STRES, KERJA, KELUARGA, PERCERAIAN, GILA…

Mahalkah hati? Tergantung hati apa dan siapa. Buktinya setiap menjelang Lebaran harganya di konter atau los daging itu naik. Tak ada hubungannya, belakangan ini saya dihubungi beberapa orang yang ingin menuruti hati.
Intinya soal pekerjaan. Mau pindah bahkan keluar (dan pokoknya keluar, tanpa plan). Jawaban saya bisa beragam, bergantung pada sikon. Jawaban umum, kalau masih bujangan, lakukan saja tanpa banyak menimbang.
Jawaban khusus? Maaf ini hanya mengambil sampel pria karena para pengadu dari kaum Adam.
Pertama: gedean mana gaji sampeyan dibanding istri? Kalau gedean istri, katakanlah tiga kali lipat, segera cabut. Kalau gaji istri jauh lebih kecil, dan terbukti bahwa tulang pungung dan iga keluarga ada di suami, ya cobalah menimbang ulang. Maka lain kali, setelah mengalami reinkarnasi sebagai lelaki juga, pakailah cara “pro-kesetaraan” dalam mencari istri, “Kaya nggak masalah, yang penting cantik, sexy, setia.”
Kedua: hati sampeyan ada di mana? Percuma gaji gede tapi hati tidak gembira, atau bisa riang tapi semu. Jadi kalau siap risiko, ya cabut saja.
Gampang, kan? Tidak.
Banyak istri cenderung kurang mendukung suaminya banting setir atas nama tuntutan hati, kecuali ada kejelasan perbaikan ekonomi.
Kalau diringkas, risiko silakan urus sendiri, tapi jangan korbankan keluarga. Itulah yang membuat banyak lelaki bertambah stres.
Ada kasus istri marah waktu suaminya mau keluar dari pekerjaan, “Kalo mau nurutin ati mestinya kan dulu Pa, waktu masih muda, lajang.”
Jawaban suami sungguh tulus tapi (anehnya, eh sewajarnya) bagi istri justru menyakitkan, “Mana sempat nurutin masa muda, karena setelah wisuda lalu kerja baru setahun harus married karena kamu kuno nggak berani jadi perawan tua! Sekarang kamu cuma mau tahu gaji gede tapi nggak peduli penderitaan suami.”
Psikolog Andreas Catshade mungkin bisa kasih penjelasan apakah benar bahwa (sebagian) wanita dalam batas tertentu cenderung lebih mampu menahan stres dalam pekerjaan ketimbang pria.
Atau persoalannya adalah warisan lama, tentang pembagian kerja secara seksual bahwa lelaki adalah pencari nafkah utama — dengan maupun tanpa istri yang beranak? Kemunduran dalam menafkahi berarti kegagalan.
Tak sedikit istri yang bersikap seperti ini, “Udahlah, sayang kalo kerjaan dan karier bagus dilepas. Nggak banget deh kalo kita mulai dari nol lagi gara-gara Papa nurutin ati. Kalo stres di kerjaan ya cari hiburan, asal jangan yang nakal-nakalan…”
Manajamen hati ternyata tak bisa sendiri. Implikasinya ke mana-mana. Tak semua orang sanggup memulai dari awal lagi. Seorang ayah dan suami bisa mundur tetapi istri dan anak-anak belum tentu mudah diajak menurunkan standar gaya hidup.
Maksud saya, jika penurunan kesejahteraan disebabkan musibah tak terhindarkan — bukan oleh pilihan atas nama hati — maka keluarga mau tak mau harus menjalani. Jika penurunan kualitas kehidupan itu akibat keputusan “egoistis” bin “sepihak” mungkin menimbulkan masalah.
“Justru itu yang bikin tambah stres. Di kantor stres, mikir ginian tambah stres, sebentar lagi aku gila, kerugian tambah gede kan?” keluh seseorang.
