Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Kenapa (Harus) Malu kalo Gagal?

Jumat, 15 Mei 2009 @ 04:03 | Personal

ORANG NYURI AJA NDAK MALU KOK!

Sepuluh tahun yang lalu Pak Nitra dan teman-temannya bikin sesuatu. Dengan menggebu. Optimisme pol. Produknya keren. Mendahului zaman. Ternyata dalam tiga bulan tanpa hasil dan tanpa prospek. Pasar tak mau menerima — tapi sekarang sudah ada yang melakukan. Investasi Rp 4 miliar (nilai waktu itu) pun menguap. Kalau diteruskan bakal bikin jebol semua sumber daya.

Gagal? Ya. Malu? “Oh, ndak Pak! Saya dan teman-teman ndak punya rasa malu,” kata Pak Nitra mengenang kejadian itu.

“Saya sendiri, karena berkahing Gusti, ndak pernah punya rasa malu. Lha wong maling, yang jelas-jelas maling saja ndak malu, kenapa saya harus malu?” lanjutnya.

Kalimat itu hampir menjadi ujaran sakti Pak Nitra. Para koruptor itu ndak pernah malu, bahkan bangga dengan pencapaiannya, begitu pun ketika diadili dan dipenjara, jadi kenapa yang kerja halal (tetapi gagal) harus malu.

Baginya, yang penting bekerja sebaik-baiknya, dengan hasil sebaik-baiknya — setidaknya menuriut keyakinan dia dan timnya. Bahwa produk tak laku, karena alasan apa pun, baginya itu soal lain.

“Kalo kita sudah kerja dengan bener, kenapa mesti malu?” katanya.

Berani gagal, berani salah, itu juga bagian dari jalan hidup Pak Nitra (bukan Pitra). Maka setap kali dia mendelegasikan tugas dia selalu meniupkan keberanian kepada yang mitra kerjanya.

Saya teringat sebuah perusahaan yang dulu banget sering diledek sebagai haven dan sekaligus heaven. Sebagian orang-orangnya mengeluh “pintar goblok penghasilan sama” dan “rajin malas (penghasilan akan) sama”. Sungguh sebuah zona kenyamanan yang tinggi. Orang jobless pun tetap punya bonus dan tunjangan, serta fasilitas lain.

Tak gampang memecat orang di sana — kecuali mencuri dan melakukan kesalahan fatal. Bila perlu orang akan bertahan hingga pensiun. Bahkan juragan besarnya, meskipun meledek kaum pemalas tak produktif sebagai “numpang hidup”, memberi pemakluman, “Kalau bukan kita, siapa yang mempekerjakan orang-orang marginal itu.” Maklumlah, dia memang humane.

Nah, yang terjadi dalam lingkungan macam itu justru keanehan. Rasa aman bukannya mendorong orang berani bertindak salah secara manajerial melainkan justru takut mengambil risiko. Padahal kalau gagal atau jeblok nggak bakalan dipecat lho…

“Tapi malu kalo gagal. Nggak enak gitulah. Lagian napa juga sok berani ngambil risiko, bos-bos kita aja maunya aman,” kata seorang manajer.

Untunglah kondisi itu diperbaiki secara bertahap — kalau revolusioner jelas bakal mengguncang tata. Orang-orang mulai dibiasakan mengambil risiko, dan ada ganjaran lebih jika keberhasilan melampaui sasaran. Meskipun begitu saya mendengar keluhan bahwa pendekatan baru itu bikin stres.

Ah, saya teringat seorang wali kota, yang berlatar belakang bisnis. Begitu mengawali jabatannya dia langsung dihadapkan pada membengkaknya jumlah pegawai pemkot — padahal yang dibutuhkan hanya 20 persen. Begitu banyaknya pegawai, dan ada saja yang tak punya pekerjaan, sehingga sempat ada merajang sayuran untuk rumah di kantor, dan itu dipergoki oleh wali kota.

Celakanya saban tahun pemkot harus menerima ratusan pegawai baru sesuai arahan “pusat”. Tetapi bagi pegawainya, lingkungan kerja macam itu adalah surga karena nyaman. Produktivitas dan pencapaian kerja yang tinggi? Itu sih tuntutan orang luar, terutama rakyat pembayar pajak.

Wajar jika para pegawai itu malu seandainya sampai tak punya status bekerja. Tetapi setelah bekerja mereka tak malu jika tidak menghasilkan apa-apa. “Lha kami kan bukan orang swasta,” begitu jawaban yang pernah saya dengar dari mulut orang luar.

