Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Tentang Daun Pembatas Buku

Kamis, 16 April 2009 @ 23:33 | Personal

… DAN KITA MESTINYA MENGENAL NAMA POHON!

Hanya karena kebetulan belakangan ini saya suka ngeluyur jalan kaki, dan bila perlu potong kompas, maka saya mendapatkan sejumlah temuan. Sebagian saya foto, lalu saya masukkan ke blogs dan Facebook.

Ada bagusnya jalan-jalan itu. Hal yang selama ini biasa, bahkan terlewat, akhirnya teperhatikan oleh saya. Misalnya daun di atas aspal, rumput, dan konblok.

Ada yang saya foto, ada yang saya pungut. Menyenangkan sekali bisa mengulang pengalaman masa kecil. Satu-dua daun saya jadikan pembatas buku-buku baru yang saya beli.

Ya, ini menjadi sesuatu yang baru, karena berbeda dari pembatas lainnya, seperti yang dulu saya ceritakan. Pun berbeda dari coretan pada buku yang ditemukan oleh keponakan saya

Tak ada yang baru dari cerita ini. Istimewa pun tidak. Hanya tentang daun.

Dan di sini saya mengakui satu hal: dari beragam helai daun itu, tak satu pun yang saya kenali itu daun pohon apa.

Maka inilah pengakuan ulang dari hal yang pernah saya lontarkan pada 2004: saya tak mengenali pepohonan dengan baik.

Dan sekarang izinkanlah saya bertanya Anda: adakah jurnalistik berkisah di koran,cerpen, dan novel terakhir yang Anda baca itu, dan kebetulan menyebut pepohonan, menyertakan juga nama pohonnya?

Dari sejumlah iklan yang mengabarkan CSR kumpeni berupa penanaman pohon, termasuk oleh pabrik mobil, tersebutkankah nama pohon-pohonnya?

Kita bangsa agraris (dan sebagian bahari) yang hidup di negeri tropis. Ketika anak kita bertanya nama pohon yang dilihatnya, kita akan memotret dengan ponsel lantas meneruskannya kepada seorang kawan yang kita anggap tahu.

Semoga dia tak mem-forward-nya ke orang lain, demikian seterusnya, sehingga dua hari kemudian  forward itu sampai ke kita, tetapi tanpa jawaban.

Ada 38 komentar | trackback | Depan

#38

yoseph calondokter | 10 07 2009 @ 21.27.49

coba kalo ada kota di Indonesia yang ikutan nanam pohon sexy berwarna ungu seperti di Afrika Selatan, Jacaranda atau Jaracanda ya..? heehee lupa (plus males googling)

jacaranda. di australia juga ada.
/tyo/


#37

mpokb | 04 05 2009 @ 19.25.34

paling berkesan dari masa kecil adalah yang bernama daun babadotan, pernah dipakai untuk plesetan lagu “bukit berbunga” :D

ihhhh bukit berbunga. masih hapal ya? :))
/tyo/


#36

mas oglek | 28 04 2009 @ 21.47.59

saya hapalnya sama daun tembakau, itu juga kalo udah kering. Kalo udah jadi rokok hmmm…..
___
waduh! :))
/tyo/


#35

Kyai slamet | 27 04 2009 @ 22.10.34

Di laskar pelangi ada paman.
Di rubrik kriminal juga ada, daun ganja :D

wah ndak ikutan :))
/tyo/


#34

Embun | 25 04 2009 @ 16.52.04

kenapa yang dibuka halamannya, tepat mengenai gaji para punggawa kerajaan ya??

hahahaha, ada2 saja sodara embun ini :))
/tyo/


#33

mare | 24 04 2009 @ 8.33.16

mungkin ada yang jadiin peluang bisnis…bikim pembatas buku alami

sudah ada kok. dijual di toko. biasanya campur konter bahan daur ulang.
/tyo/


#32

terapikomik | 24 04 2009 @ 8.17.37

saya pernah pakai daun sebagai pembatas buku. akibatnya halaman buku yang dibatasi jadi berkerut-kerut seiring daunnya mengering.

soal forward itu pasti pengalaman pribadi :D

hahaha
/tyo/


#31

nYam | 23 04 2009 @ 21.35.21

berhubung gede di kampung, lumayan juga tau nama pohon dari bentuk daun. tapi baru kemarin saya tahu, ternyata selama sekolah, tiap hari saya nglewatin pohon katuk tanpa tahu kalo itu katuk….memalukan :D

tapi khasiat daun katuk tahu kan? :)
/tyo/


#30

Ahmad | 23 04 2009 @ 15.24.45

Maaf, Paman. Teman saya yang menyelesaikan S2 biologi itu tidak mempunyai blog. Wah, saya mengacungkan jempol untuk keanehannya itu.

