KITA MENYELEKSI, TANPA PERNAH MENANYA DIRI SENDIRI.
Awal 90-an, jika Anda berfotoria di dalam mal akan dianggap kurang lumrah. Bersama keluarga berfoto di depan taman berpancur Plaza Indonesia (bukan Bunderan HI), Anda akan dikira sok turis — atau memang orang dari luar kota.
Bukan sedang merayakan ulang tahun lalu berfotoria di kedai siap saji, pakai kemera SLR pula, akan diperhatikan. Jika masih di mal, lalu sekeluar dari kedai Anda berfotoria lagi, satpamwan akan menghampiri, menanyakan ini dan itu.
Saat itu, sehari-hari membawa kamera (saku) berfilm adalah kemewahan. Mewah bagi si pelaku maupun orang lain. Apalagi jika seusai memotret si pelaku menunggu setidaknya sehari demi beberapa lembar contact prints. Cara pencetakan macam ini pun aneh bagi sebagian orang. Sama anehnya dengan orang mencetak slides.
Sangat tepat jika Anda menduga arah tulisan ini akan sampai ke fotografi digital yang lebih murah dan gampang, lalu membuat perbandingan.
Maka baiklah saya langsung melompat. Di Facebook, pemuatan foto-foto lama era film adalah hasil perjuangan, karena foto lama tinggal sedikit — apalagi jika bersama orang yang hari ini bukan pasangan Anda. Merepro seadanya pun perjuangan (butuh niat), apalagi merepro secara digital, misalnya dengan pemindai (termasuk menitipkan ke labo foto digital).
Foto lama yang direpro pun sebagian besar pose beramai-ramai. Jarang foto sendirian dalam pose “gak penting”. Semakin jarang lagi foto jempol kaki, handel pintu kamar, dan kloset. Itulah bukti bahwa fotografi berfilm memang mahal.
Sekarang, dengan ponsel pun jadi. Dan langsung diunggah ke Flickr, Facebook, dan blog. Bila perlu orang memotret dirinya sendiri. Dan tentu, orang memotret apa saja, termasuk body parts-nya sendiri.
Yang terjadi adalah hambur gambar. Yang penting jepret, hajar. Sepanjang kartu memori masih muat ya jepret terus. Sudah biasa sekarang orang berfoto di trotoar dan jembatan penyeberangan. Orang sekitar pun tak peduli — kecuali untuk sesi khusus pemotretan model cantik, berbusana seksi pula.
Seorang kawan, sutradara dan fotografer, bilang, “Bagusnya pake film tuh kita betul-betul selektif milih obyek dan momen, soalnya harus inget serol cuma isi tiga (puluh) enam (bidikan).”
Hambur gambar. Yang tak terpakai pun tak sempat dihapus, langsung terangkut ke hard disk. Hampir sulit sekarang ini mencari komputer personal yang tak menyimpan foto-foto — selain lagu dan video.
Hambur gambar. Banyak yang tersimpan, dan semua anotasi hanya mengandalkan ingatan tentang apa, kapan, dan di mana. Meskipun komputer menyediakan aplikasi pengarsipan, saya yakin sebagian dari pengguna (kecuali fotografer) tak memerlukannya. Saya pun tidak.
Terlalu banyak jepretan, merasa sedikit waktu untuk mencatat, dan sangat percaya kepada ingatan — tapi kalau lupa ya cuek saja, toh tak semua hal layak jadi sejarah. Itulah kita.
Saya tak tahu, dari segi jumlah (bukan volume atau total ukuran file), dalam sehari ada berapa juta gambar yang dihasilkan. Misalkan sepersepuluhnya disimpan (dan dipamerkan) di internet, berapa banyakkah pelihat yang ingat dengan cermat?
Foto-foto bukan lagi hal yang berjarak, bukan lagi gambar yang hanya ada di kalender dan koran atau majalah, bahkan bilbor, yang nota bene hasil karya orang lain. Foto-foto sekarang ini adalah kita. Kamera saku dan ponsel penjepret adalah kita.