Ukuran “ke-malu-an” dalam bekerja ternyata berbeda-beda. :)

Ada 32 komentar | trackback | Depan

#32

fajar | 14 10 2009 @ 7.47.15

Hidup adalah pilihan. kegagalan berarti kesuksesan yg tertunda


#31

fenny | 20 06 2009 @ 3.37.16

ngga cuma penegak hukum, sebagian (besar) pns juga (harus) dibeli supaya urusan lancar….=P

dibeli atau disewa? ;)
/tyo/


#30

belajar SEO Para Pemula | 16 06 2009 @ 8.42.00

kegagalan berarti kesuksesan yg tertunda..malu klo sesuatu yg logis sih tdk apa2..


#29

Yellow | 29 05 2009 @ 14.31.21

Aku benciii koruptor tak tahu maluuu hiks hiks. Seandainya disini KoreaSelatan pasti banyak pejabat yang sudah bunuh diri, malu karena korupsi (agak seram juga bayanginnya…).

Tapi buat yang malu gagal… coba baca buku Mindset karangan Carol S. Dweck (lah loh kok malah promosi, maaf om hi hi).

Lha ngapain bunuh diri, wong sebagian penegak hukum bisa dibeli… :)
/tyo/


#28

Kyai slamet | 26 05 2009 @ 1.33.20

Minggu lalu kopdar jogja-solo, besok kopdar kupang. Ngantor lagi pas tanggal 1, pas gajian. Dan saya tidak malu, lho…

Percaya.
/tyo/


#27

yoseph new | 23 05 2009 @ 12.12.58

@ 26
iya 0 juga ukuran
klo dalam ukuran kapsul atau jarum jahit untuk kedokteran malah dikenal 0, 00, 000 dst alias 1.0; 2.0; 3.0 dst

Hiii jarum buat njahit manusia!
/tyo/


#26

frozzy | 18 05 2009 @ 16.19.26

yang repot kalo udah ndak ada ukuran paman…alias ukurannya 0… alias nda punya malu….

nol pun ukuran, kan? :D
/tyo/


#25

Indonesia Berprestasi | 18 05 2009 @ 12.06.04

Hidup adalah pilihan semakin nyata adanya. Pilih malu atau tidak tau malu, menjadi subyektif. Ukurannya masing2 sesuai kepentingan masing2.Dan sangat kontekstual. Silakan pilih mau ukuran berapa Ke-malu-annya…dan untuk yang mana :)

Baiklah. Terima kasih. :D
/tyo/


#24

kw | 17 05 2009 @ 9.19.56

pns aja kali yang gak pernah gagal… :)

Maka marilah jadi PNS. Sukses melulu. :D
/tyo/


#23

download skripsi | 17 05 2009 @ 1.08.00

wah, inspiratif sekali ceritanya. izin bookmark blog Bapak ya, trims pak
thanks 4 share


#22

handaru | 17 05 2009 @ 0.11.11

begitulah adanya


#21

Wintomo 4 peace | 16 05 2009 @ 23.19.52

Tidak malu, hebat sih, tapi bagaimana dengan yang 4 miliar itu ya?

Duit itu milik bersama, para pelaku bisnis itu. :))
/tyo/


#20

antowi | 16 05 2009 @ 19.21.02

malu sih enggak cuman “rada gela”

yeahhhh :)
/tyo/


#19

Ahmad | 16 05 2009 @ 16.25.58

Saya kadang tak enak hati orang lain melihat saya gagal. Namun, itu memecut semangat untuk berhasil.

Dulu, mengalaminya pahit, tetapi merasakannya sekarang berubah manis. Bukan begitu,Paman?

Bukan begitu. Eh maksud saya iya.
/tyo/


#18

junianto | 16 05 2009 @ 12.39.52

Dia memang humane, ya, paman?!

Lho, dia yang mana Pak? Jangan-jangan orang yang kita bayangkan itu berlainan? :))
/tyo/


#17

muntoha | 16 05 2009 @ 11.57.56

ini perusahaan keluarga. anak mantu cucu jadi krunya..

oh ya? kok tahu? eh masa sih? :))
/tyo/


#16

edratna | 16 05 2009 @ 9.44.21

Paman, perusahaan yang seperti itu hanya terjadi jika perusahaan tetap hidup walau merugi…tahu sendiri lah apa yang saya maksud.

Namun jika perusahaan yang harus mengejar keuntungan, dengan persaingan makin ketat, tentu tak membolehkan karyawan seenak perutnya dalam bekerja. Karena bisa-bisa perusahaan bangkrut.
Masing-masing orang punya target dan dihitung bagaimana kinerjanya.

