Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Prasasti Kedukan Got: Sebuah Perlawanan Rakyat

Sabtu, 11 April 2009 @ 21:57 | Umum

CARA RAKYAT MENEGUR BIROKRAT.

Bukan “kedukan bukit”, tak ada candinya. Hanya prasasti beton, dan tentu tanpa ditemani arca. Isinya sebuah pernyataan: “Warning. Barang siapa yang membongkar atau merusak saluran ini harap dirapihkan kembali atau denda sebesar sepuluh juta rupiah (Rp 10.000.000). Bertanda: Perda No. 10.02007. Ttd Udin Kosasih.”

Siapa Udin Kosasih? Saya tak kenal. Saya pun melihat prasasti tutup got itu tanpa sengaja, ketika pulang dari keliling kampung, senja tadi pukul setengah tujuh.

Prasasti got itu terletak di pinggir jalan geronjalan, dekat dengan tikungan di bunderan jalan sebelah tol dekat Pasar Kecapi, Pondokmelati, Pondokgede.

Maka bertanyalah saya kepada pemilik toko alat listrik di dekatnya. “Itu bikinan yang punya tanah sama bangunan ini,” tuturnya.

Ia berkisah, setahun lalu pemilik lahan merapikan got dan membuat tutup. Semen belum sepenuhnya mengering datanglah “orang proyek” yang menurut dugaannya, “Kayaknya orang PU”. Usai mengerjakan sesuatu (“Nggak tahu apa yang mereka bikin,” kata pemilik toko), tutup got dibiarkan terbengkalai.

“Habis sejuta (rupiah) lebih buat ngerapiin got lagi sama bikin tutupnya,” kata pemilik toko yang saya lupa namanya. Begitu rehabilitasi usai, selesai pula maklumat di atas beton.

Bagi orang lain mungkin ini lucu bahkan konyol. Tetapi bagi saya ini penting dan berharga. Si pembuat prasasti telah mengupayakan cara yang berbudaya, melalui cara sama sekali yang bukan prasejarah (melalui tulisan), di atas properti pribadinya.

Saya sebut berbudaya dalam arti lebih baik ketimbang mengambil cincin akik dari jari manis mandor dengan golok supertajam supaya pekerjaan dihentikan. Ini cara purba di era logam.

Banyak sudah keluhan warga tentang bongkar pasang saluran pipa dan kabel yang bikin kotor dan macet. Sudah begitu setelah usai dirapikan sekadarnya. Maka saya pernah mendengar penutupan galian yang tak rapi diimbangi warga suatu titik wilayah dengan mengguyurkan feri klorida (ferric chloride) ke simpul kabel tembaga bawah tanah. Efeknya, termasuk kelucuannya, melebihi pengencingan.

Jika birokrat ingin warga berbudaya, lakukanlah pekerjaan dengan pendekatan secara berbudaya.

PLN, Telkom, PDAM, dan entah siapa lagi, tak cukup berkilah bahwa itu tanggung jawab kontraktor. Celakanya, kesan itulah yang selama ini tertangkap oleh khalayak.

Ada 22 komentar | trackback | Depan

#22

info bisnis | 19 10 2009 @ 22.55.05

Bravo Paman Tyo,,kritik membangun memang perlu bgt buat negara kita tercinta INDONESIA. Kalo nda kita ya sapa lagi ya paman.. :)


#21

andreas | 02 06 2009 @ 10.58.11

masih ada yang mengganjal…

dahulu prasasti dibikin raja-raja untuk menunjukkan kewibawaan, kekuasaan, dan kebaikannya (semua dalam tanda petik). dan kedukan got (dulu banyak prasasti yang ditemukan di tepi aliran sungai kini got) membalikan semua itu.

dari kuasa raja-raja menuju kuasa rakyat jelata, semoga

gimana tuh kuasa rakyat jelata? diktator proletariat? :D
/tyo/


#20

andreas | 02 06 2009 @ 10.51.04

saya rasa banyak ide kreatif dan cerdas dikalangan rakyat. tapi kenapa perubahan tak kunjung terjadi.
barangkali kuncinya organisasi dan kepemimpinan yang lahir dari perlawanan kecil dimana-dimana.

wah menarik nih. jadi perlu leader, perlu motor, gitu ya? :)
/tyo/


#19

otholo | 14 04 2009 @ 0.16.42

Yang mau mbongkar pasti takut tuh…


#18

yuswae | 13 04 2009 @ 22.25.04

Prasasti yang unik..
Tapi kayaknya tetap gak ngefek, Paman
lah wong birokrat & pengusaha kita mayoritas memiliki paradigma proyektif..
:D


#17

bangsari | 13 04 2009 @ 13.38.27

ini sebuah perlawanan yang top. dan menggelikan.


