KOMPROMI PUBLIK: MELALUI PERDA, LASKAR AKHLAK, ATAU LAINNYA?

Oh, ternyata dalam gelap itu ada yang pacaran. Silakan saja. Tak akan saya usik. Lebih berbahaya ular berbisa dan penodong daripada orang memadu kasih — kecuali salah satu atau keduanya berubah menjadi ular berbisa dan penjenayah yang kemudian berbuah jenazah.
Di situ, jembatan penyeberangan yang satu itu, orang jarang melintas. Apalagi malam hari. Motor pun jarang memanfaatkannya. Untuk mengaksesnya dari tepi luar jalan tol penyeberang harus masuk ke jalan setapak berpagar.
Ternyata malam tadi sekitar pukul delapan, di kaki jembatan sebelum tangga curam, ada mereka dalam keremangan yang menuntut kamera saku murahan membuka rana satu detik. Tak apa. Silakan saja.

Setiap kota memerlukan lovers’ lane. Rumah-rumah warga terlalu sempit untuk sekadar berdua. Maka satu-dua ruas jalan tol JORR antara TMII dan Bekasi pun menjadi jalur asmara. Seolah ada dua dunia: pengemudi dan penumpang mobil yang melesat, dan pasangan kasmaran di atas jok motor yang berhenti. Satu detik bagi mobil bisa berarti 40 meter. Sedetik lainnya, bagi orang lain di atas motor, bisa berarti cicilan kesempatan — tanpa membuat motor terguling.
Pada sore hari beberapa warga mencari udara dengan berdiri di atas jembatan. Mereka menonton mobil melintas. Saya tak tahu apakah mereka memergoki beberapa Ferrari dan Porsche seperti yang kadang setengah terbang membelah jalan tol Prio-Cawang dan JORR TB Simatupang pada dini hari.
Janganlah meledek rakyat biasa yang mendapatkan hiburan dari melihat mobil melintas. Mereka yang lebih makmur juga melakukannya: melalui video, majalah, dan motor show berkarcis.

Lovers’ lane. Tanpa hipokrisi Bang Ali pernah mengakui bahwa Taman Monas Jakarta dulu dibikin agar orang yang rumahnya sempit bisa pacaran di sana. Taman Impian Jaya Ancol pun setengah menutup mata menoleransi, dengan peringatan jauhi karbonmonoksida akibat mobil berhenti dengan mesin dan aircon menyala.
Koran Tempo beberapa waktu lalu melaporkan bahwa jalan layang Pasar Rebo, Jakarta Timur, menjadi tempat indehoy. Bermula dari satu motor, lalu lainnya ikutan: melayangkan rasa tanpa di jalan layang. Ada sih yang lucu, “Ujan sedikit langsung bubar, takut kesamber geledek.”

Haram? Zinah? Bergantung pada situasi, kondisi, dan toleransi lingkungan. Asal penerangan memadai, keamanan terjaga, para pelaku mungkin agak mengerem. Yang penting tak ada kejahatan di sana. Yang penting tak bikin macet.
Mmmm… tapi susah juga sih. Di Bukit Jangli, Semarang, lampu-lampu dipecahi supaya gelap. Hanya lampu mobil yang sejenak akan menyadarkan sebagian dari mereka yang duduk di atas motor, memunggungi jalan. Para pelintas pun sebetulnya bagian dari kontrol sosial.

Kontrol sosial terhadap aktivitas pribadi di ruang publik bisa ditempuh dengan banyak cara. Kadang tanpa perda. Mungkin tak perlu laskar pengibar akhlak. Di jalur samping jalan tol, dari arah TMII ke Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, pada siang hari ada saja orang mengintip taman dari lubang tembok terakota. Beberapa pengintip memanjat pohon akasia.
Saya tak tahu, misalkan ada suara mengaduh itu dari dalam balik rimbun bugenvil di dalam taman atau dari orang yang terjatuh karena cabang pohonnya getas.