Perusahaan tetap hidup walaupun merugi? Wah asyik tuh, Bu. Saya mau ndaftar sana ah. :D
/tyo/


#15

Abihaha | 16 05 2009 @ 1.38.41

Kapan dulu, dimampiri balapemda muda belia menanyakan retribusi. Ndak ada masalah, sambil berlalu beliau berwasiat, “…hubungi saya kalau mau atur masalah setor retribusi”.
Saya balik tanya, “emang situ sudah berapa lama di pemda kok bisa atur-atur?”.
“…3 Bulan”
Weleh… 3 bulan sudah tertulari kuman atur-atur plus ndak tau malu.
Moral cerita : Hilang malu bisa dicapai kurang dari 3 bulan (di pemda).

Wah hebat ini. Mari kita belajar ke sana!
/tyo/


#14

Anang | 15 05 2009 @ 22.46.38

suwun suwun… menginspirasi

lha njenengan kan juga menginspirasi, cak anang? :)
/tyo/


#13

Yahya Kurniawan | 15 05 2009 @ 16.11.54

trims, paman. Sungguh menggugah motivasi

lha anda kan orang sukses, penulis sukses, mestinya justru memotivasi orang lain :D
/tyo/


#12

mastongki | 15 05 2009 @ 15.12.57

Saya masih sekolah ;D

lha apa hubungannya, tong?
/tyo/


#11

toim | 15 05 2009 @ 14.08.40

kegagalan yg trus menerus jg bs ndatengin duit koq.
masih inget ama sinetron jadul yg selalu ngucapin; “gagal maning, gagal maning, son!!”
:D

aha! :D
/tyo/


#10

andrias ekoyuono | 15 05 2009 @ 10.10.47

orang sukses kan orang yang berani melewati kegagalan dan belajar dari kegagalan itu

katanya sih gitu, bos :D
/tyo/


#9

bangsari | 15 05 2009 @ 9.42.52

aku malu belum bisa belikan istri rumah yang baik. :P

lha kan sudah beli apartemen tak bersubsidi, langsung lunas pula?
/tyo/


#8

hedi | 15 05 2009 @ 9.36.19

adagium yang sama ada di bola; “kalah atau menang itu biasa, tapi kalo kalah terus ya kebangetan.” Gitu juga dengan gagal, ga usah malu, tapi jangan sampek gagal terus hehehe

oh gitu ya? cara arema, cak?
/tyo/


#7

mpokb | 15 05 2009 @ 9.35.37

komentar aye sama dengan status fb : bisa jadi separuh masalah hidup muncul karena terlalu memusingkan omongan orang lain, separuh lagi muncul karena keinginan untuk membuat orang lain terkesan, padahal belum tentu kenal atau suka pada orang itu ;)

naaaaahhh terus gimana dong? ;)
/tyo/


#6

imponk | 15 05 2009 @ 9.30.51

ukuran “ke-malu-an” paman pasti kecil. haha :))

amat sangat kecil nian. tapi gak masalah kok. cuma orang lain yang bermasalah, bukan saya. :D
/tyo/


#5

maika_ku | 15 05 2009 @ 8.28.51

PNS = pekerjanya nyantai sekali

oughhhhh!
/tyo/


#4

adis | 15 05 2009 @ 8.20.13

Jadi PNS memang haruslah siap menghindari “comfort zone” yang bisa membuat seekor burung yang sebelumnya bebas terbang, karena sudah nyaman dikasih makan, untuk mau lari pun susah.

nah itu dia!
/tyo/


#3

DV | 15 05 2009 @ 5.50.29

Paman saya tergelitik soal komentar “swasta” itu.
Pernah waktu bekerja di Indonesia dulu dan kebetulan ketiban “bejo” ngerjain proyek “negeri”.
Waktu kutanya kenapa mereka nggak berusaha mbikin sendiri la wong gampang, eh dia njawabnya sama, “Kami kan bukan swasta” hehehe..:)

bukan swasta. lebih tinggi derajatnya ya? :D’/tyo/


#2

chemud | 15 05 2009 @ 5.25.48

humm..
“mayoritas org pada bilang “malu klo gag pake baju..”

jadi bertanya”..
apa kabar ma pilem xxx ituh iah??
mrka gag pake baju ajah gag maluk..knp kitah yg pake baju musti maluk dgn hanya kata gagal doank..

*blogwalking om*

yang penting penontonnya pakai baju kan, terutama kalo gak sendirian? :P
/tyo/


#1

ierone | 15 05 2009 @ 4.46.07

iya pak, orang cenderung tak mau ambil resiko jika sudah merasa nyaman.

begitu juga dalam asmara

hah? asmara? wah teori baru nih… =))
/tyo/