Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Buah Tangan dari Kebun Sendiri

Sabtu, 14 Februari 2009 @ 02:59 | Umum

JUSTRU MEWAH KARENA DARI RUMAH.

Coba ingat, kapankah terakhir kali Anda mendapatkan (maupun memberikan) buah yang dipetik dari pohon pemilik. Tadi? Kemarin? Tahun lalu? Sepuluh tahun silam? Atau jangan-jangan Anda lupa. Bisa jadi itu malah tak penting — emangnya napa, gitu kan?

Baiklah. Mungkin memang tak penting. Tapi bagi saya penting. Kemarin siang, di Langsat, seorang awak bernama Febi membawa jambu air (Eugenia aquea), lengkap dengan tangkainya. Jambu dari kebun sendiri.

Jambu Febi agak memanjang. Kulitnya mulus mengilap. Dalamnya bersih tanpa ulat. Rasanya manis. Menyegarkan.

Itu jambu dari kebun sendiri. Eh, kebun? Tepatnya halaman depan rumahnya nun di Kebon Jeruk, Jakarta Barat sana.

Menurut Febi, dulu jambunya selalu berulat. Setelah pohon diinfus antihama, dan daunnya rontok lalu tumbuh merimbun, jambunya pun berbuah tanpa  ulat. Tentu selama menunggu matang si jambu dibrongsong plastik berventilasi.

Bagi saya jambu oleh-oleh dari rumah ini menarik. Kenapa? Ini Jakarta — tepatnya: Jabodetabek. Tak semua rumah punya halaman apalagi kebun untuk pohon berbuah. Kebanyakan buah didapat dari membeli.

Tak semua rumah punya kebun. Oh jangankan kebun. Sisa ruang untuk pot saja seringkali sangat mepet. Orang-orang kota sekarang, tak hanya di Jabodetabek, terbiasa berlalu lalang dengan memelintir tubuh — baik saat bertamu maupun di rumah sendiri. Maklumlah lahan semakin mahal, tetapi tak banyak arsitek yang menyediakan klinik konsultasi murah untuk menyiasati sempitnya lahan. Bisa juga karena ini: pengembang menyediakan paket perumahan yang menyesakkan.

Maka inilah umumnya rumah orang kota. Pintu gerbang hanya dibuka sedikit. Jika carport berpenghuni roda empat, ditambah motor dan sepeda, maka bersiaplah memelintir tubuh dan berjalan dengan cara menyamping. Orang bilang memiringkan tubuh.

Lalu? Teras sempit terisi kursi dan pot. Bukan potnya yang menyita ruang melainkan mekar dedaunannya. Tentu teras juga menjadi galeri sepatu dan sandal. Kemudian ruang tamu sempit berisi sofa gemuk sehingga terasa sesak. Untuk penyampir dan penggantung jemuran silakan pilih terpaksanya di mana.

Dan inilah hasilnya: cara berjalan orang seperti mengkhianati antropometri ruang (untuk postur bule) yang merujuk Ernst Neufert. Orang tak bebas melenggang, bahkan di rumah sendiri, karena takut tangannya nyampluk.

Jangankan pohon jambu, atau belimbing, atau melinjo. Untuk beringsut saja sulit. Untuk melenggang saja banyak halangan.

Mungkin cara untuk berlega-lega adalah berjalan di lapangan, mal mahal pada hari tanpa obral, dan kemudian di mana pun tempat yang dianggap boleh berlega-lega meski harus berebut celah. Itu bisa trotoar, bisa jalan raya, termasuk jalan tol.

Berbahagialah Anda yang rumahnya berpohon buah. Berbahagialah Anda yang rumahnya bertanaman sayur. Seorang sahabat, wanita lajang, yang berumah di pinggir Jakarta kadang membawa petikan dari pohon melinjo (dan kalau tak salah juga petai) dan sayur lainnya untuk kawan-kawannya. Dari halaman sendiri.

