Ceria di Empang Berlumpur Taman
MESKIPUN GRATIS, TAMAN KOTA PUN BISA MENJADI KEMEWAHAN.

Anak-anak itu memperlakukan air kotor tanpa alir seperti kolam jernih. Bahkan mereka bercanda dengan saling membenamkan kepala ke air cokelat keruh. Tiga hari lalu itu bukan hari libur. Tapi siang itu, di Taman Langsat, Kramat Pela, Jakarta Selatan, mereka leluasa bermain.
Pada putaran ke sekian saya mengelilingi jalur, anak-anak itu sudah mentas, berganti baju. Salah satu anak mengeluarkan kantong tisu. Lalu isinya dibagikan untuk mengelap wajah.
Sepuluh langkah dari tepian empang ada kali beraroma busuk pembelah taman. Di atas tanggul kali, serombongan pengamen punk berbaring. Ada yang mencari ikan. Mereka itulah yang kerap beredar di bilangan Gandaria dan Radio Dalam. Siang itu terdengar suara, “Laperrrrr. Anjritttt!”
Pagi sampai jelang siang, pengisi taman adalah orang-orang dewasa. Sebagian dari mereka adalah orang kantoran yang tak perlu berangkat pagi. Ada juga yang tak perlu ngantor. Dan tentu ada juga yang tak jelas pekerjaannya seperti saya.
Suatu pagi saya berkenalan dengan seorang pria pemilik toko roti. “Ini taman kita semua. Sayang kalinya bau busuk,” katanya.
Siang sampai sore taman itu kadang diisi anak-anak, pengamen, gelandangan, dan satu-dua orang berperilaku aneh (misalnya tertawa sendiri).
Jelang sore, taman itu diisi serombongan anak sekolah. Kadang ada yang bikin film, lengkap dengan sutradara merangkap juru kamera. Pernah tampak seorang anak menjadi clapper boy — tapi setelah itu menjadi aktor.
Selain anak sekolah adalah para pramusaji dan pramuniaga, cowok dan cewek. Seragam mereka ditutupi jaket, setiap orang berpasangan.
Jelang senja, kadang ada pasangan anak SMA mojok, antara lain di gardu. Ada juga yang berok panjang dan berkerudung.

Di seberang Taman Langsat ada Taman Ayodhya. Baru. Bersih. Sayang pepohonannya belum merindang. Beberapa kali ada orang berfoto di sana.
Taman kota. Kita memerlukannya. Saya, sebagai orang Bekasi, hanya menumpang taman milik DKI. Di sekitar rumah saya tidak ada taman seperti itu. Tentu saya tak perlu anjuran agar berpindah ke Kebayoran Baru.
Taman kota. Kita memerlukannya. Tapi siapa saja yang memanfaatkannya? Di Jakarta ini banyak orang yang tak punya waktu. Berangkat dan pulang kerja selalu bergegas. Memanfaatkan taman, secara gratis, menjadi sesuatu mewah.
Apakah di lingkungan Anda, di kota Anda, ada taman yang manusiawi? Cobalah Anda ingat, apakah dalam pilkada lalu ada kandidat yang getol menyorongkan isu itu?
Jangan-jangan kita butuh taman hanya untuk kita pandang. Bukan untuk singgah karena memang tak ada alasan.

11 Responses to Ceria di Empang Berlumpur Taman
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @PamanTyo Paman, kenapa di Crome blognya paman contains malware ya? May 24, 2012 metropulutan (Kom. Bloger Salatiga)
- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Apa Adanya, Ada Apanya
September 9, 2007 by Antyo“AKU INGIN BEGINI, AKU INGIN BEGITU…” (NOBITA)
Ada pembaca yang menanya saya kenapa beberapa kali menulis soal rubrik jodoh. Inilah jawaban saya. Rubrik jodoh itu kadang menarik, terutama kalau halaman lain sudah selesai saya baca.
Di mana menariknya? Banyak. Salah satu hal adalah ini: rubrik jodoh, apalagi yang berfoto, adalah bentuk penawaran diri yang sopan [...]
Recent Comments
Romi Julio Rahman» sangat memukau sekali artikel anda
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





[...] Ceruk yang melingkungi koi murah(an) itu memberi peluang hidup kepada hammock berbahan spanduk di sebuah sudut rimbun, memberi rasa aman perpanjangan napas dagangan meski hanya berupa selokan, dan memberi kubangan untuk berenang dan berendam anak-anak. [...]
Solo sekarang punya taman kebanggaan, namanya Taman Balekambeng. Dulunya kumuh, jarang orang mau ke situ. Tapi sekarang keren sekali, bersih, ada hotspotnya, pohon besar dan rindang, ada kolamnya, bahkan ada rusanya juga. Terima kasih pak walikota :D
—
Salam saya untuk Pak Wali!
Juga salam untuk calon penggantinya: Denmas Blonty ingkang Mbois
/tyo/
mentalitet kuncinya, Paman.
Di sini, sejauh yang saya tahu orang-orang suka memanfaatkan taman karena memang benar-benar ingin menikmati. Mereka tak risih untuk tidak pergi ke Mall.
Dari sikap seperti itu yang menurut saya membuat kita pada akhirnya jadi lebih “care” terhadap taman.
—
Mentalitet? Ya. :D
/tyo/
Ada foto sepeda kecil,Paman lagi momong anak ya? :)
Taman kota memang perlu. Bagus juga memang gubernur Jakarta yang sekarang memang memiliki visi menambah taman. Semoga juga taman yang ada bisa bebas asap rokok. Tidak lucu juga kan maksudnya menghirup udara segar, malah menghirup asap rokok.
Taman memang tidak perlu manusiawi, paman. Karena taman memang bukan manusia, yang wajar taman adalah taman, yang teduh dan ayom kepada pengunjungnya sehingga menimbulkan kangen, sesuatu yang bisa menjadi alasan untuk berkunjung kepada taman.
—
lha taman di kebun bintang (yang bagus) saja dibikin manusiawi, tongki :D
/tyo/
di bogor tamannya terlalu besar, yang bikin film berpasangan juga jumlahnya tak terhitung.. pusing saya ngeliatnya
—
jangan diliatin, dong… :)
/tyo/
kok skg saya susah komen yah
Sorry, it seems you didn’t pass math!! padahal dah bener
—
Maaf kalau plugins-nya ngaco. Mungkin bikinan partai kacau.
/tyo/
halah, entah kapan taman (ruang terbuka publik) bisa jadi isu politik, wong rumput senayan pun ga digubris kok
—
Jangan-jangan keseriusan pemerintah dalam memperhatikan sepakbola itu tercermin dari kondisi rumput lapangan bal-balan.
/tyo/
cilikanku rambutku dicukur kuncung
kathokku saka karung gandum
klambiku warisane mbah kakung
sarapanku sambel korek sega jagung
kosokan watu neng kali nyemplung neng kedung
jaman biyen durung ungsum sabun pabrike rung dibangun
andukku cukup mung anduk sarung
dolananku motor cilik seka lempung
—
Apik tenan. Nostalgis. Romantis.
/tyo/
My uncle,
“Ibukota” itu mestinya memerankan seperti ibu, tempat di mana semua orang bs menkmati kehangatannya, kasih sayangnya. Taman kota, ruang publik, itu penting karena hanya dengan itu sebuah kota pantas menyandang nama “ibukota”.
Bukan ibukota jika orang2 was-was dijalan dan bukan ibukota jk orang tua tak pernah merasa tenang melepas anak2nya main di taman tanpa diawasi pembokat atau baby sitter.