Minuman Hangat dari Vending Man
MESIN MINUMAN DI TEMPAT PUBLIK? ENTAR!

Mendekati pukul delapan, pagi tadi*, saya berpayung menyusuri sebuah trotoar di Jakarta Pusat sambil membawa gelas plastik berisi teh manis (celup) hangat. Nikmat benar setiap kali menyeruputnya. Bukan mau beraneh-aneh tapi saya memang butuh. Sejak pukul enam seperempat saya berteduh dari rintik hujan di sebuah tempat, menunggu dimulainya sebuah urusan pada pukul delapan di tempat lain sejauh seratus meteran dari sana.
Tak ada kedai di tempat saya berteduh. Pagi yang dingin sekaligus lembab menghasut saya untuk mendapatkan minuman hangat. Jangankan hangat, air kemasan dalam botol pun sudah habis.
Akhirnya ketika melintasi trotoar, pukul delapan kurang itu, saya melihat seorang penjaja minuman sedang berhenti untuk melayani satpamwan sebuah gedung.

Teh manis harganya Rp 1.500. Kopi (bisa plus susu), dari sachet siap seduh, harganya Rp 2.000. Bukan hal baru. Mungkin sudah ada sepuluh tahun lebih bersamaan dengan munculnya kemasan teh dan kopi.
Seperti halnya mi instan, bahan minuman instan telah meramaikan mata rantai ekonomi. Apa yang mulanya dirancang untuk keperluan swalayan dalam kehidupan domestik konsumen akhirnya menjadi sajian warung. Disiapkan, diolah, dan disajikan oleh orang lain (penjual). Menjadi menak yang diladeni memang enak.
Di luar produk instan untuk diolah sendiri, tak adakah vending machine di kota Jakarta yang sok modern ini?
Ada di beberapa tempat, biasanya di dalam gedung. Tapi yah begitulah, pada sebuah rumah sakit di Jakarta Timur mesin swalayan minuman itu kotor. Jadi, kalau bicara risiko sakit (minimal perut), vending machine dan vending man itu sama.
Selebihnya adalah ketahanan tubuh kita, orang-orang tropis yang lahir dan dibesarkan di negeri beriklim ramah untuk beberapa sumber penyakit, sejak panu-kadas sampai disentri.
Vending machines berbayar di tempat umum bukan hanya soal alat, bahan minuman, dan listrik. Ada sejumlah prasyarat yang mau tak mau terjalin dengan aneka urusan, dari higiene (ingat penjual rujak yang setelah pipis di bawah pohon tak cuci tangan?) sampai disiplin (ingat nasib telepon umum?).
*) Maksud saya kemarin pagi. Ketika memulai posting ini dan belum disela hal lain, hari masih Senin. :D
Sajian lain: minuman dan cemilan keliling di kawasan bisnis Jakarta
25 Responses to Minuman Hangat dari Vending Man
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @PamanTyo Paman, kenapa di Crome blognya paman contains malware ya? May 24, 2012 metropulutan (Kom. Bloger Salatiga)
- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Sulitkah Mencari Jodoh di Ibu Kota?
April 6, 2009 by AntyoDIMULAI DARI BERKENALAN. SEDERHANA SIH.
Judul gombal. Cuma memancing perhatian. Tapi sabar. Tunggu dulu. Tadi siang jelang sore di tengah hujan, saat menunggu jemputan di teras sebuah pusat perbelanjaan, saya mendapatkan sebuah pengalaman. Seorang Nona Manis, resepsionis, usai menutup telepon langsung bilang ke satpamwan bersafari gelap di sebelahnya, “Orang yang itu tuh, nelpon dari [...]
Recent Comments
Romi Julio Rahman» sangat memukau sekali artikel anda
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Apapnrtely this is what the esteemed Willis was talkin’ ’bout.
sarapan wajib waktu dulu masih “glidhik” di roxy mas
Jadi kalau mau beli sesuatu sama vending man musti tanya, “Habis pipis cuci tangan ndak ? Cuci tangan dulu, sana!”.
