YA SOSIAL, YA POLITIK, KITA INI (KADANG) MEMANG SEMPRUL JAYA.

Setelah dilancangi 16 orang, akhirnya saya agak ketus menagih hak saya, sambil berdiri dan menyetel amplifier dalam dada saya, dengan ekses kuping orang sebelah tersambar frekuensi yang mengganggu.
Lalu datanglah semangkuk soto ayam. Si pelayan meminta maaf sekadarnya. Ternyata hati dongkol ikut memengaruhi daya cecap lidah. Maka soto Garasi Esto Salatiga itu berkurang nikmatnya. Apalagi sajiannya standar, tanpa tambahan irisan telur pindang, tanpa irisan sarèn, dan tanpa lainnya.
Ketika menunggu perolehan hak, saya melamun. Ternyata potret sosial kita hadir dan mengalir di dalam warung.
Dalam hal apa saja? Mari kita urutkan.
Pertama: mengantre. Ini pengalaman keseharian kita, sehingga ketika kita keluhkan akan terasa mengada-ada. Hanya jika dirugikan kita tak suka, tetapi kalau diuntungkan (padahal merugikan orang lain) maka kita cukup pura-pura tak tahu sambil dalam hati menyalahkan pihak yang mengistimewakan kita (”Lha kan bukan saya yang minta prioritas dan dispensasi?”). Anehnya, pemotong kompas sering membanggakan tindakannya. Saya termasuk golongan ini.
Kedua: artikulasi dan agregasi kepentingan. Kita sering lupa bahwa hak harus diperjuangkan dengan cara yang melebihi default. Cukup bilang, “Soto satu!” tanpa desakan dan pengulangan akan berkemungkinan diabaikan. Kita memang bersuara, dan jelas terdengar, tetapi dalam sebuah sistem pelayanan yang kurang responsif kita tak lebih dari silent majority. Bisa-bisa kita akan mendapatkan respon, “Salah sendiri kenapa tadi diam.” Dalam kasus ini saya termasuk golongan tanpa gema, dan dalam kasus lain saya adalah bagian dari mesin pelayanan yang lamban.
Ketiga: akses terhadap sumber daya. Posisi paling wuenak (PW) ketika mengudap soto adalah mengelilingi pikulan dan kuali. Soto dan lauk mudah didapat, kadang cukup dengan isyarat. Bahkan beberapa lauk lain tinggal diambil. Duduk di inner circle ini bisa membuat orang lupa diri, setelah bersendawa masih menyalakan rokok sambil nge-SMS atau halo-halo, tak memedulikan orang lain yang masih berdiri (antirokok). Saya termasuk pemburu PW ini, dan kadang lupa hak orang lain.

Keempat: akses terhadap pusat kekuasaan. Tak perlu duduk merapat kuali. Asal wajah dikenal baik oleh awak warung, maka begitu datang seseorang bisa langsung mengomando, kalau perlu cukup bilang, “Biasa…” — atau tak perlu bilang apa pun (khas gaya orang yang masuk guest list sepanjang hayat). Dijamin pesanan segera diantar, bila perlu dengan melompati antrean. Orang sok Inggris benar: pelanggan kedai adalah patron. Saya kadang termasuk kaum ini, tetapi tidak untuk warung soto itu karena saya adalah nobody yang selalu menghibur diri “nobody’s perfect and I’m nobody“.
Itu semua adalah dorongan purba. Tak adakah cara yang berbudaya untuk mengatasinya?
Ada. Namanya manajemen pelayanan dalam penyelenggaraan kekuasaan. Dalam soal ini saya sangat lemah. Saya lebih suka dilayani. Bahkan kadang saya meyakinkan diri saya, “Emangnya saya penghibur yang harus menyenangkan hati semua orang? Emang yang butuh itu siapa?”
Saya ingin tahu bagaimana halnya dengan Anda. :D







Martin | 13 02 2009 @ 21:08:44
ya emang benar kalau kita selalu seperti tercemin. dari apa yang ada di dalam hati kita begitu.
asyik juga mencerminkan dari warung soto
—
tak hanya di warung soto sih, mas martin
/tyo/
godote | 09 01 2009 @ 20:52:27
saya termasuk orang yang care dengan budaya antri. sudah cukup sering ndamprat orang yang maen slonong se’enaknya. saya rasa, kalau tidak ada orang lain yang mengingatkan, ya pasti akan lolos dengan enaknya :).
saat brengos saya masih ndaplang, saya ndak perlu pakai tereak, tinggal jawil dan bilang antri mas/mbak/pak/om ditanggung langsung joss dia urung nylonong :)
dan saya selalu antri teratur dong.
