Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Alat Penjajahan Bernama Penyeranta, Ponsel, Laptop, dan BlackBerry

Jumat, 22 Mei 2009 @ 16:32 | Umum

TAK SEMUA ORANG MAU DIBERI FASILITAS. :)

Seperti biasa, desainer kartu nama itu menanya seorang anggota staf sebuah kantor media, apakah nomor ponselnya akan dicantumkan. Dan seperti biasa, yang ditanya pun menggeleng.

“Semua orang, kalau mau kontak saya, ya cukup pakai nomor kantor dan e-mail kantor. Kalau data pribadi harus masuk, bisa-bisa entar nomor faks rumah saya juga dicantumin,” katanya.

Kebiasaan si anggota staf itu berlangsung sejak pertengahan 90-an sampai awal 2000. Setelah itu dia oke-oke saja menampilkan nomor ponsel di kartu nama. Tepatnya: nomor dari ponsel kedua, yang dibelikan oleh kantor, dan pulsanya diongkosi oleh kantor.

Baginya, dulu, sungguh tak adil jika kantor diuntungkan oleh peralatan pribadi selaku karyawan. Pada 1995 dia membeli ponsel sendiri (padahal ponsel masih mewah), berlangganan internet sendiri (kantornya belum berinternet). Itu untuk urusan pribadi — dan, ehm…, moonlighting.

Dia bukan orang pelit. Hanya saja dia tak rela jika kantor mengeksploitasi dirinya. Maka meskipun memiliki mobil sendiri (SUV gres, beli tunai), dia selalu menggunakan mobil kantor dan taksi untuk dinas keluar. Mobil pribadi tetap diparkir karena bensinnya tak disubsidi oleh kantor. Hanya untuk pemotretan dia merelakan diri memakai kamera SLR pribadinya dengan beberapa lensanya.

Orang sirik bisa bilang, mentang-mentang dia punya duit, gaji cuma buat uang saku karena dia masih ikut orangtua, maka dia bisa mandiri. Tapi ah itu soal lain, kan?

Maka marilah kita lihat teman si tokoh, yang pada awal 90-an (belum zamannya selular genggam) cemberut ketika menerima pembagian radio pager (penyeranta). Sia-sia sudah upaya dia menyembunyikan nomor telepon indekosan supaya tak dapat dihubungi oleh sekretaris, kepala desk, maupun koordinator reportase. Penyeranta atau beeper menjadikan dirinya sebagai anjing Pavlov — tapi makna sinyalnya negatif. Bip-bip-bip berarti kantor, berarti pekerjaan, berarti deraan bahkan azab.

Sekarang kita melompat ke hari ini. Ada saja pegawai yang menolak kredit laptop dari kantor. Bahkan yang menolak dibelikan pun ada. Di sisi lain, para atasan di beberapa kantor blingsatan setelah tahu bahwa beberapa anggota staf meninggalkan laptop pembagian di kantor.*)

Kenapa? Jelas. Memegang alat kerja dari kantor berarti ada kewajiban untuk bekerja lebih — setidaknya pada saat tertentu. Bahwa di luar urusan pekerjaan laptop dan data card yang diongkosi kantor itu bisa buat urusan pribadi, bagi sebagian orang itu tidak sexy. Itu tetap penjajahan.

Hal serupa terjadi pada BlackBerry. Ada saja orang yang menolak pembagian, dari yang berupa peminjaman (berujung ke pemutihan atawa hibah) sampai yang langsung dimiliki, dengan biaya pemakaian ditanggung oleh kantor.

Salah seorang penolak fasilitas itu berdalih, “Pegang BlackBerry berarti harus cepat merespon e-mail dan messaging. Capek!”

Dunia kerja sudah berubah karena lalu lintas informasinya tinggi. Celakanya (kalau dianggap celaka), informasi dan pengambilan keputusan tidak bisa lagi dibatasi oleh tempat dan jam kerja. Maka beberapa pekerja bahkan eksekutif mencoba mengambil jarak dengan cara yang menurutnya proporsional.

