BLOG (MESTINYA) MEMPERKAYA BAHASA KITA.

Seorang guru nonbahasa tak paham istilah “termehek-mehek”. Dia menanya guru bahasa Indonesia dan mendapatkan jawaban bahwa itu adalah istilah baru yang didengarnya dari televisi.
Memang, televisi lebih merasuk daripada koran dan majalah. Maka istilah “termehek-meheh” yang muncul akhir 80-an (atau awal 90-an?) pun baru meluas setelah TV menyebarkannya. Salah satu pelopornya, seingat saya, adalah majalah Tempo.
Saya belum membeli KBBI baru, sehingga belum tahu apakah “mehek” sudah terangkut sebagai lema. Di KKBI Daring, “mehek” juga belum ada.
Karena saya besar dalam alam tuturan Jawa, maka saya tak tahu apakah sebelum Tempo menyebarkannya, istilah “termehek-mehek” itu hidup di kalangan mana saja.
Jika menyangkut kelompok Tempo, harus kita akui bahwa penerbit yang satu itu termasuk hirau terhadap pengayaan bahasa. Selain Tempo tentu Kompas, yang pernah bikin bingung pembaca ketika memperkenalkan kata lama “teroka” menjadi nama rubrik.
Yang disebut pengayaan pun mungkin bukan penyodoran istilah baru. Bisa saja hanya menghidupkan kembali kata lama. Istilah lama “rehal” dan “kiat”, misalnya, saya dapatkan tahun 80-an dari Tempo. Kedua kata itu menjadi nama rubrik, dan redaksi (era Slamet Djabarudi [almarhum]) menjelaskan artinya.
Pada mulanya orang tak terbiasa, tapi lama-lama kata “kiat” menjadi tuturan keseharian banyak suku. Adapun “naik daun” dan “apa pasal?”, seingat saya, juga diangkat oleh Tempo pada tahun 80-an. Mungkin bukan istilah baru, tetapi dengan segera kata itu menyebar (atau hidup lagi?).
Adapun “iptek”, seingat saya, lagi-lagi karena Tempo. Memang sih Tempo bisa ngeyel: memakai “malapraktek” (mengasosiasikan malapetaka akibat salah praktik) dan bukan “malpraktik”.
Tak apa, itu soal kebijakan bahasa setiap penerbit. Mau Prancis atau Perancis, Sumatra atau Sumatera, silakan saja. Begitu pula dengan Cina, China, dan Tiongkok, itu ada alasannya. Seperti saya yang menuliskan “internet” dengan “i” kecil (lowercase) sehingga akan selalu dikoreksi oleh editor. :D
Bahwa ada media yang orang-orangnya tak peduli pilihan ejaan, itu juga silakan saja, toh pembaca tak memprotes inkonsistensi bahasa orang media yang karena terus berlangsung akhirnya menjadi konsistensi. :D Bukankah tak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri? :D
Akan tetapi jika kita merujuk media, manakah yang kita bayangkan? Jika hanya membayangkan media lama (cetak) tentu kurang lengkap. Media auditif, yakni radio dan TV, punya peran besar — termasuk di dalamnya adalah menyebarkan kesalahkaprahan.
Ketika penyiar dan presenter bilang “frustasi” (bukan “frustrasi”), “kronologis” (padahal maksudnya “kronologi”), dan “paska” (maksudnya “pasca”), pendengar dan pemirsa menganggap itu benar. Ketika nama Daniel, Ariel, Othniel, dan Noel dilafalkan sebagai “danil”, “aril”, “otnil”, dan “nul”, maka si pemilik nama dipersilakan mengalah. Begitu juga nama “Yoyo(k)” yang dilafalkan sebagai “yo-yo” (seperti nama mainan), si pemilik nama terpaksa mengiyakan. Untunglah Luthfie dan Amien tak dilafalkan “lut-fi-ye” dan “a-mi-yen”.
Ah, sudahlah. Itu soal lama. Bagaimana dengan blog?
