Jabatan: Diincar, Diperebutkan
TAK BAKAL MENJADI KERE, KENAPA TAKUT?
Ini soal basi bagi Anda. Tetapi bagi saya tetap menarik dan membuat saya tak habis pikir. Dari sebuah kasus pembunuhan, yang kabarnya gara-gara wanita caddy, ada cerita tentang perjuangan korban untuk meraih dan mempertahankan jabatan. Terkabar, si korban telah sekian kali mendatangi petinggi yang berwenang, bila perlu ke rumahnya, bahkan mengintil ke sejumlah acara tenis segala.
Itu jelas menuntut kegigihan. Perlu pasokan informasi jadwal tokoh incaran. Butuh kaki tangan untuk melancarkan urusan — pun misalnya hanya sekadar bersirobok. Mirip reporter ulet yang bila perlu harus berbaik-baik dengan sopir dan pembantu narasumber.
Kemudian terkabar juga seorang ketua partai (cukup) besar akan mengundurkan diri karena merasa dirongrong, bahkan oleh pendiri partai yang orangnya dia hormati. Lantas teman-temannya mengingatkannya, menahannya, dan seterusnya.
Dalam hal apa jabatan harus dipertahankan mati-matian?
Bergantung pada kasus, kata orang. Di kalangan kampus, bisa berarti supaya kehidupan tetap didominasi kelompok si pemilik jabatan, demi pencapaian cita-cita. Bisa juga si pemgincar atau pemertahan jabatan mengaku tak ingin mendominasi, karena memang tak dominan, tetapi justru untuk mengerem dominasi kelompok lain demi sebuah keragaman.
Jawaban paling gampang, dan sekaligus berjarak, adalah, “Silakan saja asalkan melalui cara-cara yang bermartabat.” Tanpa tipu daya, tanpa kelicikan, tanpa fitnah — memang sih itu semua bisa dibungkus sebagai strategi dan taktik, hanyalah jalan untuk mencapai tujuan.
Bagaimana dengan jabatan partikelir, semi-partikelir (BUMN dan kuasi-BUMN), serta jabatan publik, bahkan partai?
Langsung saja ke partai dulu. Bagi saya, kalau orang lain memang tak menginginkan lha ya sudah, tinggal turun jabatan. Malah bisa menghemat tenaga dan uang. Kalau keadaan memburuk ya salah sendiri kenapa tempo hari minta ketuanya diganti. Si tersingkir tinggal menjulurkan lidah atau pura-pura cuek.
Adapun untuk jabatan-jabatan eksekutif yang berujung pada jalur rezeki (bayangkan, total bonus untuk komisaris dan direktur sebuah bank BUMN mencapai Rp 61,3 miliar), bagi orang tertentu memang harus dikejar.
Sedangkan jabatan di lingkungan birokrasi, tampaknya juga jadi rebutan. Tak sedikit orang ingin naik pangkat, apapun caranya, bila perlu menyogok dan atau cari beking. Pengacara dari perwira polisi tersangka pelaku pembunuhan tadi menyatakan kliennya memang menginginkan perbaikan nasib.
Cara selain menyogok dan lobi adalah yang tak ada hubungannya dengan kinerja meritokratis. Lihat saja iklan-iklan “layanan paranormal”. Ada saja paket untuk disukai atasan dan kenaikan pangkat.
Pernah saya jumpai kasus, di sebuah kantor setingkat kecamatan, seorang pejabat rendahan baru mendapat halangan melalui cara (yang katanya) magis. Dia bisulan parah, sulit disembuhkan. Ternyata di bagian bawah jok kursi kerjanya ada paku dari dukun. ;)
Ada pula kasus seorang manajer difitnah, dipermalukan, dan dikerjain habis-habisan, sampai dia mengundurkan diri karena tak tahan. Tetapi setelah menjadi orang bebas, gangguan dari rival, melalui orang lain, tak juga kendur. Intinya jangan sampai orang itu kembali, misalnya sebagai tenaga outsource.
Contoh lain yang masih aktual juga ada. Itu lho sebagian dari para caleg gagal yang ternyata mengincar kekuasaan (agar menghasilkan rupiah) sehingga menganggap biaya kampanye sebagai modal yang harus kembali.
Jabatan memang berkaitan dengan imbalan. Tentulah hak setiap orang untuk meningkatkan kesejahteraan dirinya. Tetapi mereka yang berposisi lebih, dalam arti kehilangan jabatan (bahkan kehilangan pekerjaan) tak membuatnya jadi kere, kadang tak berani menanggalkan atau menjauhi jabatan. Mereka lebih berani bertarung demi jabatan. Sampai-sampai tak mau mendengarkan nuraninya sendiri.
