Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Mari Memerkosa dan Meranjau Ruang Publik

Jumat, 24 April 2009 @ 01:29 | Umum

… DAN MARI MENGGUGAT PENGUASA KOTA. :)

Ini bukan soal nyentrik-nyentrikan, dan bukan pula soal berfotoria di trotoar untuk Facebook: ada kursi melintang di trotoar. Dan bukan hanya kemarin sore itu saja kursi bertengger di sana penuh kepercayaan diri. Seruas trotoar di Jalan Ahmad Dahlan, Jakarta Selatan, itu memang aneh. Tak hanya kendaraan yang memalang trotoar. Kursi pun boleh. Dan besok bisa saja ada orang berkemah di sana. Bukankah ruang publik boleh diperkosa oleh siapa saja?

Pukul tujuh lebih sedikit, sepulang dari kedai bersama Bu Simbok, saya kembali melewati kursi kemerdekaan yang sudah diduduki tiga orang itu. Tetapi bukan itu saya pikirkan. Saya ingat, tak jauh dari kursi itu ada tonjolan sisa pipa besi berdiamater sekitar 10 cm di trotoar. Sayang saya tak ingat di mana persisnya.

Untunglah dalam gelap saya masih mengingatkan Bu Simbok agar berhati-hati karena ada besi sandungan. Selesai berucap, kaki saya menyandung sisa pipa keparat berkarat itu.

Untung saya pakai sepatu. Kalau cuma bersandal, bukan tidak mungkin akan terluka. Pernah, di tempat lain, sepatu saya robek oleh tonjolan besi siku sisa pemotongan.

Dulu di Rawamangun, kawasan IKIP (eh UNJ), ban mobil yang kendarai langsung meletus karena melindas besi runcing sisa pemotongan. Untung pelan, sangat pelan, karena saat itu saya baru beranjak setelah menunggu tiga mobil saling memotong di pertigaan.

Karena ingin memberi ruang kepada mobil lain, saya pun minggir sehingga melindas tepian trotoar yang melandai bertemu aspal. Di situlah besi terkutuk itu menunggu mangsa. Semoga tak ada kaki manusia yang cedera karenanya.

Di depan Plaza Blok M, pada lintasan penyeberang yang memotong jalur pemisah, juga pernah saya jumpai empat batang besi runcing sisa pemotongan. Saat itu saya sendirian membawa kedua anak saya yang masih kecil. Untung saya sigap. Si kecil langsung saya angkat untuk menghindari musibah.

Tiang-tiang besi yang tak dipakai lagi, itulah sumber ranjau pejalan kaki. Ketika menancapkan tiang, pembuatnya menggunakan cara yang benar dengan menanam dan menyemen. Ketika membongkar papan nama dan rambu, siapa pun pelakunya memilih cara yang menurutnya praktis tapi tolol: cuma menggergaji. Jika masih punya bonus inteligensia sekadarnya maka si pelaku mencoba menumpulkan sisi tajam dengan palu.

Bukan sekali ini saya menulis soal ranjau di trotoar. Yang saya ingin tahu adalah misalkan ada pejalan kaki yang cedera, bahkan cacat seumur hidup akibat kesembronoan dan kedogolan pelaksana pekerjaan kota, dapatkah korban menggugat wali kota dan meminta ganti rugi?

Hanya birokrat bebal dan dungu yang menanggapi setiap (peluang) kecelakaan akibat ranjau dengan ucapan, “Makanya kalo jalan liat-liat!”

Masa sih kita harus mengupayakan perda aneh (dan tidak beradab) yang membolehkan warga menggiring birokrat sengak pengabai keselamatan kota ke jalanan beranjau, dengan menutupi matanya, lantas meminta si birokrat melompat-lompat dan koprol?