Saya membayangkan dunia penerbitan pribadi di internet ini akan memperkaya bahasa kita. Tidak hanya melalui jargon (misalnya “pertamax!” hahaha) tetapi juga penciptaan, penghidupan kembali, atau apalah dari dunia kata-kata.
Kenapa blog? Sekian lama kita didikte koran, majalah, radio, dan TV. Ketika kita punya media sendiri — menjadi penulis, penyunting, merangkap penerbit — mestinya bahasa yang tertutur dalam blog akan memperkaya bahasa kita. Sama seperti pengguna internet prablog memperkenalkan kata “japri”. Atau seperti ketika anggota milis (aha, ini pun “kata baru”!) dan forum mengoper “kopdar” dari kalangan radio komunikasi.
Eits, nanti dulu. Lantas apa arti termehek-mehek? Kalau terngehek-(ng)ehek itu apa? Anda saja yang membahas, jangan saya. :D







nonreni | 01 12 2009 @ 14.00.55
kalau bahaya jawa-nya hampir sama dengan “moyok-moyok” bisa di artikan sesuatu yang berlebihan
joe | 17 03 2009 @ 22.36.17
Saya pertama mengenal istilah itu dari salah satu cerpennya Seno Gumira Adjidarma, judulnya lupa…
no name | 23 01 2009 @ 14.34.58
aneh juga ya … seragam cara mbacanya ter-mehek-mehek (huruf vokal ‘e’ langsung disuarakan seperti dalam ‘e’-nak) …
Kok dak ada yang menyebutnya dengan suara ‘e’ nya dalam ‘e’-mak ya …?
Tapi pertanyaannya jadi lain ya? Bukan ter’***hek-***hek … kurang seru …. :))
beltz | 09 01 2009 @ 21.35.56
saya paling enggak suka serial termehek-mehel dan serial bertemakan cinta lainnya, tujuan komersil tok…
Hem..... | 04 01 2009 @ 7.41.39
TeRmEheK-mEheK iS thE bEst………..
I lOvE iT vErY mUcH…………
mUAch………
-_-
cempluk | 27 12 2008 @ 6.15.26
kata termehek2 blm ada dalam KBBI toh..berarti media tersebut membuat kata bahasa Indonesia sendiri dunk. :D
Nurdiansyah | 25 12 2008 @ 23.00.47
Kalo (ng)ehek pernah saya dengar di tahun 80 atau 90an, tapi untuk mehek kok rasanya baru dengar ya setelah ada program acaranya di TV
wahyu | 23 12 2008 @ 14.02.35
Termehek-mehek=Ternangis-nangis.
Gitu kali ya??
Soalnya di acara Termehek-mehek Trans TV endingnya selangu Ternangis-nangis sang cliennya. Hehehe…
qq | 23 12 2008 @ 13.49.19
Bahasa, emang bikin bingung. Karena setiap hari “disodorin” bahasa media, jadinya waktu harus menulis dgn bahasa yang baik dan benar jadi bingung sendiri. Misalnya: provinsi atau propinsi hehehe.
Kalau kata lebai itu akulturasi dari bahasa mana ya Paman? :D
Alfons | 22 12 2008 @ 15.53.57
salam kenal mas.
Termehek mehek?Itu hoby temen saya kalo lagi sedih terkait jalinan asmaranya, hehehe
rudy | 22 12 2008 @ 13.13.08
Sorry, komen lagi.
Ngomong2x chapcha-nya bagus juga tuh, sempat ngejebak. Kirain, add 1 dan 5 diketik “15″, eh ga taunya 1+5 toh ….
Cool abiss ….:D
rudy | 22 12 2008 @ 13.11.31
Salam kenal Mas,
Ku baca dari salah satu tabloid, menurut AC Nielsen, ratingnya cukup tinggi, bersaing ama sinetron.