Tentu, bagi orang lain itu bisa dinilai berlebihan. Motor dan mobil sudah disumbang (melalui pinjaman), bahkan rumah pun dibeli dari fasilitas kantor, masa sih masih “itungan banget” untuk pekerjaan?

Andalah yang menilainya. Mungkin kasus per kasus bergantung konteks. Namun izinkanlah saya memberi ilustrasi tentang seorang ibu di Bogor, manajer produksi cetak di Jakarta, yang dalam keadaan darurat siap ditelepon kapan pun, bahkan pukul tiga pagi.

Unit yang dibawahinya memang beroperasi 24 jam dengan tata gilir yang pasti. Namun yang namanya alat kerja bisa saja macet, termasuk di pihak klien. Mau tak mau jika ada kasus yang krusial, karena urusannya lintas sektor, maka pengambilan keputusan harus oleh manajer.

Tentang telepon masuk pukul tiga pagi, bagi ibu itu, “Ya konsekuensi kerjalah. Kalo anak-anak nggak bisa ngatasin padahal risikonya kelewat gede, ya itu urusanku. Kesian anak-anak itu udah kerja sampe pagi — emang sih karena shift. Setelah ambil keputusan di telepon aku kan bisa tidur lagi, lalu besok paginya di kantor ngecek lagi. Apa susahnya? Bahwa di job desc(ription) itu nggak ada, ya buatku nggak masalah.”

*) Demi rahasia perusahaan ada juga kantor yang melarang laptop dinas dibawa pulang.

© Gambar-gambar sumber ilustrasi sebelum montase: entah

Ada 27 komentar | trackback | Depan

#27

fajar | 14 10 2009 @ 8.03.11

belum merasa terjajah


#26

WarnaMedan | 29 08 2009 @ 11.00.42

alat tak pernah menjajah! kebutuhanlah penjajah sebenarnya.

Betul juga ya! :D
/tyo/


#25

AngelNdutz | 19 06 2009 @ 7.50.48

laptop kantor Ndutz jg nggak boleh dibawa pulang hukz….


#24

andrias ekoyuono | 18 06 2009 @ 11.57.03

Menurutku itu masalah mindset aja paman. Asal kita anggep asik ya asik aja kok.

Kalo kita pas ngerjain kerjaan kantor di rumah sambil anak ikut main2 di samping kita,ternyata juga asik kok. Ada email masuk BB 24 hours (apalagi dari zona2 yang beda waktu) gak papa, toh bacanya juga gak sampai semenit. Saya pernah ditelpon Google jam 3 pagi karena dia lupa beda zona waktu antara US dan disini, hehehe

aha. ini sih emang bisnis. tapi sulit juga lho…:D
/tyo/


#23

didut | 18 06 2009 @ 10.33.29

jadi kapan kantor paman buka lowongan lagi? *wink wink*

kayaknya malah belum pernah buka lowongan. :D
/tyo/


#22

bangsari | 25 05 2009 @ 13.35.47

kok susah banget komen disini man?

maaf kalau susah. plugin lagi ngaco.
/tyo/


#21

pecinta indonesia | 25 05 2009 @ 13.17.59

tanpa laptop dari kantor pun aku tetap enjoy aja.

nimatin aja yang ada…hehehe

baguslah kalau bisa begitu…
/tyo/


#20

adi | 25 05 2009 @ 8.17.05

huh, mbahas iki meneh. bosen.
*ngumpet di bawah meja* :D

Oh gitu ya? Maap Pak Guru…
/tyo/


#19

DV | 25 05 2009 @ 6.16.01

Saya dulu pecinta laptop.
Rasanya kalau belum bawa laptop ke coffeeshop lantas rebutan hotspot belum gagah…

Tapi sekarang saya pembenci laptop.
Bukan karena sekarang lebih menyukai blackberry, tapi karena ketika saya melihat laptop, saya melihat kerjaan.. saya melihat kantor.