Bukankah di supermarket, pasar becek, sampai gerobak sayur, sayur-mayur (dan buah) tersedia? Ketika mendapatkan buah tangan dari kebun sendirinya teman, bukan petikan dari desa tetapi dari kota, rasanya beda. Itu Jarang. Maka itu mewah.

Maka berdendanglah A.T. Mahmud, “kemarin paman datang / pamanku dari desa / dibawakannya rambutan pisang / dan sayur mayur segala rupa / berceritera paman tentang ternaknya / berkembang biak semua.”

Paman mengucapkan selamat bervalentina dan bervalentino — dengan maupun tanpa warna jambon. Boleh dengan salak maupun sawo kalau adanya cuma itu. Petai juga boleh — asalkan tahan aromanya. Salam dari Bibi.

Ada 43 komentar | trackback | Depan

#43

-em | 27 03 2009 @ 17.00.24

Jadi pengen jambu nih…


#42

fg | 05 03 2009 @ 0.32.12

di halaman rumah saya ada (kayaknya) pohon cemara, padahal maunya yg numbuh pohon nangka :(


#41

poer | 03 03 2009 @ 9.40.28

sebuah topik sederhana pun bisa dikemas jadi menarik sama paman, salut :D

oh punya jambu juga? kirim dong… :D
/tyo/


#40

pasarsapi | 21 02 2009 @ 17.57.54

waaah jambuuuunya segeeer. Di rumah cumah panen daun itu pun dari tetangga.:(

minta dong ke tetangga. bawain foto guguran daun dan bunga di halamanmu :)
/tyo/


#39

Ivan Sonavia | 21 02 2009 @ 11.43.30

jambu…enak…nikmat


#38

arifudin | 20 02 2009 @ 10.25.17

wah enal nich buahnya :)


#37

Neng Keke | 19 02 2009 @ 17.55.20

Kan sekarang dah banyak tuh TABULAMPOT (tanaman buah dalam pot). Tapi ya dasarnya musti rajin juga siy… :) Pengen banget punya pohon buah tapi nungguin berbuahnya keburu bosen =))

kalo gaksabar emang mendingan beli :D
/tyo/


#36

Fickry | 18 02 2009 @ 23.01.00

pernah tinggal di negara maju makin membuat miris kondisi ibu kota kita.

di Canberra, berlaku peraturan bahwa setiap rumah tidak boleh memiliki pagar depan…

dan yg terjadi setelahnya adalah pemandangan yg luar biasa indah….di depannya dipenuhi pekarangan sarat warna… ya, Canberra memang kota terencana.

ah, kalau saja ibukota kita itu dipindahkan dan direncanakan ulang…


#35

antowi | 18 02 2009 @ 20.59.32

walah kebon jeruk tumbuhnya jambu he he he btw masih ada yang nanam mundu nggak ya?

mundu? wah langka tuh kalo di kota.
/tyo/


#34

dwiprayogo | 18 02 2009 @ 15.19.39

punya kebun sendiri bisa jadi usaha yang menguntungkan tuh…

kalau halamannya luas kan? :)
/tyo/


#33

subarkah | 18 02 2009 @ 13.07.51

@w4onecom:

ha dicongkel pavingblok na aja kenapa? :o


#32

w4onecom | 18 02 2009 @ 1.39.24

wah,,

di rumah saya ada halaman,,
tapi udah di kasi pavingblok,

gak bisa tanam pohon,, hihihi


#31

luwak | 16 02 2009 @ 16.43.24

juragan paman punya pohon kopi? boleh saya panjat ya? =’.'=

oh maap mpok.pohonnya sdh kuyu kena hama, kalo disenggol dikit langsung ambruk.
/tyo/


#30

andrias ekoyuono | 16 02 2009 @ 9.43.06

Paman, main ke rumah bos di pamulang, pasti puas liat kebunnya :-)

bos yang mana nih? ki ageng detik? harus ke sana saya! serbuuuuuuuuuuuuuu!
/tyo/


#29

handaru | 15 02 2009 @ 17.11.52

AlhamduliLLAH hidup di Malang yang bukan saja lapang tapi juga tenang merindang, hingga burung pun berkicau riang dan belalang melenggang di balik ilalang. :D

ayo ceritakan. kapan2 saya ke sana ya, sam!
/tyo/


#28

oef anantasena | 15 02 2009 @ 17.04.59

wah hebat mas…!!
saya punya halaman cuma gak ada pohon buahnya, hanya tanaman hias milik mama doank.


