 @ 14:04:47

wadaw.. *ndak ngerti desain*


#8

ojodumeh | 24 11 2008 @ 13:35:09

no seri CD Keenan 0666! wah! :)


#7

K'ndie | 24 11 2008 @ 12:50:58

Setuju dengan paragraf terakhir Paman, CD dengan sampul dan kemasan yang ciamik itu layak dikoleksi.


#6

olan | 24 11 2008 @ 9:08:49

buat saya, selama musiknya oke cover bagaimanapun ble’e nya tidak masalah, toh tidak akan mengurangi kesukaan pada artis yg menyanyikan lagu di CD tsb .. sukur2 kalo bagus jg desain covernya, itu jadi bonus tersendiri :)


#5

Raffaell | 24 11 2008 @ 4:11:46

Hmmm, tapi kalo diperhatikan desain itu gayanya bersirkulasi, dari kontemporer jadi modern, dan sterusnya…..


#4

Rian | 24 11 2008 @ 0:41:13

Saya lg mboco The Rolling Stones atawa Blogombal ya? :-)


#3

nico kurnianto | 24 11 2008 @ 0:23:43

tetep aja musikalitas dan konsistensi dari musisi itu sendiri yang dijual sebenarnya. sedangkan cover dan kemasan itu sebagai “pemikat” pembeli untuk membeli cd yang asli.

sampul rekaman yang bagus itu kalau menurut aku harus unik dan sesuai dengan jenis musik serta target market… :)

*saya baca tulisannya berkali-kali, berat euy… salam kenal paman*


#2

Ben | 23 11 2008 @ 20:40:55

*tersummon* :D

menurut saya mungkin lebih menarik utk ditelusuri adalah kemasan, ketimbang sekedar sampul. itu lebih unik dan (mungkin) tdk tergantikan dengan apa yg disebut “artworks”. ide itk kemasan sebuah album rekaman musik bisa lebih luas dan liar. tdk terbatas harus mengikuti pada bentuk CD. bisa saja sebuah album rekaman dikemas dalam ember, misalnya. :)


#1

Hedi | 23 11 2008 @ 20:29:42

biasanya, blog yg punya posting desain cover album atau poster bioskop adalah blog yang isinya soal desain grafis atau artwork. saya kebetulan langganan feed beberapa blog itu. Blog asing sih, Paman mau? :D