Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





Pensiun Dini, PHK, dan Ceramah

Rabu, 07 Januari 2009 @ 15:25 | Umum

UNDANGLAH VETERAN UNTUK BERBAGI SEMANGAT.

Bukan pilihan yang mudah bagi pemangku jabatan tinggi setiap kumpeni untuk memecat maupun memensiunkan dini anak buah sekaligus sejawat yang telah lama dikenalnya, bahkan tumbuh bersama, justru pada masa sulit. Baiklah, orang bisa bilang soal nurani dan akal sehat. Orang bisa bilang soal kehendak baik. Dan entah apa lagi.

Tapi bagaimanakah kehendak baik diterjemahkan?

Rumus pesangon yang jauh melebihi undang-undang dan peraturan perusahaan itu patut disyukuri.

Pun bagus kalau ada sejumlah langkah persiapan, sejak sosialisasi sampai pelatihan.

Itulah mengapa ada kumpeni yang memberikan pelatihan kewirausahaan, dengan harapan bekas orang-orang mapan yang terpaksa meninggalkan comfort zone itu menjadi tangguh dan mandiri. Ada pula pelatihan pengelolaan keuangan pribadi eh… kesejahteraan — sekalian pengenalan risikonya.

Hanya itu? Mungkin ada pula pelatihan atau apalah yang bersifat pematangan spiritual supaya setelah jadi ronin mereka tidak depresi lalu saban hari menjeweri anak tetangga.

Yang saya belum tahu adakah sesi entah apa namanya yang justru memanggil pensiunan dini atau “korban” PHK dari kumpeni yang sama untuk berbagi pengalaman.

Saya bayangkan ini menarik sekaligus menantang.

Menarik, karena ceramah dan semua coleteh menggurui berasal dari bekas orang dalam.

Menantang, baik bagi orang manajemen maupun calon narasumber, karena bisa saja masing-masing punya luka yang belum disembuhkan oleh waktu dan pencerahan spiritual. Bisa-bisa 30 persen materi bahasan narasumber berisi caci maki penoreh luka.

Bagi peserta yang calon ter-PHK maupun pensiunan dini, persoalannya mungkin lebih sederhana. Mungkin lho. Yaitu hanya tertarik kepada alumni yang sukses — dengan maupun tanpa sakit hati.

Ukuran sukses adalah kesejahteraan mereka setelah jadi alumni itu lebih bagus daripada ketika masih jadi pegawai. Ini terukur, mudah dilihat.

Kalau ukuran sukses (tepatnya: sejahtera) adalah kenyamanan diri, padahal pendapatan jauh berkurang bila dibandingkan ketika bekerja di kumpeni lama, bisa jadi peserta akan marah.

“Lha memangnya setelah dipecat kami mau jadi orang nyeniman sok bohemian yang biarpun miskin tapi pede tetap cengengesan?” begitu mungkin respon peserta.

Kalau menurut Anda?

© Gambar asli praolah: unknown

Ada 30 komentar | trackback | Depan

#30

kartiko | 05 04 2009 @ 17:33:54

Beberapa X saya menjumpai rekan yg menghadapi pilihan pensiun dini dan beberapa x saya memberikan saran bertahan sampai titik darah penghabisan pengurus usaha memberlakukan pensiun alamiah….. Kenapa????? Ungkapan saya sederhana…. Para Ponggawa Pengurus Usaha berhitung secara ekonomis biaya yg harus dikeluarkan kalau sesorang pensiun dini dan pensiun alamiah…. itung punya itung… lebih untung kalau kelurin anggaran pensiun gede di awal… habis itu hemat kebelakang.. dan ini nilainya ruar-ruar biasa sekali…. supaya banyak yang minat dikasih deh iming-2 nilai pelepasannya jauh diatas kalau normal…. tapi kalu ditotalin… weleh-2 masih kecil banget. Orang cuma ngitung nilai dari “BERAPA DUIT YG BIASA DIBAWA PULANG” alias “Take Home pay”, tapi gak pernah itung berapa benefit yg bisa dimanfaatkan, misalnya kesehatan, jabatan, perumahan yang ada diluar gajih…. disitulah itung-2an-nya para ekonom pegang peranan.
Konyolnya adalah … orang-2 penerima pesangon belum terbiasa mengelola dana diluar dana yang biasa dipegang bulanan… rasanya punya duit gede…… habis itu… blek-blek… dana simpanan tipis… terus panik…
Jadi bagaimana??????? Bertahan lebih baik untuk orang-2 yang sudah lebih dari 10 thn berkarya di satu tempat kerja…. gicu lho,,


