Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Kekusutan Cawang, Kebingungan Para Tuan

Jumat, 12 Juni 2009 @ 03:30 | Umum

JANGAN-JANGAN MEREKA TAK PAHAM ANGKUTAN UMUM.

Beberapa hari belakangan ini terus muncul keluhan pengguna angkutan umum: bepergian jadi tak nyaman karena kawasan Cawang, seberang kampus UKI, “ditertibkan”. Terminal bayangan, untuk kesekian kalinya, digebah. Bus AKAP tidak boleh berhenti di sana. Dan seterusnya.

Sumber kekusutan adalah perencanaan kota. Para tuan birokrat sepertinya pura-pura tidak tahu bahwa kawasan Cawang di Jakarta Timur itu adalah gerbang bagi komuter Bekasi dan Bogor. Adanya simpang susun (interchange) jalan tol di sana, yang pincang itu, membuktikan bahwa Cawang sesuai namanya: sebuah percabangan untuk keluar dan masuk.

Sebelum ada JORR ke Cikunir, Bekasi (2007), simpang susun ini membuktikan keanehannya. Pengguna jalan tol Jagorawi (dari Bogor) jika akan berpindah ke jalan Jakarta-Cikampek, harus keluar dulu. Artinya kalau lalu lintas normal silakan berdesakan di UKI. Dari Bekasi akan ke Bogor juga sama.

Di Cawang, orang yang akan masuk ke Jakarta akan berganti kendaraan umum. Yang akan keluar dari Jakarta juga berganti kendaraan umum. Penduduk Jabodetabek terus bertambah (hanya DKI, Januari 2009 tercatat 8,5 juta jiwa), jumlah aneka kendaraan juga meningkat.

Dulu, sebelum 1993, pergantian itu dilakukan di Terminal Cililitan, sekitar satu kilometer dari Cawang. Pengganti Cililitan adalah Terminal Kampung Rambutan, sekitar 10 km dari Cawang.

Maka orang Bekasi, sepulang kerja dari arah Semanggi dan Priok, akan berganti angkutan di Cawang. Orang Bogor juga. Pasti sesak.

Lalu jejalan itu ditambahi bus AKAP (entah apa batasannya), yang bisa mengangkut orang dari Cawang ke Bogor dan Sukabumi (lewat Jagorawi), dan ke Bekasi atau Karawang (via jalan tol Cikampek). Maunya pemprov DKI, bus AKAP itu berhenti di Terminal Kampung Rambutan.

Aha! Di sinilah kekusutan muncul. Pemprov DKI, dan juga tetangganya di Bogor dan Bekasi, seperti kehabisan akal. Tampaknya, yang paling mudah bagi para tuan itu adalah membayangkan semua komuter memakai motor dan mobil pribadi.

Bahwa kendaraan pribadi — kalau pinjam istilah Adinoto: transportasi publik dalam arti transportasi yang diupayakan oleh publik — akan berjejal di jalan dan tempat parkir, itu soal berikutnya.

Monorel atau apalah yang termasuk MRT cuma maju-mundur di tingkat perencanaan. Setiap kali terdengar kabar bagus, warga cenderung skeptis. Tiang pancang sudah ditana eh kagak dilanjutun. Memang sempat ada soal keadilan nasional: haruskah rakyat Indonesia di luar Jabodetabek ikut membiayai kebutuhan warga Ibu Kota?

Sejauh saya tahu belum ada eksekusi dari solusi yang cantik dan beradab untuk memecahkan masalah transportasi umum di Ibu Kota dan sekitarnya. (Semoga rencana yang sekarang akan terwujud)

Akibatnya Cawang hanya menjadi simpul kekusutan. Sudah begitu, disiplin yang rendah dari pengguna jalan (terutama awak angkutan umum dan pedagang kaki lima), dan ehm… pungli oleh penjaga ketertiban, ikut memperparah kondisi. Ibaratnya, kalau jalan diperlebar sampai dua belas jalur pun hanya akan berarti menambah area ngetem dan kapling lapak kaki lima.

“Sapa suru datang ke Jakarta,” kata Anda. Baiklah. “Makanya jangan naik angkutan umum,” kata sebelah Anda. Baiklah juga.

Jangan-jangan para tuan juga begitu. Mereka merencanakan sistem transportasi di atas peta, tanpa langsung mengalami sebagai pengguna angkutan umum. Atau pernah mengalami tetapi ingin melupakan karena terlalu menyakitkan.