Saya bukan konselor dan memang tidak buka praktik konseling. Sekarang bayang-bayang kemuraman ekonomi sudah terasa. Tapi tanpa itu pun sudah banyak pria yang stres karena pekerjaan, dan di sisi lain tak dapat menuruti kata hati karena telah tersandera oleh keluarga (terutama anak).
Perceraian itu mahal. Tapi bagi pelakunya, tanpa perceraian jatuhnya justru lebih mahal karena kewarasan dan kebahagiaan itu tak ternilai. Beberapa kali saya baca, kusutnya ekonomi Amerika telah membuat pengacara spesialis perceraian bertambah sibuk.
Hanya karena duit berkurang? Tak sesederhana itu mestinya. Ketidaknyamanan seseorang, bisa suami, bisa istri, berkemungkinan menumbuhkan konflik bahkan kekerasan.
Termasuk di dalamnya adalah kekerasan terhadap pria oleh wanita (fisik maupun nonfisik), tapi sayang jarang lembaga advokasi untuk pria korban. :D
Iklim patriarkal, yang juga diamini sebagian wanita, menganggap lelaki yang menjadi korban kekerasan oleh wanita itu memang salahnya sendiri, paling banter cuma dikasihani (”Kesian deh, lu!” kata orang lain) dan hanya dapat simpati.
“Kalo lakinya mbalas, selain dianggap nggak jantan, juga akan jadi kasus KDRT. Itu yang bikin kita gila!” kata seseorang.
Kita? Lu kaleee, lainnya sih iya. :D





dut! pret! | 05 12 2008 @ 22:44:47
mau jaman emas kek jaman susah kek, yang namanya piara bini itu susaaaaah.
mending kalo dapet bini hobinya menyulam ato menjahit, lha kalo hobinya koleksi perhiasan. nah lo…
pasarsapi | 03 12 2008 @ 16:44:17
Jadi ingat salah satu teman cowo bilang : “carilah calon istri yang on the road”. Maksudnya, sudah mapan baik fisik mental maupun kekayaan. Jadi tinggal nunggangi. Ha? Itukah makna kesetaraan…? Kalo cowo maupun cewe cantik, kaya, la trus sing gak cantik dan gak kaya dapet siapa ya???
omith | 01 12 2008 @ 21:16:26
wong lanang- wong lanang…
[rapUhhhh men to yah..]
*ndelik sambil ngemud lolipoP*
—
uh, mbak nganten anyar… sambil ngelolipop bisa blogwalking bahkan ninggalin komen? betul2 tangguh! ;)
(tyo)
Ibunya Aria Gaung | 01 12 2008 @ 18:37:45
Pakdhe, kemarin ada yg naksir aku trus bilang: situ kan sudah senang ya (maksudnya kerjaan -yg terlihat), jgn2 nggak mau ikut saya yg hidup susah. Trus aku spontan jawab: wah mas, kalau hidup susah, jgn ajak2 deh. Hehehehehehe….
discobubles | 01 12 2008 @ 15:02:25
Make me thinking.
Do you men really enjoy marriage :)?
daniy! dan kondom | 01 12 2008 @ 13:58:14
“Mana sempat nurutin masa muda, karena setelah wisuda lalu kerja baru setahun harus married karena kamu kuno nggak berani jadi perawan tua! Sekarang kamu cuma mau tahu gaji gede tapi nggak peduli penderitaan suami.”
Hehehee.. Dialog yang bagus, Paman. Mungkin di situlah letak ego setiap manusia yang selalu menyalahkan waktu. “Kenapa tidak dari dulu?”
Padahal yang namanya jalan hidup itu proses.
benwal | 01 12 2008 @ 13:49:53
suami istri kalo mau punya anak kan memang musti ada ‘kekerasan’ dlm rumah tangga donk… ;p
didi | 01 12 2008 @ 13:47:59
bersukur……..
nenek saya nikah jaman jepang. kok ya tentrem?
bedanya apa ekonomi sekarang ama jaman perang dunia ke 2?
mastongki | 01 12 2008 @ 12:44:48
Untung ibu saya bukan aristokrat yang menuntut segala macam sama ayah, tapi kadang anaknya ini yang nggak pengertian.