Kyai slamet | 27 04 2009 @ 22.22.44
Depan pintu utama sebuah institut pertanian di Bogor juga. :D
Gelap sih…
—
… dan di sanalah kyai slamet melakukan selamatan :))
/tyo/
DV | 14 04 2009 @ 10.50.02
Jadi inget lembah UGM, dulu pernah pacaran di sana, Paman?
Teman saya ada dulu di sana, akhirnya takut karena ditakut-takuti “barangsiapa ML disitu, kesambet, itunya ngga bisa dicabut dan mati”
Perlu dibikin takut-takutan gitu Paman atau kerahkan jaskar jidat :)
Maximillian | 13 04 2009 @ 11.50.29
Mengaduh, karena apa Paman ? Sakit ?
—
Iya. Tadi. :D
/tyo/
adi | 13 04 2009 @ 7.49.18
wah saya lebih seneng “penny lane” daripada “lovers’ lane” :D
—
gak bisa digabung ya? :)
/tyo/
kunderemp | 12 04 2009 @ 8.46.34
Di kampus saya yang sekarang (MUM – Fairfield, Iowa), mobil goyang sudah tidak zaman, Paman.. :P
—
Lha iyalah, wong banyak tempat :D
/tyo/
parta | 11 04 2009 @ 14.12.05
hmmm… jadi ingat orang-orang yang berpacaran di gelapnya jalan dalam komplek Puri Gading atau di komplek Cipinang Indah pernah melintas kesinikah paman ?? :)
—
oh ya? saya jarang banget lewat sana, mas. :)
/tyo/
mpokb | 11 04 2009 @ 10.03.14
jajal motret di jembatan pedestrian depan komdak, bang paman. malam hari, pas kosong tidak ada kegiatan kaki lima. keren deh. seperti di film “ET”.
—
lihat dong mpok foto-foto jepretan njenengan…
/tyo/
kunderemp "an-narkaulipsiy" ratnawati hardjito | 11 04 2009 @ 2.38.35
Dan dahulu di UGM dan di UI, para satpam doyan merazia mobil-mobil… :P
—
mobil goyang eh mobil mentul-mentul ya? kalo di kampus kunderemp sekarang gimana? :D
/tyo/
mastongki | 11 04 2009 @ 1.12.15
Justru Saya takut jika orang yang mengaduh tadi digigit pasangan berbisa yang sedang indehoy. Tapi ngomong-ngomong dulu waktu muda, Paman pacarannya bagaimana?
—
Sambil nyanyi “Ular Berbisa” ya?
Kalo pacaran saya dulu ya biasa saja.
/tyo/
Handaru Sakti | 11 04 2009 @ 0.39.05
Lagi-lagi: SItuasi, KONdisi dan TOLeransi. :D
—
Hayah! :P
/tyo/
Abihaha | 10 04 2009 @ 23.36.59
asmara berkabut timbal… makanya pakai pertamax atau yang plus.
—
jangan gitu ah… :)
/tyo/
geblek | 10 04 2009 @ 18.12.50
hemm ternyata dimana mana ada yg suka mojok memanfaatkan keadaan yg ada :)
—
biasa itu, dik geblek :D
/tyo/
hedi | 10 04 2009 @ 17.09.44
silakan pacaran di manapun, asal jangan di emperan plaza indonesia, sementara begitu ;)
—
bisa dihalau satpamwan kan?
/tyo/
Vavai | 10 04 2009 @ 16.09.46
Paman mestinya ongkosin mereka, kasihan nggak punya ongkos buat pesan tempat :-)
—
Itu tanggung jawab Dik Vavai sebagai calon walikota Bekasi. :P
/tyo/
K'ndie | 10 04 2009 @ 15.23.53
Ah Paman.. mengapa harus bergelap-gelapan dan bising kendaraan untuk memadu kasih?
Tapi Lover’s Lane memang asyiikk!
–
oh ya? asyik? masa?
/tyo/
otholo | 10 04 2009 @ 15.21.08
Ato mungkin lagi jagain jembatan penyeberangan?
—
mungkin juga. sungguh relawan/wati yang mulia hati.
/tyo/
nothing | 10 04 2009 @ 14.32.47
wah kamerane jelas ga murahan ki…
—
asli. murahan kok. cemen. bahkan sering disepelekan orang.
/tyo/