Pojokan di Kawasan Bunderan Hotel Indonesia
MARILAH BICARA, DAN LIBATKANLAH WARGA.

“Murah. Meriah. Merakyat. Gayeng. Blontank ikut bergabung. Menjelang bubaran, Kanjeng Sultan dan kawulanya memunguti sampah yang dihasilkan selama cangkrukan, yang kemudian ditampung ke dalam tas kresek.”
Itu catatan saya pada Agustus 2007 setelah ikut nongkrong bareng komunitas Bunderan Hotel Indonesia (BHI) di trotoar depan Plaza Indonesia (PI), Jakarta Pusat.
Hari-hari lain ketika saya ke sana, misalnya saat ulang tahun Pak Bupati penyanyi tenor dan saat menyusul Wicak dan Enda sekalian menyambut pemuda asal Sala bernama Zamroni yang datang dari Yogya, ritual memunguti sampah itu masih ada. Selayaknya rumah (pinjaman) maka kebersihan harus dijaga.
Kemudian kemarin terkabar bahwa manajemen PI kurang sreg terhadap terhadap orang-orang yang nangkring di tikungan depan kafe itu. Satpamwan menghalau mereka, termasuk kawula BHI. Manajer piket, pada suatu malam pekan lalu, menurut laporan beberapa kawan juga tak memberikan tanggapan yang memuaskan.
Dulu, pada sebuah kunjungan, saya mendengar bahwa seperempat jam sebelumnya polisi pamong praja menghalau dan mencokok orang-orang nongkrong (dari kelas bawah?). Untunglah Sultan, eh, Presiden BHI, yang kadang merebahkan badan di dekat tanaman, tak terangkut.

Ruang siapakah yang dipakai nongkrong itu: PI atau Pemprov DKI? Saya belum menanyai manajemen PI. Juga belum melihat denah (emang paham?).
Saya berasumsi ada sejumlah perkara yang sebetulnya dapat dikomunikasikan oleh pemprov, PI, dan warga tanpa terjebak ke persolan kontrer kaya-miskin, kapitalis-buruh, borjuis-proletar, dan sebangsanya.
Taruh kata pojokan luar itu adalah properti PI (yang telah membangun dan merawat), ada baiknya sebagai ruang terbuka itu dapat dimanfaatkan oleh warga melalui persyaratan yang disepakati bersama.
Misalkan pojokan itu wilayah Pemprov, juga sama asasnya. Aturan pakainya bersifat partisipatif. Sejumlah payung, misalnya perda, bisa dipakai untuk mengatur kebersihan dan ketertiban. Juga, tentu, tak ada pihak boleh memiliki privilese untuk memonopoli ruang terbuka itu.
Kota adalah ruang huni bersama yang tak hanya memuliakan hak-hak individu dalam ruang pribadinya tetapi menghormati juga hak-hak individu dalam ruang publik agar tak saling merugikan.
Maka nun di sebuah negeri yang tak mengharamkan alkohol (kecuali bagi anak bawah umur), ketika seseorang minum bir di rumah sendiri itu boleh sekali; tetapi begitu dia melangkah meninggalkan pagar halaman rumahnya maka dia telah melanggar hukum. Simpel kan?
Ya, simpel. Mana yang ranah privat, mana yang ranah publik, dirumuskan dengan jelas. Tentu itu dihasilkan melalui proses politik warga, dengan kesepakatan melalui dewan kota.
Bagaimana dengan pojokan luar PI, yang salah satu misinya adalah “membantu peningkatan kualitas hidup masyarakat dan kemajuan sosial ekonomi negara”?
Ya sudah, anggap saja itu milik PI. Tapi sebagai produk arsitektural yang dirancang terbuka, agar dapat dinikmati oleh khalayak, maka keterawatan dan pemanfaatan pojokan yang dipakai BHI itu harus melibatkan khalayak. Hanya dengan merasa memiliki maka orang bisa diajak bertanggung jawab.