Sanz | 01 12 2008 @ 11:21:25
Sarannya bagus om, tapi perlu negosiator handal buat mencapai win-win solution, nyari kata2 yang tepat dulu ni buat ngomong :P
bangsari | 01 12 2008 @ 10:59:30
“Tetap menikah, tapi bisa menikmati masa muda selayaknya bujangan, termasuk gaji boleh dipakai seluruhnya untuk diri sendiri. Ini namanya win-win solution. :D”
tapi apa ya mau istrinya ya?
wah wah… sepertinya menikah itu penderitaan bagi kaum pria. bukan begitu bukan?
—
jangan gitu, dik ipoul. buktinya sampeyan barusan ningkah. :D
(tyo)
j4p | 01 12 2008 @ 9:42:31
Ini curhatan atau Paman lagi promosi biro konsultan ?
:)
mas kopdang hati-hati | 01 12 2008 @ 0:25:50
Makanya kenapa dalam Enggris , “saat ini” namanya PRESENT.
Karena “sekarang” adalah persembahan. Pemberian. Yang dulu biarlah berlalu..
Masa Lalu dan Masa depan?
itu tergantung “kelakuan..”
:P
gareng | 30 11 2008 @ 20:59:50
Numpang curhat & konsultasi paman,
Ttg kerjaan : hati jauh dari gembira,apalagi gaji, gak bisa bikin seneng.
Tapi gaji itu di burtuhin ama anak & bini. Jadi baiknya saya keluar dari kerjaan nggak ya paman ?
—
Jangan keluar dulu. Sampai kapan? Entah. Mungkin bini bisa bantu. :)
(tyo)
kardjo | 30 11 2008 @ 20:19:30
masih setia adi mantn jongos
keong malas | 30 11 2008 @ 11:10:10
wah, pama curhat, wakakak….
kaktuan | 30 11 2008 @ 10:47:28
wah…….kerjaan kok dibikin stress, TAKE IT EASY.
Get life…maksudnya , cari kegiatan lain…..hobbies….
Mancing, traveling, orr spt ak…fotografi..heheh
Sanz | 30 11 2008 @ 0:22:39
Numpang ngelirik om,
“Mana sempat nurutin masa muda, karena setelah wisuda lalu kerja baru setahun harus married karena kamu kuno nggak berani jadi perawan tua! Sekarang kamu cuma mau tahu gaji gede tapi nggak peduli penderitaan suami..”
Kena banget nih dengan kehidupan saya sekarang, pacar dah nuntut tapi saya masih mau menuruti kata hati saya, jadi bimbang ni on, ada saran ga dari yang berpengalaman ???
—
Tetap menikah, tapi bisa menikmati masa muda selayaknya bujangan, termasuk gaji boleh dipakai seluruhnya untuk diri sendiri. Ini namanya win-win solution. :D
(tyo)
adinoto | 29 11 2008 @ 18:01:33
heheehehe serasa curhat aja… hehehe bagus paman! postingan seru, aku sendiri sudah mutusin meninggalkan jakarta 10 taon yg lalu karena itung2 gaji sama capeknya ga nutut :D kena sekem sama pekerjaan yang mengharuskan pake gaji tapi underpaid :D
kekekeke *bahagianya tinggal dibandung walaupun hidup pas-pasan :)
Kyai slamet | 29 11 2008 @ 17:24:05
@yuswae. Wah nyesel pas ketemu pas muktamar gak sempat meguru ke sampean.
