TERIMA KASIH SAYA DAN KELUARGA.

SMS dari Zen, si Pejalan Jauh itu, pada 25 Desember lalu, pukul 04.56, jauh dari niat bergurau: “Pasti ndak biasa merayakan kelahiran (yesus) di tengah kematian (mas-e njenengan). Ikut berduka, Paman. Selamat natal. Damai buat semua. Amien.”
Saat itu saya sedang dalam perjalanan bergerimis dari Jakarta menuju Yogya, antara lain bersama ibu saya. Baru selewat pukul sepuluh pagi lebih saya tiba di rumah Kepuh Wetan, Klitren.
Siangnya, empat jam kemudian, saya dan keluarga besar saya berkumpul di pemakaman, nun timur kota. Di bawah teduhan sekian pohon rambutan di sebuah pemakaman partikelir, urukan liang lahat itu akhirnya ditutup taburan bunga.
Di tempat itu pula, pagi, sehari sebelumnya (24/12), kangmas saya melayat sejawatnya. Dia katakan suka tempat itu dan ingin dimakamkan di situ. Siang menjelang sore Tuhan memanggilnya melalui serangan jantung.
Persoalan utama kami, anak-anak di luar Yogya, adalah bagaimana menyampaikannya kepada Ibu.
Saat itu dia sedang bersama istri saya di sebuah tempat di Jakarta Selatan, bersama beberapa cucu (termasuk anak saya). Dalam rombongan yang lain ada pula adik saya dari Bogor bersama istri dan bayinya.
Secara terpisah rombongan bergegas pulang, mencoba menembus kemacetan jelang libur akhir tahun. Harus segera tiba di rumah, karena di sanalah kabar buruk itu akan disampaikan kepada Ibu.
Selagi menyetir, termasuk ketika melaju di jalan tol, sulit bagi istri saya untuk menyampaikan warta itu kepada Ibu yang duduk di sebelahnya. Komunikasi ponsel dia serahkan ke anak sulung saya. Ibu sempat meng-SMS saya, yang juga sedang merambati kemacetan, mengapa seperti ada ketidakberesan di antara anak-anaknya. SMS yang sama Ibu kirimkan ke Kangmas di Yogya, yang sudah menjadi jenazah…
Semua berpacu dengan waktu. Begitu pula saya. Kekhawatiran kami sama: bagaimana kalau tiba-tiba Ibu menerima telepon belasungkawa, setidaknya ajuan konfirmasi, dari entah siapa, padahal dia belum mendengar kepergian anak sulung yang tinggal serumah dengannya, yang telah mengantarnya ke Stasiun Tugu empat hari sebelumnya dalam keadaan bugar?
Setibanya mereka di rumah, Ibu diberitahu Adik (karena saya belum tiba). Ketika saya tiba, dalam isak tangis Ibu menyatakan ketika sepuluh tahun lalu ditinggal wafat Bapak dia siap karena sudah sekian tahun mendampinginya dalam sakit. Tapi untuk anaknya, dia tak siap karena tak menyangka. Terlalu mendadak.
Memang mendadak. Memang tak terbayangkan, karena manusia memang hanya bisa berencana.
Natal ini saya tak merencanakan pulang karena anak sulung punya kegiatan yang dipersiapkan lama. Kebetulan Ibu sedang sela, sehingga ingin Natalan di rumah saya sekalian menengok cucu delapan bulan yang juga ngumpul di rumah saya. Dua keponakan dari Bandung juga sudah datang. Lalu datanglah peristiwa itu. Saya tak mau berspekulasi tentang tiket pesawat pada tanggal 24 Desember. Kalaupun barangnya ada, saya tak tahu cara mencapai bandara Cengkareng dari Pondokgede.
Begitulah, tanpa saya rencanakan akhirnya saya dan istri ke Yogya, meninggalkan dua anak dan dua keponakan yang dijaga seorang sepupu.
