Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Kawin Muda, Kawin Tua

Jumat, 01 Mei 2009 @ 21:05 | Umum

SELAIN NASIB DAN PILIHAN, APA LAGI?

Maka sinyo itu pun bertanya soal pacaran dan perkawinan, “Mana yang lebih egois(tis), cowok atau cewek, Mas Paman?” Jawaban saya: cewek cenderung lebih egoistis. Kenapa?

Cewek cenderung kejar setoran, ingin menikah selagi masih subur, dan sadar bahwa semakin tua akan semakin sempit pasarnya, sehingga ujung-ujungnya cowok diminta mengalah, tapi cewek malu mengakui –– apalagi mengumumkan diri –– kalau takut jadi perawan tua, apalagi sampai pakai kaos ‘Aku Takut Jadi Perawan Tua”. :D

Itu bukan pertanyaan pertama yang saya terima. Jawaban saya juga mirip RBT; begitu terus. Taruh kata sejoli pacaran sejak usia 17 lantas cowoknya memilih menikah setelah pensiun, dan harus punya anak, maka besar kemungkinan si cewek akan memilih cowok lain dengan kesedihan utama mengapa pacarnya yang sudah disekolahkan orangtuanya itu tak paham biologi manusia.

Ilmiahkah pendapat saya? Tentu tidak. Berdasarkan surveikah? Nggak dong. Yakin kalau itu benar? Entah.

Maka baiklah saya ceritakan teman saya. Pak A selalu menganjurkan anak-anak muda yang pacaran, apalagi kalau sudah bekerja, untuk segera kawin. “Kalo nunggu siap, kalian nggak akan siap,” katanya. NB: Pak A itu kawin muda, setahun setelah bekerja.

Lain lagi Pak B. Dia menikah dalam usia 19. Kalau jalan bersama putra tunggalnya, mereka seperti kakak beradik. Bedanya, bapaknya gondrong dan anaknya cepak. Persamannya: mereka pakai anting-anting.

Nah ketika menjelang 40 Pak B menyambut sejawat yang barusan menikah dalam usia menjelang 45. “Curang dia!” kata Pak B kepada saya. Kami bertiga tertawa.

Mari kita menengok Pak C. Dia menikah dalam usia selewat 40 ketika kepalanya mulai beruban (dan kian beruban). Salah satu hasil: dia kesal jika orang lain menyangka anaknya sebagai cucu atau anak dari istri kedua lantaran jarak usianya jauh banget. “Tahu gitu aku kawin muda,” gerutunya.

Bagaimana dengan Pak D dan istrinya. Pak bisa memahami jika putri tunggalnya yang berusia 22 ingin segera kawin. Bahkan dia membolehkan putrinya menikah tanpa resepsi –– lebih baik duitnya buat berbulan madu keliling dunia. Yang penting cinta, dan suaminya baik.

Akan tetapi Bu D kurang setuju dengan dua alasan. Pertama: sayang terhadap masa muda si genduk. Kedua: si ibu (40-an) masih ingin menikmati karier dan tak ingin diganggu oleh cucu yang berkemungkinan besar akan dititipkan ibunya kepada neneknya karena si ibu muda masih suka ngelencer dan hura-hura.

Baiklah, jawaban netral dan aman untuk semua kasus itu pastilah “itu semua soal pilihan dan mestinya konsekuensinya sudah dipikirkan masak-masak”. Dunia aman dan damai deh.

Oh dunia tak berubah? Membosankan juga. Untunglah ada perubahan. Beberapa orang yang lebih tua dari saya heran mengapa sebagian cewek sekarang tak terburu-buru menikah. Tetap tenang dalam usia menjelang bahkan setelah 30, dan bukan karena pasar sepi, toh teman kencannya ada saja, dan yang patah hati juga ada.

