Gudeg dan Ikan Ayam
ORANG YOGYA LAMA TAK KENAL IKAN?

Sudah biasa. Bahkan sudah jadi dagelan garing bahwa orang Jawa menyebut daging itu “iwak”, lalu mengindonesiakannya menjadi “ikan”, dan jadilah “ikan ayam”. Juga garing ketika orang kehabisan lauk, hanya ada nasi dan kecap, ibu jari sendiri pun digigit sebagai “iwak jempol”.
Ingatan itu muncul kemarin pagi di Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, ketika saya akan naik sepur ke Sala. Nasi gudeg dengan “ikan ayam” dijajakan di sana. Itu berbeda dari ikan ayam (-ayaman) di Muara Baru, Jakarta.
Padahal orang Jawa itu mengenal “daging sapi”, “daging kebo”, dan “daging wedhus”. Tetapi dalam percakapan keseharian, menyebut “daging” saja berarti daging sapi.
Mungkin itu tadi supaya ringkas karena bahasa Jawa, dan Indonesia, tak kenal pembedaan daging seperti beef, lamb, dan pork. Yah inilah bahasa, yang diyakini oleh banyak orang sebagai “pokoknya yang diajak omong ngerti”. Jika ada kabar “harga daging naik” maka yang dimaksud adalah daging sapi.
Nah… kembali ke gudeg dan ikan ayam, saya ingat cerita lama tentang generasi lawas di Yogya. Sebagian dari mereka, para sepuh asli itu, kurang akrab dengan “iwak laut” (ikan laut).
Perubahan terjadi ketika perguruan tinggi bermunculan mulai 70-an, mahasiswa pendatang terus bertambah, dan warung makan kian beragam sajiannya. Ikan, dan juga kerang dan cumi, mulai tersajikan di warung-warung (antara lain warung padang dan kedai kaki lima). Generasi mudanya, yakni para putra-putri dan cucu, mulai mengenal hidangan (dari) laut.
Artinya iwak itu bukan hanya iwak banyu (air tawar) maupun daging, tetapi juga ikan laut. Setidaknya menurut tafsiran saya. :D
Perubahan yang kian cepat terjadi ketika akhir 80-an sampai awal 90-an pantai selatan Yogya mengenal kenelayanan. Sebuah perubahan sosial yang menurut saya ajaib: petani yang sekian generasi menganggap Laut Selatan tak laik layar akhirnya berani mengarungi laut, atas didikan nelayan Cilacap. Kemudian Yogya mengenal ikan, pasar ikan, kudapan berikan di pantainya Nyai Roro Kidul.
Saya tak tahu sudah ada berapa skripsi mahasiswa humaniora Yogya yang membahas proses perubahan dari petani ke nelayan itu.
Sekarang seorang anak muda Yogya usia belasan bisa mendoyani hidangan laut, sementara simbah kakung putrinya kurang suka bahkan kurang paham. Tentu tak semua keluarga Yogya. Hanya beberapa kok. :D
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012Berita paling konyol pekan ini: pemasangan 177 kursi (@ Rp 24 juta) dalam ruang rapat senilai Rp 20 miliar milik Banggar DPR dilakuan menjelang pergantian hari hingga dini hari dengan pengamanan ekstra. Setiap kursi baru masuk, sehingga pintu harus dibuka, lampu ruang sudah padam. Artinya para politisi dan birokrat di DPR itu masih punya rasa […]antyo
- Komedi Senayan Tengah Malam February 4, 2012
Cicitcuit!- Five Roles of An Online Investigation Team » http://t.co/6VFaC7wO | cc: @hedi @PamanTyo @orsuy @ndorokakung February 4, 2012 bangaip (Syarief Hidayatullah)
- @leksa @pamantyo kebanyakan yg belanja org2 yg jualan makanan sekitar mega kuningan. asal tegal, purwokerto sama kuningan :D February 4, 2012 aralle (alle)
Recent Posts
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
- Nasib Koran dan Penjajanya
Archives
Random Posts
Jadi Ketua RT. Mau?
June 17, 2007 by AntyoBUKAN YANG TERBAIK, TAPI YANG BERSEDIA.
Saya pakai baju batik lengan pendek. Saya merasa necis. Maklum ini jarang saya lakukan. Bahwa hasilnya, dalam istilah jadul, adalah pria simpatik, itu nasib. Saya sih lebih merasa berseragam rumah makan hidangan Nusantara, dari Sari Kuring sampai Mbah Jingkrak.