… nanti kalo punya blog namanya “bioblogologi” :)
/tyo/


#29

yayax's | 23 04 2009 @ 9.40.43

hihi..kreatif bener sampeyan..pokok ndak kebanyakan ae bawa daun-e..ngilangin job tukang sapu-sapu daun ntar..

lha saya kan juga tukang sapu, bos :))
/tyo/


#28

ndik | 22 04 2009 @ 22.17.15

mugo mugo om tyo ora nemu kondom bekas..
dipotrek trus dinggo pembatas buku kan nggilani tenan..

untuk hal-hal nggilani, kayaknya sudah ada pembagian tugas bahwa itu jatahmu ndiks :)
/tyo/


#27

winy | 22 04 2009 @ 9.44.47

hehe…kemarin dipelototin ibu gara2 salah ngenalin pohon saga sama pohon pete cina yang masih cilik :D
tulisannya andrea hirata banyak nyebut jenis pohon tuh pak…

iya bagus, dia cantumkan nama pohon sebagai bagian dari pemerian tuturan
/tyo/


#26

cm4nk | 21 04 2009 @ 17.01.45

Ehh tunggu..buku ntu banyak yg dari serat pohon juga kan ya?
sekarang daunnya dijadiin pembatas buku pula’…ck..ck..serakah ya manusia?
*lirik yg punya blog,trus ngacir..*

manusia memang serakah.
hak usah ngacir :D
/tyo/


#25

khalif | 21 04 2009 @ 11.58.35

yang saya kenal mah pohon beringin, abis sering nongol di tipi…plus kumis tipis di atas bibir…

beringin kuning
/tyo/


#24

Rafki RS | 21 04 2009 @ 9.11.05

Sumpah saya juga tidak begitu banyak mengenal nama pohon. Itu daun yang dijadikan pembatas buku berasal dari pohon apa ya?

saya juga nggak tau pak :)
/tyo/


#23

kitaabdiri | 21 04 2009 @ 8.23.16

Filicium
(Filicium decipiens; fern tree; pohon kere)

[Laskar Pelangi - hal. 1]

:D

pohon kere! hahahahaha!
/tyo/


#22

bodrox | 20 04 2009 @ 18.37.11

hi.. hi.. hi.. kalo pohon akasia saya tahu. itu kan termasuk hutan tanaman industri yang buat bahan baku pulp. trus diolah lagi jadi selembar daun duit. ntar gampang deh paman ngingetnya, kalo tanaman sudah dihomogenisasi semua ngingetnya gampang :)

lestarikan alam kita :)

mari kita perbanyak daun duit tanpa merusak alam. bisa gak ya?
/tyo/


#21

triesti | 20 04 2009 @ 17.11.40

argh… dikau mengingatkan mengapa aku tdk ambil biologi.. krn tdk apal taxonomi kalau ditunjukin daun2an.. guru sma gue menghancurkan cita2 bgt deh

ah masa sih hancurkan cita2? :)
/tyo/


#20

Dony Alfan | 19 04 2009 @ 2.48.21

Tanya saja kepada Slamet Widodo MSi, S2 fakultas akar serabut, haha

Dia sukanya yang menjuntai…
/tyo/


#19

edratna | 18 04 2009 @ 20.53.44

Duhh paman…saya lebih malu lagi…dulu pernah kuliah taksonomi yang mesti hafal nama pohon dalam bahasa Latin, bahkan jika sang dosen hanya memberi sepotong daun….
Sekarang menguap semua….apalagi anak2ku yang nyaris tak kenal pepohonan

Lha? :)
/tyo/


#18

ting | 18 04 2009 @ 13.26.37

WOw..sangat berguna, hebat artikelnya :D

Yang hebat itu daunnya :)
/tyo/


#17

nothing | 17 04 2009 @ 21.07.24

aku lek nulis berita tanam pohon atau pohon tumbang tak sebutke nama pohonnya

nah ini yang namanya tropmarkotrop!
/tyo/


#16

-em | 17 04 2009 @ 16.35.53

mas Paman, saya lebih suka mungut buahnya (yg dipohon) dari pada mungut daunnya :D

sama! :D
/tyo/


#15

pandandut | 17 04 2009 @ 14.33.20

saya dulu suka menyelipkan uang kertas limaratus gambar monyet untuk jadi pembatas buku.