#27

Suster Gila | 15 02 2009 @ 16.33.26

Ah Paman membuat saya rindu dengan kampung halaman. Kampung yang masih selalu memberikan buah tangan buah setiap kali musim buah. Kampung yang masih membebaskan melenggang tanpa takut nyampluk apapun. Longgar…

*Salam Untuk bibi Paman :)

di mana tuh? ayo sampluk-samplukan! eh salah ya?
salam sudah disampaikan. :)
/tyo/


#26

aswad | 15 02 2009 @ 10.17.02

Saya menykai tampilan website anda dengan materi yang dibahas di dalamnya.
saya akan slalu berkunjung untuk melihat informasi baru dari anda

terima kasih pak. sampai jumpa di posting berikutnya. :)
/tyo/


#25

geblek | 15 02 2009 @ 9.46.04

duh jadi inget kampung nih paman, tanggung jawab.
btw pernah bawa pasukan dr batam ke kampung di madiun sana, duh ternyata orang batam lebih nggilani dr org kampung itu sendiri. makan siang harus di gubuk di tengah2 sawah, entah itu skedar mau makan saja. makan buah maunya yg dr sawah juga, untung saat itu lg musim semangka :)

saya pengin mengulangi tetamu dari mbatam itu. boleh? :)
/tyo/


#24

Abihaha | 15 02 2009 @ 3.53.10

Nostalgila: Awal 80′an sempat hijrah ke Jakarta di kawasan permata hijau sekarang (dulu juga sudah permata hijau ding).
Kala itu tetangga kebanyakan orang Betawi asli yang formalnya berdagang tanaman sepanjang depan TVRI sampai Senayan. Non formalnya ya juragan tanah.
Salah satu wujud ke’guyub’an bertetangga ala Betawi selain berkirim masakan juga buah dari kebun sendiri, walhasil setiap tetangga panen ya kebagian. Kweni, Sawo, Pisang, Belimbing, Nangka, Kelapa, Jambu, Pepaya -kumplit. You name it lah.
Bahkan Duren! -ya semua waktu itu tumbuh dan berbuah baik di Jakarta. baca:Jakarta!!
Sementara di halaman rumah waktu itu juga tumbuh berbuah aneka pohon, tidak kami panen, tapi membiarkan anak tetangga memanjatinya. -tetapi lagi, waktu itu ‘anak tetangga’ masih mengetuk dan dengan sopan meminta ijin untuk memanjat-memanen buah.

menarik, abihaha!
jadi inget ibu saya dulu membolehkan kakak-beradik laki perempuan ambil buah asalkan permisi dulu. begitu bel berbunyi dan tampak bayangan dua kepala kecil di kaca pintu, ibu bilang, “kuwi bocahe teka.”
/tyo/


#23

temennya febi | 15 02 2009 @ 2.28.56

kalimat ini…Jambu Febi agak memanjang. Kulitnya mulus mengilap.” … bermakna ganda ya? hihihi…

waks! kok gitu ya sukanya? ada masalah apa dik?
/tyo/


#22

mas kopdang | 15 02 2009 @ 1.37.40

salam valentino rossi juga


#21

zenteguh | 15 02 2009 @ 0.16.32

untung yang punya kontrakanku kebunya masih luas. Jd tiap bulan dpt jatah pisang ato singkong. anggep aja kebun sendiri he..