Bagian luar mal dan gedung perkantoran adalah wilayah perantara jalan raya dan ruang beratap, adalah peralihan dari publik ke privat (atau gabungan kepentingan privat). Bangunan dan lahan hingga batas terluar memang sepenuhnya hak milik si empunya properti, tapi pemanfaatannya punya aspek sosial — kecuali zona penting seperti kedutaan dan kantor presiden. Itulah sebabnya Pemprov DKI sempat bersemangat mengatur kawasan bisnis supaya semuanya tak berpagar.
Lho bukannya kita tak rela jika pagar rumah kita dipakai buat nongkrong, kemudian tukang bakso ikut mangkal, lantas caleg semprul memasang potret cengengesan di tembok?
Ya, tentu. Tapi itu kan hunian keluarga, bukan bangunan besar multifungsi. Tentu kita, sebagai penghuni, juga berhak membolehkan tukang bakso dan ojek mangkal di depan rumah asal tetangga samping dan depan tak keberatan — dan tak melanggar perda.
Orang Jakarta sudah kehilangan pelataran eks-Wisma Anggana Danamon yang tak berpagar (sebelum dibeli perusahaan keluarga Sampoerna). Itulah tempat yang ketika pagi sebelum jam kantor warga sekitar bisa berjemur diri. Lantas sore hari orang kantoran penunggu bus bisa mencoba menikmati pelataran, duduk, menoleh ke sekitar, mendongak ke atas, agar tak kehilangan orientasi. ;)
Memang terkabar ada copet dan penodong, juga terlihat ada pengasong di sana. Penjahat, itu tanggung jawab polisi. Pengasong dan pembuang bungkus permen (apalagi yang bebal padahal sudah ada tempat sampah), itu urusan polisi pamong praja.
Warga lain, sebagai pemanfaat ruang publik, hanya membantu petugas agar ruang bersama tetap menyenangkan bagi setiap orang yang berkehendak baik.
Tulisan lain:
+ Ndoro Kangkung: Trotoar Pecas Ndahe
37 Responses to Pojokan di Kawasan Bunderan Hotel Indonesia
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Jalan Layang dan Jalan Kolong
November 4, 2007 by AntyoKELAK ADA DI SEMUA PESIMPANGAN.
Salah dua kendesitan saya dalam ngeblog adalah kelangkaan data pendukung dan kegemaran mengajukan pertanyaan bodoh. Maka saya tak tahu, sampai hari ini Jakarta itu sudah punya berapa jalan layang (flyover) dan jalan kolong (underpass). Rasanya sih banyak.
Apakah nanti semua persimpangan jalan dan perlintasan sepur di Jakarta akan [...]
Recent Comments
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





saya pengen ikutan nongkrong di BHI :(
jadi inget, dulu pernah diusir satpam malioboro mall gara2 duduk di pinggiran taman depan mall .. hehehehe
tak sengaja mampir di sini, salam
Nongkronge mbesuk2 di kolamnya bunderan HI sekaliyan, kambi kekeceh :)) Duh, nasib nasib… :|
Jadi, belum tahu jalan keluarnya ya Paman?
nongkrong di bekasi aja yuk….
nunggu kelanjutannya aja setelah ipoel jadi seleb kompas :P
Simpatiku untuk kawan-kawan di BHI paman
Wah, belum pernah ikut nongkrong bareng BHI di PI. Dulu, saat saya bekerja di Jakarta —dari Juli 1998 sampai akhir 2004— belum kenal blog dan segala tetek-bengeknya. :D
untung aku manggon nang ndeso, iseh iso nongkrong sak nggon-nggon…
paling penak yo tuku latar dewe, kanggo nongkrong sak karepe dewe.. hhh… mumet Man! (doh)
Jangankan pedagang kaki lima, trotoar juga sudah mulai dijajah oleh ojekers dan lahan parkir
Caleg semprul memasang foto cengengesan…hukakaakaakkkkaaaaa
mari kita nongkrong di BHI Paman
Hidup sesak di Nusantara yang luas. Tragis.
Ada ngga ‘caleg semprul’ yang masang foto di PI :) ?
