HARPITNAS? BISA DAMBAAN, BISA SIKSAAN.

Harpitnas sekarang ini bisa menghasilkan iklan kreatif nan sopan: tidak mengajak orang membolos melainkan cuti, sehingga akhir pekan ini Anda mendapatkan prei empat hari.
Libur Anda akan menjadi lima hari kalau Seninnya Anda (mengaku) sakit, dan menjadi enam hari jika Selasanya Anda memfaksimilekan surat dokter (saudara ipar). Maaf, dalam kasus ini foto surat dokter yang dikirim via e-mail atau MMS belum diakui oleh HRD.
Cukup? Akan sampai tujuh hari jika pada hari Rabu, menurut dokter (tetangga sebelah), Anda masih harus beristirahat karena kelelahan yang luar biasa.
Bagaimana kalau sampai Jumat? Gampang, asalkan dokter (jiwa) melarang Anda bertemu sejawat, terutama bos, karena mereka semua adalah alergen yang bikin Anda gatal dan cegukan tiada henti. Bahwa orang sekantor akan memantau aktivitas riang ceria Anda selama sakit di blog, Plurk, Twitter, dan Facebook, itu lain soal…
Sudahlah, tak perlu berpanjang-panjang. Pokoknya libur itu menyenangkan, apalagi kalau punya duit.
Meskipun begitu ada juga orang yang gelisah jika liburnya terlalu lama. Serasa banyak kesempatan terbuang.
Celakanya sejawat dan mitra kerjanya pun begitu. Jika tak ingat keluarga, bisa-bisa mereka menyewa business center untuk bekerja. Terpaksa begitu karena jika masuk kantor pada saat libur panjang, itu akan merampas kebahagiaan Mas Opisboi yang merangkap penjaga malam dan pemondok (gratis) di kantor.
Sesungguhnya mereka bukan workaholics. Buktinya pada hari kerja pun mereka sebisanya mencari waktu untuk boling, biliar, atau secara terpisah pergi ke toko buku dan toko CD, atau ke galeri seni rupa, atau ke gym – tanpa Aa.
Mereka menjadi tak sabaran ketika libur karena mereka bukan pegawai. Mereka sekelompok orang yang sedang merintis usaha. Kalau mau digampangkan: mereka adalah sekumpulan pegawai yang juga founders. Yang wagu, masing-masing merasa dirinya bos — terutama yang pernah menjadi bos (kecil) di tempat lain sebagai orang bayaran.
Hmmm… barangkali mereka terlalu bernafsu tetapi tak paham manajemen waktu. Bisa juga soal manajemen waktu bukan kendala, hanya saja mereka kadung termanjakan oleh perasaan “nggak ngikut orang”.
Mereka adalah pendiri, pemilik, tetapi juga manajer, dan sekaligus pelaksana langsung karena mereka belum mampu merekrut awak tambahan.
Akibatnya konsultan bisnis yang piawai pun hanya bisa maklum sekaligus garuk-garuk kepala. Apalagi jika si konsultan tahu bahwa beberapa di antara orang-orang itu bisa mendadak ogah kerja, hanya ingin membaca komik, atau tidur bangku taman, dan mematikan ponsel maupun BlackBerry-nya — bahkan bisa lebih dari sehari. Meskipun begitu ada hari-hari ketika semua perangkat komunikasi mereka menyala non-stop. Bahkan kenorakan pun terjadi: laptop dan desktop sama-sama menyala, padajal si pemilik hanya memesrai salah satu. Sungguh boros energi.
Dunia kerja memang rumit. Ada yang bergaji bagus sebagai pegawai bahkan eksekutif malah hengkang. Lantas mereka melakukan sesuatu yang pendapatannya lebih kecil, tak teratur pula, namun membuat hati nyaman — kecuali ketika bokek sudah berubah menjadi defisit.
Jadi, apa sih yang dicari manusia? Lantas apakah yang disebut sebagai etos kerja?
Kalau menganggur jadi bingung (padahal ada yang mengongkosi). Kalau bekerja dan digaji malah merasa tertekan sehingga harpitnas selalu menjadi dambaan.
Samadya. Proporsional. Dua kata normatif nan sakti itu kadang membutuhkan tolok ukur dalam penerapan dan penilaiannya.







fajar | 14 10 2009 @ 7.50.28
klo bokek sama aja dengan boong
Magazine Blog | 25 05 2009 @ 17.49.26
wew.. bener juga.. hahaha.. sya ga ga nyadar minggu lalu bisa gitu.. :P kerjanya dirumah sih.. hehe…
—
Itulah kekurangan kerja di rumah :D
/tyo/
otholo | 25 05 2009 @ 0.34.02
Kalo libur lama tapi bokek tetep gak enak Paman
—
Ya buat nyari uang dong! :D
/tyo/
edratna | 24 05 2009 @ 9.13.17
Libur memang menyenangkan, walau ga punya duit…bisa tidur2an santai di rumah, menonton TV, baca buku…dll
—
Kadang waktu buat ini-itu malah kurang Bu, tahu-tahu sore. :)
/tyo/
jun | 23 05 2009 @ 23.51.04
Saya rajin memelototi kalender, mencari tahu kapan ada tanggal-tanggal merah libur nasional. Tak perlu hari kejepit nasional; yang penting ada tanggal merah nasional, yang berarti saya bisa memperoleh libur kerja dua hari (libur rutin setiap pekan, ditambah libur sehari sesuai tanggal merah-nasional itu).
Sayang, Paman, Bulan Juni nanti tidak ada satu pun tanggal merah libur nasional…. Hik, hik, hik….
