Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Resep Memperawet Sepatu

Minggu, 24 Mei 2009 @ 19:23 | Umum

KENAPA TAK PAKAI WALKING SHOES SABAN HARI?

Mestinya dia paham perputaran mode sepatu, termasuk sepatu wanita. Jika benar, itu wajar. Akan tetapi ada yang lebih menarik: saban dua-tiga bulan dia berganti sepatu. “Soalnya ada aja yang nawar selagi saya pake. Ya saya lepas aja,” kata lelaki 46 tahun itu.

Sudah hampir separuh usianya dia menjalani profesinya sebagai tukang resep. “Itu singkatan reparasi sepatu,” kata Bunyamin, lelaki itu, pada suatu sore setelah hujan reda di Jalan Langsat, Kramat Pela, Jakarta Selatan.

Tentang sepatu yang terjual selagi dikenakannya, itu bisa bersumberkan hibah maupun tukar tambah. Biasanya sepatu kulit (imitasi). Sepatu sport, seperti yang dia pakai sore itu, “Nggak bakalan laku. Nggak tau kenapa.”

Tak saya tanyakan hal yang pernah saya tanyakan ke rekan seprofesinya. Misalnya lebih banyak mana yang dia tangani, sepatu wanita ataukah sepatu pria. Juga, lebih banyak mana yang rewel menawar, wanita (kadang beli sepatunya tak banyak pikir) ataukah pria (jumlah sepatu tak banyak wanita).

Meskipun begitu dari setiap perhentian tukang sepatu kita akan segera tahu siapa sajakah pasiennya. Apa boleh buat, sebagian sepatu apalagi sandal wanita memang tak dirancang untuk walking shoes. Akan tetapi yah… demi penampilan maka nyaman tak nyaman alas kaki tipis ber-hak tetap dipakai.

Maka harap maklum jika seorang wanita pernah bilang, “Kaya itu enak. Bisa beli sepatu bagus, awet lagi. Ke mana-mana naik taksi atau mobil. Berangkat dari car port kering, turun di teras lobi yang juga kering.”

Jika Anda usul kenapa tak memakai sepatu all condition gear, maka jangankan wanita karena pria pun akan berkeberatan untuk memadupadankan sepatu lapangan dengan pantalon halus dan kemaju berdasi. Memang pada zaman berjayanya Dr. Martens (yang palsu: Drs. Martens), padu padan kadang masih bisa sepanjang rok kembang dan pantalon masih sesuai.

Di luar urusan padu padan konsumennya, Bunyamin lebih berurusan dengan ini: setiap hari ada saja yang memperbaiki alas kaki. Jika rezeki bagus, dari pagi dia bisa mendapatkan Rp 120.000-an, lalu seperti biasanya dia titipkan gerobak di Taman Gandaria, lantas dia ke Stasiun Kebayoran Lama, naik sepur ke rumahnya di Sudimara.

Tentu ada juga hari seret rezeki dari memutari Kebayoran Baru: hanya membawa dua puluh rbuan (ongkos termurah Rp 6.000 per sebelah sepatu), untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya.

Reparasi sepatu adalah kebutuhan setiap pemakai alas kaki. Dulu, tahun 70-an, ketika sandal jepit pun masih mahal bagi masyarakat bawah, sehingga ke mana-mana nyeker, tukang sepatu adalah pekerjaan orang bawah untuk melayani orang atas. Sekarang, kata Bunyamin, “Orang-orang kan pake sepatu apa sandal, gitu.”

Hmmm reparasi atau jasa “bikin betul” sesuatu. Jika ada waktu, kelas menengah bisa ke cabang Stop n’ Go, dengan ongkos yang lebih mahal, dan yang dibawa ke sana kadang sepatu baru, untuk sekadar menampahkan lapisan dalam agar keringat dan bau terserap.

Bagi yang kurang waktu, atau jarang bepergian, tukang sepatu keliling adalah pilihan. Untuk mencegatnya bisa menitip ke tetangga atau pembantunya.