Selebihnya adalah kenangan dekat dan kenangan jauh. Termasuk dalam kenangan dekat adalah dua besek gudeg titipan Kangmas untuk keluarga saya. Itu hal yang jarang dia lakukan. Dia jarang menitipkan oleh-oleh.
Adapun kenangan jauh adalah masa-masa kami tumbuh. Saya ingat, ketika dia kelas tiga SMP dia membeli piringan hitam Deep Purple dan memperdengarkan Speed King kepada saya yang masih kelas empat SD. Ketika saya remaja, dia memperkenalkan rekaman jazz harmonika Tooth Tieleman kepada saya. Selain itu tentu pop art, puisi mbeling, majalah Aktuil, Pop Foto dan Muziek Express. Selain itu tentu komik dan cerita silat.
Semuanya sudah menjadi riwayat. Patut saya syukuri, peristiwa buruk selalu menumbuhkan kesetiakawanan. Saya berterima kasih kepada Gembul, bala dagdigdug dan jaringan Langsat, teman-teman bloggers di Yogya, dan semua pihak yang memberikan dukungan.
Salam.







Indri | 05 02 2009 @ 21.34.58
Turut berduka cita, tapi ada untaian selamat bahagia juga.
Bahagia untuk Natal….
“Kulukis dunia hitam dan putih yang hanya berselang.. tawa.. tangis” (DEWA, Hitam Putih
—
suwun, indrie.
/tyo/
Aan | 05 02 2009 @ 21.33.56
Setelah googling ada kisah2 menarik tentang para eks muslim Indonesia nih.
Forum Murtadin (Eks Muslim) Indonesia
Sms cinta dari Allah
iman brotoseno | 31 12 2008 @ 19.40.58
dari debu kembali ke debu…
Rahasia Allah tak ada yang bisa menebak..
Turut berduka cita juga Paman..sekaligus mengucapkan selamat tahun baru 2009
venus | 31 12 2008 @ 1.04.12
maaf saya telat berkunjung dan ngucapin turut berdukacita, paman..
sekalian ngucapin selamat natal (yang juga telat), dan selamat taun baru *sungkem*
amd | 30 12 2008 @ 22.28.43
Ndherek belasungkawa, Mas…, sing tabah yo.
yos | 30 12 2008 @ 18.02.19
turut berduka, Paman.
edratna | 30 12 2008 @ 17.07.23
Nderek belasungkawa paman…semoga kangmasnya tenang disana…
Dan juga “sugeng Natal”….semoga keluarga paman selalu mendapat kedamaian.
Aris Heru Utomo | 30 12 2008 @ 15.47.44
Turut berduka cita Paman, juga selamat Natal dan Tahun Baru.
Ibunya Aria Gaung | 30 12 2008 @ 14.40.43
Selamat Natal. Maaf Pakdhe… baru baca blog ini. Turut bela sungkawa ya. Hope the sweet memories can comfort you.
lenje | 30 12 2008 @ 11.24.43
Wah, maaf baru tahu mas :(. Turut berdukacita, selamat Natal dan tahun baru.
r | 30 12 2008 @ 10.59.52
ikut berdukacita paman.
selamat natal juga.
Ade | 30 12 2008 @ 10.20.36
Turut berduka cita Paman!
handaru | 30 12 2008 @ 9.28.58
Turut berduka yang mendalam.
genthokelir | 30 12 2008 @ 8.33.55
Nderek Belosungkowo Awit saking Tilaripun Mas Panjenengan Paman
Mugi Ingkang Katilar tansah karahayon lan diparingi kasabaran
suwun sugeng natal lan warso enggal
guntur | 30 12 2008 @ 8.29.38
Ikut berbela sungkawa Man…
Dan Selamat Natal buat panjenengan dan keluarga.
paman tyo | 30 12 2008 @ 8.12.56
Terima kasih untuk Anda semua. Sekali lagi terima kasih.