Mungkin memang keberanian seperti itulah yang membuat hidup lebih bernilai. Setidaknya bagi kaum pengincar dan perebut jabatan yang mengabaikan meritokrasi, atau hidup dalam lingkungan yang tak menghargai etos kerja, dan meyakini segala upayanya meraih jabatan adalah cara yang smart.
“Habis, sistemnya gitu. Masa sih nggak ikut? Rugi. Orang yang lebih malas dari kita, bahkan lebih bodoh, akan berkuasa,” kata seseorang.
Apa tadi, sistem? Kilah klasik. Pembenar yang awet untuk ikut arus.
23 Responses to Jabatan: Diincar, Diperebutkan
Leave a Reply Cancel reply
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Tahu Bacem February 8, 2012Temannya tempe bacem. Tapi paling enak itu ya bacem dengan tahu segitiga berkulit dan tempe mlenuk. Permalink | Leave a comment » […]postyorous menerous »»»
- Tahu Bacem February 8, 2012
Cicitcuit!- RT @didinu: @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 InkaSativa (Twinika Sativa F)
- @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 didinu (didinugrahadi)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Lagi-lagi Lagu-lagu Lugu Belagu
December 20, 2006 by AntyoKUPING KITA TAK SANGGUP MENYERAP SEMUA MUSIK.
Rudi Loho, pencipta lagu Aku tak Biasa, kepada Nova mengaku mendapatkan royalti hampir Rp 700 juta dari Blackboard. “Kalau saya saja dapat segitu, apalagi Alda,” katanya.
Baiklah, sudah jelas persoalannya. Lagu laris — mestinya — mendatangkan rezeki. Yang tak jelas bagi saya sebagai awam musik maupun [...]
Recent Comments
danang» milih golput aja ah..selama masih tokohnya itu2 ajah,,
Kaget» Apa kita nantinya ngga pada bingung Paman? kamus IT, kamus tehnik, kamus bahsa,….. kedepan akan muncul kamus2 lain. masalahnya cuma satu,… zaman sekarang yang serba sibuk melihat gadget, kapan buka kamus-nya?
mpokb» Aha, bagus nih buat rujukan.. Lalu entri semacam “kerudung wajib lapor” atau “jilbab Islam KTP”, masuk di kamus mana ya, Bang Paman? :D
askep» Saya sebagai salah satu pembuat karya di situ kok merasa tidak terkesan dengan kehadiran Foke dan pembantu2nya di situ. Oh, ada sih, saya terkesan dengan sulitnya ijin yang berbelit2, untuk acara yang mereka selenggarakan sendiri.
ewesewes» Beli ah!
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





suka kalimat penutupnya paman..nice quote..inspiring en memotivasi jua….
—
waduh, eh terima
jadikasih. :D/tyo/
Greed is Good Paman, kalo nggak salah sih begitu.
Pernah dengar juga yang nasehat kek begini ini : Power tend to corrupt; Absolute power corrupt absolutely.
Itu, gimana Paman ?
—
Sebagai kecenderungan memang begitu. Tends to corrupt. Tinggal kita bisa mengontrol diri kita apa nggak. Soal ketemakan, mungkin berhubungan dengan masa kecil dan pola asuh.
/tyo/
Nggak usah tak habis pikir, pak-paman : karena jabatan itu biasanya kan lekat dengan tunjangan, fasilitas dan —tentu saja— kekuasaan alias power. Lekatan-lekatan yang lain, seperti tanggung jawab dan kewajiban, biasanya urusan belakangan….
Saya pernah ngetes ikut ngejar jabatan di gerakan mahasiswa. Meski gagal, saya makin mengerti diri sendiri dan orang lain. Di sinilah, watak bisa dibaca dengan jelas. Kasak-kusuk, tebar pesona, dan tentu pembunuhan karakter bertebaran. Uh, menyebalkan.
Untuk kembali ke dunia perebutan, saya harus menarik napas panjang.
—
Mestinya para caleg dan para pengejar jabatan belajar dari njenengan. ;)
Tapi masa sih harus nyamperi njenengan ke Malaysia?
/tyo/
Masih masalah flu caddy akibat virus R4N1 ?
—
Pasti Andri jadi pemasar (online) obat pencegahnya :D
/tyo/
Saya ikutan mantan kyai mbalon aja paman, maju bakal calon. :D
—
Dasar Thompson & Thomson! :D
/tyo/
jadi… sistemnya sebaiknya mesti gimana ya?
Tadinya kepingin jadi pejabat. sekarang takut. kayaknya susah kalau jadi pejabat kere, nanti malah rugi.