Kapankah hari-hari ramai bagi Bunyamin dan korpsnya? “Kalo mau puasa atau mulainya puasa. Banyak banget yang betulin sepatu,” katanya. Semakin memepet Lebaran, banyak orang sudah memiliki alas kaki baru, dari Yongki Komaladi sampai (mungkin) Manolo Blahnik.

NB: Boleh tahu jumlah alas kaki Anda, baik Anda wanita maupun pria?

Ada 31 komentar | trackback | Depan

#30

Yoseph Sam | 08 07 2009 @ 19.41.29

Aku cm punya 2 cepatu (org manado tdk myebut sepatu). Satu spatu kets, satu lg pantofel utk k rumah sakit n k gereja.

Rumah sakit dan gereja. :)
/tyo/


#29

angga hendra | 30 05 2009 @ 9.27.21

resep awet sepatu.ya jangan dipake aja…tp jgn disimpen di tempat lembab..

sesekali dianginkan. jangan dijemur. jika kulit sudah mengeras oleh lilin semir, lunakanlah dengan leather cleaner… sebisa mungkin jangan gunakan semir cair, karena itu mirip vernis kalau sudah mengering, bisa bikin kulit pecah-pecah… untuk sepatu kulit tertentu, semir dari lemak cerpelai lebih cocok — tapi kok kejem ya?
/tyo/


#28

winy | 29 05 2009 @ 20.32.11

pengennya punya beberapa biar bisa variasi, tapi yang sudah2, pasti punya 1 sampe jebol trus baru beli lagi. yah kecuali selop kondangan, pusaka hanya saat kondangan, hehe…

selalu ada sepatu andalan. :)
/tyo/


#27

edratna | 27 05 2009 @ 18.18.59

Zaman masih kerja full time, saya meninggalkan sepatu hak tinggi, sandal (jika dipakai jalan-jalan sehabis pulang kantor), dan sepatu yang dipakai. Paling aman memang pake sepatu yang nyaman dipakai kemana-mana, biasanya hak rendah (3-5 cm)….sayangnya nyaman ini baru terasa jika udah jelek…dan yang protes malah orang lain

Wah info baru ini. Sepatu jelek malah nyaman, tapi tidak bagi mata orang lain. Gitu ya Bu? :D
/tyo/


#26

dita | 26 05 2009 @ 22.27.09

Saya shoesaholic (=syusyaholik=demen susah),Paman.. Sepatu saya kira2 20an pasang, kalo ditambah sandal2 waduh, jadi banyak banget. Lengkap dari stilleto super manis sampai safety shoes buat menembus badai salju..

Oiya, tentang kenapa ga pake sepatu all condition gear.. Pengalaman saya sih type2 sepatu berbahan goretex sangatlah tidak nyaman dipakai di jakarta.. panas gilaaaa!!

top pisan!
all condition memang buat dingin. tapi tetap lebih nyaman ketimbang sepatu tentara. :)
/tyo/


#25

mpokb | 26 05 2009 @ 13.32.50

@hedi : sama, aye ninggal tiga pasang selop di kantor :P

selopnya pakai hak tinggi banget ya?
/tyo/


#24

Joddie | 26 05 2009 @ 11.24.14

Entah mengapa cerita ini membuatku terinspirasi… salam kenal

Salam kembali. Boleh kirim sepatu ke saya. :)
/tyo/


#23

gareng | 26 05 2009 @ 10.53.42

Saya ndak punya sepatu pam.
mau dirumah, njagain toko-nya juragan, ke mall maupun kondangan saya pake sendal.

bukan saya pelit buat beli, tapi kayaknya kaki saya belum pantes pake sepatu.

*Dem, Sorry, it seems you didn’t pass math!!*

Yang penting lolos tes matematika. :D
/tyo/


#22

hedi | 26 05 2009 @ 10.50.16

sepatuku sekarang 5 pasang, 3 diantaranya nginep di kantor :P

yang nginep jarang dipakai ya?
/tyo/


#21

handaru | 26 05 2009 @ 10.13.31

Walau punya sepatu, nyaris tak terpakai. Ke kantor hingga ke resepsi perkawinan tetap pakai sandal. Nyaman karena lebih praktis dan isis, je!