Tanpa merujuk data sahih, saya bilang bahwa anak-anak produk KB lebih telaten dalam menikmati dunia. Sekolah secepat mungkin, bekerja sesuai hati dan syukur target gaji, selebihnya adalah bersenang-senang, termasuk traveling. Untuk menikah tak perlu buru-buru –– artinya “teori” saya tentang “egoisme wanita” itu gugur.

Generasi ayah dan ibunya, dan yang lebih tua, kelahiran tahun 50-an dan 60-an, biasanya lahir dalam keluarga besar yang jumlah anak lebih dari empat. Jika mas dan mbakyu lulus lalu bekerja maka mereka harus membantu menyekolahkan adik-adiknya — termasuk adik ipar, bahkan adik sepupu. Setelah itu ikut merenovasi rumah orangtua. :D

Kecil peluang bagi mereka untuk bersenang-senang secara leluasa, misalnya melancong ke luar negeri, membangun perpustakaan pribadi, dan memodifikasi mobil.

Hubungan dengan tidak tahan melajang berlama-lama? Itulah yang saya nggak tahu. Generasi lama itu meskipun repot dan harus memendam impian senang-senang anehnya cenderung lekas kawin. Kalau pacarannya sejak kuliah maka sebelum 30 sudah menikah.

© Ilustrasi: wvs.topleftpixel.com

Ada 31 komentar | trackback | Depan

#31

kamil | 14 09 2009 @ 11.12.53

Setuju banget coy

yang ada di kepala gw sama persis sm tulisan di sebelah

We have to enjor our life coz we only live once in this god damn big world


#30

Seni Krajinan Tangan Dari Sampah | 05 06 2009 @ 7.10.21

“Kalau pacarannya sejak kuliah maka sebelum 30 sudah menikah”

Target dari orang tua Pak!!! He he he….

Apa? Target? :)
/tyo/


#29

deni oktora | 03 06 2009 @ 9.02.56

untuk cowok, menikah pada kisaran umur 40 tahun tentu tidak masalah, asalkan sudah mapan (rumah,kendaraan pribadi minimal harus punya)

tapi kalau perempuan di kisaran umur 31 tahun ke atas belum menikah??

maka akan ada asumsi negatif yang dilempar masyarakat kepadanya.

1. gak laku (entah karena jelek secara fisik atau secara sifat)

2. terlalu picky (pemilih) mau cowok yang tampan seperti edward cullen, yang tajir seperti pangeran harry, yang romantis seperti shakespeare, yang kulitnya kecoklatan seperti ricky martin. yang..dan yang..lainnya..

3. terlalu perfect di mata lelaki. cantik, putih, tinggi, body bak gitar espanyola, alumni harvard university dengan gelar Phd, karir cemerlang, dan gaji puluhan juta rupiah yang tentu bila cowok menikah dengan cewek tipe ini bila tidak selevel, maka siap2 jadi bahan celaan.

4. tidak memiliki otak yang smart enough, alias telmi, ngomong apa-apa di ajak bicara nggak nyambung. perlu diketahui cowok metropolitan seperti saya ini lebih menyukai cewek yang smart walau secara fisik biasa-biasa saja ketimbang cantik seperti luna maya, namun tidak bisa caranya membuat account di facebook atau twitter.

untuk anda yang pria, mari sama2 mengucapkan “thanks god I’m a MAN”

hah?
/tyo/


#28

ryang | 18 05 2009 @ 1.28.41

paman, yg terbayang ketika memikirkan pernikahan adalah pestanya itu. aku takut yg datang sedikit, atau malah ga ada yg datang karena kenalanku sedikit. aku juga takut ga bisa bersosialisasi dgn tetangga. aku juga takut ga bisa kompak sama keluarga istri. apa ini berarti aku harus cari istri yg sociable, ramah, dan terbuka utk mengimbangi kepayahanku dlm bidang sosialisasi? mohon saran serius.