#16

DV | 13 04 2009 @ 12.49.10

Hehehe, apik tulisannya Paman!
Menurutku memang rakyat sudah mulai membalas perlakuan tak berbudaya penguasa dengan sesuatu yg lebih berbudaya seperti itu.
Tinggalkan demo dan main fisik seperti yg sudah-sudah, hasil akhir perlawanan? Serahkan “Tuhan” :)


#15

mpokb | 13 04 2009 @ 11.00.12

apa perlu ada perwakilan dari warga untuk ikut jadi mandor? masak kerja baru bener kalo ditontonin sih.. eh, tapi memang jangan2 mereka nggak bisa kerja, karena tukangnya cabutan?

miss nona mpokb pernah kerja bareng mandor ya? :)
/tyo/


#14

Adyaswara | 13 04 2009 @ 7.36.13

Yg salah birokrat atau kontraktor, atau kedua-duanya? Perlu investigasi mendalam, paman!

Keduanya salah. Yang satu ngasih kerjaan, yang satu melaksanakan.
/tyo/


#13

Awam Baihaqi | 13 04 2009 @ 1.38.34

Selama masih ada birokrat beginian, insya Allah masih akan ada tanggul situ jebol lagi. (Eh, nyambung gak ini, Paman?)

Waduh. Jangan nakutin orang dong.
/tyo/


#12

oesoep835 | 12 04 2009 @ 22.50.43

sepatunya keren, paman :)

itu sepatu orang, soep.
/tyo/


#11

Embun | 12 04 2009 @ 20.28.13

Happy Easter… masih punya telur?

*gak nyambung*

Terima jadi. Telur masih utuh, gak ada yang mau ambil.
/tyo/


#10

mastongki | 12 04 2009 @ 15.57.00

Yang lucu nomor perda-nya :) Saya duga itu tanggal pembuatan. Tapi apa orang akan percaya, kalau ada perda seperti itu?

Sesuka dialah, wong pemda juga sesukanya :D
/tyo/


#9

Paidjo | 12 04 2009 @ 12.03.03

O… ngantos kesupen, Pakdhe.
Sugeng Paskah…
Semoga semua waras, wiris, wareg, wasis, waspada, wutuh.
Matur nuwun.

Sami-sami. Sugeng Paskah ugi. Suwun.
/tyo/


#8

Paidjo | 12 04 2009 @ 11.58.47

Padhe… di kampung saya sini; jalan baru selesai dibeton seminggu; pinggirannya langsung diobrak-abrik buruh PAM atau Telkom.
Dijugil-jugil, katanya untuk perbaikan pipa, gitu.
Rampung ditinggal prung!
Sekarang itu jalan berantakan.
Pengen mi**h aja kalau melewatinya.

Masih untung cuma m**h, tidak main gampar.
/tyo/


#7

hedi | 12 04 2009 @ 11.44.02

pemerintah kita ini kok kayak ga becus ya, tapi di Bali pengecualian. Gali menggali di Denpasar ga sampe 24 jam dan rapi kembali, harusnya se-Indonesia begitu ya (ga perlu nunggu jadi kota turis segala)

Kirimkan para birokrat kambing itu buat studi banding ke Bali. Semoga gak jadi Benny & Mice di Lost in Bali.
/tyo/


#6

Anonime | 12 04 2009 @ 7.04.26

fleriklorida => maksudnya ferric chloride (FeCl3) ya. Itu adalah ramuan penting para penggemar elektronika, untuk melarutkan tembaga yang ada di PCB. Kalau kena kabel tembaga, ya hasilnya kabel bisa “borokan” :-)

iya mas, terima kasih atas penjelasan anda…


#5

ilham saibi | 12 04 2009 @ 0.45.07

Hahahaha, prasastine kreatif paman.


#4

sawung | 12 04 2009 @ 0.38.27

beuh perklorat. langsung ancur semua ituh. ide bagus paman :p

tapi ini anarkis :))
/tyo/


#3

jun | 11 04 2009 @ 23.20.58

Benar, Paman. Sebuah cara melawan yang sopan (yang mudah-mudahan dipatuhi “orang proyek” tatkala suatu ketika, nanti, mengerjakan sesuatu lagi di situ. Agar Udin Kosasih tidak sampai mengambil cincin akik dari jari manis mandor dengan golok supertajam).

Jangan terhasut, Saudaraku. Jangan.
/tyo/


#2

Novianto | 11 04 2009 @ 22.16.58

wah cara yang bagus menegur itu paman… :)

begitulah adanya. bisa kita tiru. :))
/tyo/


#1

denologis | 11 04 2009 @ 22.06.49

Paman,
jangan2 Udin Kosasih itu kontraktor…. :)

tapi benar sekali arah teguran itu, karena proyek2 yang ditinggalkan “penguasanya” sudah tak terhitung.

kontraktor bagi rumahnya sendiri. :)
/tyo/