Cocok!
/tyo/


#20

pelintas | 26 05 2009 @ 9.49.07

Lapor : 1).sebuah sepatu formal item dibeli kira2 6 thn yg lalu gag rusak2 pdhl ude rada sebel lhtnya,tp selama msh bisa nahan kaki ane ,gag bakal di ganti2
2) Sebuah sepatu formal item cm buat kondangan.
3) Sebuah mokasin murahan buat nyante2
Tapi kebanyakan sih pake sendal japit,herannya seumur umur kagak pernah beli,tapi entah kenapa selalu ada aja blatakan di rumah.
Laporan selesei.

Gak pernah beli tapi selalu ada. Ini bagus! :D
/tyo/


#19

Kyai slamet | 26 05 2009 @ 1.07.38

Sepatu ada 3. Sepatu trek berat, sepatu trek ringan dan sepatu trek jogging. Tapi paling suka kalo jalan-jalan pake sandal jepit suwalo :D

Betul-betil Kyai Slamet, semua sepatu demi keselamatan dan kemaslahatan. Suwalo? Dulu sempat ganti nama jadi Skylark karena pusing menghadapi pemalsuan.
/tyo/


#18

mastongki | 26 05 2009 @ 0.17.47

Kalo sekolah boleh nyeker saya nggak akan punya sepatu, Paman :D

Bagusssssss…
/tyo/


#17

Ki Syafrudin | 25 05 2009 @ 19.55.46

Kalau tidak salah, jumlah alas kaki saya ada empat: dua sepatu (1 kets dan 1 formal) dan dua sandal lily jepit (satu di rumah dan satu di kantor).
Saya tidak punya sandal jepit biasa.

Sandal Lily. Lama ndak liat. Retro tuh. :)
/tyo/


#16

Yahya Kurniawan | 25 05 2009 @ 16.26.47

Sepatu saya cuma 2, 1 kets dan 1 fantovel (semoga kesalahan penulisan dimaklumi).

Dua pasang = empat buah :)
/tyo/


#15

Ahmad | 25 05 2009 @ 16.00.51

Hingga sekarang, saya masih menggunakan sepatu yang sama. Sejak dibeli 5 tahun yang lalu, ia masih kuat menemani kaki, walaupun alasnya hilang satu waktu mengunjungi sebuah kuil Hindu dalam sebuah acara.

Saya akan terus memakainya hingga sepatu, atau orang Jiran menyebutnya kasut, tak mampu lagi menyangga kaki tuannya.

Kita perbudak kasuttua sampai dia menyerah! :D
BTW dulu, 8090 ada sepatu sport lokal mereknya Kazoot lho. Ingat?
/tyo/


#14

adipati kademangan | 25 05 2009 @ 12.05.07

saya punya 2 sepatu, sepatu lapangan dan sepatu sepakbola, plus sandal japit. Selama saya punya sepatu ndak pernah itu yang namanya direparasi. Selalu yang hancur duluan adalah alas bagian tungkak, jadi ya langsung dibuang saja, lhah wong menurut saya sudah tidak mungkin lagi diperbaiki.

Pakailah sampai jebol. Sama, saya juga gitu. :D
/tyo/


#13

andrias ekoyuono | 25 05 2009 @ 11.05.22

sepatu saya satu paman. Satu buat kerja yang formal, satu buat kerja tapi rada casual, satu buat basket, satu buat fitness. :-)

yang satunya lagi bertambah setiap habis gajian :D
/tyo/


#12

Romiani | 25 05 2009 @ 10.19.46

resep merawat sepatunya ok juga tuh. Ditunggu resep-resepnya yang lain ya…?

