Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK


berbagi



Manajemen Waktu dan Manajemen Kebahagiaan

Senin, 24 November 2008 @ 14:17 | Personal

SEMOGA KEDUANYA BERIMPIT HIMPUNAN.

celana dan baju di dinding kayu, baru 10 menit dipakai, dilepas, malas pergi

Umumnya sih saya tertib. Di bawah pukul 12 siang menyapa “Selamat pagi…” Tapi kalau seperti hari ini saya memakai zona waktu saya sendiri: biar sudah jam segini saya anggap pagi karena saya belum mandi. Tak ada telepon masuk karena sejak Sabtu malam kemarin ponsel saya matikan, begitu juga BlackBerry. Saya juga tidak menengok arloji maupun jam dinding tetapi sayang laptop saya punya jam.

Saya kadang butuh jadwal dan sebisanya taat waktu. Itulah sebabnya waktu kuliah dulu saya punya agenda — tapi penyelesaian kuliah tak pernah tepat waktu bahkan tak kunjung usai sampai kemudian di-DO.

Salah satu penyebab, misalkan saya sedang mood dan bisa bikin draft bagus, datang ke kantor jurusan tak ada yang melayani. Pukul dua pagi kampus sepi. Dalam beberapa hal sekolah kalah daripada rumah judi, rumah bordil, dan rumah madat yang bisa 24 jam.

Saya manusia tidak tertib yang takut akan Mentari? Tidak. Misalkan saya datang ke kampus pukul enam, dosennya pasti tidak ada. Masalah ada pada dia kan?

Oh, waktu! Alangkah terbatasnya. Dan kita ternyata tak punya kuasa atas Waktu. Misalkan hidup di hutan, sebagai Tarzan (buka Tarsan apalagi Asmuni), saya pun harus menyesuaikan diri dengan irama sang Kala di rimba. Pemangsa menyesuaikan diri dengan jadwal harian calon mangsa maupun… jadwal pemangsa yang mengincar dirinya. Dan ini menjengkelkan.

Kapan itu saya mencoba tidur awal, pukul sembilan. Hasilnya pukul satu dini hari saya terbangun dan tak bisa tidur. Esok siangnya saya ngantuk berat.

Ya, saya memang ngantukan. Tapi kadang begitu ngantuk saya cuma butuh tidur sejam, lalu melek sekian jam, dan tidur lagi beberapa jam. Maka ketika menyetir, bahkan siang hari di jalan tol, kalau ngantuk saya menepi dan tidur barang seperempat jam. Di jalan tol Cawang - Priok itu ada perhentian yang beberapa kali saya pakai rehat, bahkan pada siang yang terik.

Di luar tol, sebagai contoh, saya singgah di pelataran bank yang ada ATM dan satpamnya untuk tidur di mobil barang sepuluh menit. Pulas. Bangun langsung segar. Cuma bayar parkir dan uang rokok.

Suatu kali, sekitar pukul tiga pagi, di jalan tol Jagorawi ruas Cawang-TMII saya ngantuk, lalu masuk ke car junk yard. Pulas sebentar lalu terbangun karena seolah mobil saya dikelilingi banyak orang. Saat itu saya sadar, berada di tengah pelataran yang dikelilingi mobil ringsek — mobil-mobil yang telah merenggut nyawa dalam kecelakaan jalan raya. Saya sendirian. Muncul ilusi, beberapa mobil masih berbasah darah, ada tubuh manusia semampir di jendela mobil tak berkaca.

Masalahnya adalah waktu, termasuk kapan berangkat, kapan pulang, kapan di jalan. Masalahnya lagi, jika menakar hati dan perasaan, ukurannya mestinya saya, bukan orang lain.

Lho, sederhana kan? Tidak. Menjadi masalah ketika setiap hal yang saya lakukan juga berhubungan dengan orang lain, apalagi itu tak hanya berhubungan dengan nafkah saya melainkan juga nafkah sekelompok orang.

Manajemen waktu seseorang berada dalam konteks sosial. Masalahnya adalah belum tentu itu membahagiakan apalagi menyehatkan (tidur cuma 30 menit dalam 24 jam di mana bagusnya? — tapi orang lain bilang, “Itu masalah lu, kan?”).

Yah, ada saja hal yang tak menyenangkan dalam hidup ini. Selebihnya, ya carilah kesenangan*). Agar hidup ini seimbang. :D

*) Tapi kesenangan kan butuh biaya? Waks!

Ada 43 komentar | trackback | Depan

#43

Juliach | 20 12 2008 @ 17:56:48

Wah management waktuku amburadul. Hanya untuk janjian aku ngak pernah telat. Kasihan jika musim dingin, entar yg nunggu kita bisa beku!

Salam kenal


#42

daniy! dan kondom | 01 12 2008 @ 14:08:44

Ngomong soal waktu emang kayaknya gak pernah cukup. Waktu 24 jam buat ngerjian apa-apa rasanya gak sempat. Tapi klo waktu ditambahin semisal sehari itu 36 jam, apa fisik ini bisa tahan??