Maka kini satpamwan mal pun tak sesenewen dulu. Bahkan pramusaji dan manajer beberapa kedai sekarang lebih ramah terhadap kamera tamu karena jepretannya bisa menjadi sarana promo gratis di blog dan jejaring sosial.
Flickr, menurut saya, kurang leluasa untuk berkomunikasi — karena desain awalnya memang galeri. Sementara foto-foto kita pada Facebook menjadi sarana komunikasi. Foto-foto menjadi alasan kita untuk menulis ringkas, sambil membiarkan (atau berharap) orang-orang lain akan mendirikan bangunan teks berupa kumpulan komentar. Bahwa bangunan itu sesuai bayangan, apa boleh buat.

Kita kembali ke masa manusia belum mengenal aksara. Pesan kita sampaikan secara lisan (termasuk dongeng dan lagu) serta gambar. Bedanya, penggunaan gambar sekarang lebih masif. Dan itu terus meningkat.
Kita bisa mengaku bahwa kita akan semakin selektif melihat gambar karena sehari tetap 24 jam. Tetapi, rasa-rasanya, kita jarang bertanya kepada diri sendiri bagaimana cara kita menyeleksi.







tiyok | 28 08 2009 @ 13.56.32
Jadi nyadar sesuatu…
Andy MSE | 03 08 2009 @ 9.12.12
saya juga menghambur gambar… tapi nunut kamera orang… lha wong punyak saya seadanya dan nggak mesti dibawa, hehe…
*jadi ingat kamera saku pertamaku ricoh xf-30… sudah lama nggak dipakai, males beli film, hiks*
—
Film? Boros memang. :D
/tyo/
melly | 14 07 2009 @ 19.36.30
dan kita semakin jarang mencetak foto-foto itu. disimpan di hard-disk dengan alasan nanti mau di-klasifikasi ulang atau di-”seleksi” dan baru menangis-nangis kalau hard-disk kena virus atau diambil maling (curcol nih, oom)
—
memang. begitulah. :D
/tyo/
network_pirates | 23 06 2009 @ 21.31.25
weh, high grade article…
Pitra | 23 06 2009 @ 7.09.53
Dulu kalau saya hobi hunting foto, dengan limit 36 x 2 rol film, karena cuci cetak pun mahal. Biar irit saya cuma print contact sheets saja. Itu pun per rol film membutuhkan total biaya Rp. 30.000 (film+cuci+contact sheets).
Sekarang SD Card makin murah, apalagi kalau hanya dipakai untuk menyimpan file JPG (dan bukan RAW). Ada malah teman bapak saya yg tidak lagi menyimpan rol film hasil foto, tapi yg ia koleksi adalah SD Card per judul foto. SD Card tak pernah ia hapus. Kalau kurang ya beli lagi (seperti ia dulu membeli rol film)
—
Menarik. SD card sebagai pengganti film. Makanya beli terus. :D
/tyo/
kwak kwik kwek | 22 06 2009 @ 22.22.29
tulisan ini bikin gw kangen sama kamera jatah yang snappy ceklok itu.:D
—
hidup ceklok! asik mbak kalo ceklok digital. 336 jepret gak habis. :D
/tyo/
-GoenRock- | 22 06 2009 @ 18.47.40
Flickr itu dikonsep sebagai galery seperti DeviantArt. Tapi kok ndak ada fasilitas watermark ya? Kan kadang kita pengen majang foto atau gambar terbaik bikinan kita tapi tanpa merasa takut bakal dicolong orang. *halah saya ini, wes dikasih gratis protes*
—
oh gitu ya goen?
/tyo/
jun | 21 06 2009 @ 13.45.12
Memang benar, paman. Sesudah seneng ngeblog —antara lain gara-gara terpicu paman juga— dan punya kamera saku digital, bagi saya kini yang penting jepret, hajar. Sampai-sampai harus bikin banyak folder di hard disk untuk menyimpan foto-foto yang sebagian besar ternyata nggak mutu itu.
