Berapa Jam Mendengarkan Musik?
ORANG TUA TAK PUNYA WAKTU UNTUK LAGU…

“Tambah tua malah nggak ada waktu buat nikmatin musik. Satu-satunya kesempatan pas nyetir. Itu aja lebih sering radio,” keluh seorang kawan. Di rumah dia harus berbagi dengan televisi. Di kamar tak mungkin memasang pemutar CD seperti anak-anaknya karena istrinya lebih menyukai televisi.
Menikmati musik yang dia maksudkan adalah mendengarkan musik yang dipilihnya sendiri. Bukan terpaksa mendengarkan musik yang diputar oleh orang lain.
Pakai headphone atau earphone? Tak semua orang dari generasi saya terbiasa dengan Walkman pada masa mudanya, dan setelah tua tak mampu membiasakan diri dengan portable digital music player.
Saya sendiri sejak dulu termasuk tak betah dengan headphone. Kuping cepat panas dan pegal. Saya lebih memilih menyetel musik (kadang juga dari radio) secara pelan, suaranya langsung dari kotak spiker sekadarnya, asal bunyi. Jika memungkinkan, dan lingkungan saya anggap menenggang, maka volume pun saya naikkan sedikit.
Keluhan bahwa makin tua makin sedikit waktu untuk menikmati musik tak hanya saya dengar dari seorang. Jangankan lagu baru, untuk lagu lama pun kurang waktu. Barangkali itulah sebabnya orang usia 40+, kalau ada waktu, cenderung memutar lagu lama. Selain bernostalgia (ini alami, Anda yang masih sangat belia pun akan mengalami hahaha) ya karena cuma itu yang dikenalnya.
Taruh kata pemukulrataan saya ini benar, paling hanya cocok untuk generasi saya. Generasi yang lebih muda, dan jauh lebih muda, mengalami terpaan dengaran yang jauh lebih kaya melalui peralatan pribadi. Akhirnya musik pribadi menjadi kebiasaan dan kebutuhan. Kuping bisa diajak kompromi untuk bersaudara dengan headphone. Ketika usia bertambah mereka terbiasa menulikan diri secara bertahap dengan sumbat kuping bersuara….
Generasi saya, dan di atas saya, saat bocah mengalami hanya ada satu radio, satu turntable, dan satu cassette player untuk satu rumah. Alat hiburan adalah milik bersama –– mirip televisi pada umumnya keluarga sekarang.
Baru pada awal 80-an, seiring bertambahnya kemakmuran, maka satu kamar bisa memiliki radio dan cassette player sendiri. Setidaknya pada mahasiswa pemondok kemewahan kecil kelas menengah itu mulai terasa.
Saat itu cara murah untuk mendapatkan pemutar stereo adalah memanfaatkan cassette player bekas untuk mobil. Tinggal menambahkan adaptor dan spiker rakitan sendiri terciptalah musik pribadi –– bisa nonstop, auto-reverse pula. Itu lebih berbunyi ketimbang pemutar mono dengan spiker yang menyatu.
Di bawah kelas itu anak indekosan hanya punya radio transistor dua band (guyonnya: kalau lagi bokek, yang satu band digadaikan) yang bisa ditaruh di bibir sumur saat mencuci pakaian.
Masuknya mini-compo pada pertengahan 80-an, dimulai dari Sony, telah memperkaya cara menikmati musik secara pribadi. Bahwa kamar sebelah mengeluhkan kegaduhan stan pasar malam, ya silakan berkompromi.
Begitu seterusnya sehingga untuk penikmatan musik pribadi muncul komputer multimedia, ponsel, dan akhirnya iPod(-iPod-an). Lantas ke mana orang-orang tua?
Sebagian dari mereka bisa adaptif dengan earphone sambil memerhatikan sekeliling, bahkan diajak bicara pun merespon. Sebagian lainnya masih bergantung pada kotak spiker. Sialnya kalau di kantor tak memiliki ruang sendiri maka mereka akan mati angin. Meringkuk dalam kubus kerja, padahal hanya mengandalkan spiker bawaan komputer, berarti harus menenggang kuping tetangga agar tak tercipta stan pasar malam.
Ketika musik digital memurah, bajakannya ada di mana-mana (terutama untuk “musik demokratis” –– disukai banyak kuping), dan pemutarnya pun ada di mana-mana, ada saja yang merasa tak punya waktu untuk menikmati musik kecuali ketika menyetir sendirian.
Seorang kawan getun ketika menyadari bahwa dia hapal beberapa lagu baru akibat redundansi oleh televisi dan komputer sejawatnya. Katanya, “Cilaka bener, soalnya aku nggak suka lagu-lagu itu tapi otakku kadung kecuci!”
Memang cilaka. Jangan-jangan saya juga.
© Gambar asli praolah: unknown
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012Ada saja cara membangun suasana spasial kedai agar tetamu mendapatkan kesan mendalam. Misalnya ala modiste, dengan mesin jahit dan baju baru terpajang. Lho, bukannya kalau kita bertandang dan makan di tempat tetangga atau saudara yang pe... […]postyorous menerous »»»
- Bersantap Bersama Mesin Jahit May 21, 2012
Cicitcuit!- @PamanTyo Paman, kenapa di Crome blognya paman contains malware ya? May 24, 2012 metropulutan (Kom. Bloger Salatiga)
- @memethmeong banyak hal nggak terduga kok tentang pakdhe @mbilung | @imanbr @ndorokakung @pamantyo May 23, 2012 mbakdos (Agatha N. Ardhiati)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Tarzan Talok di Pinggir Kali
July 6, 2010 by AntyoMESTINYA BUAH POHON PENEDUH ITU YANG DIDOYANI MANUSIA.
Beberapa hari belakangan, setiap berangkat meninggalkan rumah, saya melihat ada saja anak yang memanjat, atau bergelantungan seperti Tarzan, di pohon talok atau kersen di pinggir kali dekat rumah. Tak ada yang tercebur maupun menceburkan diri ke kanal yang disebut kali karena airnya dangkal itu. Mungkin [...]
Recent Comments
Romi Julio Rahman» sangat memukau sekali artikel anda
Eka» Jadi inget waktu masih kecil.. =( Sekarang udah jarang banget perahu othok2 ini.. hiks hiks.. =(
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Hmm Papa saya dulu suka banget nyanyi tapi kesini-sini semakin jarang, malah sukanya nonton tv (dan beliau nggak suka dengar lagu-lagu sekarang, katanya chessy (keju!? tentu tidak)). Dan pas saya banding2kan kayaknya musik jaman Papa memang banyak yang lebih bermakna dari lagu2 jaman sekarang, akhirnya saya malah lebih suka lagu-lagu oldies…
—
Setiap zaman punya musik sendiri-sendiri kok… :)
/tyo/
klo situ pake tape mobil, saya pake CD-ROM bekas (tanpa komputer) buat dengerin lagu di kosan. lumayan murah meriah. tapi bisanya hanya cd lagu bukan mp3 :(
–
yang penting bunyi dan bisa ikutan nyanyi. :D
/tyo/