dianggep kebon sendiri? ikut bersihin? :D
/tyo/


#20

denologis | 14 02 2009 @ 23.26.20

wah, langka yah Paman. :D


#19

Feby | 14 02 2009 @ 22.44.36

Wah terimakasih paman, jambu rumahku sudah masuk internet hehehe. Memang senang sekali rasanya kalo buah dari kebun sendiri bisa dibagikan ke orang-orang terdekat. Apalagi kalo sampai dihargai seperti ini :) Ada kepuasan tersendiri….

setoran berikutnya ditunggu, bu. suwun. :D
/tyo/


#18

Chic | 14 02 2009 @ 17.22.40

kemaren, setelah melihat-lihat beberapa iklan property, saya dan Joey sempat berkhayal kalo saja ada pengembang perumahan itu membuat konsep perumahan di tengah kebun buah-buah dimana tiap rumah paling tidak ada dua pohon buah yang tersedia gratis dan dikelola bareng antara penghuni dan pengembang, maka kami berdua tidak akan berpikir dua kali untuk membeli salah satu unit di perumahan tersebut… nyahahahahahaha.. sayangnya belum ada pengembang yang punya pikiran seperti itu… ya sayangnya itu cuma kepengenan kami berdua saja… :(

di yogya dulu ada developer yang membagikan bibit mangga ke setiap penghuni. maka satu kompleks bisa menghasilkan mangga. :D
/tyo/


#17

The Tracer | 14 02 2009 @ 16.16.44

Dulu almarhum bapak saya yang suka bercocok tanam. Mulai dari pohan jambu air, belimbing, jagung, pisang mangga sampai pohon anggur ditanam. Sayang setelah bapak meninggal tanah untuk kebun tersebut dibangun kost-kost untuk membiayai hidup kami…Padahal itu semua pohon berbuah dengan rasa yang top deh…sayang tidak ada satu pun anaknya yang mewarisi hobby almarhum….

tidak mewarisi hobi? belum dicoba ‘kali? (uh sok tau). :D
/tyo/


#16

-GoenRock- | 14 02 2009 @ 14.18.37

Jadi inget dua pohon rambutan di kampung yang dulu waktu musim panen, saya sering ngajak temen2 satu kelas rame2 dateng kerumah buat nyerbu. Sayang sekarang udah ditebang :-|


#15

meong yg sering dapet oleh2 dari kebun | 14 02 2009 @ 13.53.53

wah kalo di rumah saya, paman, sebelum jadi buah tangan, buah-buahan itu sudah tandas duluan dilalap raksasa-raksesi rakus di rumah.

ooo…malah baru sadar, begitu berharga ya, hasil dari kebun sendiri. wuah, musti ngeset cara pandang nih, huehehehe…
soale, sering gengsi dan malu kalo ngoleh-olehi dari hasil rumah ato karyab sendiri. jadinya malah kabur ke superkampret beli buah-buahan.

yang rakus cuma meongm tapi mengatasnamakan orang serumah, kan?
ayo mana buahmu, med?

/tyo/


#14

adezigh | 14 02 2009 @ 10.53.33

berarti saya termasuk orang beruntung yg memiliki 1 pohon mangga di rumah di kawasan hunian padat jaksel.

panenan mendatang pasti jadi posting, komplit dengan fotonya.
/tyo/


#13

sawung | 14 02 2009 @ 9.47.09

dirumah saya di kota bekasi ada jambu air, jambu batu, belimbing, delima, rambutan, belimbing sayur, mangga, pete cina dan kolam ikan lele :p

bisa buat kopdar? :D
/tyo/


#12

hielmy | 14 02 2009 @ 9.21.36

untunglah saya masih tinggal di kampung, masih bisa menikmati jambu, rambutan, durian, mangga dan salak dari kebun sendiri, walaupun tidak niat untuk komersil karena hasilnya terlalu banyak kadang kami jual juga. :)

saya sdh ge-er, bakal dikirimi kayaknya. :)
/tyo/


#11

mantan kyai | 14 02 2009 @ 9.18.34

wah paman bervalentino dan valentina. saya kok justru bervalentini …


#10

imponk | 14 02 2009 @ 8.42.56

di belakang rumahku ada banyak sekali pohon pisang. ada jambu klutuk dan juga kelapa. maklumlah, di desa! :D sayang kelapanya udah musnah diserang kuwawung.