+ Bonus: Tiket ke akhirat: penumpang bus diminta mengadu nyawa di jalan tolĀ 

Ada 22 komentar | trackback | Depan

#22

kenyo | 29 06 2009 @ 13.29.45

iya nih jadi bingung kalo ke cawang

Makanya, makanya…. (apa coba?) :D
/tyo/


#21

Sky | 24 06 2009 @ 12.54.17

kalimat terakhirnya itu paman, bagus banget hahaha… LUCU

http://fbsonic.multiply.com/journal/item/136


#20

didut | 16 06 2009 @ 8.07.50

tp UKI emang udah kek terminal :D

Memang! Itu masalahnya. :)
/tyo/


#19

zam | 15 06 2009 @ 15.06.02

Ki Syafrudin: anda pernah menggunakan transportasi umum yg melewati cawang??

busway juga sama aja. rasio armada dan jumlah penumpang ndak pas. terutama di jalur-jalur padat dan jalur-jalur yg lowong..

busway semakin mengesalkan akibat pengelolaannya kurang bagus.
/tyo/


#18

omith | 15 06 2009 @ 13.28.42

busway tdk disebut paman?

sampe sekarang aja busway kampung rambutan ato dr uki-cawang yg lewati gatsu belum jg beroperasi..
*mangkrak*

kalo busway nya beroperasi kan setidaknya mengurangi kepadatan kendaraan :|

bergantung rasio bus dan penumpang. kalau jomplang, yang ada cuma jalur kosong di tengah kemacetan.
/tyo/


#17

arya | 14 06 2009 @ 18.27.58

jangankan menengok ke amerika atau eropa yang sudah sangat tertib. membandingkan sama KL atau Singapura saja malu. bahkan bangkok jg udah siap sprint ninggalin jakarta.

terus kita cuma meratap, dan setiap kali mendengar “studi banding”?
/tyo/


#16

edratna | 14 06 2009 @ 10.29.53

Dulu, saya sering lewat Cawang, saat masih mahasiswa…duhh ternyata udah lama sekali.
Sebelum ada jalan layang, prapatan Cawang terkenal dengan sebutan prapatan miring, karena lajur jalannya yang lurus, pas di prapatan tak pas, agak berbelok. Dan sejak dulu, Cawang memang rame, karena memang orang dari Bogor dan Bekasi tumplek bleg disitu.

Menurutku, tulisan paman ini justu untuk mendorong pembuat kebijakan memikirkan jalan keluar

Memang maksud saya, dan bloggers lain, begitu Bu…
/tyo/


#15

Tukang Ketik | 13 06 2009 @ 9.46.26

hati-hati kalau nulis, paman.
Nanti bisa masuk bui karena mencemarkan nama baik Pemprov DKI, huahahaha….

Semoga tidak
/tyo/


#14

mantan kyai | 13 06 2009 @ 6.52.35

hmmm… saya kok ndak kaget ya paman. birokrat ancen… aargh :(

saya juga ndak kaget, cuma kesal
/tyo/


#13

pelintas | 12 06 2009 @ 21.12.10

Kalimat terahir itu nyang paling tepat,untuk para tuan itu.Pengalaman itu harusnye membuat mereka memeras otak dan tenaga biar semua nyaman,bukan malah seenaknya.Kalo motivasi udah salah ya begini jadinya.

Ah itu kan baru prasangka saya, Dik… :)
/tyo/


#12

Cecep | 12 06 2009 @ 18.46.13

Saya gak ngerti sama aturan. Yang saya tau, kalau pulang dari Garut ke kost-kostan di daerah semanggi, saya biasa turun di Cawang.

Kalau turun di Rambutan, udah muter lagi jauh, bisnya jg kadang gak ada. Males deh…

Blom lagi, Kp Rambutan tuh terminal yang gak nyaman banget deh. Cobain deh malem-malem datang kesana, sendirian. Ngeriiii!

Itulah masalahnya!
/tyo/


#11

Ki Syafrudin | 12 06 2009 @ 17.27.25

1. Adanya simpang susun tidak berarti terminal; semanggi contohnya.

Setuju. Simpang susun memang bukan terminal. Di Tomang juga. Nah mestinya pemprov memikirkan lokasi terminal yag tepat. /tyo/

2. Dari awal Jagorawi dan Cawang - Cikampek memang dirancang untuk melayani rute Jakarta - Bogor dan Jakarta - Cikampek, tidak dirancang untuk melayani rute Bogor - Cikampek.

Ini keanehannya. Hampir 17 tahun menunggu jadinya Cikunir-Jagorawi. Sekian lama pula masalah terus berbiak. /tyo/

3. Ganti bus harusnya bukan di Cawang, Grogol, atau Tj Priuk, tapi di terminal luar kota Jakarta untuk arah selatan: Kp Rambutan & Lebak Bulus, arah timur: Pulogadung (nantinya Pulogebang), arah Barat: Kalideres.

