Kenapa (Harus) Malu kalo Gagal?
ORANG NYURI AJA NDAK MALU KOK!

Sepuluh tahun yang lalu Pak Nitra dan teman-temannya bikin sesuatu. Dengan menggebu. Optimisme pol. Produknya keren. Mendahului zaman. Ternyata dalam tiga bulan tanpa hasil dan tanpa prospek. Pasar tak mau menerima — tapi sekarang sudah ada yang melakukan. Investasi Rp 4 miliar (nilai waktu itu) pun menguap. Kalau diteruskan bakal bikin jebol semua sumber daya.
Gagal? Ya. Malu? “Oh, ndak Pak! Saya dan teman-teman ndak punya rasa malu,” kata Pak Nitra mengenang kejadian itu.
“Saya sendiri, karena berkahing Gusti, ndak pernah punya rasa malu. Lha wong maling, yang jelas-jelas maling saja ndak malu, kenapa saya harus malu?” lanjutnya.
Kalimat itu hampir menjadi ujaran sakti Pak Nitra. Para koruptor itu ndak pernah malu, bahkan bangga dengan pencapaiannya, begitu pun ketika diadili dan dipenjara, jadi kenapa yang kerja halal (tetapi gagal) harus malu.
Baginya, yang penting bekerja sebaik-baiknya, dengan hasil sebaik-baiknya — setidaknya menuriut keyakinan dia dan timnya. Bahwa produk tak laku, karena alasan apa pun, baginya itu soal lain.
“Kalo kita sudah kerja dengan bener, kenapa mesti malu?” katanya.
Berani gagal, berani salah, itu juga bagian dari jalan hidup Pak Nitra (bukan Pitra). Maka setap kali dia mendelegasikan tugas dia selalu meniupkan keberanian kepada yang mitra kerjanya.
Saya teringat sebuah perusahaan yang dulu banget sering diledek sebagai haven dan sekaligus heaven. Sebagian orang-orangnya mengeluh “pintar goblok penghasilan sama” dan “rajin malas (penghasilan akan) sama”. Sungguh sebuah zona kenyamanan yang tinggi. Orang jobless pun tetap punya bonus dan tunjangan, serta fasilitas lain.
Tak gampang memecat orang di sana — kecuali mencuri dan melakukan kesalahan fatal. Bila perlu orang akan bertahan hingga pensiun. Bahkan juragan besarnya, meskipun meledek kaum pemalas tak produktif sebagai “numpang hidup”, memberi pemakluman, “Kalau bukan kita, siapa yang mempekerjakan orang-orang marginal itu.” Maklumlah, dia memang humane.
Nah, yang terjadi dalam lingkungan macam itu justru keanehan. Rasa aman bukannya mendorong orang berani bertindak salah secara manajerial melainkan justru takut mengambil risiko. Padahal kalau gagal atau jeblok nggak bakalan dipecat lho…
“Tapi malu kalo gagal. Nggak enak gitulah. Lagian napa juga sok berani ngambil risiko, bos-bos kita aja maunya aman,” kata seorang manajer.
Untunglah kondisi itu diperbaiki secara bertahap — kalau revolusioner jelas bakal mengguncang tata. Orang-orang mulai dibiasakan mengambil risiko, dan ada ganjaran lebih jika keberhasilan melampaui sasaran. Meskipun begitu saya mendengar keluhan bahwa pendekatan baru itu bikin stres.
Ah, saya teringat seorang wali kota, yang berlatar belakang bisnis. Begitu mengawali jabatannya dia langsung dihadapkan pada membengkaknya jumlah pegawai pemkot — padahal yang dibutuhkan hanya 20 persen. Begitu banyaknya pegawai, dan ada saja yang tak punya pekerjaan, sehingga sempat ada merajang sayuran untuk rumah di kantor, dan itu dipergoki oleh wali kota.
Celakanya saban tahun pemkot harus menerima ratusan pegawai baru sesuai arahan “pusat”. Tetapi bagi pegawainya, lingkungan kerja macam itu adalah surga karena nyaman. Produktivitas dan pencapaian kerja yang tinggi? Itu sih tuntutan orang luar, terutama rakyat pembayar pajak.
Wajar jika para pegawai itu malu seandainya sampai tak punya status bekerja. Tetapi setelah bekerja mereka tak malu jika tidak menghasilkan apa-apa. “Lha kami kan bukan orang swasta,” begitu jawaban yang pernah saya dengar dari mulut orang luar.