#14

Daus | 17 04 2009 @ 13.50.09

NGI sih biasanya menyebutkan beserta nama ilmiahnya :P

Lha iyalah!
Memalukan kalo sampe ndak nyebut.
/tyo/


#13

kwak kwik kwek | 17 04 2009 @ 13.09.46

I am siply a city girl Pamane, hanya tau pohon duwit :D

Minta bibitnya dong, Bu!
/tyo/


#12

suprie | 17 04 2009 @ 11.28.44

klo udah tau itu daun apa, kasih tau saya juga paman, saya penasaran

kayaknya ada kok game-nya, prie…
/tyo/


#11

bangsari | 17 04 2009 @ 11.14.39

sepertinya itu daun mundu. apa betul tebakan saya paman?

mmm masa sih?
/tyo/


#10

iway | 17 04 2009 @ 10.40.32

biar lebih artistik buat pembatas buku, itu daun direndam di air kira-kira 2 minggu/sebulan dan kalo bisa air yang mengalir (macam di got atau talang air), nantinya daun itu tinggal ‘tulangnya’ saja tapi masih berbentuk daun :D *memory masa kecil pada daun nangka*

ini panduan berharga. ayo ding bikin percobaan lagi lalu diposting di blog.
/tyo/


#9

Chic | 17 04 2009 @ 10.07.37

saya tau pohon pisang, pohon cemara, pohon beringin… selebihnya… errrrrrrrr… :P

kalo pohon bayam?
/tyo/


#8

mas kopdang | 17 04 2009 @ 9.02.36

untuk mengenal nama pohon, cukup lihat buahnya (jikalau berbuah).

Seperti kenal nama Bapak, dari “bin” s anak atau nama belakang (keluarga).

Bin Laden atau Bin House?
/tyo/


#7

Ahmad | 17 04 2009 @ 8.55.03

Paman, kawan saya yang belajar biologi sering memberitahu saya nama pohon dan nama latinnya segala dalam perjalanan pulang ke asrama sambil berjalan kaki. Tidak itu saja, di sepanjang jalan kampus, dia berceloteh tentang kelebihan dan kekurangannya.

Teman yang hebat. Blognya apa? :)
/tyo/


#6

yudhi | 17 04 2009 @ 8.24.53

beberapa daun yang saya pungut sempat saya laminating, saya gunting mengikuti alur lekuknya, lalu dijadikan pembatas buku. ciamik, dan menarik.

namanya juga pria romantis :))
/tyo/


#5

adi | 17 04 2009 @ 8.02.14

padune mung arep pamer bar tuku buku anyar, hehehehe *dijewer paman*

iya ya, mestinya saya foto sampul-sampulnya sekalian :D
/tyo/


#4

DV | 17 04 2009 @ 5.50.07

Saya sih lagi seneng daun mapple dan daun yang nama tumbuhannya amat lucu dan baru saya temui di Australia ini, Jacaranda…

Saya berpikir jangan-jangan itu adalah tanaman asli Indonesia yang ditanam seorang Jejaka yang menikah dengan seorang Janda (Randa – Jawa.)

Iya, dulu saya juga heran kok namanya jacaranda. :)
/tyo/


#3

mantan kyai | 17 04 2009 @ 5.02.44

daun pisang, daun jati. itu doang, yang laen gak ngerti. *halah ok malah berpantun* :D

kalo daun surga? ;)
/tyo/


#2

otholo | 17 04 2009 @ 0.54.33

Paling kenal daun pisang,buat bungkus lemper :)

tebak: daun pisang apa yang cocok buat bungkus lemper dan arem-arem karena “memes”? :)
/tyo/


#1

gagahput3ra | 17 04 2009 @ 0.22.07

Saya sendiri waktu kecil cuma akrab dengan Pohon toge, yg selalu dijadiin ancaman orangtua kalo sy nakal. :D

Pas uda gede ternyata Pohon Toge….

juga pohon bayem, pohon kubis…
/tyo/