—
di sana caleg jalan2, nampang, bukan masang poster. :D
/tyo/
wah! ada yang baru di blognya pakdhe ini, satu persatu komen langsung direspons sama si empunya :D
dulu waktu saya masih nongkrong didepan gelael melawai, pihak toko selalu meributkan kehadiran kami walaupun 1) trotoar milik pemda 2) kami ngga pernah nyampah kecuali puntung rokok dan 3) tokonya pun sudah tutup, wong jam 12 malam. tapi lama lama berenti juga keributan itu, mungkin kehabisan batre kali ya…
—
naaaa itu dia! biar docoba temen2 bhi. :D
/tyo/
ayo kita buktikan lagi …
minggu depan kita nongkrong lagi …
asal tidak :
1. siut2 klo ada “temon” lewat
2. buang sampah sembarangan
3. rebah2han, apalagi rebah beneran krukupan sarung
kita buktikan bahwa kita tertip
:)
—
silakan pak pres!
/tyo/
Sebagai pengguna trotoar maupun pengunjung PI, kok rasanya saya gak pernah ngerasa terganggu dengan orang2 yang nongkrong di sana, baik penongkrong tetap (termasuk tukang ojek, dan penjual kopi instan) maupun penongkrong gak tetap. Yang ‘agak’ ngeganggu kan bukan penongkrongnya, melainkan pendemo di area air mancurnya — tapi itu lain masalah.
—
oh gitu ya? :)
/tyo/
lho, bukannya trotoar itu bagian dari daerah milik jalan yak.. susahnya cari trotoar nyaman di ibu kota..
—
inilah indonesia bu. trotoar boleh diperkosa siapa saja yang merasa kuat, termasuk pedagang kaki lima.
/tyo/
untungnya (orang jawa cuma satu-satunya yang selalu beruntung di dunia?), pada malam minggu kemarin para satpamwan tidak lagi mengusir para nongkrongers.
tapi ya itu, mereka (banyak lho) tetap seliweran dengan pentungan gede di pojokan situ. sangat demonstratif malahan.
—
itu bagian dari proses tawar-menawar :D
/tyo/
PI = Presiden Indonesia?
BHI= BH Indonesia?
mbbbuhlah,..
eh ono potoku..
*adus*
Menanti orang2 PI googling some keywords dan kaget dengan postingan ini dan postingannya Ndoro Kakung.
Njuk nanti naga-naganya mereka malah jadi sponsor Pesta Blogger 2010 dan memindahkan BHI ke dalam kawasan PI, lebih nyaman malah :)
—
oh ya? :D
/tyo/
iyo, depan rumahku itu dipasangi FOTO CALEG segede gambreng… DOH. kenapa ga ngelarang yag begitu? atau iklan2 yang seliweran tanpa hati dan perasaaan keindahan itu.
argh… yg menang ya yang kuat paman :(
—
poster caleg itu kamu foto lalu sebarkan di milis dan blog. biar malu dia! :D
/tyo/
saya pernah mampir ke situ, sekali.
h-1 PB08 :D
kapan yaks blogger Pontianak punya tongkrongan seperti itu?
btw, PamanTyo kapan mampir ke Pontianak?
*jitak*
-–
tongkrongan ada di mana-mana. cieeee. :D
pasti saya akan ke pontianak. :)
/tyo/
ndak hanya jkt, di malang kalo mau pipis ya mbayar..
tapi tempat nongkrong kere masih banyak
—
bayar, asal gak mahal, dan kebersihan terjamin, sebetulnya gak masalah. :)
/tyo/
setuju, mannnnnn!!! iya sih, di jkt pipis aja mesti bayar. tapi mosok yo mo nongkrong kere aja juga ga bisa to?! pada gak ngeh apa kalo jkt itu sebagian besar penduduknya berupah di bawah UMR?!
kalo pakdhe mbilung bilang: negaramu ini, toooo…
hehe…
—
mbilung kayak sunan solo ketika diwawancara tempo, dan menyebut pemerintah indonesia: “negaramu itu…”
/tyo/