SEBIDANG RUANG DI GRAND INDONESIA.

Dasar saya kampungan dan mendua maka hasilnya adalah keterasingan di Grand Indonesia. Kampungan, karena saya sadar sedang di Jakarta, tapi dalam tempo singkat berpindah suasana ke Jepang lalu Amrik lantas entah mana lagi. Mendua, karena untuk tema kedai atau kantor (apalagi rumah) saya bisa menerima, bahkan kadang demen, tetapi untuk sebuah tata ruang publik yang lebih besar, yaitu mal, saya tak merasa cocok, lalu merasa aneh.
Ada seksi ruang yang dinamai Soho, interiornya diupayakan nge-NuYok. Imitasi digeber. Artifisial tapi tak mengenakkan. Dan entah kenapa di sebuah tempat premium, campur aduk itu bukannya jadi keren tapi terasa memaksa. Ikon James Dean dan Marilyn Monroe untuk penanda kelamin toilet menjadi tak jelas, untuk humor atau penghormatan.

Jika tema ruangnya adalah regional yang membenua, seperti di Mal Artha Gading, Jakarta Utara, yah bolehlah. Bukankah citra dan segmennya beda? Begitu pula dengan area belanja di mal yang keparis-parisan supaya konsumen mendadak bercita rasa Prancis.
Akan tetapi, oh aspal dengan penutup got itu (dalam mal!) telah mengasingkan saya. Begitu pula peringatan gaya gerbong sepur di peturasan. Hanya tenant seperti Blitz, yang menjadi pemula, yang bisa habis-habisan menjadi dirinya sendiri sebagai Indonesia masa kini — tapi toilet hitam itu lain soal. Adapun sisa ruang lainnya di lantai-lantai di bawahnya kurang mengesankan sebuah nama Grand Indonesia.

Jadi, siapa yang kampungan?
Lagi-lagi saya. Sebagai warga Jabodetabek dari perumahan rakyat di Pondokgede, baru kemarin saya ke bekas Hotel Indonesia itu untuk menjelajahi. Sungguh basi. Tertinggal.
Kekampungan saya yang lain adalah saya memang tak paham arsitektur maupun desain interior. Itu bidang antah berantah bagi saya.
Jadi, apa persoalannya saya? Sebetulnya tak ada. Toh saya tak dirugikan. Saya malah menikmati penuh keheranansepenggal episode yang menjadi bagian dari babad besar bernama pencarian identitas (ke)Indonesia(an).
Bagi saya identitas Indonesia memang belum selesai dan tak perlu selesai. Kita melakukan tawar-menawar, saling tarik-ulur. Bukan sebagai penonton melainkan pemain. Saya memakai jins boleh merasa nyaman (dan semoga gagah), namun jika itu berbeda dari citra para sosok dalam komik riwayat Levi Strauss, ah itu bukan masalah saya. Itu masalah orang yang melihat kenapa matanya kurang toleran. Begitu pula (mungkin) pemilik mal beserta manajemen dan para desainer. Lebih dari itu tentu para pengunjung yang asyik-asyik saja bahkan berfoto bersama, sambil menunjukkan batik tulis mahal maupun “batik printing” murmer dari Cina (“bacin”, kata pedagang). Semua adalah Indonesia.
Lantas apa urusan orang kampungan seperti saya selain sebagai penonton? Ya berkomentar. Sesuatu yang ditujukan untuk — dan demi kenyamanan — publik boleh dicoletehi, kan? Maaf. :)