Gitu??? :D
—
coba aja, bro! :D
/tyo/
lha kalo vending mannya ndak cuci tangan abis pipis gimana, paman? :D
—
disuruh cuci tangan dulu dong :D
/tyo/
Kasihan juga harus hujan-hujanan. Pesan satu minumannya… :-)
Enakan vending man… Bisa diajakin ngobrol. Lah kalau ngobrol sama vending machine? Kan ya aneh tho :D
—
betul mbak. bahkan kalo udah langganan bisa dimintai tolong cari pembantu, sopir, opisboi…
/tyo/
paman sekarang njawab semua komen, jadi sering-sering baca balik nih biar tau komennya paman hehehehhe
—
gak janji sih. kalo sempat dan ingat saja. :)
/tyo/
ah higienis apalah itu… saya juga tidak mebiasakan anak saya tuk selalu hiegenis, seorang teman yang sudah doktor ilmu pangan pernah berbisik kepada saya tentang itu. meski ketika di forum ilmiah dia berteriak-teriak tentang higienitas pangan.
kalo terlalu “hiegien” bisa bahaya katanya, ntar dia gak bisa dengan nyaman makan di sembarang tempat. lihat itu mereka yang pada asyik makan tanpa ada sentuha higienitas di pinggir-pinggir jalan. mereka tetap sehat kan? coba ajak seorang bule yang lahir ceprot dengan budaya hiegienis, pasti akan termencret-mencret.
—
tetangga saya dulu seorang bu dokter. sejak kecil anaknya dibiasakan “jajan secara jorok” supaya kekebalannya terbangun.
tyo
bandingin harganya dengan kalo kita beli kopi di mall… bisa belasan kali lipat…
—
tempat dan suasana butuh ongkos kan, bro? :D
tyo
Musim hujan begini memang enaknya minum panas Paman…dan kadang kita tak tahu bagaimana kondisi penjualnya (apalagi kalau nyuruh pramubakti untuk beli)…tapi rasanya memang enak….dan kayaknya perut kita memang hebat. Tapi coba bule yang minum, langsung sakit perut.
Tapi saya tetap pilih vending man atau vending woman….karena kalau vending machine malah belum tentu terjaga kebersihannya.
—
kalau yang melayani manusia bisa kita mita cuci ulang atau sediakan gelas baru yang bersih :)
tyo
Hehehe, memang Indonesia itu negara paling “murah hati” pada rakyatnya.
Vending machine hanya menguntungkan perusahaan besar dan sponsor tapi mudah rusak dan dirusak.
Kalo Vending man; selain menciptakan lapangan kerja sekaligus juga membantu masyarakat yg butuh kehangatan di tengah dinginnya angin hujan hehehe :D
—
aspek sosialnya lebih gede. :)
tyo
manual memang masih lestari paman..
disini palingan d circle k…
“(ingat penjual rujak yang setelah pipis di bawah pohon tak cuci tangan?) ”
lho emangnya kenapa paman??? barangkali itu resep rahasianya?? :D
—
ampuuuuuuuuunnn mak!
tyo
kenapa ya jarang ada vending machine di Indonesia? padahal di luar negeri banyak? apakah masalah budaya? mungkin Indonesia lebih memilih vending man, dimana ada layanan secara personal.
wajah jakarta dimulai…
:D
FYI, dulu anak2 sempet mau bikin blog buat yu wedang anggota tidak tetap BHI. Biasalah, penyakit males. Tapi KW sudah bikin profil post soal dia di blog lamanya. ;)
Hujan hujan nikmati kopi hangat memang enak. :)
—
dok, asupan kopi yang sehat per hari per orang berapa dok? :)
tyo
jadi keinget jogja-jakarta di progo sambil nyeruput kopi instan itu. hangat, ya kopinya, ya di keretanya:D
jadi inget bunderan HI
—
iya, yu siapa itu, yang anggota tak resmi bhi?
kenapa dia gak dibikinin blog?
tyo
… saya berpayung menyusuri sebuah trotoar di Jakarta Pusat sambil membawa gelas plastik berisi teh manis (celup) hangat.
Paragraf pembukanya provokatif. Saya kira lelaki berpayung di foto itu adalah Paman Tyo.
—
hahahaa. mestinya saya ya yang jualan kopi dan teh. kayaknya ada bakat nih.
tyo
Pernah juga lihat yang seperti itu Paman, cuman sedikit lebih unik. Modal utama penjual sebuah termos air panas yang dimodifikasi sehingga segala jenis minuman sachet bisa nyanthol menutupi seluruh bodi termos itu sendiri. Kreatip…
seduhan kopi di pagi hari membuat semangat beraktivitas ^_^
ya kebayang deh gmana seorang penjual rujak yang abis pipis gak cuci tangan trus ngeladenin jual rujak..tak higienis..
tidak higiene berarti semakin bervitamin paman hehehe
Ada apa dengan penjual rujak yang pipis di bawah pohon dan tidak pipis, Paman?
Barangkali saja ia tak memegang sama sekali pena-nya ya tak mengapa hahaha