Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Ceria di Empang Berlumpur Taman

Jumat, 10 April 2009 @ 15:34 | Umum

MESKIPUN GRATIS, TAMAN KOTA PUN BISA MENJADI KEMEWAHAN.

Anak-anak itu memperlakukan air kotor tanpa alir seperti kolam jernih. Bahkan mereka bercanda dengan saling membenamkan kepala ke air cokelat keruh. Tiga hari lalu itu bukan hari libur. Tapi siang itu, di Taman Langsat, Kramat Pela, Jakarta Selatan, mereka leluasa bermain.

Pada putaran ke sekian saya mengelilingi jalur, anak-anak itu sudah mentas, berganti baju. Salah satu anak mengeluarkan kantong tisu. Lalu isinya dibagikan untuk mengelap wajah.

Sepuluh langkah dari tepian empang ada kali beraroma busuk pembelah taman. Di atas tanggul kali, serombongan pengamen punk berbaring. Ada yang mencari ikan. Mereka itulah yang kerap beredar di bilangan Gandaria dan Radio Dalam. Siang itu terdengar suara, “Laperrrrr. Anjritttt!”

Pagi sampai jelang siang, pengisi taman adalah orang-orang dewasa. Sebagian dari mereka adalah orang kantoran yang tak perlu berangkat pagi. Ada juga yang tak perlu ngantor. Dan tentu ada juga yang tak jelas pekerjaannya seperti saya.

Suatu pagi saya berkenalan dengan seorang pria pemilik toko roti. “Ini taman kita semua. Sayang kalinya bau busuk,” katanya.

Siang sampai sore taman itu kadang diisi anak-anak, pengamen, gelandangan, dan satu-dua orang berperilaku aneh (misalnya tertawa sendiri).

Jelang sore, taman itu diisi serombongan anak sekolah. Kadang ada yang bikin film, lengkap dengan sutradara merangkap juru kamera. Pernah tampak seorang anak menjadi clapper boy — tapi setelah itu menjadi aktor.

Selain anak sekolah adalah para pramusaji dan pramuniaga, cowok dan cewek. Seragam mereka ditutupi jaket, setiap orang berpasangan.

Jelang senja, kadang ada pasangan anak SMA mojok, antara lain di gardu. Ada juga yang berok panjang dan berkerudung.

Di seberang Taman Langsat ada Taman Ayodhya. Baru. Bersih. Sayang pepohonannya belum merindang. Beberapa kali ada orang berfoto di sana.

Taman kota. Kita memerlukannya. Saya, sebagai orang Bekasi, hanya menumpang taman milik DKI. Di sekitar rumah saya tidak ada taman seperti itu. Tentu saya tak perlu anjuran agar berpindah ke Kebayoran Baru.

Taman kota. Kita memerlukannya. Tapi siapa saja yang memanfaatkannya? Di Jakarta ini banyak orang yang tak punya waktu. Berangkat dan pulang kerja selalu bergegas. Memanfaatkan taman, secara gratis, menjadi sesuatu mewah.

Apakah di lingkungan Anda, di kota Anda, ada taman yang manusiawi? Cobalah Anda ingat, apakah dalam pilkada lalu ada kandidat yang getol menyorongkan isu itu?

Jangan-jangan kita butuh taman hanya untuk kita pandang. Bukan untuk singgah karena memang tak ada alasan.

Ada 11 komentar | trackback | Depan

#11

blogombal | Blog Archive » Berkah Kota: Ikan Koi dalam Selokan | 20 05 2009 @ 22.49.41

[...] Ceruk yang melingkungi koi murah(an) itu memberi peluang hidup kepada hammock berbahan spanduk di sebuah sudut rimbun, memberi rasa aman perpanjangan napas dagangan meski hanya berupa selokan, dan memberi kubangan untuk berenang dan berendam anak-anak. [...]


#10

Dony Alfan | 19 04 2009 @ 2.58.37

Solo sekarang punya taman kebanggaan, namanya Taman Balekambeng. Dulunya kumuh, jarang orang mau ke situ. Tapi sekarang keren sekali, bersih, ada hotspotnya, pohon besar dan rindang, ada kolamnya, bahkan ada rusanya juga. Terima kasih pak walikota :D

Salam saya untuk Pak Wali!
Juga salam untuk calon penggantinya: Denmas Blonty ingkang Mbois
/tyo/


#9

DV | 14 04 2009 @ 10.47.23

mentalitet kuncinya, Paman.
Di sini, sejauh yang saya tahu orang-orang suka memanfaatkan taman karena memang benar-benar ingin menikmati. Mereka tak risih untuk tidak pergi ke Mall.

Dari sikap seperti itu yang menurut saya membuat kita pada akhirnya jadi lebih “care” terhadap taman.

Mentalitet? Ya. :D
/tyo/


#8

otholo | 14 04 2009 @ 0.22.00

Ada foto sepeda kecil,Paman lagi momong anak ya? :)


#7

ak | 13 04 2009 @ 13.43.49

Taman kota memang perlu. Bagus juga memang gubernur Jakarta yang sekarang memang memiliki visi menambah taman. Semoga juga taman yang ada bisa bebas asap rokok. Tidak lucu juga kan maksudnya menghirup udara segar, malah menghirup asap rokok.


#6

mastongki | 11 04 2009 @ 1.05.27

Taman memang tidak perlu manusiawi, paman. Karena taman memang bukan manusia, yang wajar taman adalah taman, yang teduh dan ayom kepada pengunjungnya sehingga menimbulkan kangen, sesuatu yang bisa menjadi alasan untuk berkunjung kepada taman.

lha taman di kebun bintang (yang bagus) saja dibikin manusiawi, tongki :D
/tyo/


#5

afreeze | 10 04 2009 @ 18.15.16

di bogor tamannya terlalu besar, yang bikin film berpasangan juga jumlahnya tak terhitung.. pusing saya ngeliatnya

jangan diliatin, dong… :)
/tyo/


#4

geblek | 10 04 2009 @ 18.11.54

kok skg saya susah komen yah
Sorry, it seems you didn’t pass math!! padahal dah bener

Maaf kalau plugins-nya ngaco. Mungkin bikinan partai kacau.
/tyo/


#3

hedi | 10 04 2009 @ 17.12.43

halah, entah kapan taman (ruang terbuka publik) bisa jadi isu politik, wong rumput senayan pun ga digubris kok

Jangan-jangan keseriusan pemerintah dalam memperhatikan sepakbola itu tercermin dari kondisi rumput lapangan bal-balan.
/tyo/


#2

LuXsmaN | 10 04 2009 @ 16.46.31

cilikanku rambutku dicukur kuncung
kathokku saka karung gandum
klambiku warisane mbah kakung
sarapanku sambel korek sega jagung

kosokan watu neng kali nyemplung neng kedung
jaman biyen durung ungsum sabun pabrike rung dibangun
andukku cukup mung anduk sarung
dolananku motor cilik seka lempung

Apik tenan. Nostalgis. Romantis.
/tyo/


#1

zen | 10 04 2009 @ 16.09.44

My uncle,

“Ibukota” itu mestinya memerankan seperti ibu, tempat di mana semua orang bs menkmati kehangatannya, kasih sayangnya. Taman kota, ruang publik, itu penting karena hanya dengan itu sebuah kota pantas menyandang nama “ibukota”.

Bukan ibukota jika orang2 was-was dijalan dan bukan ibukota jk orang tua tak pernah merasa tenang melepas anak2nya main di taman tanpa diawasi pembokat atau baby sitter.