Suster Gila | 12 02 2009 @ 10.27.29
Sepertinya bukan cuma Paman saja yang merasa seperti itu. Tinggal individu tersebut mau ndak ngomong soal yang dirasa. Atawa diemm karena tidak ada tempat untuk ngomong. ??
Sudahlah paman, nanti malah jadi ngeneh-nganehi, Indonesia ya memang begini. *senyum kecut*
edratna | 05 01 2009 @ 19.27.05
Selama ini ke GI hanya ke Blitz Megaplex. Minggu lalu ke sana, karena ada diskon buku di Gramedia GI…tapi ya cuma ke Gramed aja…
Belum sempat muter-muter…..tapi sempat berpikir, apa ya Mal itu laris ya?
therry | 03 01 2009 @ 22.36.01
Saya tiap kali ke GI nyasar mulu. Pernah harus ketemu client, janjinya jam 1 siang di Starbucks, butuh waktu 15 menit untuk nyari itu kedai kopi.
Sedangkan client saya 30 menit – dan dia bahkan tidak tinggal di Indonesia, tapi di Australia. LOL.
Nobody needs a mall THAT big, really.
sawung | 03 01 2009 @ 12.18.37
Saya merasa aneh kalo di indonesia menemukan petunjuk umum menggunakan bahasa asing.Kita ini hidup dimana? kok petunjuk pake bahasa asing.
melly | 03 01 2009 @ 9.17.23
ternyata katanya lebih banyak yang suka. saya sendiri selalu merasa jengah di tempat yang dibuat seakan-akan berada di tempat lain.
arya | 03 01 2009 @ 2.22.59
grand indonesia (dan mal2 besar serta hotel2 mewah) kadang (seringkali?) membuat saya terintimidasi. makelum, saya ini emang ndeso.
Krisditya | 03 01 2009 @ 2.04.58
Malam uncle
Bangsa yang besar adalah Bangsa yang tahu jati dirinya….Nah persoalannya nggak ada lagi elite bangsa yang “bersih” dan yang “bisa” dengan wibawa ngingetin para orang kaya yang banyak duit.
hedi | 02 01 2009 @ 21.55.26
endik harusnya cuma ngurus eksterior, bukan desain interior. tapi sebagai project manager, bisa jadi dia ikut cawe2, tanya endik wae, paman :D
gareng | 02 01 2009 @ 21.13.09
eh, itu peturasannya emang gaya gerbong kereta yah ?
sori, blom pernah ke grand Indonesia..
*lebih kampungan*
Ahmad | 02 01 2009 @ 15.39.36
Wah, kebetulan saya sedang menulis identitas Melayu. Ternyata, Paman membantu saya memberikan warna lain cara menyoal penanda diri.
Jika pra-modernitas menganggap identitas itu pasti, maka modernitas memandangnya sebagai terkonstruksi secara sosial. Mungkin, posmo yang cukup menggelitik, ia adalah mitos. Lalu, kita akan berputar-putar dari serpihan ide-ide ini.
parta | 02 01 2009 @ 13.58.21
bagi mereka yang kelebihan uang mungkin menganggap biasa aja paman, karena gengsi itu lebih utama, tapi buat saya yang masih kekekurangan mungkin bisa dianggap seperti kampungan yah.. :)
Epat | 02 01 2009 @ 12.58.43
sepertinya itulah jati diri bangsa ini yang sebenarnya… bangga dengan gaya hidup dan mensuasanakan seperti layaknya negeri orang
kw | 02 01 2009 @ 12.15.14
bukan orang indonesia kalau ga kampungan paman. :)
geblek | 02 01 2009 @ 10.48.53
sok sokan nggaya amrik paman, wetiga ahhh
mpokb | 02 01 2009 @ 10.10.44
tapi kalo dipikir2.. sebetulnya grand indonesia itu memberi sindiran, eh, penyaluran buat bangsanya sendiri kan, pam.. indonesia banget, malah. sebab bangsa indonesia sekarang kan suka hal2 yang bergaya amerika, bergaya jepang dan timur tengah? :D
Abihaha | 02 01 2009 @ 9.14.47
Biasa pakdhe, orang sini kan lebih amerika dari orang amerika.
mpokb | 02 01 2009 @ 9.06.32
waduh, hampir aja tempo ari motret papan pengumuman itu (di toilet wanita juga ada) :D
sektor properti emang gitu paman.. maunya semua tempat bernama asing semua.. lama2 kebon kacang jadi peanut garden dah.. btw, nama2 tempat di jakarta emang dari dulu kuminggris kan? harmony, roxy, majestic… :D
Catshade | 02 01 2009 @ 8.55.24
Jadi ingat istilah ‘hiperrealitas’…
mantan kyai | 02 01 2009 @ 8.51.23
iya gimana paman??? *mempertegas perrtanyaan snydez* :D
pitik | 02 01 2009 @ 8.09.19
kuwi sing mbangun endiks..mangkane dadine yo koyo ngono kuwi om
snydez | 02 01 2009 @ 7.38.27
oom, klao moto toilet gitu, nunggu sepi apa cuek aja? :D
Donny Verdian | 02 01 2009 @ 6.05.03
Kebangetan itu, Paman!
Tampak sekali sudah semakin goyah ya yang namanya identitas kita.
Mesti harus nggotong-nggotong NYC ke situ supaya laku pho ya ?
Wah, semakin lengkap deh.
Selain budaya timur tengah yang semakin tampak, NYC van USA pun merambah identitas Indonesia.
Piye ki ?
zen | 02 01 2009 @ 5.30.12
identitas, seperti yang kita bicarakan tempo hari, tak bisa diterjemahkan menjadi “jati diri”.
bukan begitu, my uncle?