Kawin Muda, Kawin Tua
SELAIN NASIB DAN PILIHAN, APA LAGI?

Maka sinyo itu pun bertanya soal pacaran dan perkawinan, “Mana yang lebih egois(tis), cowok atau cewek, Mas Paman?” Jawaban saya: cewek cenderung lebih egoistis. Kenapa?
Cewek cenderung kejar setoran, ingin menikah selagi masih subur, dan sadar bahwa semakin tua akan semakin sempit pasarnya, sehingga ujung-ujungnya cowok diminta mengalah, tapi cewek malu mengakui –– apalagi mengumumkan diri –– kalau takut jadi perawan tua, apalagi sampai pakai kaos ‘Aku Takut Jadi Perawan Tua”. :D
Itu bukan pertanyaan pertama yang saya terima. Jawaban saya juga mirip RBT; begitu terus. Taruh kata sejoli pacaran sejak usia 17 lantas cowoknya memilih menikah setelah pensiun, dan harus punya anak, maka besar kemungkinan si cewek akan memilih cowok lain dengan kesedihan utama mengapa pacarnya yang sudah disekolahkan orangtuanya itu tak paham biologi manusia.
Ilmiahkah pendapat saya? Tentu tidak. Berdasarkan surveikah? Nggak dong. Yakin kalau itu benar? Entah.
Maka baiklah saya ceritakan teman saya. Pak A selalu menganjurkan anak-anak muda yang pacaran, apalagi kalau sudah bekerja, untuk segera kawin. “Kalo nunggu siap, kalian nggak akan siap,” katanya. NB: Pak A itu kawin muda, setahun setelah bekerja.
Lain lagi Pak B. Dia menikah dalam usia 19. Kalau jalan bersama putra tunggalnya, mereka seperti kakak beradik. Bedanya, bapaknya gondrong dan anaknya cepak. Persamannya: mereka pakai anting-anting.
Nah ketika menjelang 40 Pak B menyambut sejawat yang barusan menikah dalam usia menjelang 45. “Curang dia!” kata Pak B kepada saya. Kami bertiga tertawa.
Mari kita menengok Pak C. Dia menikah dalam usia selewat 40 ketika kepalanya mulai beruban (dan kian beruban). Salah satu hasil: dia kesal jika orang lain menyangka anaknya sebagai cucu atau anak dari istri kedua lantaran jarak usianya jauh banget. “Tahu gitu aku kawin muda,” gerutunya.
Bagaimana dengan Pak D dan istrinya. Pak bisa memahami jika putri tunggalnya yang berusia 22 ingin segera kawin. Bahkan dia membolehkan putrinya menikah tanpa resepsi –– lebih baik duitnya buat berbulan madu keliling dunia. Yang penting cinta, dan suaminya baik.
Akan tetapi Bu D kurang setuju dengan dua alasan. Pertama: sayang terhadap masa muda si genduk. Kedua: si ibu (40-an) masih ingin menikmati karier dan tak ingin diganggu oleh cucu yang berkemungkinan besar akan dititipkan ibunya kepada neneknya karena si ibu muda masih suka ngelencer dan hura-hura.
Baiklah, jawaban netral dan aman untuk semua kasus itu pastilah “itu semua soal pilihan dan mestinya konsekuensinya sudah dipikirkan masak-masak”. Dunia aman dan damai deh.
Oh dunia tak berubah? Membosankan juga. Untunglah ada perubahan. Beberapa orang yang lebih tua dari saya heran mengapa sebagian cewek sekarang tak terburu-buru menikah. Tetap tenang dalam usia menjelang bahkan setelah 30, dan bukan karena pasar sepi, toh teman kencannya ada saja, dan yang patah hati juga ada.
Tanpa merujuk data sahih, saya bilang bahwa anak-anak produk KB lebih telaten dalam menikmati dunia. Sekolah secepat mungkin, bekerja sesuai hati dan syukur target gaji, selebihnya adalah bersenang-senang, termasuk traveling. Untuk menikah tak perlu buru-buru –– artinya “teori” saya tentang “egoisme wanita” itu gugur.
Generasi ayah dan ibunya, dan yang lebih tua, kelahiran tahun 50-an dan 60-an, biasanya lahir dalam keluarga besar yang jumlah anak lebih dari empat. Jika mas dan mbakyu lulus lalu bekerja maka mereka harus membantu menyekolahkan adik-adiknya — termasuk adik ipar, bahkan adik sepupu. Setelah itu ikut merenovasi rumah orangtua. :D
Kecil peluang bagi mereka untuk bersenang-senang secara leluasa, misalnya melancong ke luar negeri, membangun perpustakaan pribadi, dan memodifikasi mobil.