Kyai slamet | 29 11 2008 @ 17:21:30
Wah kalau saya pasrah aja paman. Bentar lagi juga pensiun, 38 tahun lagi persisnya. Kalau apes bisa 43 tahun kagi! Dooh…
fg | 29 11 2008 @ 17:09:15
sepaham. perceraian menghindari makan hati, menghilangkan stress dan menjauhkan akibat menjadi gila :)
yuswae | 29 11 2008 @ 10:55:35
Guru saya menyarankan begini,paman:
-Kalau kamu tidak kuat menghidupi satu istri, maka carilah istri kedua.
-Kalau belum kuat menghidupi dua istri, cari lagi yang ketiga.
-kalau belum kuat juga, cari yang keempat. Niscaya hidupmu akan nyaman karena dibiayai empat istri..
:D
boyin | 29 11 2008 @ 8:07:01
Ibarat seorang kapten kapal yang ingin naik kano sendirian. ya gak bisa donk…ingat jabatan adalah sebuah konsekwensi..bapak/suami itu jabatan lho…kalo mau naik kano sendirian ya cerain dulu. Lagian yang minta punya jabatan “suami” ya sopo…
Dony | 29 11 2008 @ 3:03:57
Kasus kedua ituh, juga alasan saya untuk cabut
. Untungnya belum punya istri, jadi gak ada yang nyeneni, haha
mantan kyai | 29 11 2008 @ 1:24:12
aku mbaca habis kok gak ada hubungannya sama gambar paman????
saya juga lagi nganggur neeh
—-
kios daging ada sedia hati lho :)
(tyo)
andril21 | 29 11 2008 @ 1:18:19
ternyata ribet ya kalo udah nikah. dudu..du…du…dudu…
zam | 29 11 2008 @ 0:29:42
@ Daus: konslutasi ni ye? hihihi
Daus | 28 11 2008 @ 23:24:38
Kayaknya kita mesti ketemu ;)
Abihaha | 28 11 2008 @ 23:08:10
Curah pikir Pakdhe memang jarang ‘menyentil’, tapi sering ‘mengampleng’.
Umur ‘dirtysomething’, cita-cita banyak yang belum kesampaian sementara tanggungan semangkin minta disampaikan, betul-betul jadi pergulatan antara ego & tanggung jawab. Mau jalan dua-duanya kok ya apese modale ndak cukup. Minggu depan ta’langgan sms weton saja.
JUN | 28 11 2008 @ 22:33:03
Penghasilan –bukan gaji– istri saya sebagai pemilik sebuah warung makan, jauh lebih besar daripada gaji saya sebagai karyawan swasta. Tapi dia lebih senang saya bekerja, meski di luar kota (terpisah jarak 272 km, antara Solo dan Surabaya). Jadi, apa boleh bikin, Paman….
mbah joyo | 28 11 2008 @ 22:23:53
Belum kalo utangnya banyak…
reza | 28 11 2008 @ 21:44:52
riang tapi semu?….story of my life karena betah & butuh cuman beda dikit :D
Epat | 28 11 2008 @ 19:59:38
ngelirik juragan :D
Hedi | 28 11 2008 @ 19:54:58
Itu dia, riang tapi semu. Akhirnya kata Pak Didi, situs media itu sekarang jalan sendiri dan mulai ga jelas. Ah lega saya dulu dapet wejangan dari paman. :D
*asyik udah bisa komen lagi*
mpokb | 28 11 2008 @ 19:44:37
kalo bisa mencari nafkah yang menyenangkan hati, buat saya tetap lebih baik. tapi mestine sebagai mimi mintuna sudah siap ringan sama dijinjing, berat sama dipikul..
test | 28 11 2008 @ 19:39:53
test
ndablek | 28 11 2008 @ 19:02:13
Ketakutan memang sering di alami bukan karena jenis tantangan yang baru (termasuk utk mulai dari NOL), tapi justru lebih pada kualitas hidup keluarga yang untuk sementara dikorbankan - kalau tidak beruntung ya berarti selamanya…belum lagi pihak orang tua dan mertua.
Inikah penjara pria?