Tak soal. Itu harus saya lakukan untuk menghormati acara [...]
Recent Comments
Fauzi Enigma Web» waduh. miris. budaya “sebagian̶ 1; masyarakat yang serba instan. pengen ini pengen itu tapi tidak mau menanggung bebannya. Sedih melihat orang-orang seperti itu
Fauzi Enigma Web» Ampun. seumur-umur gue ga pernah milih. Dari gw mulai dapet KTP sampai nyaris kepala 3 ini. Dan kayaknya gak bakalan kalau para pemimpin kita masih sibuk mengurusi perut dan nafsunnya ketimbang memihak rakyat. mbuh
wafaa» kalau bingung gak usah milih :D
vhyan» kllo syya sii pillih yg adill dan jujur sajja.. hehe..
Alex» Rekam jejaknya juga selama ini bertabur-tabur, Paman. Bersama kawan-kawan kami pernah coba bikin blog mulut pejabat dengan iktikad merekam jejak mereka yang sedang menjabat, untuk arsip jika kelak mereka mau naik lagi. Tapi ya susah. Hehe. Yang terlibat sedikit masih. Sistemnya sederhana:...
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (86)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





pantesan bulikku dan camer sama sekali ndak doyan ikan baik tawar maupun laut.
kalo sahan pisuku, kok juga terbatas utk dhahar ikan2an, hanya jenis tertentu saja…
—
lha itu tadi… :D
/tyo/
Seingetku, selama 20-an tahun tinggal di(pinggirnya) jogja, ikan laut yg pernah gw makan selalu berbentuk ikan asin atau sarden kalengan.
—
hahahahahaha! gitu ya?
/tyo/
gw banget tuh…
Dulu saya tanya kepada office boy si Anu pesan makanan apa, lau dia bilang “pesan ikan ayam pak” , yg saya tahu teman saya itu yg namanya ikan tidak doyan krn dia gak suka amis, nah akhirnya sy th yg dimaksud ikan ayam itu adalah ya daging ayam.
Salah kaprah sejak jaman dulu samapai sekarang ya hehhee…tetap pertahankan kata ” ikan ayam” oh ya kalo di google tranlate jadi “chicken fish” donk hehhehe ….
—
chicken fish. keren juga. :)
/tyo/
sego jagung, jangan menir bayem, iwak gereh klotok, ngombene wedang kopi, rokokke klobot tingwe
*jelata nan bahagia*
—
neng nong neng gung pak bayan… sega jagung ora doyan…
/tyo/
Heqeqe.. Bener banget tuh. Di sana juga ada iwak tahu dan iwak tempe hehe..
:P
—
iwak krupuk. mau? :D
/tyo/
kalau di jawa timur, iwak berarti lauk. temen saya pas awal2 di sana pernah kagok waktu ditanya ‘iwake opo mas?’, dia jawab, ‘pake ayam, bukan iwak’. hehehehe
—
iwak alya enak ndak ya?
/tyo/
pakde, kira2 teorinya laku nggak di bandung yg tdk punya laut? soalnya lauk itu jelas2 bahasa sunda yang artinya ikan :D
tp kalo ga salah, utk “lauk” yg temennya nasi, istilahnya bukan “lauk” tapi “rencang”. ato itu di kluarga saya aja ya? mbuh
*mulai krisis identitas*
—
rencang itu teman kan ya? :)
/tyo/
Ah.. paling enak yang namanya jajanan. Pesan satu paman.
—
diantar ke mana, bos? jangan jauh-jauh.
/tyo/
saya juga suka iwak tempe, iwak tahu dan iwak endo.
—
iwak endo itu pernah belajar kungfu ya?
/tyo/
“Sebuah perubahan sosial yang menurut saya ajaib: petani yang sekian generasi menganggap Laut Selatan tak laik layar akhirnya berani mengarungi laut, atas didikan nelayan Cilacap.”
hiks! jadi terharu nama cilacap disebut telah mendidik orang jogja.
—
terima kasih yogya untuk cilacap!
/tyo/
Kalau Iwa K? :P
Terjemahannya agak susah ya… iwak = lauk. Lauk ayam, lauk bandeng, lauk gurame, lauk cumi.