Tidak praktis bagi pengguna umum. Sehingga akhirnya orang membeli motor dan mobil. Dan jalan kian sesak, begitu juga parkiran. Kemudian solusi yang dipikirkan bagaimana agar pengguna kendaraan pribadi tidak kena macet. /tyo/

4. Sejak dulu bus kota harusnya sampai Kp Rambutan, jadi tidak perlu menunggu koridor 9 dan 10.

Bus kota sampai Kampung Rambutan, tapi tak semuanya karena penumpang sudah habis, lagi pula dari terminal sedikit penumpangnya, kecuali menunggu lama. Mayasari Bhakti P6 Grogol-Rambutan sudah hampir 10 tahun dilarang keluar gerbang TMII padahal akan masuk lagi ke Jagorawi. Yang jadi masalah, untuk mencapai Kampung Rambutan, dari Cawang harus masuk jalan tol — artinya tak ada perhentian bagi penumpang. /tyo/

Untuk semua catatan:
1. Tata ulang rute angkutan, dan perbaiki armadanya
2. Siapkan terminal baru (seperti terminal mini Rawamangun)
3. UU Lalu Lintas ditegakkan secara tegas, tak kenal sogokan
4. Tanpa itu, jalan akan semakin sesak — termasuk oleh mobil angkot kecil
/tyo/


#10

mantan penglaju | 12 06 2009 @ 10.49.13

tuan yang menandatangani kebijakan ini bersama dishub dki adalah dirlantas polda metro jaya yang baru dilantik dua bulan sebelumnya pada tahun 2008. bagaimana mungkin seseorang yang baru dilantik di jakarta (tadinya bertugas di yogya, samarinda dan jatim) bisa memahami karakteristik pengguna jalan jabodetabek? saya harap ada penundaan penerapan, dan kaji ulang, minimal sampai koridor 9 dan 10 busway beroperasi (kalau memang itu solusinya)

mestinya selama sebulan dia naik angkutan umum keliling jakarta. pasti paham.
/tyo/


#9

Chic | 12 06 2009 @ 10.35.20

mangsudnya di Jakarta ndak boleh kere gitu ya man paman? :|

ya boleh to, nduk :D
/tyo/


#8

adipati kademangan | 12 06 2009 @ 10.26.48

ini yang menurut saya adalah salah satu larangan tanpa memberikan solusi. Isone nglarang thok !?

larangan yang dibuat setelah melihat dari helikopter :(
/tyo/


#7

sawung | 12 06 2009 @ 9.13.07

kapan ya angkutan umum gratis masuk tol. kemarin saya lihat di hk dan sin angkutan umum gratis dijalan tol.


#6

cynthia depe | 12 06 2009 @ 8.46.05

gara2 peraturan ini, jadi susah pulang malam.. Bus ke bogor kena jam malam euy. Halah, malih curcol tho, Pam!

Mamase juga kerepotan ya?
/tyo/


#5

adi | 12 06 2009 @ 7.55.08

harusnya para tuan birokrat itu dipersembahkan paket menginap (minimal) semalam di pangkalan garong dan rampok uki :D

Bukan itu. Mereka ambil paket naik angkot, tanpa kawalan, selama sebulan di Jakarta.
/tyo/


#4

galihsatria | 12 06 2009 @ 7.52.07

Simpang susun Cawang hanya satu contoh kerumitan lalu lintas di Jakarta. Ya ya ya… siapa suruh datang Jakarta? Banyak duit e paman.. he he he :p

Cawang malah jadi sumber duit. Tanya saja orang2 di sana
/tyo/


#3

hoa binh | 12 06 2009 @ 6.51.02

saya udah lama gak lewat2 Cawang lho, gimana kalo Paman ngajak saya jalan-jalan kesana?

Lha mbok jalan-jalan sendiri. :D
Yang ada di sana, sebagian orang tidak jalan-jalan, tetapi jalan tergesa tanpa kenikmatan. :D
/tyo/


#2

Daus | 12 06 2009 @ 5.38.05

Hahaha. Iya. Pusing bener.

Salah satu korban yah? Naik dari mana? Tol Kebun Jeruk juga? Itu bukan terminal lho.
/tyo/


#1

avianto | 12 06 2009 @ 4.12.42

Kenapa ya susah sekali membuat segala sesuatu yang berkelas ‘umum’ di Indonesia…

Di kota yang saya tempati sekarang, padat, angkutan umumnya juga berjejal-jejal kalau lagi jam sibuk, tapi ya… tidak macet, 15 menit dari rumah ke kantor - paling 5-10 menit (sudah parah tandanya).

Buat saya, angkutan umum itu benar-benar berkah, tapi kalau di Indonesia kok ya beda cerita :(

Di Indonesia, itu musibah bagi rakyat — terlebih jika tak ada angkutan umum.
/tyo/