—
Apa salah jadi pejabat kéré? :)
/tyo/
Saya seorang pejabat fungsional auditor, dan jabatan itu tidak diincar dan diperebutkan, tapi dikasih…hehe..
—
atau jangan-jangan jabatan yang itu memang dijauhi? :D
/tyo/
wooooo . . jadi urutannya yang bener tahta – harta – wanita . . !
anak judul itu filosofinya kuat
“menang tanpa ngasorake”
“sugih tanpa banda”
lha “wanita” yang terakhir itu apa ya paman, temen dari tuntang yang dari tadi mesam mesem ini akhirnya nyeletuk :
“kawin tanpa busana” . . . kekekek
klo ingat gojeg kere, jadi pengen ngajak temen2 ini nglurug ke bhi ato langsat . . . .
ini aja masih ada yang nyeletuk :
“kawin tanpa poligami” . . . siri! haiyaaah . . . .
—
kawin tanpa siri aja. lebih praktis, bos!
/tyo/
Ingat film jaman jadul: Women Scorned. Tagline-nya: some people will do anything to reach the top. Termasuk dengan mengumpankan wanita untuk “menjebak” bos
—
kok wanitanya mau jadi umpan ya? ;)
/tyo/
Di tempat saya, sampai dengan level eselon 3 tunjangan fungsional lebih tinggi dari tunjangan jabatan. Sampe2 ada yang pengen meletakkan jabatan, soalnya pendapatan lebih kecil padahal tanggung jawab lebih gede :p.
—
Sistem remunerasinya perlu dikoreksi, ‘kali? Atau justru sudah bener? :D
/tyo/
Akhirnya, postingan yg menarik dari paman..
Magis memang seperti dunia maya..
–budiw
—-
Darema cong, sampeyan juga suka mejik, ta’ iya?
/tyo/
Bunusnya saja 61,3 M,eduann tenann…
—
Lha pantesnya berapa, Dik. Dua kalinya?
/tyo/
Mereka lebih berani bertarung demi jabatan. Sampai-sampai tak mau mendengarkan nuraninya sendiri.–> kalau nurani juga sudah tumpul ?? hehehee
—
Wah harus diserut kalau sudah tumpul. Tapi di bengkel mana?
/tyo/
semua tentang kekuasaan dan uang..
—
yeahhhhhh
/tyo/
jabatan ya pasti diperebutkan..jelas aja.semakin tinggi jabatan = semakin tinngi kekuasaan = semakin banyak proyek = more money.
its all bout the money.
—
yup!
/tyo/
masak direktur sampai nyamar jadi roomboy segala.. kok aneh buanged sih..
—
tapi roomboy-nya nyamar jadi direktur gak?
/tyo/
aku bingung mo komen gimana. wong aku belum pernah ngincer jadi penjabat e. :D
yah nanti kalo aku dah sukses mbalon pasti njenengan saya kasi tau rasanya :D
—
mbalon? dalam arti menurut orang jawa timur? :D
/tyo/
cara jitu meningkatkan trafic,
adalah cara yang digunakan caddy rani,
jangankan cuman meningkatkan pengunjung di blognya, wong pejabat tinggi aja bisa di gaet…
selamat ya Ran…hikhikhik.
—-
oooo gitu ya?
/tyo/
Budaya meritokratis sepertinya memang bukan kultur orang Indonesia.
Lihat saja Ken Arok yang berhasil menjadi raja dengan membunuh raja sebelumnya. ( Kesimpulan diambil setelah membaca blog mas Avianto)
beware, gold diggers and social climbers are everywhere!
—
Restu, wangsit, wahyu, dan seterusnya, itulah kunci daripada yang mana adalah merupakan jabatan
/tyo/
Paman, kekuasaan jabatan meski tak selamanya diembel-embeli uang adalah syahwat tersendiri yang “kejar-able”.
—
kekuasaan adalah libido :D
/tyo/
Orang dan kekuasaan kan cenderung lupa, paman, Lupa, setelah jabatan itu lantas apa ? Memakmurkan rakyat atau memakmurkan sendirinya ?
Lupa bahwa jabatan itu ada pertanggung jawabannya. Tidak usah jauh-jauh, kita juga sering lupa kok kalau pas lagi dapat jabatan.
Posisi meningkat mungkin memang perlu tinggal cara meningkatkannya itu yang menjadi perbedaan.
BTW, soal pegawai yang bisulan parah, berarti bukan soal magis ya, melainkan karena p*n*a*nya ketusuk paku :-P
—
Hahaha. Maksud Vavai pantatnya kan?
Itu paku melintang di bagian bawah jok, hanya terlihat dari kolong. Kalo gak salah diselotip. :D