Bonus pencelaka warga:
+ Awas! Ranjau!
+ Ranjau penyandung kaki
+ Trotoar milik showroom mobil

Ada 42 komentar | trackback | Depan

#42

venus | 10 05 2009 @ 20.53.13

syukurlah bukan saya yang kesandung sisa pipa biadab. sayang sendalkuuuu…

iya eman-eman sandalmu mbok, bukan kakimu? :P
/tyo/


#41

-em | 29 04 2009 @ 17.12.04

satu lagi, selain ranjau yang betebaran juga ada lobang (jeglongan)! ini termasuk ranjau bukan ya??

jeglongan, bagi saya, tergolong ranjau
/tyo/


#40

phandaka | 29 04 2009 @ 15.02.25

gak cuma trotoar lho..bahkan jalan raya juga diranjau semaunya..ada polisi tidur, portal, drum di tengah jalan, sampai paku-paku bertebaran..jadi..hidup ranjau!!

ya, hidup ranjau! :D
/tyo/


#39

isdiyanto | 29 04 2009 @ 14.19.52

wah bahaya tuh…

kata kita bahaya, tapi kata pak wali (mungkin) tidak
/tyo/


#38

BARRY | 29 04 2009 @ 12.17.51

Serem amat melihat gambar ranjau-ranjau tersebut. Orang bisa tewas tuh.

Memang, Bung!
/tyo/


#37

w4onecom | 28 04 2009 @ 17.57.56

karena di indonesia yg diutamakan adalah Pilpres ntar lagi,,

hkhkkhkh,,

bodo amat pemerintah mikirin yg lain,,

pa lagi nasib pejalan kaki..

kasian kita, :(

itulah nasib kita :(
/tyo/


#36

umam | 28 04 2009 @ 16.28.04

emang gitu di indonesia, sama sekali ngga menghormati pejalan kaki

hidup pejalan kaki

yah pejalan memang kasta terbawah
/tyo/


#35

boyin | 28 04 2009 @ 15.34.35

hal2 seperti itu hanya bisa dilakukan oleh pemerintah negara maju. pemerintah kita kayaknya nggaka akan perhatikan hal seperti itu.

yang mereka bayangkan tentang kemajuan: banyak mal, banyak mobil
/tyo/


#34

wahyu hidayat | 28 04 2009 @ 14.05.16

prihatin paman…prihatin….

yah begitulah…
/tyo/


#33

-GoenRock- | 28 04 2009 @ 9.42.16

itu mesti trotoar yang mbikin Mbahnya yang punya bangku :lol:

betoollll goen!
/tyo/


#32

suryaden | 28 04 2009 @ 3.07.31

kota yang renyah dan penuh kejutan, harus penuh interospeksi katanya, kan anda punya mata… woh memang kota rimba persilatan…

belantara itu bernama jakarta!
/tyo/


#31

novarro | 28 04 2009 @ 2.02.00

Apa perlu ya dikasih RAMBU WARNING di bekas “situs keramat” tsb…?!?

biarpun keramat ya tetap saja diperkosa, kecuali memang angker betulan :)
/tyo/


#30

Trisno CRUSHER | 28 04 2009 @ 1.57.03

ADA PERDA berarti ADA PROYEK dan sudah pasti ADA DUIT…

Oh, gitu yak? :)
/tyo/


#29

CHABELITA tips | 28 04 2009 @ 1.53.29

–>“Makanya kalo jalan liat-liat!”<–

Jadi INGAT WAKTU MASIH PACARAN, pas masih sebulan jadian, pas masih demen gandengan tangan, pas masih-masih…

Tapi sekarang, ah, dia jalan belakangan bawa tas belanjaan, eh saya jalan di depan sambil ngegendong si kecil.

Nggak gandengan tangan lagi…! ah…

ehm! ;)
/tyo/


#28

Kyai slamet | 27 04 2009 @ 21.55.48

Belum lagi bekas galian kabel, pipa air, serat optik dan sebangsatnya itu.
Eh ngomong-ngomong sepatunya simbok keren. Itu produk lokal? Ups produk Indonesia maksudnya?