kuwangwungnya buat liontin ya, mponk?
jambu kluthuknya buat rujak?
/tyo/


#9

mbelgedez™ | 14 02 2009 @ 7.34.03

.
Lha pamanku dateng ndak mbawa oleh-oleh, jee….

paman medhit cethil kikir!
/tyo/


#8

Oca | 14 02 2009 @ 7.27.39

Ih jambu airx bikin ngiler aja.yummy!
Kalo sawo saya ada Pak De.dulu ada rambutan sayangx buahx g banyak dan aneh: rambutx duluan yg berwarna merah padahal kulit buahx masih ijo dan tebal kulitx ketimbang isix.sekarang udah ditebang karena buat bikin kolam.

sawo? saya suka!
/tyo/


#7

edratna | 14 02 2009 @ 6.20.00

Saat masih tinggal di rumah dinas (karena rumah dinas, halaman luas), ditanami jambu air, kelapa, pace dsb nya.
Senang sekali saat berbuah, apalagi saat itu lagi ngidam anak kedua, tiap hari buat rujak jambu air dari tanaman sendiri.

Tapi setelah pindah rumah sendiri, yang halaman nya ngepas, hanya cukup ditanami pohon pace…lainnya tanaman dalam pot kecil-kecil.

wah, pace. ndak enak. tapi bisa buat obat kan, bu?
/tyo/


#6

vi | 14 02 2009 @ 5.56.32

ga punya kebun apalagi tanah, wong tinggal di awang-awang pak de

atap apartemen boleh disewa buat dijadiin kebon gak? :D
/tyo/


#5

Vavai | 14 02 2009 @ 5.49.55

Makanya main ke kampung paman, itu di daerah Setu-Tambun paman bisa manjat pohon rambutan sendiri :-)

Atau kapan-kapan kumpul dan sewa kebun buat ketemuan teman-teman blogger ? Sekalian makan siang di kebun kan enak tuh, apalagi kalau sebelumnya nyangkul dan ‘ngored’ rumput, hehehe…

pengumuman! barang siapa butuh tempat kopdar asik, sekalian camping, dan belajar linux, hubungi masim vavai! :D
/tyo/


#4

mastongki | 14 02 2009 @ 5.46.54

Saya juga masih tukeran rambutan tetangga dan srikaya milik Saya. Lebih maniiiss daripada beli di kios buah.

kayaknya langsat mau dapet anteran nih :D
/tyo/


#3

Kamus Malesbanget Blog » Paman Tyo: Buah Tangan dari Kebun Sendiri | 14 02 2009 @ 5.02.35

[...] Coba ingat, kapankah terakhir kali Anda mendapatkan (maupun memberikan) buah yang dipetik dari pohon pemilik. Tadi? Kemarin? Tahun lalu? Sepuluh tahun silam? Atau jangan-jangan Anda lupa. Bisa jadi itu malah tak penting — emangnya napa, gitu kan? Baiklah. Mungkin memang tak penting. Tapi bagi saya penting. Kemarin siang, di Langsat, seorang awak [...] Planet Terasi [...]


#2

arya | 14 02 2009 @ 3.16.55

gaya pacaran jaman dulu: bawa buah buat calon mertua. hihihi. jaman sekarang ya bawa j.co

asal camer gak diabetis aja. :)

/tyo/


#1

hedi | 14 02 2009 @ 3.15.55

5 tahun lalu, pohon jambu aer di rumah ditebang, soalnya jambu nggak termakan dan bikin kotor teras. 1 tahun lalu, pohon rambutan ditebang, karena bikin tembok jebol — akarnya jahat banget. Repot ya ;)

memang, memang. repot juga yak. kadang tembok dan sekaligus lantai jadi rusak.
/tyo/