Saya paranoid..:)

Satu lagi orang sehat! :D
/tyo/


#18

otholo | 25 05 2009 @ 0.27.46

Nunggu hibah blackberry dari Paman saja

Lha saya setelah itu pakai apa?
/tyo/


#17

Rian | 24 05 2009 @ 18.42.25

Koq saya belum dapat fasilitas kantor ya? Paman bisa kasih? :)

Lha saya harus hijrah ke kantor sampeyan dulu, itu pun sebagai bawahan yang melobi bos sampeyan supaua bagi-bagi gadget. :D
/tyo/


#16

edratna | 24 05 2009 @ 9.11.16

Risiko pekerjaan paman, hal biasa buatku, jika dulu ditelepon bos jam 2-3 pagi…karena ada rapat dadakan dan harus menyiapkan bahan, berangkat ngantor jam 5 pagi, supaya bahannya selesai jam 8 untuk mulai meeting jam 9 pagi.

Saya sekarang menikmati banget, bekerja tanpa dikejar-kejar seperti dulu, memang sih honor tergantung proyek yang didapat…tapi lebih santai, banyak yang bisa dikerjakan di rumah. Saya masih males untuk beli BB, toh lebih banyak dirumah dan internet 24 jam.

BB memang untuk yang padat-komunikasi dan sering bepergian, Bu! :D
/tyo/


#15

racheedus | 23 05 2009 @ 22.07.56

Ternyata sudah begitu merepotkan efek teknologi, ya, Paman? Menjajah dan merampas ruang privat kita? Untung saya tinggal di kampung, jauh dari hingar bingar dunia kerja di kota yang menuntut siap kerja 24 jam.

Kampung mana nih? Kayaknya bukan deh. :))
/tyo/


#14

Ahmad | 23 05 2009 @ 16.55.33

Karena handphone, saya merasa kehilangan ruang pribadi, sebab setiap persoalan bisa nyelonong kapan dan di mana saja. Kadang tak melulu iseng, ada kabar gembira dan tentu selaksa doa dari kawan-kawan. Dilema!

Tebersit untuk membuang telepon genggam, namun saya tentu tidak ingin menanggung dianggap orang asing yang tersesat di jalan. Ikut kerumunan aja agar hidup tertanggungkan.

Buang saja, Gus Ahmad! :D
/tyo/


#13

jun | 23 05 2009 @ 15.13.21

Bertemu keluarga di luar kota cuma sehari dalam sepekan —sesuai jatah libur dari kantor— saya masih tetap angkat ponsel jika dihubungi kantor saat libur. Untung, istri dan anak-anak juga masih toleran. (Tapi istri marah jika saya dudal-dudul keypads ponsel tatkala mengantar dia bepergian, misalnya saat berbelanja ke Yogya. http://warungselatsolo.dagdigdug.com/2009/01/22/ke-jogja-lagi-kali-ini-tanpa-ponsel/).

Btw, lega, akhirnya menjelang sore ini bisa membuka gombal tanpa terganggu lalita….

Dudal-dulul? Hahaha. Yah kalau sifatnya butuh respon cepat ya apa boleh buat. Kalo bisa nanti ya nanti — tapi kalau saya kadang lupa apalagi kalau banjir SMS.
/tyo/


#12

cuma tanya | 23 05 2009 @ 13.42.50

kenapa kok tiap klik postingnya paman stau abis post komen pasti di-direct ke lalitamedia, contohnya seperti ke sini

maaf, maaf, maaf. itu kecelakaan. sudah saya bersihkan. terima kasih.
kukuhtw pemilik lalita, gimana nih? dari kemarin banyak komplen lho…
/tyo/


#11

yoseph new | 23 05 2009 @ 11.55.22

ngga cuma alat komunikasi Om, ada juga alat kesehatan yang dibagiini untuk memantapkan pelayanan kesehatan di suatu puskesmas, namun boro2 disalahgunakan, yang ada malah cuma disimpan, nda dipake nolong orang, malah ada sampe yang berkarat segala. nerima barang dari instansi oke2 aja, tapi kalo kerjain tanggungjawabnya ya pikir2 dulu deh.. gitu kali yee