Merek sepatu simbok itu JK
/tyo/


#27

adi | 27 04 2009 @ 8.35.55

ya namanya juga jakarta paman. yang berduit dan tidak berduit, yg punya dan tidak punya otak, sama-sama saling meranjau hehehe. homo homini lupus :D

kapan ya kita jadi sri rejeki, sri rahayu, atau sri lestari, bukan s(e)rigala? :)
/tyo/


#26

mantan kyai | 26 04 2009 @ 10.31.39

walah…bonus intelejensia itu sangat dipengaruhi nilai upeti pak paman… makanya harap dimaklumi kalau ada besi yang meranjau di ruang publik semacam itu. toh, “saya belum pernah menerima laporan tentang orang yang mati gara2 besi potongan sisa proyek” >> kata penguasa kota :(


#25

Adyaswara | 26 04 2009 @ 4.19.21

Buat birokrat bebal dan dungu, memang pantas kita giring supaya koprol di trotoar…
Great ide, paman

Oops, don’t try this. Dia juga manusia…
/tyo/


#24

Adyaswara | 26 04 2009 @ 4.16.40

Nampaknya sepele tapi akibatnya bs fatal,


#23

denologis | 26 04 2009 @ 2.47.05

haha, udah banyak yang mbahas sepatu. :)

Saya kok tertarik dengan tagline-nya itu lo Paman. Gimana kalo judul dan tagline-nya digabung jadi Mari Memerkosa, Meranjau, dan Menggugat Penguasa Ruang Publik Kota?

**maksa**

Dimulai dari posting Anda, kan? :)


#22

Embun | 25 04 2009 @ 16.58.57

paman.. setapu. eh.. sepatunya beli dimana?


#21

Ahmad | 25 04 2009 @ 16.48.00

Di Malaysia, ada kantor bernama Jabatan Pengaduan Awam, tempat warga mengeluh tentang banyak hal, termasuk fasilitas publik.

Semoga di sini ada kantor serupa agar warga tak celingukan mencari bantuan.

Di sini kapan ya? Mestinya kalo ada pilkada lagi soal ginian ditanyakan! Thanx.
/tyo/


#20

jun | 25 04 2009 @ 12.17.49

Enaknya jadi (calon) eh (mantan) pensiunan, bisa jalan-jalan sesuka hati sekaligus menemukan kebrengsekan-kebrengsekan sebagian warga Jakarta yang hobi memerkosa dan meranjau ruang publik.

mulai memfitnah ya? :))
/tyo/


#19

titiw | 25 04 2009 @ 11.46.34

Aduh.. aku ngilu.. gemana kalo yang kena anak2 kecil yang gak pake alas kaki..? Mereka bukan gak mungkin bakal kena tetanus kan..? Waduh2.. hal kecil macem gini emang harusnya jadi perhatian kita semua, bukan pemerintah aja. Pemerintah juga mana tau ada beginian kalo gak ada laporan dari warganya..?

Lapor ke mana?
/tyo/


#18

hedi | 25 04 2009 @ 2.52.17

dan kita masih saja dipaksa membayar pajak, brengsek memang…bayar pajak tapi fasilitas umum masih payah :D

Memang BRENGSEK!
/tyo/


#17

edratna | 24 04 2009 @ 20.16.48

Jalan kaki di Jakarta memang harus berhati-hati…
Jadi ingat pesan ibu, kalau jalan harus menunduk, agar bisa melihat ada apa di bawah kaki kita…tapi kalau menunduk terus, kita bisa menbrak orang yang berpapasan.
Jl. Ahmad Dahlan, rasanya semakin banyak restoran ya paman?

Makanya Bu, jalan hars rata dan aman. Iya, banyak kedai di sana. Mau nraktir Bu? :)
/tyo/


#16

hoa binh | 24 04 2009 @ 17.13.00

…paman sepertinya sering beredar di seputaran Ahmad Dahlan yaaaa…

apa boleh bikin… :))
/tyo/


#15

pelintas | 24 04 2009 @ 12.50.03

Hanya birokrat bebal dan dungu yang menanggapi setiap (peluang) kecelakaan akibat ranjau dengan ucapan, “Makanya kalo jalan liat-liat!”……pastinya tidak berhati nurani juga,paman

Ya. Pasti.
/tyo/


#14

Eric | 24 04 2009 @ 11.06.24

Di Bandung juga banyak “ranjau” di trotoar. Di Cipaganti ada lubang yang cukup dalam, cukup besar untuk anak kecil masuk ke dalam. Jatuh ke lubang itu, dipastikan cedera parah. Entah apa ada yang pernah celaka dan menuntut walikota.

