Momong Bayi dan Foto Diri yang Privat
ANAK KELAS MENENGAH TAK MENGGENDONG ADIK?

Untuk generasi saya dan di atasnya, foto macam ini lumrah. Bocah perempuan kelas enam SD menggendong bayi (adiknya). Sudah biasa pada masa lalu, terutama dalam keluarga yang jumlah anaknya empat orang ke atas, dari kalangan menengah ke bawah. Padahal ini foto baru, belum ada seminggu, tentang seorang gadis kecil (anak saya, salah satu pembaca blog ini) yang menggendong adik sepupunya yang baru berumur delapan bulan.
Dengan segala keterbatasan penyelancaran saya belum menemukan foto profil sejenis di Friendster, Facebook, blog, dan layanan lain dari anggota yang masih remaja. Kalaupun ada, biasanya foto-foto masa lalu sedang digendong mama atau tante atau kakak sepupu.
Tentu selain pasal demografis, ada juga pasal teknologis. Foto-foto mbak sedang momong adik pada masa lalu adalah barang mewah karena fotografi digital, terutama pada ponsel, belum ada. Selain soal jepretan adalah media pemuatnya. Dulu belum ada internet.
Mengapa sekarang jarang ada foto kakak momong adik?
Sebagian pasangan cuma beranak dua, dengan jarak usia paling jauh lima tahun. Memang sih ada gejala setelah reformasi 98 itu program KB, yang sebagai faset punya sisi mewakili campur tangan negara terhadap hak reproduksi, cenderung diabaikan oleh sebagian pihak.
Selain itu, dengan sedikit maupun banyak anak, umumnya keluarga memiliki pengasuh bayi. Biro pemasoknya, yang kadang ndobel sebagai agen PRT, bertebaran di mana-mana. Waktu privat bagi setiap kakak (perempuan) kian banyak, tak ada kewajiban maupun kesenangan momong adik pada kelas menengah kita.

Selain soal tadi adalah gaya hidup. Inilah zaman yang memberi kesempatan kepada siapa pun, tak hanya mereka yang urban, untuk mengekspresikan diri. Photo box dan jejalan hasil jepretan pada gadget sudah memberi bukti bahwa setiap orang adalah model terbaik, setidaknya bagi diri sendiri.
Pun terbukti bahwa banyak orang (terutama kaum hawa?) tak bergantung kepada orang lain, karena bisa membuat self portrait dalam pengertian harafiah. Bahwa kecenderungan itu menularkan keseragaman pose (mecucu, melet, mewek, memiringkan kepala, acung jari), anggaplah itu sebagai potret zaman. Setiap orang menjadi fotografer terbaik bagi diri sendiri.
Pada eksplorasi diri yang lebih jauh, dan mungkin bersua dorongan eksibisionistis, di internet banyak foto diri di depan cermin (kadang telanjang) dan bahkan close-up untuk body parts diri (termasuk yang paling privat) karena fotografi semakin membuktikan diri sebagai perluasan mata manusia. Hanya dengan kamera yang dipegangnya sendiri seseorang bisa menelaah pusarnya dan memeriksa lubang giginya, atau tompel di pinggulnya kan? Dengan fotografi berfilm, proses menjadi gambar tak hanya lama tetapi juga menambah mata dan berpeluang bocor edar lebih dini (di internet juga bocor tetapi anonimitas sebagai nobody kadang memberi rasa aman).

Teknologi digital telah membantu seseorang untuk semakin mengenali diri sendiri. Cermin yang dipasang di depan posisi duduk atau jongkok untuk pengenalan dan perawatan kewanitaan diri, seperti yang diajarkan penyuluh kesehatan reproduksi, kadang tak memadai.
Dari sebuah foto kita bisa menelaah zaman: dari KB, pola asuh keluarga, sampai eksplorasi dan ekspresi diri. Foto, sesuai riwayatnya sebagai potret, telah menyodorkan wajah sosial kita.
© Foto-foto pose mecucu dan di depan cermin: unknown
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Orang itu (Bacaan Selagi Prei)
October 28, 2006 by AntyoYANG KONTROVERSIAL ITU DIA ATAU KITA?
Buku Beribu Alasan… ini seperti melawan arus. Saat tulisan demi tulisan tentang keburukan, kejahatan, kekejian, kelicikan, keculasan, ketamakan, kebengisan, dan kebusukan orang itu terus muncul, buku ini tampil beda.
Buku karya Dewi Ambar Sari dan Lazuardi Adi Sage ini menyuarakan kekaguman dan kerinduan sejumlah orang terhadap orang [...]
Recent Comments
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