Ku pikir kok bisa ya, ternyata sekarang mereka juga nawarin buat nyari orang hilang juga. Pantesan …
denologis | 21 12 2008 @ 18.54.01
hem,,,,sepertinya komentar saya yang terdahulu teridentifikasi sebagai spam ya? :(
jadi terngehek-ngehek deh :(
jamil | 21 12 2008 @ 17.57.59
Jadi ingat kembali ibu Riris K. Toha neh? Apa kabarnya ya? Dulu temanku pernah “semprot” karena penyebutan paska untuk pasca dan Ase untuk AC, hehehe. Salut untuk om tyo.
abee | 21 12 2008 @ 17.09.12
sering nongtong acarah ituh yaks Oom… :D
anggavantyo | 20 12 2008 @ 22.32.00
termehek-mehek di kamus kimia juga nggak ada. lantas cari dimana lagi? :p
Daniel Mahendra | 20 12 2008 @ 22.04.02
Tentu setiap penerbit punya gaya selingkung sendiri-sendiri.
Kalau bahasa merupakan kesepakatan di masyarakat, siapa yang sebetulnya betul-betul membuat kesepakatan ya…
Leah | 20 12 2008 @ 15.04.12
Sumpah deh Paman….saya sebel banget dengan beberapa istilah baru yang belakangan ini muncul. GAK JELAS !!
de | 20 12 2008 @ 11.54.15
tak pikir mbahas acara tipi itu paman
mas kopdang | 20 12 2008 @ 4.51.57
Bukankah termehek-mehek sepadan makna dengan “renjana”..?
ullyanov | 20 12 2008 @ 1.14.39
Akulturasi budaya itu salah satunya menghasilkan keragaman bahasa. Bahasa Indonesia yang ada sekarang pun banyak dipengaruhi, salah satunya, Bahasa Arab. Bagi saya, asalkan itu memang telah menjadi bahasa baku, tak masalah. Jangan sampai, dengan alasan akulturasi budaya, lalu kita mensahkan (atau mengesahkan, ya?) bahasa seperti: “Saya ingin mem-write sebuah artikel, lalu di-send ke media massa. Saya ingin tulisan saya itu di-publish di media massa agar dibaca everyone.”
Atau, “Saya hendak mem-forward SMS di PDA saya kepada someone. Because someone itu adalah best friend-ku.”
Ah…kacau jadinya kalau Bahasa Indonesia dibegitukan (sebelumnya saya hendak menulisnya “digituin”).
edratna | 19 12 2008 @ 19.49.07
Termehek-mehek…awalnya bingung, apa pula artinya…..setelah nonton TV baru tahu…
kaktuan | 19 12 2008 @ 17.20.03
language is habits…ya…krn komunkatif dan sama dimengerti…gpp lah…istilah nya ..cincai or chincai ya…..heheh
anakperi | 19 12 2008 @ 16.42.24
hektare atau hektar sih, Man?
ebeSS | 19 12 2008 @ 16.01.11
di awal KBBI ada tertulis begini:
“jang dinamakan ‘Bahasa Indonesia’ jaitoe bahasa Melajoe yang soenggoehpoen pokoknja berasal dari ‘Melajoe Riaoe’ akan tetapi jang soedah ditambah, dioebah ataoe dikoerangi menoeroet keperloean zaman dan alam baharoe, hingga bahasa itoe laloe moedah dipakai oleh rakjat . . . . bla bla bla”, maap ribet banget ngetiknya, dah
suwung | 19 12 2008 @ 15.22.55
tak kira guyon… ternyata …
jadi pusing bacabnya
ardianzzz | 19 12 2008 @ 12.40.00
coba cari di oxford diktionari..
atau babad tanah jawa, serat centhini dll dsb..
sepaku | 18 12 2008 @ 14.27.53
Kita buat saja istilah-istilah baru atau serapan dari bahasa lain. Setelah itu minta dimasukkan di KKBI.
Ndoro Seten | 18 12 2008 @ 13.39.09
orang ngendonesya memang kreatip mbikin istilah, meski akhirnya bingung sendiri di belakang….
Suwahadi | 18 12 2008 @ 4.52.54
Welah, iya makin ruwet aja bahasa bangsa ini.