johnherf | 30 12 2008 @ 4.22.31
Tulisan ini memanggil ingatan kembali pada peristiwa kematian seorang anak tanggal sepuluh bulan keduabelas tahun dua ribu. Kini ia tinggal di pemakaman keluarga Celeban, Patangpuluhan, Jogjakarta. Batu nisan anak itu bertuliskan Gabra Mikael Herfan. (Saya turut berduka cita juga Paman Tyo.)
sayatan | 29 12 2008 @ 19.06.52
turut bela sungkawa, paman…
dan selamat merayakan natal
rani | 29 12 2008 @ 15.09.16
turut berduka cita, paman
nicowijaya | 29 12 2008 @ 15.01.46
maaf paman, kmaren pulang duluan ma tika. ga ikut ke pemakaman.
Tetty | 29 12 2008 @ 13.38.09
Maaf Paman, baru on line..
Turut berduka cita Paman…
Ikhlaskan…, karena semua akan kembali pada-Nya.
Cayo Paman, Semangat!
Live must go on.
triesti | 29 12 2008 @ 8.37.56
turut berduka cita ya mase… semoga yg ditinggalkan tabah. veel sterkte
Donny Verdian | 29 12 2008 @ 8.13.36
Turut berduka cita, tapi ada untaian selamat bahagia juga.
Bahagia untuk Natal….
“Kulukis dunia hitam dan putih yang hanya berselang.. tawa.. tangis” (DEWA, Hitam Putih)
Ben | 29 12 2008 @ 8.09.31
Om Tyo, turut berduka cita.
Kyai slamet | 29 12 2008 @ 5.56.02
Kabeh wis ginaris kaliyan Gusti. Menungso sakderma nglakoni. Nderek belasungkawa.
Dony Alfan | 29 12 2008 @ 2.57.36
Semua yang hidup, pasti akan ‘pulang’. Semuanya hanya soal waktu, kita yang masih hidup ini juga hanya menunggu sang waktu.
Turut berduka, semoga sampeyan bisa tabah
Totok Sugianto | 29 12 2008 @ 0.43.33
Turut berduka cita paman…
nico | 28 12 2008 @ 23.08.38
my deepest condolences on your loss paman tyo.
nothing | 28 12 2008 @ 16.58.08
kematian membebaskan manusia dari segala kewajiban-kewajibannya… membuatnya merdeka
turut berduka paman..
dan selamat natal
hedi | 28 12 2008 @ 15.13.32
turut berduka, paklik. saya baru tahu dari posting ini.
zen | 28 12 2008 @ 15.04.27
Requiescat in Pace!
Zam | 28 12 2008 @ 14.26.33
Turut berduka cita, paman.. Semoga diberi ketabahan..
Rian | 28 12 2008 @ 13.30.19
Turut berbelasungkawa, paman.
Semoga ketabahan diberikan kepada keluarga yg ditinggalkan
Ahmad | 28 12 2008 @ 13.27.01
Paman, turut berduka cita.
dudi | 28 12 2008 @ 12.58.36
turut berduka cita paman.
Abihaha | 28 12 2008 @ 12.38.43
Turut berduka cita, semoga yang ditinggalkan diberi kekuatan.
Selamat natal dan tahun baru.
mpokb | 28 12 2008 @ 9.09.05
turut berduka cita, paman. semoga keluarga yang ditinggalkan dalam lindungan kekuatan dan kesabaran..
gareng | 28 12 2008 @ 9.03.15
turt berduka
kw | 28 12 2008 @ 8.44.23
turut berduka paman, semoga kang masnya lebih nyaman di sana.
selamat natal dan tahun baru
Gunawan Rudy | 28 12 2008 @ 8.07.53
Semua turut berduka.
Sugeng Natal. :)
Gage Batubara | 28 12 2008 @ 3.46.01
Turut berduka, Paman!
Selamat Natal juga :)