Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Anagram dalam Tuturan Langit Merah

Minggu, 12 April 2009 @ 23:49 | Lihat Baca Dengar

TENTANG PENGELANA, DAN… WARTAWAN BUSUK.

Bejo Okatama, baron pers Indonesia. Anda tak kenal dia? Ambillah sebuah koran terkemuka Indonesia. Cari nama pemimpin umum dan pendirinya. Coba Anda atur ulang huruf-huruf dalam Bejo Okatama.

Artinya dengan segera, apalagi dibantu daftar nama di boks redaksi, Anda akan menemukan kunci anagram untuk sejumlah nama. Misalnya Putro Marsoyo — pernah menjadi pemimpin redaksi, kabarnya dicopot karena kekaribannya dengan pejabat dan konglomerat sumber masalah.

Nama lain? Lagi-lagi bacalah boks redaksi dan mainkanlah kuiz tak berhadiah perihal sejumlah nama: Arman Sagosih, Sunu Aridji, dan Bono Sutama, Jafar Ramat. Tentu hasil tebakan Anda bukan tanggung jawab saya. :D

Sebagian dari pemilik nama itu adalah jurnalis, yang menurut Bubin Lantang dalam novel Kisah Langit Merah, kerap menerima suap. Mereka menjadikan nama besar korannya, dan posisinya, untuk berkongkalingkong dan bila perlu memeras pengusaha, melalui pemberitaan. Demi kepentingan pribadi.

Mereka berkantor di lantai tiga sebuah gedung berlantai enam. Di sana pula Langit Merah, si lakon itu, pernah menjadi reporter di (antara lain) desk ekonomi. Dialah yang mengungkap kasus cessie Bank Bali dan pemindahan mobil Timor sitaan pemerintah secara diam-diam dari Cikampek ke basement gedung-gedung setengah jadi di pecinan Jakarta.

Pahlawankah dia? Bagi adiknya, Matahari, tentu pahlawan. Demikian pula bagi ibunya, bagi kekasihnya. Di luar urusan skandal pers lingkungan kerjanya, Langit Merah adalah seorang lelaki dengan sejumlah kesialan dan sebongkah keberanian menjalani hidup.

Langit tumbuh dalam keluarga miskin di Bandarlampung, sejak SMA rajin menulis dengan mesin tik pinjaman, menjalani kenakalan bocah belasan tahun bersama gengnya dan adiknya (antara lain nyimeng), dan seterusnya, dalam paparan yang tak linier.

Termasuk dalam “seterusnya” adalah ditinggal kekasih yang menikah dengan pria lain karena wasiat ayahnya, kemudian Lintang dapat pengganti seorang ratu selingkuh, lalu dia berjumpa lagi dengan kekasih lama di New York yang sudah hamil dan menjanda, kemudian hidup bersama… Ah, silakan baca sendiri.

Manakah yang lebih menarik dari novel ini? Bumbu pergunjingan tentang erosi profesionalisme di sebuah koran utama atau perjalanan hidup si tokoh? Bagi saya bumbunyalah yang merangsang pertama kali. Adapan isi utama, cukup lezat tapi porsinya sopan — tak sampai mengenyangkan.

Ada sisi faktualnyakah sosok si lakon? Bertanyalah kepada penulisnya. ;)

JUDUL: Kisah Langit Merah • PENULIS: Bubin Lantang • PENERBIT: GagasMedia (Jakarta, 2009) • UKURAN: 13 cm x 19 cm • TEBAL: vi + 318 halaman • HARGA: Rp 37.000

Ada 30 komentar | trackback | Depan

#30

Benedict | 08 12 2009 @ 7.51.03

Bubin Lantang..ini juga sebuah anagram, yang memang bukan merujuk pada nama lahir, tapi pada mimpi, (Bu)lan-(Bin)tang… Mungkin fiksi, namun ada juga porsi untuk realita…
Mengapa si pengarang menuliskan kritiknya pada dunia jurnalistik di negeri Indonesia raya, mungkin dia sudah tenggelam dalam kolam depresi melawan ‘arus’ korupsi, ditambah pahitnya hidup sebatang kara.
Lalu bagaimanakah jika KLM ini ditransformasikan dalam sebuah Film? Akankah para produser ternama kan menerimanya? Akankah dunia pers akan merangkulnya?