#29

kenyo | 25 02 2009 @ 11:12:13

wah kebetulan dikantor saya sedang ada sosialisasi pensiun dini


#28

gigisehatbadansehat.blogspot.com | 12 01 2009 @ 17:24:00

yang penting mah dibawa enjoy aja…
hepi terus walau hidup melarat…


#27

aa_bas | 11 01 2009 @ 23:10:26

Ah tak perlu risau apalagi sampai cari tali (kolor) untuk gantung diri. Toh rejeki tiap mahluk sudah di”Anggarkan” oleh Sang Maha Sutradara. Kita tinggal menjemputnya, BUKAN mencari!


#26

lexi | 11 01 2009 @ 21:24:11

Paman, image tali gantungan itu sungguh nggrigisi. Paman toch tidak bermaksud mengatakan PHK adalah akhir segalanya, dan mengakhiri hidup dengan tali gantungan adalah cara memilih kematian yang biasa saja.
Saya termasuk di antara kelompok yang pernah mengalami PHK (lebih dari sekali pula). Satu hikmah atau ibrah yang bisa saya petik dari peristiwa itu, Tuhan ternyata memang ada, dan justru sangat dekat dengan kita ketika kita berada di titik nadir. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Kitalah yang kadang (atau sering) meninggalkan BELIAU.


#25

Fenny | 11 01 2009 @ 18:49:53

di bali ada seorang petinju yang pensiun, sekarang sukses merambah dunia garmen (pemilik distro kaos Jangkrik di Bali)


#24

bodrox | 11 01 2009 @ 16:12:28

Jadi Bingung Pak…. Bener-bener bingung, mau jadi karyawan dan ngirim lamaran saingannya banyak.
Lha, sekarang mau jadi wirausahawan, saingannya juga udah tambah banyak.. korban PHK dan PD itu…. Ampun biung.


#23

kaktuan | 11 01 2009 @ 10:00:18

itulah kenapa indonesia mempunyai angka ketergantungan yg tinggi….mulai bayi sampai punya bayi pun kita masih tergantung…..


#22

sanggar | 10 01 2009 @ 16:55:55

Daripada saya mati demi orang lain, lebih baik orang lain mati, tetapi saya hidup. PHK itu wajib kalau pengusaha sudah diambang kematian(kehancuran)


#21

jun | 10 01 2009 @ 15:42:31

UNDANGLAH VETERAN UNTUK BERBAGI SEMANGAT => veteran dimaksud termasuk pamankah?


#20

tatang | 10 01 2009 @ 15:23:16

Umumnya kumpeni2 yg bagus menyiapkan “inkubator” untuk “karyawan2 umum” yang hendak “disapih” . . . Di “negeri sono” malah ada yg menyiapkan skema tetap memelihara “hubungan intim bisnis” dengan para wisudawan kumpeni ybs walaupun si karyawan telah “dicerai”.
Di Indonesia memang belum banyak kumpeni demikian.


#19

johnherf | 10 01 2009 @ 5:15:39

Ini soal kepekaan saja karena melibatkan emosional tinggi. Pada umumnya si penerima gelaran pendi, jadi pesakitan lantaran hajat hidup keluarga inti diubah. Drastis. Penerimaan pendi ini di luar kemauannya. Hanya segelintir penyandang gelaran pendi yang jadi teladan baik. Oleh karena itu, soalan pendi sering ditutup-tutupi manajemen manakala atas nama lembaga tempatnya mengabdi masih sangat amat membutuhkan sumbangan daya pikirnya.


#18

mas kopdang | 10 01 2009 @ 3:10:59

itu namanya blogramedia.
:P


#17

faizal | 10 01 2009 @ 2:04:35

Kerja => pensiun
Wirausaha => bangkrut
there’s no comfort zone I guess …
but I trust Spirit Zone.. :)
salam kenal


#16

kardjo | 09 01 2009 @ 23:49:43

masih pengen jadi jongos lagi, paman?


#15

Zahid | 09 01 2009 @ 22:10:01

Kami menawarkan peluang pekerjaan di Malaysia sebagai Pembantu Rumah Tangga Muslimah dengan gaji yang menarik dengan majikan muslim yang baik. Kami mempunyai agen di Surabaya untuk dihubungi. Sila email kepada zahiddaim@yahoo.com


#14

Wahyu Darmayani | 09 01 2009 @ 15:40:04

PHK itu ada dua jenis.
Pertama PHK Total alias semua karyawan dirumahkan karena perusahaan bubar. Ini berat karena sebagus apapun kontribusi kita pasti kena dampaknya. Namun kalau memang kita punya kualitas kerja yang mumpuni InsyaALLAH bisa survive kerja di tempat lain.