Ada cara praktis. Menikahlah di tempat yang jauh dari masing-masing keluarga. Ada alasan untuk tak mengundang orang. Setelah itu pasanglah iklan di koran, dan bikin pemberitahuan di Facebook, supaya orangtua dan dituduh membiarkan anak-anaknya kawin diam-diam. :)
/tyo/


#27

racheedus | 15 05 2009 @ 10.58.54

Ada anekdot tentang perempuan yang mencari pasangan. Saat berumur 17-an, ia melihat dirinya dada seraya berkata, “Siapa saya.” Saat berusia 25-an, ia melihat-lihat calon pasangannya lantas berkata, “Siapa dia.” Saat berumur 35-an, ia tak lagi melihat calon dan dirinya lantas berkata, “Siapa saja!”

Waduh, bisa bikin marah orang nih… :P
/tyo/


#26

Bang Del | 10 05 2009 @ 15.08.56

Menikah itu merupakan pilihan yang berat (it’s me) Mungkin aku sendiri menikah tua juga ntar. Ha..ha..

soal pilihan kok, bang. :D
/tyo/


#25

digitalcatalogue | 09 05 2009 @ 23.21.36

menikah tua/muda boleh aj ..
but : orang yang menikah tua kecenderungan anak2 nya lebih mateng ..

oh ya? :D
/tyo/


#24

bestaffiliate.biz | 09 05 2009 @ 21.13.50

udah kebelet nikah nih

kebelet? duh istilahnya itu lho :D
/tyo/


#23

Kardjo | 09 05 2009 @ 13.09.38

Tetesan embunnya bagus banget paman. Moto dimana?

Lha kan sudah dibilang bukan jepretan saya? :D
/tyo/


#22

mastongki | 09 05 2009 @ 3.47.14

…selebihnya bersenang-senang, termasuk traveling…
*merasa ada yang disinggung :D*
lah, kalo kawin, eh nikah muda nanti perkaranya bisa kayak Manohara itu Paman…

bersenang-senanglah, nak tongki
/tyo/


#21

kw | 09 05 2009 @ 3.42.06

ribetnya menikah…
jadi pilihan paling keren nya….?
:)

ribet. tapi banyak orang melakukannya. mungkin manusia memang menyukai keribetan. :D
/tyo/


#20

Kyai slamet | 07 05 2009 @ 2.02.29

Nunggu komen Epat :D

Oh, Epat kawin muda kan?
/tyo/


#19

frozzy | 06 05 2009 @ 13.44.49

tadinya punya pikiran ingin menikah selagi masih subur, tapi seiring waktu, keinginan itu perlahan berubah, ingin menikah ketika sudah mau…. hehehehe…. mau apa yah ?

… ketika sudah mau nikah, kan? :)
/tyo/


#18

-tikabanget- | 05 05 2009 @ 2.18.40

Pak A bahkan memanggil saya ke Jakarta, katanya ingin mencarikan jodoh buat saya..!!!!
Aaaaa…!!!
Tiaraaapp…!!!

Mbak Tika, yang Anda maksud bukan Pak Antyo kan ya? :D
/tyo/


#17

Andhika | 04 05 2009 @ 22.41.00

Saya sekarang menginjak 40 belum menikah! Hidup menurut orang jawa sawang-sinawang, jadi posisi sudah atau belum menikah sama-sama ada enak dan ada tidak enaknya. Saya sekarang bisa pergi2 3 hari 3 malam tanpa ada yang mencari. Kalau yang sudah nikah apa bisa??? Wkwkwkwkwkkkk………..