—
Aha! Kayak teman saya dulu, yang meninggalkan keluarganya di Yogya, sementara dia jadi redaktur di Jakarta.
/tyo/
Ahmad | 23 05 2009 @ 16.48.54
Hanya dengan sikap samadya, keruwetan hidup bisa terurai.
Saya sedang melakukannya, Paman. Doakan agar berhasil agar hidup tidak tersandera nestapa. Aduh?! Kok jadi melankolik?!
—
Pasti bisa, Gus!
/tyo/
yoseph new | 23 05 2009 @ 12.04.38
@10
iyo Om, klo dokter muda hartus minta surat dokter ke Rumah Sakit, baik polikliniknya atau gawat darurat. klo dokter praktek harus yang dosen di FK setempat atau yang dokter spesialis.
nah kalo untuk yang dokter beneran biasanya klo sakit ya langsung ga datang gitu aja, saling percaya gitu. tapi lucunya ada yg ga dateng tapi absen di departemennya penuh terus.. kok bisa ya?
—
Ini info menarik buat saya! Terima kasih!
BTW di Yogya dulu, di Jalan A.M. Sangaji, ada dokter senior yang pasang pengumuman di pintu: “Dokter tidak praktek karena sakit”.
/tyo/
gareng | 23 05 2009 @ 7.12.28
Kejepit gimana sih pam ?
Lha wong sabtu-nya tetep mesti jagain tokonya juragan je.
*keluh*
—
Tapi Minggu dan Senin itu toko tutup kan? :D
/tyo/
mastongki | 22 05 2009 @ 20.16.22
manusia itu mencari kepuasan paman, dan sayangnya manusia tidak pernah puas ;)
—
jadi gimana enaknya, tong?
/tyo/
andrias ekoyuono | 22 05 2009 @ 9.16.21
Libur dan cuti tiada berarti selama masih ada blackberry :-p
—
Hayo, kok malah curhat? Bos njenengan kalo baca ini gimana coba? Dia kadang main ke sini lho :D
/tyo/
Chic | 22 05 2009 @ 9.01.42
bukannya manusia itu nyarinya yang pas-pas aja Paman? Pas pengen liburan..pas punya duit, pas pengen kerja.. eh pas jadi pegawe, pas pengen mbolos pas ada surat sakit… beuh enak ya… :D
—
Betul sekali, Bu! Pas pengin nikah, eh kebetulan sudah ada pacar. Gitu kan? :D
/tyo/
Nazieb | 22 05 2009 @ 2.20.41
Kalau saya sih everyday is holiday, Paman. Jadi nggak efek, mau tanggal merah atau Harpitnas.
Namanya juga pengangguran.. :P
*curhat*
—
Sama dong! :D
/tyo/
yoseph calondokter | 21 05 2009 @ 21.09.00
Pakde kenapa dokter kok dimanfaatin untuk nambah liburan, secara kami aja juga melakukan hal yang sama untuk libur dari tugas jaga hehehe..
—
Duh maaf. Habis gimana lagi, surat dari Pak RT (yang bukan dokter) pasti akan ditolak oleh kantor.
Oh ya kalo dokter minta surat dokternya ke mana? Masa ke sejawatnya sih? :D
/tyo/
kiku | 21 05 2009 @ 15.52.40
ganti aja, mas, jadi harbinas (hari bingung nasional). Bingung mw ngapain..:)
—
duh bingung mulu :D
/tyo/
adipati kademangan | 21 05 2009 @ 13.44.06
namanya juga manusia -his name so manly- ada aja ndak puasnya
—
kalo selalu puas berarti bukan manusia ya? :)
/tyo/
candra | 21 05 2009 @ 12.48.09
kadang kami(manusia) memang suka bingung sendiri sama pilihannya, moody dalam pekerjaan kan sering kita temui paman. suka pindah2, yg penting nyaman (yang kapan waktu jg bisa saja berubah lg jd gak nyaman)
—
nah itu dia! mayoritas kita begitu ‘kali ya? :)
/tyo/
mpokb | 21 05 2009 @ 11.34.30
kalau bekerja tapi bisa santai dan menikmati, efeknya bisa seperti libur juga nggak yak… libur tapi dibayar.. hehe.. selamat rihat, maspaman ;)
–
nah itu mpok yang saya suka!
/tyo/
dudi | 21 05 2009 @ 11.09.00
jadi liburan panjang kali ini apakah masih berkutat di kota macet paman? ataukah sudah berada di luar kota dengan koneksi internet mobile?
—
di rumah saja, mas dudi. anda ke mana?
/tyo/
adis | 21 05 2009 @ 9.21.50
Kalau PNS gak bisa ngambil cuti cuman sehari paman…minimal 3 hari kalo nggak salah…
—
lha ngapain cuti sehari, lha wong minta izin saja bisa kok :D
/tyo/
KiMi | 21 05 2009 @ 8.39.36
Manusia itu mah banyak maunya.. :D
–
Memang!
/tyo/
Abihaha | 21 05 2009 @ 6.31.36
Ah pakdhe, palingan berbondong ke Bandung lagi… Bandung lagi…
Sesudah sampai Bandung nantinya lantas berbondong komplen, “Heran… kenapa tiap libur gini Bandung kok macet?!”
Jan ciri pelibur/pencuti ndak kreatif tenan.
—
Huahahahahahahahaha! Saudara benar sekali eh dua kali!
/tyo/
DV | 21 05 2009 @ 6.04.19
Yang dicari manusia bukan yang terbaik, Paman… tapi yang pokoknya selalu ada ketika ia mau untuk ada…
—
Wah dalem banget nih. Kayaknya bener!
/tyo/