ReSep = reparasi sepatu! Hahaha
/tyo/


#11

Chic | 25 05 2009 @ 9.17.28

sepatu sih kayaknya cuma 3 pasang kok Paman, satu hitam, satu coklat, satu putih. Sudah cukup mewakili untuk memakai baju apa aja.

tapi kalo sandal siiih… ehehehehehehehehehe (evilsmirk)

percaya! kalau sandal pasti buanyaaaakkkkk! :))
/tyo/


#10

roi | 25 05 2009 @ 8.21.58

paman, kalo saya sih kayanya lebih banyak sendal dari pada sepatu, soalnya kalo pake sendal kaki nggak gerah…
sepatu ada tiga (yang satu salah beli soalnya ada hak-nya…kalo jalan kaya kapiten: plok-plok-plok)
sendal ada empat: mayoritas sendal jepit

Isis :)
/tyo/


#9

Mario | 25 05 2009 @ 8.20.25

Cuma punya dua paman, sepatu kerja dan sepatu olahraga. Dan baru beli sepatu kerja baru klo yang lama sudah jebol hehe…

Hahaha, khas lelaki. Sebagian lelaki: hanya ganti kalau sepatunya sudah gak bisa dipakai lagi. :)
/tyo/


#8

DV | 25 05 2009 @ 6.27.02

Saya punya tujuh.
Satu boots, satu sneaker,dua sepatu sport, satu sepatu dines hitam dan satunya cokelat serta yang terakhir sepatu kondangan.

Istri saya… wah terakhir ngitung kemarin punya 75!!!

Opo tumon!

Biasa. Wanita (seh sebagian ding) memang punya banyak alas kaki. :))
/tyo/


#7

avianto | 25 05 2009 @ 4.03.32

5: 2 sepatu kerja (hitam dan coklat muda), 1 sepatu santai, 1 sepatu lari dan 1 sepatu spesial untuk training: http://www.vibramfivefingers.com/ – cukup, walaupun mau nambah 1-2 sepatu santai lagi :P

tambah: sepatu roda!
/tyo/


#6

Lasting Lyrics | 25 05 2009 @ 0.15.43

Saya suka pake sepatu.Sepatu indonesia bagus.selamat datang.

Mari!
/tyo/


#5

otholo | 25 05 2009 @ 0.13.31

Pake sepatu kalo kondangan doang :)

Padahal mempelainya paling banter pakai selop! :D
/tyo/


#4

Abihaha | 24 05 2009 @ 22.42.21

Balasolpatu ini malah saya jarang gunakan jasanya untuk alas kaki. Banyaknya untuk menjahit tas motor yang terasngkut bemper ekstensi angkot.
Urusan sepatu, setiap rusak ya dibuang saja soalnya yang rusak biasanya bukan sol, tapi bagian atas sepatu kiri pengangkat tuas pindah gigi di motor kupling. Sobek kulitnya.
Dan pula tiap tengok workshop, selalu lewat pusat kerajinan sepatu nasional Simbahduyut, ada saja obralan sepatu kulit ukuran 45 ke atas.

Kapan-kapan saya nitip kalo situ ke SimbahDuyut ya… :)
/tyo/


#3

godote | 24 05 2009 @ 22.36.23

2 mokasin, jarang pakai juga. 1 hiking jarang pakai juga. biasa sandalan pak. maklum lebih isis

Memang sandal paling cocok untuk daerah tropis, Bos! :)
/tyo/


#2

sawung | 24 05 2009 @ 21.19.20

wah ada jebakan batman ini blognya.
udah kadung baca jadi mesti jawab.
4 sepatu kets 3 safety shoes 1 sepatu bola.

sepatu bola. seumur-umur saya belum pernah punya maupun pakai. tapi saya pernah beli buat keponakan. :)
/tyo/


#1

jun | 24 05 2009 @ 20.59.01

Di Solo, para sejawat Bunyamin itu ngumpul di kawasan Alun-alun Utara Keraton Surakarta, sebelah selatan Gladag. Tentu saja, banyak juga yang bekerja “free lance” seperti Bunyamin dengan berkeliling kota, atau mangkal di pojok-pojok perempatan.
(NB JUGA. Sepatu saya tiga pasang, Paman. Plus satu pasang sepatu sendal. Apa Paman mau ngirim sepatu baru buat saya, supaya sepatu saya menjadi empat pasang? .

Sepatu saya dua pasang: dari kulit buat harian (mokasin) dan yang buat olahraga.
/tyo/