#29

roro | 13 08 2009 @ 0.32.55

Paman Tyo, can I have your permission to put your link on Bubin’s wall in Facebook?

Please. Thank you :)
/tyo/


#28

yoseph new | 23 05 2009 @ 12.28.13

bubin lantang bukan anagram juga kan?
bukan pula singkatan dari Bukan Bintang Lancar Menentang kan? hehe

Hmmm saya nggak tahu. Ituorang kayaknya lagi berkelana lagi entah ke mana. :)
/tyo/


#27

DV | 06 05 2009 @ 6.36.46

Banyak yang bilang buku ini bagus, ntar nitip beli teman ah trus suruh kirim kemari!!

Mari, mari… Laris manis.
/tyo/


#26

pit | 22 04 2009 @ 18.37.30

man…
aku belum slesai baca kenapa udah dibawa pulang?

aneh. pemilik buku dimarahi oleh peminjam tanpa permisi :)
/tyo/


#25

edratna | 18 04 2009 @ 20.50.06

Woo…bagus paman…perlu dicatat untuk dbeli dan dibaca

Sumangga, Bu
/tyo/


#24

agustus02 | 18 04 2009 @ 10.22.00

makasih info bukunya ya pak…boleh saya link blognya?

silakan, roti manis :)
/tyo/


#23

kwak kwik kwek | 17 04 2009 @ 13.03.24

Ooooh itu to sebabnya Putro Marsoyo sekarang sama si juragan sebelah..:D

sebelah mana?
/tyo/


#22

Mas Kopdang | 16 04 2009 @ 13.03.36

Busuk itu mestinya pernah segar, maka cara terbaik agar tetap segar dan bugar adalah disantap dan nikmati sesegera mungkin.

Dan agar santapan nikmat dan lezat, maka sajian tak perlu banyak bumbu penyedap, apalagi bahan pengawet.

*apa syeh..*

Iya deh :)
/tyo/


#21

adipati kademangan | 16 04 2009 @ 13.01.09

Paman, pada paragraf ke-8 ada kata “diringgal”, saya mencarinya di kamus kok ndak ada ya, apakah itu suatu kata yang baru? kalau iya apakah artinya?

Maaf dan terima kasih. Sudah saya perbaiki.
(Menjura)
/tyo/


#20

omith | 16 04 2009 @ 12.34.09

critane complicated men..

well ini bentuk soft promosi kah paman..

*nyelinap*

Jangan nyelinap dulu, entar Ipoul nyari.
Promosi dalam arti mengabarkan sesuatu supaya orang lain juga baca? Ya.
Dibayar? Nggak. Disuruh penerbit dan penulis? Juga nggak.
:D
/tyo/


#19

Om Punto | 16 04 2009 @ 11.09.49

“Antyo Rentjoko” menjadi “Rank Joey Tonto” 3.012 anagram lain dari paman Tyo bisa diliat di sini: http://www.mbhs.edu/~bconnell/cgi-bin/anagram.cgi?cpw=1&phrase=Antyo+Rentjoko

Wow! Terima kasih. :)
/tyo/


#18

grubik | 16 04 2009 @ 8.56.13

Jaman Saya muda dulu juga hobi baca anak2 mama alin, lama sekali gak tau kbar tentang bubin lantang.,
Bolehlah itu ntar saya ke toko buku mencarinya


#17

Rian | 14 04 2009 @ 21.40.04

Bubin Lantang, saya jadi ingat majalah remaja pria semasa saya sma dulu. Tulisan cerbung nya sering saya baca, juga Gola Gong


#16

tito | 14 04 2009 @ 17.36.17

Hehe…Bejo Okatama..