Jenis kedua PHK selektif, dimana hanya beberapa karyawan yang dianggap manajemen kurang kontribusinya atau bahasa kasarnya hanya membebani keuangan perusahaan sehingga kalaupun dikeluarkan gpp akan di PHK. Disinilah kompetisi, Ibarat maen bola kita harus aktif dan kreatif serta jelas kontibusinya bagi team, agar supaya aman dari pencoretan oleh pelatih.

Sama saja di Perusahaan kita jangan sampai duduk manis terlena di comfort zone… artinya tetap harus berusaha menunjukkan kontribusi positif terhadap kemajuan perusahaan, kalau ini terjadi maka kemungkinan jika ada rasionalisasi karyawan kita tidak akan masuk daftar. Karena kontribusi kita yang jelas dan signifikan, sehingga perusahaan rugi kalau mem PHK kita :))


#13

boyin | 09 01 2009 @ 10:41:29

saya udah pernah di PHK 3 kali..ya cari kerja lagi..emang resiko pekerja..


#12

Andy MSE | 08 01 2009 @ 15:38:50

Terus terang saya bingung, lha wong saya dulu juga korban PHK, hehe… Beruntung masih bisa makan sampai sekarang…


#11

handaru | 08 01 2009 @ 12:00:03

“Lha memangnya setelah dipecat kami mau jadi orang nyeniman sok bohemian yang biarpun miskin tapi pede tetap cengengesan?”.

Prediksi jempolan yang semacam ini tak akan keluar kecuali dari semacam orang jempolan pula. :D


#10

Donny Verdian | 08 01 2009 @ 4:23:59

Mbukak bisnis gituan wae, Paman…
Pelatihan dan workshop korban pemecatan :)
Piye… eligible lho itu!


#9

pie susu | 07 01 2009 @ 20:49:35

memang kalau berbicara PHK…….adalah momok….tapi PHK bukan lah akhir dari dunia. terus maju tampa mengenal menyerah..sebab waktu terus ber detik dan dunia terus berputar..so kita tidak boleh menyerah……dalam kondisi apapun….PHK siapa takut..!


#8

mantan kyai | 07 01 2009 @ 20:03:07

saya tidak mungkin pensiun. lha pensiun dari apa??? :D


#7

Kyai Slamet | 07 01 2009 @ 19:48:50

37 tahun lagi saya pensiun, bahkan bisa 42 tahun lagi kalau dikehendaki negara.
Eh, saya bukan hakim agung lho :D


#6

mastongki | 07 01 2009 @ 19:25:42

PHK itu kan ada sebab musababnya, dan lagian kasiannya orang yang di PHK karena situasi ekonomi bukannya kesalahan pribadi tidak diberi surat rekomendasi. Memang sebenarnya enak wirausahawan, menang kalah di peperangan sudah di tangan, ringgal menjalankan.


#5

edratna | 07 01 2009 @ 18:31:30

Sejak awal masuk, memang harus meningkatkan kemampuan untuk berbagai bidang, agar mudah mengahdap keadaan darurat,karena PHK ini akan terus menerus terjadi.

Sepanjang karir saya di perusahaan, pernah terjadi 3 kali PHK, walau diberi pesangon besar, tanpa kemampuan, uang tadi tak berbekas…sedih melihatnya.

Ide mpokb perlu diperhatikan, cuma biasanya perusahaan tak bisa mentolerir, jadi ya diam-diam saja, atau isteri berbagi pekerjaan dengan suami, sehingga penghasilan tak hanya dari suami saja.


#4

mpokb | 07 01 2009 @ 18:18:24

tips untuk perusahaan : sejak awal masuk, karyawan diperbolehkan punya side job :D


#3

bangsari | 07 01 2009 @ 15:59:35

saya ini masuk area nyaman pun belum. masak dah mikirin PHK atau uang pesangon? hehehe


#2

M4nk | 07 01 2009 @ 15:50:46

Ah kata-kata penutupnya nyindir blogger tuh..*kecuali blogger yg duitnya dah meteran* :-D
=-=-=


#1

egghead | 07 01 2009 @ 15:40:22

pertamax !!

kayaknya taon ini gw jadi ronin juga