Pensiun Dini, PHK, dan Ceramah
UNDANGLAH VETERAN UNTUK BERBAGI SEMANGAT.
Bukan pilihan yang mudah bagi pemangku jabatan tinggi setiap kumpeni untuk memecat maupun memensiunkan dini anak buah sekaligus sejawat yang telah lama dikenalnya, bahkan tumbuh bersama, justru pada masa sulit. Baiklah, orang bisa bilang soal nurani dan akal sehat. Orang bisa bilang soal kehendak baik. Dan entah apa lagi.
Tapi bagaimanakah kehendak baik diterjemahkan?
Rumus pesangon yang jauh melebihi undang-undang dan peraturan perusahaan itu patut disyukuri.
Pun bagus kalau ada sejumlah langkah persiapan, sejak sosialisasi sampai pelatihan.
Itulah mengapa ada kumpeni yang memberikan pelatihan kewirausahaan, dengan harapan bekas orang-orang mapan yang terpaksa meninggalkan comfort zone itu menjadi tangguh dan mandiri. Ada pula pelatihan pengelolaan keuangan pribadi eh… kesejahteraan — sekalian pengenalan risikonya.
Hanya itu? Mungkin ada pula pelatihan atau apalah yang bersifat pematangan spiritual supaya setelah jadi ronin mereka tidak depresi lalu saban hari menjeweri anak tetangga.
Yang saya belum tahu adakah sesi entah apa namanya yang justru memanggil pensiunan dini atau “korban” PHK dari kumpeni yang sama untuk berbagi pengalaman.
Saya bayangkan ini menarik sekaligus menantang.
Menarik, karena ceramah dan semua coleteh menggurui berasal dari bekas orang dalam.
Menantang, baik bagi orang manajemen maupun calon narasumber, karena bisa saja masing-masing punya luka yang belum disembuhkan oleh waktu dan pencerahan spiritual. Bisa-bisa 30 persen materi bahasan narasumber berisi caci maki penoreh luka.
Bagi peserta yang calon ter-PHK maupun pensiunan dini, persoalannya mungkin lebih sederhana. Mungkin lho. Yaitu hanya tertarik kepada alumni yang sukses — dengan maupun tanpa sakit hati.
Ukuran sukses adalah kesejahteraan mereka setelah jadi alumni itu lebih bagus daripada ketika masih jadi pegawai. Ini terukur, mudah dilihat.
Kalau ukuran sukses (tepatnya: sejahtera) adalah kenyamanan diri, padahal pendapatan jauh berkurang bila dibandingkan ketika bekerja di kumpeni lama, bisa jadi peserta akan marah.
“Lha memangnya setelah dipecat kami mau jadi orang nyeniman sok bohemian yang biarpun miskin tapi pede tetap cengengesan?” begitu mungkin respon peserta.
Kalau menurut Anda?
© Gambar asli praolah: unknown
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @PamanTyo Paman, kenapa di Crome blognya paman contains malware ya? May 24, 2012 metropulutan (Kom. Bloger Salatiga)
- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Di Setasiun Nggambir itu, Tuan Menhub (3)
November 8, 2007 by AntyoBEGINILAH EKSEKUTIF MENEMPATKAN BISNIS.
Ndoro Tuan Mentri dan segenap hamba sahaya, janganlah lekas gusar. Tak akan saya panjangkan lagi serial surat dogol ini. Kali ini izinkanlah saya menanyakan satu hal: siapakah itu eksekutif?
Semoga Tuan juga termasuk eksekutif, yakni orang mulia yang mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap keputusan itu.
Syahdan, untuk kemudahan [...]
Recent Comments
Romi Julio Rahman» sangat memukau sekali artikel anda
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Beberapa X saya menjumpai rekan yg menghadapi pilihan pensiun dini dan beberapa x saya memberikan saran bertahan sampai titik darah penghabisan pengurus usaha memberlakukan pensiun alamiah….. Kenapa????? Ungkapan saya sederhana…. Para Ponggawa Pengurus Usaha berhitung secara ekonomis biaya yg harus dikeluarkan kalau sesorang pensiun dini dan pensiun alamiah…. itung punya itung… lebih untung kalau kelurin anggaran pensiun gede di awal… habis itu hemat kebelakang.. dan ini nilainya ruar-ruar biasa sekali…. supaya banyak yang minat dikasih deh iming-2 nilai pelepasannya jauh diatas kalau normal…. tapi kalu ditotalin… weleh-2 masih kecil banget. Orang cuma ngitung nilai dari “BERAPA DUIT YG BIASA DIBAWA PULANG” alias “Take Home pay”, tapi gak pernah itung berapa benefit yg bisa dimanfaatkan, misalnya kesehatan, jabatan, perumahan yang ada diluar gajih…. disitulah itung-2an-nya para ekonom pegang peranan.
Konyolnya adalah … orang-2 penerima pesangon belum terbiasa mengelola dana diluar dana yang biasa dipegang bulanan… rasanya punya duit gede…… habis itu… blek-blek… dana simpanan tipis… terus panik…
Jadi bagaimana??????? Bertahan lebih baik untuk orang-2 yang sudah lebih dari 10 thn berkarya di satu tempat kerja…. gicu lho,,
wah kebetulan dikantor saya sedang ada sosialisasi pensiun dini
yang penting mah dibawa enjoy aja…
hepi terus walau hidup melarat…
Ah tak perlu risau apalagi sampai cari tali (kolor) untuk gantung diri. Toh rejeki tiap mahluk sudah di”Anggarkan” oleh Sang Maha Sutradara. Kita tinggal menjemputnya, BUKAN mencari!
Paman, image tali gantungan itu sungguh nggrigisi. Paman toch tidak bermaksud mengatakan PHK adalah akhir segalanya, dan mengakhiri hidup dengan tali gantungan adalah cara memilih kematian yang biasa saja.
Saya termasuk di antara kelompok yang pernah mengalami PHK (lebih dari sekali pula). Satu hikmah atau ibrah yang bisa saya petik dari peristiwa itu, Tuhan ternyata memang ada, dan justru sangat dekat dengan kita ketika kita berada di titik nadir. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Kitalah yang kadang (atau sering) meninggalkan BELIAU.