#15

arya | 14 04 2009 @ 14.05.47

ini fiksi atau non fiksi man? atau non fiksi yg didramatisir sebagai fiksi? kira2 bakal bikin rame ga ya hihihi


#14

nonadita | 14 04 2009 @ 9.57.57

Rekomendasi ya ini. Uumm boleh lah nanti mampir ke toko buku +_+

Saya kenal wartawan jail bernama Wocok Sani yang doyan ngeblog, mesti dibikin novel juga itu!


#13

bodrox | 14 04 2009 @ 7.27.14

pak kalo jacob oetama… semua orang tahu :)

hi.. hi.. hi…, ketahuan :)


#12

otholo | 14 04 2009 @ 0.09.01

Paman mulai main teka-teki nih


#11

pasarsapi | 13 04 2009 @ 23.11.36

sudaah lamaa gak ketemu paman..eh bubin. Nyari bukunya ahh….ada sekelumit perjuangan sang sesepuh blogger itu ndak ya? :)


#10

day | 13 04 2009 @ 18.16.05

Bapak, selamat yaa sudah selesai baca bukunya dan ‘mereview’nya di blog :B hahaha bagian yang aku suka yaa yang tentang Langit dan koran tempat dia kerja bukan romancenya hihiihi


#9

Embun | 13 04 2009 @ 16.22.20

Kalau soal anagram jadi ingat si Access, adanya perang antara Marvel dan DC Comic.

Bejo Obatama a.k.a Joetak Obama adalah mantan bos dari salah seorang redaksi keturunan jepang Renn Jok Toyota. Menurut kabar burung, Renn Jok Toyota ini sekarang jadi sesepuh blogger wartawan.

;-P


#8

Ahmad | 13 04 2009 @ 11.21.29

Meski fiksi, tapi alurnya memang dari kenyataan. Ada dramatisasi agar membanya tak membosankan. Di sini, saya acapkali memahami realitas yang rumit karena hidup dijelaskan dengan sistematik, tokoh, dialog, alur dan tema.

Memang.:)
/tyo/


#7

Chic | 13 04 2009 @ 9.59.14

inisial korannya apa Paman? :D
Paman nyuruh kita-kita main detektif-detektifan neeeh :P

Kura-kura dalam perahu, pura-pura makan tahu :P
/tyo/


#6

Paidjo | 13 04 2009 @ 9.03.40

Anagram…?
Mengingatkan saya pada Da Vinci Code, Pakdhe.
Sehari semalam saya menyelesaikannya dengan kecepatan baca supersonik, sampai akhirnya berujung pada gerutuan…”ah ternyata novel”
Asemm.

Hahahaha! Gitu ya? ;)
/tyo/


#5

mantan kyai | 13 04 2009 @ 7.39.42

nopel baru ya paman??? ada adegan pulgarnya gak ya??? hihihi

uh, maunya mantan kyai ini…
/tyo/


#4

Adyaswara | 13 04 2009 @ 7.33.38

Wah, buku menarik kayaknya! Perlu di baca nih,

jarang2 ada buku bertema kritik pada sosok jurnalis, kenapa ya?

Salam kenal, paman!

Salam juga. Silakan baca. :)
/tyo/


#3

Ben | 13 04 2009 @ 4.50.26

yg dicopot itu yg skrg menduduki posisi serupa di koran sebelah ya? :)

Oh ya? :D
/tyo/


#2

Daus | 13 04 2009 @ 2.00.43

Bangkit lagi ya Om Bubin?

Kok kayak pertanyaan Paskah. :)
/tyo/


#1

mastongki | 13 04 2009 @ 0.20.28

Dari anagram tersebut, apa bisa disusun menjadi “Antyo Rentjoko”?

Kalau bisa, berarti juga dapat menjadi “mastongki” :P
/tyo/