Apa kembali aja ke bahasa daerah masing2 lagi ya? :D
blonty | 18 12 2008 @ 0.54.12
pusing ngomongin bahasa.
saya pernah dimusuhin teman satu kantor gara-gara ngrecokin inkonsistensi berbahasa dan cerewet pada tabiat salah ketik!
Ersis Warmansyah Abbas | 18 12 2008 @ 0.00.17
Paman, mari termehek-mehek he he
Femmy | 17 12 2008 @ 23.45.08
Rachel.
Re-chel atau Ra-hel?
kecuali Rachel Maryam karena (katanya) itulah namanya.
Usaha Online | 17 12 2008 @ 22.04.36
bicara soal bahasa baku dalam bahasa indonesia, saya sendiri sering bingung. apakah huruh “p” dalam kata “pengaruh” akan lebur ketika mendapatkan imbuhan me-i, memengaruhi atau mempengaruhi. apakah aktivitas atau aktifitas. bahasa kita banyak menyerap bahasa asing, dan dalam penyerapannya pada mulanya dikenalkan oleh media. dan kacaunya, beberapa wartawan sengaja menulis istilah dalam bahasa asing, yang padahal padanannya mudah ditemukan dalam bahasa indonesia. entah itu buat gaya, atau ada niatan untuk memperkenalkan istiah baru. malah kacaunya, beberapa kali saya menemukan istilah asing yang nekat diindonesiakan yang menjadi wagu karena kengawurhan dari si wartawan.
bagaimana dengan blogger, yang secara kebahasaan secara umum tak seketat wartawan itu? apakah tidak akan menambah kacau?
ah biarlah, toh bahasa kita ini memang kacau. nikmati saja kekacuan ini. bukankah bahasa baku, bahasa kromo, pernah hanya dimanfaatkan untuk legitimasi kekuasaan? biarlah bahasa menemukan ucapnya sendiri dilidah pengucapnya, dijari penulisnya. itulah bahasa warga yang lebih berwarna. kekekek….
Weduse Etawa | 17 12 2008 @ 20.01.40
bahasa juga merupakan pemahaman dan kesepakan kan om
eh piye kabare om kok yang di dag dig duk nggak bisa di komen ternyata di sini juga pamanku yang cakep ituhahahahahaha
salam hormat saya
boyin | 17 12 2008 @ 18.14.32
aku baru tau abis baca blog ini.ketinggalan wes…
Daus | 17 12 2008 @ 17.15.05
Menarik. Saya sendiri sempat menganut paham bahwa bahasa adalah arbitrer (manasuka), tetapi kemudian jika memasuki ranah media, yang salah satu tugasnya “mencerdaskan”, maka bahasa bukan lagi arbitrer melainkan “ordered”, teratur, ada rule dan argumen yang mesti dijadikan dasar berpijak. (halah, kebanyakan pake istilah ini, biar kelihatan pintar, jyakakak).
galihsatria | 17 12 2008 @ 13.05.18
Misleading paman, judulnya harusnya jadi subjudul, subjudul harusnya jadi judul, masak judul cuma dibahas di bagian akhir tulisan? Porsi kecil lagi.
*dijitak karena mengkuliahi pakar tulis-menulis — pimred gituh..*
zam | 17 12 2008 @ 12.22.41
ah.. koneksiku ngehek!!
oiya, sekalian nanya, yg bener itu “blogger” atau “bloger”?
saya lebih suka pake “bloger” :D
bayoewebid | 17 12 2008 @ 11.28.25
semakin kesini bahasa semakin tidak baku, dan akan selalu muncul istilah baru. Apalagi media sekarang beragam, memperkuat efek multiplier penyebarannya.
soal termehek-mehek saya masih belum tahu artinya, pepesan kosong ?