Jadi… Lebih baik nikmati saja hari ini. Yang kemarin kan sudah berlalu, yang besok kan belum datang.


#41

fg | 29 11 2008 @ 17:01:35

hari senin, jam 2 siang, ada foto celana panjang dan kemeja kerja digantungkan, lalu ngeblog. hmm… menurut saya ini pemanfaatan waktu yg sangat baik. pasti paman sedang berbahagia pada saat itu :)


#40

andril21 | 29 11 2008 @ 1:13:43

anu paman… curhatnya komplit ya. ada sentimentil, emosionil, rasional sosialis, ego sentris, tapi tetap saja yang namanya curhat pasti retoris…


#39

atta | 28 11 2008 @ 10:58:29

Andai waktu bisa dibekukan. Halah. Ngomong-ngomong soal waktu, ayo luangkan waktumu. Ini kartu remi dari shanghai belum juga diserahkan, tambah lagi kartu remi dari Brasil, yang kubelika untukmyu, kapan hendak bersua? :)


#38

Wongbagoes | 27 11 2008 @ 16:56:41

Hmm…

manajemn waktu memang sulit Om…


#37

mbelGedez™ | 27 11 2008 @ 13:33:24

.

Sayah jugak termasuk nyang memiliki kekacauan inih, paman…

Untuk ituh sayah percayakeun kepada kemampuwan Lexotan untuk menangani tidur sayah….


#36

sapimoto | 27 11 2008 @ 11:17:01

Memang sangat sulit untuk memanajemen waktu dengan baik. Dalam 7 hari, 5 hari saya cuman bisa tidur sekitar 4-5 jam setiap hari, sedangkan untuk 2 hari terakhir, saya hanya bisa melek 4-5 jam setiap harinya.
Benar-benar manajemen waktu yang sangat aneh…
Wekekekekeke….


#35

Epat | 27 11 2008 @ 2:20:43

alam pasti seimbang, begitu juga tubuh kita… :D


#34

debrian | 26 11 2008 @ 23:43:36

Seandainya waktu itu bisa diulang ??


#33

nonadita | 26 11 2008 @ 16:03:26

Manajemen waktu itu perlu. Kerja keras boleh, tapi jangan sampe ga istirahat.

Apa artinya kalo kerja keras, duit melimpah, kaya raya tapi sakit2an. Lantas duitnya abis buat bayar biaya berobat


#32

topan | 26 11 2008 @ 13:50:41

lagi kerokan to Boss….?


#31

didi | 26 11 2008 @ 10:57:44

cocok jadi bos sampeyan pak!


#30

mbah joyo | 26 11 2008 @ 1:38:10

Paman ternyata ngantukan toh..


#29

katakataku | 26 11 2008 @ 1:28:48

*hampir sama aja dengan jalan cerita hidup saya, baik di kerjaan maupun kampus [saya ada dosen tak ada, dosen ada saya tak datang] :D

Kalo saja waktu itu bisa kembali, apa yang harus aku lakukan?


#28

kyai slamet | 26 11 2008 @ 0:41:16

membayangkan paman lagi ngapain ya? kok celana dan bajunya disampirkeun
:D


#27

Kardjo | 25 11 2008 @ 23:06:47

Ngaku tertib…???? *hmmmm*


#26

bundaputri | 25 11 2008 @ 22:41:12

lha jaman sekarang apa sih yang nggak butuh biaya? jangankan kesenangan.

kesedihan aja besar lho, biayanya. contoh gampang pas anak sakit. ya ampun… rasanya sedih banget.

dan ke puskesmas pun butuh biaya.

:)


#25

JUN | 25 11 2008 @ 16:03:00

Pukul dua dini hari ke kampus?? Aduh, paman, bisa-bisa malah dikira mau mencuri di kampus, dong!


#24

kaktuan | 25 11 2008 @ 14:11:12

sesuatu yg tidak bisa diulang ya…..WAKTU


#23

boyin | 25 11 2008 @ 13:41:33

lupa mau koment apa malah baca tulisan di bawah


#22

Mas Kopdang | 25 11 2008 @ 11:42:47

Pada suatu hari, petani akan memanen sawahnya yang menguning. Suatu ketika, ia melihat ada seekor tikus berlarian. Maka dipasanglah perangkap Tikus.

Tikus tahu, ia melapor dan mengadu pada Ayam. “Yam, tolongin ane’ duonkk..ada perangkan Tikus tuh..”
Ayam bilang: “Lha itu urusan situh..ane sih kagak ngaruh Cuy..”

Tikus kuciwa, ia mengadu pada Sapi. Jawaban sapi hampir mirip jawaban Ayam: “Moooh..itu kan perangkap ketjil yang muat cuman buwat ente…ane mah gak ada urusan..!”

Tikus pulang dengan super kuciwa.
Esok harinya anak Pak tani bermain di sawah. Sial baginya, perangkap tikus Bapaknya menjepit jempolnya.