Beta Uliansyah | 08 01 2009 @ 11:55:21
Aku paling sering ngalamain diserobot ibu2 di tolo retail bla-bla-bla-mart itu.
Sharon | 03 01 2009 @ 16:22:39
Ga punya tukang soto langganan tapi punya Abang Tukang Bakso Pribadi setiap hari minggu dan seorang Abang Tahu Tek setiap malam… ;)
antowi | 02 01 2009 @ 9:27:09
buat #35 kalau SKSD (Sok Kenal Sok Deket) sama bakulnya, dia takut kalau diutangi mungkin :p
Bocah | 01 01 2009 @ 14:54:29
Resiko orang “bukan siapa-siapa” seperti saya, sering diabaikan. Kadang harus pura-pura “kenal si Anu” agar cepat dilayani…
anton | 01 01 2009 @ 3:05:41
blogwalking pagi-pagi buta
okta sihotang | 31 12 2008 @ 12:53:41
met tahun baru mas :D
http://oktasihotang.com/2008/12/31/postingan-akhir-tahun-2008/
Freddy Hernawan | 31 12 2008 @ 10:17:09
yah.. mau gimana lagi, memang begitulah keadaan (potret) yang sesungguhnya. sulit untuk di ubah.
mpokb | 31 12 2008 @ 8:28:14
seharusnya paman dapat tambahan semangkuk gratis, karena sudah membantu melariskan si soto. banyak warung laris dengan strategi membiarkan pengunjung umpel2an dan tanpa antrean.. herannya mereka tetap laris.. eh, bukan hanya warung ding. di mal juga. biasanya gerainya kecil, bangku terbatas, akhirnya pengunjung juga harus makan sambil berdiri.. kadang banyak juga yang cuma ikut2 antre, padahal belum tentu doyan makanannya. memuaskan rasa ingin tahu dan biar nggak ketinggalan trend, gitu lho.. :)
Donny Verdian | 31 12 2008 @ 4:47:03
Wah tulisane kemampleng huahuahua..:)
Agak sedikit berbeda, kalau ngangkring di Lek Man saya paling ndak suka duduk di dekat anglo dan rombongnya soalnya kalau seperti itu nggak bisa nggabrul.
Posisi yang paling baik adalah tetap di tempat jauh dari anglo dan sesekali ngambil jajanan sebanyak-banyaknya untuk dimakan sejauh-jauhnya dan nanti waktu mbayar diakukan sesedikit-sedikitnya…
mantan kyai | 31 12 2008 @ 4:42:30
sedang menganalogikan soto ya paman??? soto dan klimatologi ada hubungannya gak ya :D
kw | 31 12 2008 @ 2:13:11
memang harus “eye cathing” untuk memaksa orang menoleh atau memperhatikan kita. dan aku pernah mempraktekkannya di sebuah warung.
harus belagu dan sok sokan ternyata kuncinya. dalam hati kasian banget memang, cuman kalau ga, ya pengalaman seperti paman ini akan terus terulang. :)
Dony Alfan | 31 12 2008 @ 1:36:03
Kalo saya diperlakukan seperti itu, sudah saya pisuh2i bakule.
Hati yang marah bisa membuat rasa soto jadi pahit, seperti jamu :D
preaxz | 31 12 2008 @ 0:14:48
Hmmm … kalau tidak mampu menikmati goyangan lidah saat menyantap sebuah soto, apa ga bisa merasakan pengalaman yang sama, paman?
Abihaha | 30 12 2008 @ 23:55:31
Walah telur pindang maleh pakdhe? di kala menemani kanjeng romo sowan mudik ke pesisir Rowopening sebelah kulon, sudah keburu ‘eneg’ berteman kudap arem-arem dan telur pindang yang kanjeng romo bisa tandas empat. Tidak mampir ‘Gecok’ di mBringin-Tuntang pakdhe? atau sudah mulai asam urat dan kolesterol? Semoga senantiasa sehat.
handaru | 30 12 2008 @ 23:44:11
Penjualnya pasti tak tahu kalau paklik kita satu ini duitnya meteran. :D
Epat | 30 12 2008 @ 20:52:27
Garasi Esto? niku garasine bis Esto ya paman?
wealah masih ada toh bis esto di salatiga?
mastongki | 30 12 2008 @ 20:26:20
saya lebih sering menemukan yang di inner circle itu mamang adanya begitu.
untuk yang mengatri tidak jarang yang mengompas barisan malah tidak kalah senewen saat ditegur.
nobody’s perfect.
paman tyo = nobody.