Hubungan dengan tidak tahan melajang berlama-lama? Itulah yang saya nggak tahu. Generasi lama itu meskipun repot dan harus memendam impian senang-senang anehnya cenderung lekas kawin. Kalau pacarannya sejak kuliah maka sebelum 30 sudah menikah.
© Ilustrasi: wvs.topleftpixel.com
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Hujan, Bal-balan, dan Ruang Publik
November 30, 2009 by AntyoMAKA ADA SAJA ANAK OBES DENGAN ASUPAN KALORI BERLEBIH. :)
Saya tak paham sepakbola tapi kadang bisa menikmati sejenak bal-balan ngawur anak kecil. Saya sebut ngawur karena tanpa sepatu, tanpa pelatih, lokasi di mana saja, dengan aturan yang dibuat sendiri. Dari sana saya selalu melihat ada saja bocah yang gesit, lincah, ulet, dan bisa [...]
Recent Comments
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Setuju banget coy
yang ada di kepala gw sama persis sm tulisan di sebelah
We have to enjor our life coz we only live once in this god damn big world
“Kalau pacarannya sejak kuliah maka sebelum 30 sudah menikah”
Target dari orang tua Pak!!! He he he….
—
Apa? Target? :)
/tyo/
untuk cowok, menikah pada kisaran umur 40 tahun tentu tidak masalah, asalkan sudah mapan (rumah,kendaraan pribadi minimal harus punya)
tapi kalau perempuan di kisaran umur 31 tahun ke atas belum menikah??
maka akan ada asumsi negatif yang dilempar masyarakat kepadanya.
1. gak laku (entah karena jelek secara fisik atau secara sifat)
2. terlalu picky (pemilih) mau cowok yang tampan seperti edward cullen, yang tajir seperti pangeran harry, yang romantis seperti shakespeare, yang kulitnya kecoklatan seperti ricky martin. yang..dan yang..lainnya..
3. terlalu perfect di mata lelaki. cantik, putih, tinggi, body bak gitar espanyola, alumni harvard university dengan gelar Phd, karir cemerlang, dan gaji puluhan juta rupiah yang tentu bila cowok menikah dengan cewek tipe ini bila tidak selevel, maka siap2 jadi bahan celaan.
4. tidak memiliki otak yang smart enough, alias telmi, ngomong apa-apa di ajak bicara nggak nyambung. perlu diketahui cowok metropolitan seperti saya ini lebih menyukai cewek yang smart walau secara fisik biasa-biasa saja ketimbang cantik seperti luna maya, namun tidak bisa caranya membuat account di facebook atau twitter.
untuk anda yang pria, mari sama2 mengucapkan “thanks god I’m a MAN”
—
hah?
/tyo/
paman, yg terbayang ketika memikirkan pernikahan adalah pestanya itu. aku takut yg datang sedikit, atau malah ga ada yg datang karena kenalanku sedikit. aku juga takut ga bisa bersosialisasi dgn tetangga. aku juga takut ga bisa kompak sama keluarga istri. apa ini berarti aku harus cari istri yg sociable, ramah, dan terbuka utk mengimbangi kepayahanku dlm bidang sosialisasi? mohon saran serius.
—
Ada cara praktis. Menikahlah di tempat yang jauh dari masing-masing keluarga. Ada alasan untuk tak mengundang orang. Setelah itu pasanglah iklan di koran, dan bikin pemberitahuan di Facebook, supaya orangtua dan dituduh membiarkan anak-anaknya kawin diam-diam. :)
/tyo/
Ada anekdot tentang perempuan yang mencari pasangan. Saat berumur 17-an, ia melihat dirinya dada seraya berkata, “Siapa saya.” Saat berusia 25-an, ia melihat-lihat calon pasangannya lantas berkata, “Siapa dia.” Saat berumur 35-an, ia tak lagi melihat calon dan dirinya lantas berkata, “Siapa saja!”
—
Waduh, bisa bikin marah orang nih… :P
/tyo/
Menikah itu merupakan pilihan yang berat (it’s me) Mungkin aku sendiri menikah tua juga ntar. Ha..ha..
—
soal pilihan kok, bang. :D
/tyo/