Pak Tani orang modern. Dibawalah anaknya ke puskesmas. Pak Dokter bilang: “Darahnya banyak yang keluar, cobalah banyak makan bergizi, misalnya hati ayam..”

Sorenya ayam disembelih.

Ternyata luka si anak makin menggila. Tetanus rupanya. Si anak demam dan akhirnya meninggal dunia.

Walau modern, Pak tani tetap ngadaken tahlilan. Karena orang baik, tamunya banyak. Maka sebelum atjara dimulei, sang Sapi dipotong demi sajian Tahlil.

Pak tani menyesal. Esoknya jebakan tikus ia singkirkan. Tikus hidup damai sentosa.

:D


#21

pitik | 25 11 2008 @ 10:06:13

wah..pamer clono….


#20

Donny Verdian | 25 11 2008 @ 5:17:14

Udah pernah di DO dimana lho Kang..?
Slamat mempersiapkan Natal!


#19

Melisa Sriwulandari | 25 11 2008 @ 1:03:42

Sama kayak aku. Bisa tidur kapan saja dan di mana saja. hehehehe


#18

geblek | 24 11 2008 @ 22:05:56

*) Tapi kesenangan kan butuh biaya? Waks!
waduh masak mau senang aja butuh biaya pakde


#17

Aris Heru utomo | 24 11 2008 @ 21:01:47

Sekarang2 ini kayaknya lagi mood ya Man, postingannya mulai deras lagi. Kemarin2 sepertinya lagi banyak proyek ya, sehingga lama terlihat postingannya.


#16

kwak kwik kwek | 24 11 2008 @ 20:17:07

Wah manteb tenan potone, Paman. Penuh makna ki!


#15

luwak | 24 11 2008 @ 17:55:07

satu-satunya mamalia yg suka mengurangi jatah tidur adalah manusia, bahkan kurang tidur dianggap prestasi membanggakan. padahal evolusi tidak pernah mengubah kebutuhan tidur manusia yg 6-8 jam sehari =’.'=


#14

Cecep | 24 11 2008 @ 17:17:25

tidur memang bisa membuat bahagia :D

*masih on topik gak ya* hehe


#13

sepur mania | 24 11 2008 @ 17:09:22

Waktu mengubah semua hal, kecuali kita.
Kita harus melakukan perubahan kita sendiri.

karena,
Waktu hanya menjadikan sebagian besar dari kita - menua,
tetapi belum tentu menjadikan kita membijak.

Bagi yang memanfaatkannya, waktu adalah keuntungan.
dengannya,
Kualitas waktu ditentukan oleh kualitas yang dikerjakannya
dalam waktu itu


#12

Prabowo | 24 11 2008 @ 16:49:36

Berarti,

Lebih Banyak Waktu = Lebih Bahagia ?


#11

tongki ari wibowo | 24 11 2008 @ 16:21:20

mengerikan sekali paman, rekasi paman sewaktu melihat ada bayangan bersimbah darah gimana paman? apa yo tidur lagi?


#10

hedi | 24 11 2008 @ 15:54:37

misalkan saya sedang mood dan bisa bikin draft bagus

saya udah melihatnya, satu waktu dinding depan jenengan sepi, tapi besoknya penuh kertas print out hihihi


#9

ivn | 24 11 2008 @ 15:44:30

hehe makanya jangan tidur larut om…:P


#8

K'ndie | 24 11 2008 @ 15:13:54

Semoga do’a Paman dikabulkan, Amin.

Waktu mengejar kita dan kita mengejar kebahagiaan..

Sementara itu, siapa yang mengejar waktu??


#7

rezki benbego | 24 11 2008 @ 15:06:37

kayaknya klo sekarang sih masih belum bisa. soalnya waktunya fleksibel. ada mood bagus lsg deh kerja, kadang ampe lembur.


#6

ebeSS | 24 11 2008 @ 15:03:06

kalau diatur jam, kita bicara jadwal harian. kalau diatur hari, kita bicara jadwal mingguan. kalau bicara bulan atau zodiak, kita bicara jadwal tahunan, misalnya ulang tahun nyonya . . . :P *titip salam paman*


#5

handaru | 24 11 2008 @ 15:01:00

Saya juga tidak menengok arloji maupun jam dinding tetapi sayang laptop saya punya jam.

ASELI KOCAK PUAOLL :D


#4

kimya | 24 11 2008 @ 14:55:28

management waktu masalah saya juga..karena keasyikan ngeblog jadi pekerjaan terabaikan dan tidak sesaui deadline…he..he..seperti sekarang ini


#3

mantan kyai | 24 11 2008 @ 14:52:17

tersenyum membaca catatan terakhir .. :D


#2

zen | 24 11 2008 @ 14:47:14

Tersenyum membaca paragraf kedua

:D


#1

pit | 24 11 2008 @ 14:38:11

banyak kali, man, seneng2 yg ga perlu biaya. baca blog ini, misalnya.