paman tyo is perfect. :D itu bukan maksudnya paman?
herru | 30 12 2008 @ 20:16:59
ah, saya suka sekali postingan kali ini, menganalogikan prilaku tukang soto dan pembelinya dengan prilaku kita. kena banget. c’est superb!
de | 30 12 2008 @ 18:21:54
jangan sering2 makan soto, paman. inget usia. :D
nb: paman, aku punya foto lucu, komentari yo…:P
Basoro | 30 12 2008 @ 17:56:07
Coba paman bilang Pertamax! Pasti gak dilangkahi 16 orang.
hedi | 30 12 2008 @ 17:49:37
sepertinya untuk urusan itu, kita semua harus ikut kursus kepuasan konsumen seperti yg pernah dilakukan Astra Motor ke seluruh karyawannya.
edratna | 30 12 2008 @ 17:10:50
Paman, katanya kalau dekat inner cycle itu memang uenak….sama seperti dekat kompor, kan anget.
Nyatanya dari beli soto aja, posisi PW dan non PW menentukan.
iway | 30 12 2008 @ 16:28:45
saya sering di pertama dan kedua :(
soto jowo | 30 12 2008 @ 16:21:30
nek ora buolak-bualik ngomong
yo, mengko di srobot wong liyo,
tapi yo ben ae’, mbok menowo wong
liyo sudah sangat lapar.
walau ati ngedumel..hehehe
nothing | 30 12 2008 @ 15:58:06
dadi luwe
roi | 30 12 2008 @ 15:21:15
Paman, kapan-kapan kita makan soto betawi di daerah Manggarai yuk…yang dibelakang Pasar Raya itu, deket kantor Investor Daily dulu.
Tapi datangnya harus pagi-pagi, soalnya kalo siang suka habis…
andrias ekoyuono | 30 12 2008 @ 15:11:58
ngakak baca komentar #5
tapi memang khas kita ya, kalau diuntungkan ya diem, tapi kalo dirugikan bakal teriak (kalo brani :-) )
nico | 30 12 2008 @ 14:54:49
untung sudah maksi.. jadi gag ngiler:D
geblek | 30 12 2008 @ 14:26:17
wadah jadi lapar pakde
Vavai | 30 12 2008 @ 13:48:28
Untung saya nggak suka soto, karena saya cuma rakyat jelata.
Paman saya saja dilangkahi 16 orang, apalagi saya, mungkin dilangkahi 32 orang :-P
zam | 30 12 2008 @ 13:26:23
sotonya sepertinya enak, paman..
egghead | 30 12 2008 @ 13:18:46
soto, oh soto …
riwayatmu kini
Erwin | 30 12 2008 @ 11:58:40
Saat kita menjadi ‘nobody’ maka proses untuk mendapat semangkuk soto pun jadi rumit. Harus mengantri, tidak cukup pesan dengan bilang : ’soto satu’ dan tidak bisa duduk dekat pikulan/kuali, plus tidak dikenal oleh si penjual. Benar2 cerminan dunia nyata ya. Nobody berarti tanpa privilege, tak didengar, tidak dekat dengan kekuasaan (inner cicrle) dan tanpa layanan prioritas.
fahmi! | 30 12 2008 @ 11:56:28
lha gimana nggak dilangkahi 16 orang, lha wong si paman lagi sibuk moto2 dan ngedraft postingan. tentu yg njual soto lupa kalo paman pernah order soto satu, haha, dikira lagi ngeliput warungnya yg beken itu :p btw ada wifi-nya?
daniy! | 30 12 2008 @ 11:47:36
Wah, dilangkahi 16 orang masih sabar?? Hebat benar, Paman..
Catshade | 30 12 2008 @ 11:45:26
Sayangnya, Paman, kita masih bisa dengan gampang berpindah ke bakul soto lainnya jika pelayanan di satu tempat tidak mengenakkan. Lha Indonesia cuma ada satu-satunya di dunia… :(
kloneng | 30 12 2008 @ 11:37:39
bakule tapuk dhuwit sisan, plok!!
mesthi langsung dilayani
(mungkin dari sini asal suap-menyuap :P)
mas kopdang | 30 12 2008 @ 11:04:49
dari kacamata bakul soto, siapa yang memiliki potensi sumber keuntungan, akan menjadi prioritas, apalagi bila terbukti si pemilik sumber keuntungan terbukti memiliki hubungan jangka panjang.
Pun bila ramah memberi tips, kenal seluruh keluarga dan pernah membawa rombongan sirkus ke kedainya.
Pelayanan prima? nanti dulu, pelayanan untuk laba masih nomer satoe.
:D