Budiono Darsono | 17 12 2008 @ 11.23.05
Wesss…tulisan ciamik dari Paman Tyo. Layak dibahas dengan para blogger di Wetiga.
mpokb | 17 12 2008 @ 10.27.56
oh.. jadi warga lagi kelimpungan, terus narik2 minyak tanah? ngehek mak dikipe…
bangsari | 17 12 2008 @ 10.24.35
posting yang lucu dan kaya.
btw (kosakata baru juga bukan?), bukankah bahasa itu bagian dari komunikasi? maksud saya, kalau pun tak baku asalkan masing-masing pihak saling memahami ya sudah cukup to?
M4nk | 17 12 2008 @ 9.36.58
Ini postingan yg ngehek atw mewek?
Eh bukan dua2nya….
=-=-=-=
*M4nk curiga,kita terlalu suka memakai kata yg khas(enak didenger) kemudian diulang2 seperti itu ; sama seperti mengenalkan kata2 baru pada balita ;-)*
bootdir | 17 12 2008 @ 9.29.09
Kok sepertinya ini hanya postingan untuk memuja Ndoro?
Chic | 17 12 2008 @ 9.05.42
kalo “puspas” itu akankah jadi kosakata baru yang banyak dipakai? hihihihi :P
Donny Verdian | 17 12 2008 @ 6.31.16
Saya mengusulkan kata baru dalam bahasa Indonesia, “cemethut” artinya menggemaskan.
Setuju opo ora ?
Epat | 17 12 2008 @ 5.58.33
semangkin kaya sajah endonesah
aespe | 17 12 2008 @ 5.37.26
ternganga nganga… bengong mpe speechless
itu kali artinya :)
Dony Alfan | 17 12 2008 @ 2.47.30
Mungkin itu bagian dari centang peren(t)ang bahasa Indonesia.
Btw, saya juga bingung tuh dengan istilah ‘centang peren(t)ang’, gimana sejarahnya? Paman pasti lebih tau
mantan kyais | 17 12 2008 @ 2.35.02
saya taunya termewek-mewek …
hedi | 17 12 2008 @ 1.49.51
saya lagi baca buku “sejarah bahasa inggris” (ada ga ya buku sejarah bahasa indonesia?), dibilang sebuah kata kadangkala ga ketahuan dari mana asal usulnya dan cuek saja :)
JUN | 16 12 2008 @ 23.39.59
Acara “Termehek-mehek” di sebuah stasiun televisi swasta itu menjadi tontonan favorit kawan-kawan di kantor saya, khususnya di ruangan layout. Hari ini, wapemred saya tanya ke saya apa arti kata ‘termehek-mehek’. Terus terang, saya sulit menjelaskan/mencari padanan kata yang pas. Saya bilang saja bahwa konotasi kata itu adalah semacam gulung-koming. Betul nggak, paman?
tetangga paman | 16 12 2008 @ 23.31.49
hi,hi,hi,hi,.. postingan yang lucu dan menjebak nih paman. kalau menurut saya termehek-mehek istilah bahasanya adalah menangis yang tersedu-sedu (eh tersedu-sedu dalam bahasa indonesia yang benar ada gak yah?)nah… kalau terngehek-ngehek panjang tuh paman artinya :) silahkan deh paman mengartikan juga sendiri he,he,he,he…
Kyai slamet | 16 12 2008 @ 22.58.26
Termehek-mehek, kalau H-nya diganti M gimana paman?
ndebakulsempak | 16 12 2008 @ 22.39.24
Kalo mehek itu apakah artinya sama dengan mewek dalam bahasa jawa paman?
Kalo ngehek, istilah ini saya dapat ketika nonton film yg dibintangi vino bastian. . .Mungkin artinya ga baik, jadi paman ga mau mbahas :D
Syafrudin Abi-Dawira | 16 12 2008 @ 20.22.29
@Yahya,
Kalau nggak salah sekretaris atau briker, untuk menghindari salah dengar ketika mengeja huruf.
Yahya Kurniawan | 16 12 2008 @ 19.55.08
Kalau nol dibaca kosong itu yang mempopulerkan siapa ya, Paman?
K'ndie | 16 12 2008 @ 19.16.20
Pertamax!!