Merdeka! :))
/tyo/


#16

lenje | 04 05 2009 @ 11.51.06

Masih jadi isu ya soal kawin muda/kawin tua/gak kawin? Udah pernah buat tally berapa kali Paman posting soal ini? :)

masih jadi isu, lenje. dan masih terus ditulis :))
/tyo/


#15

adipati kademangan | 04 05 2009 @ 10.05.34

Kata orang tua, dengan menikah itu justru akan menutupi kekurangan-kekurangan yang ada pada diri. kalau masih belum siap menikah karena masih kurang ini itu, maka menikahlah.

oh ya? ;)
/tyo/


#14

wahyu hidayat | 04 05 2009 @ 9.32.34

saya hanya ingin cegera menikah paman *merasa sudah waktunya*

ayolah, eh silakan :)
/tyo/


#13

otholo | 04 05 2009 @ 0.20.50

Kalau memang belum siap nikah ya jangan dipaksakan

betooolll!
/tyo/


#12

antowi | 03 05 2009 @ 22.06.36

Salah satu hiburan (menghibur diri sendiri :D ) saya nyanyi I’m single & Very Happy he he he

Ayo nyanyi!
/tyo/


#11

Abihaha | 03 05 2009 @ 11.02.16

Kawin muda saja pakdhe, sudah banyak conto bilamana lewat 40, sukses, terkenal, banyak ditanggap di depan mimbar atau layar kaca, bisa minta her.

Wah saya ndak ikutan karena ndak ngerti. :)
/tyo/


#10

DV | 03 05 2009 @ 10.24.52

Kawin tua atau kawin muda itu nggak masalah Paman asal nikahnya yang pas :)
Jangan terlalu cepat nikah sesudah kawin untuk pertama kalinya dan jangan juga terlalu lama menikahi setelah kawin :)

*loh*

TROP MARKOTROP!
/tyo/


#9

oscar | 02 05 2009 @ 22.18.19

ah topik yg sensitif sekali untuk orang seumur saya…hahahaha…

sensitif untuk yang bawah umur
/tyo/


#8

geblek | 02 05 2009 @ 16.23.52

enakan mana paman kawin muda apa kawin tua

enak semua. asal pasangannya selalu lebih muda.
/tyo/


#7

nothing | 02 05 2009 @ 12.35.19

asekk, aku wis kawin :)

hore!
/tyo/


#6

galihsatria | 02 05 2009 @ 7.55.28

Ah, jangan ingatkan saya soal menikah paman, ternyata semakin sedikit kawan2 seangkatan yang masih single. Kalau nggak pengantin baru ya sudah bertunangan :D

*curcol*

ya, ya, ya. tabahlah nak. tapi berbahagialah dengan kebebasanmu. :)
/tyo/


#5

zainal | 02 05 2009 @ 6.50.06

nikah gak usah kaya dulu,kebayakan fikiran kaya tapi kekayaan bukan segalanya.

baguslah itu :)
/tyo/


#4

minanube | 02 05 2009 @ 0.22.32

karena orang muda sekarang lebih perhitungan soal harta hah5x…

maunya nikah kalo udah mapan, mapan di kasur hi5x… bercanda dung :)

lha kasur kan mahal. perlu uang itu. :D
/tyo/


#3

Yahya Kurniawan | 01 05 2009 @ 22.24.38

Tapi biasanya pasangan yang sudah menikah itu menyesal, paman. Percayalah.

*menyesal kenapa gak menikah dari dulu*

ada hubungannya sama v*******i gak? :D
/tyo/


#2

jun | 01 05 2009 @ 22.23.37

“ Napa sih kalo cewek melajang kelamaan dipersoalkan tapi kalo cowok biar kata sampe lapuk nggak begitu dipermasalahkan?”. HAHAHAHAHA.

:))
/tyo/


#1

haris | 01 05 2009 @ 21.30.52

ada lelucon: dulu orang2 di desa2 punya banyak anak karena belum ada hiburan sehingga satu2nya hiburan adalah…..:) hal yg sama bs berlaku dlm kasus ini kan, paman? generasi tua merasa tak banyak yg bs dikerjakan lagi setelah mereka kerja sehingga ya buru2 nikah. sedangkan anak2 muda kita punya begitu bnyk obsesi!

orang jawa bilang: kahanan! :D
/tyo/