Berkemah di trotoar? Tentu boleh. Cukup banyak tenda biru tersebar di trotoar :)

Contoh lain. Trotoar terpotong oleh jalan masuk mobil menuju rumah. Terhalang pos polisi. Terhalang tiang listrik dan bak bunga/pohon.

Ayo, kita coba buat daftar trotoar terbaik di kota masing-masing :)

Ide bagus: trotoar terbaik! Perlu situs khusus?
/tyo/


#13

odie | 24 04 2009 @ 11.01.49

ini kursi yang di trotoar posisinya deket sama kantor gue dulu. biasanya dipake buat pak supir nunggu. kalau misalkan emang mau lewat trotoar (misalnya lagi hujan atau parkiran penuh) kursinya boleh diangkat kok :D

biasanya sih kalo lewat situ kita lewatnya melipir-melipir dari pinggir. masih nyaman aja sih, nggak ada bahaya sedikitpun.

ini masih bukan masalah menurut gue. yang parah tuh yang bikin kawinan sampe nutup seluruh jalan. sekali waktu jl. wolter monginsidi pernah jadi korban. padahal kan itu jalanan cukup rame.

dekat kantor? yang dinding kacanya miring ke depan itu? :)
/tyo/


#12

otholo | 24 04 2009 @ 10.39.26

Paman sepatunya kereenn…


#11

didut | 24 04 2009 @ 10.13.40

memang public safety belum menjadi kesadaran di masy kita

mari kita tumbuhkan…
/tyo/


#10

avianto | 24 04 2009 @ 9.33.40

Kalau di sini, pemda kota bisa kena tuntut dan yang nuntut bisa kaya raya… Hm, di satu pihak kesannya berlebihan tapi di pihak lain ya hukum jadi berjalan…

Wah di sini ndak bisa kaya. Harus kaya duluan buat nggugat.
/tyo/


#9

hanny | 24 04 2009 @ 9.00.52

Pilihlah presiden yang bisa menjanjikan trotoar yang luas, lapang, dan aman, serta nyaman bagi pejalan kaki!!! :) – siapa capres yang seneng jalan pagi di trotoar? mungkin lantas ia akan peduli. atau tidak? -

Pejabat di sini tak terbiasa jalan kaki karena kotanya memang tak nyaman buat jalan kaki. Akibatnya mereka kurang peduli.
/tyo/


#8

investonyouth | 24 04 2009 @ 8.49.17

birokratnya tidak pernah terkena kalee, jadinya antheng, adhem ayem aje…sambil ketawa ketiwi di beranda rumahnya.

kalau yang terkena sekelas walikota ke atas baru muncul keluhan dan pembenahan…
/tyo/


#7

nomercy | 24 04 2009 @ 8.17.55

satu hal yg sering dianggap sepele dan disepelekan … kalau sudah kena kaki sendiri barulah kita terpikir dan tersadar … ya itu tadi sayangnya kita bukan birokratnya …

begitulah adanya!
/tyo/


#6

Lutfi | 24 04 2009 @ 8.10.21

kayaknya perlu juga itu paman dibuatin perda saru yg aneh2 untuk itu :D

Hah?
/tyo/


#5

Chic | 24 04 2009 @ 6.56.37

ooh ini sehabis sesi curhat semalam itu Paman :P


#4

geblek | 24 04 2009 @ 6.19.08

itu gak boleh dilewati om, emang yg bikin trotoar itu siapa

oh iya ya…
/tyo/


#3

DV | 24 04 2009 @ 5.44.00

Betul, Paman!
Saya setuju bahwa sebenarnya diluar private property, semua adalah tanggung jawab penyelenggara negara.

Tentu!
/tyo/


#2

ardi | 24 04 2009 @ 4.08.37

gw dah cukup ngumpulin pahala (untuk nebus dosa gw sebagai homoseks aja masih surplus tuh).

sekarang giliran pemerintah ah.

iya
/tyo/


#1

satriak | 24 04 2009 @ 3.55.54

Om, ini kesempatan besar untuk mengamalkan salah satu hadits nabi Muhammad:
“Membuang duri dari jalan adalah sebagian dari iman”.

Bagus sekali. Terima kasih.
/tyo/