Ukuran “ke-malu-an” dalam bekerja ternyata berbeda-beda. :)
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
antyo.rentjoko.net- Tahu Bacem February 8, 2012Temannya tempe bacem. Tapi paling enak itu ya bacem dengan tahu segitiga berkulit dan tempe mlenuk. Permalink | Leave a comment » […]postyorous menerous »»»
- Tahu Bacem February 8, 2012
Cicitcuit!- RT @didinu: @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 InkaSativa (Twinika Sativa F)
- @blontankpoer : Selamat malam kang cc: @dopyadi @subiakto @InkaSativa @Hardjoeno @St_Aboe @RivoPamudji @nukman @orsuy @PamanTyo February 8, 2012 didinu (didinugrahadi)
Recent Posts
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
- Salah Sendiri Kenapa Ndak Bisa Basa Énggris! :(
- Mencari Zebra di Zebra Cross
- Nyanyian dari Dapur
- Semangat Startup, Kelambanan si Mapan, Kebebalan Karyawan
- Apa Kabar Bloggers Indonesia?
- Masker Jakarta
- Pemomong Anak dan Keluarga Muda
- Blog Foto yang Bertutur
- Orang Tua Ngebom Tembok
Archives
Random Posts
Cerita Lebaran #5: Ceramah di Kedai
October 15, 2007 by AntyoPADAHAL INI KESEMPATAN SALING MEMAAFKAN…
Perut semakin lapar, petang sudah menjadi malam. Maka pengambilan keputusan dalam rombongan perut kosong terkadang ikut diktator saja, dalam hal ini sopir.
Kami, kemarin malam, singgah ke ke kedai di Bogor itu. Antrean tak panjang. Parkiran tak berjejal. Kami duduk, memesan. Bolak-balik pramusaji keluar dari dapur, “Yang ini habis tuh.” [...]
Recent Comments
danang» milih golput aja ah..selama masih tokohnya itu2 ajah,,
Kaget» Apa kita nantinya ngga pada bingung Paman? kamus IT, kamus tehnik, kamus bahsa,….. kedepan akan muncul kamus2 lain. masalahnya cuma satu,… zaman sekarang yang serba sibuk melihat gadget, kapan buka kamus-nya?
mpokb» Aha, bagus nih buat rujukan.. Lalu entri semacam “kerudung wajib lapor” atau “jilbab Islam KTP”, masuk di kamus mana ya, Bang Paman? :D
askep» Saya sebagai salah satu pembuat karya di situ kok merasa tidak terkesan dengan kehadiran Foke dan pembantu2nya di situ. Oh, ada sih, saya terkesan dengan sulitnya ijin yang berbelit2, untuk acara yang mereka selenggarakan sendiri.
ewesewes» Beli ah!
Recent Trackbacks
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
- Kaget Net: Membuang Cat Di Atas Aspal
- gak daftar, gak kursus, tapi dapat Sertifikat: Iwan Abdurrahman
- Kepingan Kakap Paling Pojok: Polisi Tidur
- NGENDONESIA: Yang Namanya Korupsi
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (132)
- Lihat Baca Dengar (87)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (398)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





Hidup adalah pilihan. kegagalan berarti kesuksesan yg tertunda
ngga cuma penegak hukum, sebagian (besar) pns juga (harus) dibeli supaya urusan lancar….=P
—
dibeli atau disewa? ;)
/tyo/
kegagalan berarti kesuksesan yg tertunda..malu klo sesuatu yg logis sih tdk apa2..
Aku benciii koruptor tak tahu maluuu hiks hiks. Seandainya disini KoreaSelatan pasti banyak pejabat yang sudah bunuh diri, malu karena korupsi (agak seram juga bayanginnya…).
Tapi buat yang malu gagal… coba baca buku Mindset karangan Carol S. Dweck (lah loh kok malah promosi, maaf om hi hi).
—
Lha ngapain bunuh diri, wong sebagian penegak hukum bisa dibeli… :)
/tyo/
Minggu lalu kopdar jogja-solo, besok kopdar kupang. Ngantor lagi pas tanggal 1, pas gajian. Dan saya tidak malu, lho…
—
Percaya.
/tyo/
@ 26
iya 0 juga ukuran
klo dalam ukuran kapsul atau jarum jahit untuk kedokteran malah dikenal 0, 00, 000 dst alias 1.0; 2.0; 3.0 dst
—
Hiii jarum buat njahit manusia!
/tyo/
yang repot kalo udah ndak ada ukuran paman…alias ukurannya 0… alias nda punya malu….
—
nol pun ukuran, kan? :D
/tyo/