Lho kok bisa? Apa untuk mengoperasikannya butuh keterampilan khusus, alat bantu lain, dan energi yang mahal? Ayo ditulis di blog! Terima kasih.
/tyo/


#10

STR | 23 05 2009 @ 10.21.56

Dalam peperangan, iptek menyebabkan kita saling meracun dan saling menjagal. Dalam perdamaian dia membikin hidup kita dikejar waktu dan penuh tak tentu.

Duh, kata-katanya siapa ini ya ….

Wah dalem banget ini…:)
/tyo/


#9

sawung | 23 05 2009 @ 8.59.49

“Pegang BlackBerry berarti harus cepat merespon e-mail dan messaging.”
alesan yang sama kyk saya gak mau menghidupkan mobile net. saya kalo ketinggalan hp aja seneng banget :D

Gampang. HP dibawa tapi dimatikan dengan alasan low batt :D
/tyo/


#8

adis | 23 05 2009 @ 5.28.08

Saya ndak dibagi apa2 dari kantor. Oh iya ding…dapet kaos olahraga tiap hari ulangtahun…ndak nyambung ya? yo wis lah…


#7

mpokb | 23 05 2009 @ 0.23.59

suka ikutan grogi kalo denger tingtangtingtung bb orang lain.. kok sepertinya gak bisa relaks yak? jadi sebenarnya fasilitas itu berkah atau musibah, bangmaspaman? :D

lha napa juga grogol mpok? santai aja kan bisa. :)
/tyo/


#6

Arief | 22 05 2009 @ 21.46.19

Hehehe… topik nya bagus nih, teknologi yang dimanfaatkan sebaik mungkin, tetapi mulai tidak nyaman jika pihak ketiganya adalah kantor.

Salam Kenal Mas Tyo

Tips BlackBerry dan Personality Development

kantor sebagai pihak ketiga? aha!
/tyo/


#5

arya | 22 05 2009 @ 21.26.38

kita kerja 8-9 jam sehari. ditambah meeting mungkin malah bisa 10-12 jam. masa di luar itu msh harus puyeng ngrumati pekerjaan? ya nehik lah. emangnya hidup kita cuma buat kerjaan. kan kita perlu gaul, pacaran, beramal dlsb. itu sih prinsip saya. *lho malah curcol* hihihi.

betul itu. idealnya begitu. :D
/tyo/


#4

mastongki | 22 05 2009 @ 20.21.32

kalo paman mau kasih saya laptop atau blekberi Saya gak nolak kok Paman :)

Lho bukannya gadget-mu, sebagai anak sekolah, lebih hebat dari orang kantoran, tong? ;)
/tyo/


#3

devie | 22 05 2009 @ 18.41.59

hape, cuma buat BACA email, sapa tahu ada yang bisa di follow-up by phone aja, yang jelas bukan buat balas email. follow up lebih lanut ntar wae kalo dah di office. :)

asyikkk. gak capek. tapi pulsanya disubsidi oleh kantor gak? :)
/tyo/


#2

denologis | 22 05 2009 @ 18.14.59

Ya itu kan yang “manusiawi” dan sadar dengan fasilitas dari kantor. Misalkan ada orang yang ndak merasa bahwa itu adalah motivator untuk lebih giat bekerja untuk kantor, dan malah “semau gue – siapa suruh bagi2 gadget”, bagaimana dong, Paman?

Wah, gimana ya? Bos mereka aja yang menilai. :D
/tyo/


#1

Chic | 22 05 2009 @ 17.28.09

adududududududuh… kok saya tertohok ya Paman?
*lirik-lirik blekberi pemberian kantor*

maaf bu kalau tertohok. saya ndak sengaja lho. tenan! :D
/tyo/