jaman sudah berubah paman,tapi.. kalo saya emang ga punya adik.jadi cukup ber-alasan juga ndak masang foto ama anak kecil[red-adik]..kekek..yang ada malah adik ketemu gede..kekkeke
Bagaimana cara anda menemukan bahan pembicaraan yg “nyleneh” tapi mengena spt ini Paman?share donk…dalam bentuk tulisan juga kalo bisa, pasti bisa lah :) Ditunggu artikel nya. Thanks
Oh ya? padahal banyak kok temen2 saya yg foto profil di facebooknya gendong anak, tapi biasanya sih itu keponakannya.. atau logikanya.. anak kelas 6 sd belom ikut fesbuk, jadi belom bisa naroh2 ginian di accountnya. Sekian.
jaman sudah berubah…….
mungkin sama dengan foto jaman Om Tyo dulu. wong mlangkrik, sikil siji di tekuk nyamping, topinan laken miring sithik, pakai hem dowo, pake rompi, klambi dileboke tapi kathokan cekak,kaos kaki’an dowo, sepatu pantopelan karo nggowo teken. mirip kuntulan.. kuntulan ngadirejo.. sungguh dannish dan ngguantheng standar sinyo.. lain cerita kalo om ujug ujug timbang nganggur dandan begituan sekarang dan potrak potrek di bunderan HI bisa bikin kecelakaan beruntun karena menjadi point of interest dadakan yang nggilani pol. sebenarnya ini cuma bukti atau lebih tepatnya mungkin adalah bagiandari serial vision sebuah peradaban.
betul2 … gombalan kere kemplu seng ngangeni … :)
Digital era… jadi membuka kemungkinan-kemungkinan yang tak terbayangkan sebelumnya.
Minggu lalu saya mengajak keponakan laki-laki saya yang baru semester 4 di UI ke Cibubur Junction. Saat sebelum masuk Mall dia mengeluarkan Hapenya terus menghadapkan ke wajahnya ?? lalu merapikan rambutnya ! Oo.. ternyata dia menggunakan kamera video call di depan hapenya untuk berkaca dan merapikan tatanan rambutnya ! voila… what a good idea to utilize digital technology :)
Waduh, fotonya bagus2 tuh yang cewek2, hehe… Hayo3x…
hebat lho pakdhe ini kalau mencari sisi penulisan. mbok ya o dikirim ke majalahku. boleh nggak aku minta yg ini?
Foto yang jadi avatar Paman ini pose masa kini juga tho? Diambil dari sudut kiri, wajah nengok ke kanan… :P
Wahh memang zaman sekarang agak susah menemukan foto seperti itu di keluarga menengah. Saya punya foto, si sulung mendorong kereta bayi adiknya (saat umur 3 tahun), dan foto bermain sama adik. Menggendong? Belum pernah, karena jaraknya cuma 3 tahun.
Paman masih ingat, dulu kalau foto keluarga, yang memotret masuk dalam alat foto yang pake kerudung hitam …kenapa ya?
DIbikin sepia ya?
saya jadi ingat dulu kalo foto mesti diam dan tangan diletakkan diletakkan di depan. Yah, seiring perkembangan zaman rupanya foto dan gayanya ikut berubah, tapi tetap saja, saya yang produk zaman dulu ini tak bisa berpose dengan gaya remaja yang sering menjulurkan lidah atau bergaya cerita lainnya…
kalau dulu film mahal. kalau sekarang malah bertaburan. binung mau moto apa, yah jdnya hasil fotonya kayak gt deh :)
anak anak zaman sekarang sudah pada sibuk sendiri ngurus FB. Lupa adik.
anak muda jaman sekarang, paman. :)
Inilah jamannya banjir foto, semua berkat teknologi digital yang memudahkan manusia :P
dalam jaman internet, foto privat malah susah dijaganya, bahkan bagian paling privat sekalipun :D
Saya lebih suka memotret, tidak begitu suka dipotret, tapi kalo potret saya momong adik dan sepupu-sepupu saya .. buanyak
dan saya bukan wanita. hanya kebetulan lahir sebagai anak pertama, cucu pertama, cicit pertama
beda zaman beda pose..
nanti kpn2 sy kirimi foto udel sy paman :-D
waduh yg dibawah itu poto siapa paman
coba agak di zoom biar jelas dan apa nama blognya :D
foto menunjukkan bagaimana sudut pandang pengambilnya. kayaknya dilihat dari foto anak paman gendong keponakan, sudutnya banyakan ke kanan ya :-P
foto adalah benda yang merekam kenangan. bukan sebatas pada wajah, tapi juga situasi dan peristiwa :)
foto itu hangat, namun ya sekarang orang lebih senang sendiri, narsistii dan eksklusif. Saya sendiri jujur suka lupa usia adik saya.