—
Mau dibuang sayang, tapi lebih sering biar pun disimpan tak pernah dilihat ulang :D
/tyo/
Kardjo | 21 06 2009 @ 7.58.03
foto duit 500 perak itu pake (d)SLR, modenya dan setting apperture-nye gimana?
*berarap ada kelas potograpi dari paman*
—
seperti biasa, pakai kamera saku. kali dengan mode berentet eh beruntun…
inilah contoh hambur gambar atas nama percobaan. ada zaman film, rada eman-eman :D
tyo/
masoglek | 20 06 2009 @ 16.35.19
kalo tempat saya yang namanya kamera masih tergolong barang mewah lho. Buktinya tiap ada yang bawa HP kamera langsung pada rebutan minta difoto. maklumlah wong ndeso
—
ah masa sih? di mana-mana juga gitu, di mana ada kamera, di situ orang2 rame mejeng :D
/tyo/
tegas | 20 06 2009 @ 12.27.14
iya om..
klo yg difoto sksi si pasti pada rame..hehehe
—
perlu dicoba. :)
/tyo/
suamimalas | 19 06 2009 @ 15.33.58
tapi om, kemarin temen saya masih dikejar-kejar satpam tuh waktu masuk sensi bawa-bawa kamera SLR…
mungkin satpamnya masih datang dari era kamrea berfilm kali yah :D
—
berfilm atau tidak, kamera SLR memang mengundang perhatian, apalagi kalau berlensa panjang :D
/tyo/
Karunia | 19 06 2009 @ 9.16.29
Foto-foto sekarang makin aneh-aneh saja ya? Apa semakin banyak orang narsis di dunia?
—
Gimana tuh foto yang narsis? :D
/tyo/
pitik | 19 06 2009 @ 7.03.42
duitmu kok cuma mangatus, om?
—
lha iya, wong ini aja ngutang. sini, kasih saya duit. sesekali lah…
/tyo/
afris | 19 06 2009 @ 1.57.07
wah ilustrasi yang pertama, modelnya keren paman..
itu tika dan zam bukan?
—
iya, zam dan tika. dua orang keren. :D
/tyo/
suprie | 18 06 2009 @ 22.48.33
hahaha iya, di harddisk saya juga banyak.. tapi saya heran koq malah dikit poto saya yah
—
orang yang suka motret, biasanya foto dirinya dikit. kalau pun ada, itu jepretan orang. :D
/tyo/
geblek | 18 06 2009 @ 22.21.06
ini bukan karena pelampiasan krn kehabisan batre saat hunting kemaren kan paman
—
oh bukan, dik! kan saya dapat sumbangan foto dari anak2 bengal itu?
/tyo/
ariel | 18 06 2009 @ 18.44.55
wah mendalam neh teknik dari pak de, saya dengar kalo foto kita di facebook tersimpan juga foto lainnya, cuma sy tidak tahu trik agar membukanya, apa benar tuh pakde?
—
trik membuka bagaimana ya maksudnya?
/tyo/
DV | 18 06 2009 @ 11.53.42
Paman, beberapa hari ini saya lagi giat mengupload foto film ke FB.
Paman juga komen kan di sana.. aduh senangnya :p
—
mari tebar gambar, hambur gambar :)
/tyo/
ebeSS | 18 06 2009 @ 11.37.04
entah seberapa cepat tulisan ini akan semakin efektif dan penting.
sekarang cd blank murah berkapasitas aman 700Mb, sebulan baru terpakai beberapa keping. ukuran foto juga masih umum di bawah 1Mb, apalagi untuk fesbuk! PC rakitan murah sudah ramai menawarkan HD 160Gb, kamera murahpun telah umum bisa di set tanggal, jam untuk nama file.
hanya memang yang hobi fotografi pun, klo sejak awal mengacak manajemen penyimpanan ini sesuka hatinya, dia akan menemui masalah besar. order tidak akan menunggu kita mencari kembali sebuah foto yang dimaksud. artinya menghargai foto adalah hafal nama file dan tempatnya, bukan warna- warni aksi di dalam foto itu . .
*masih sebuah impian ada explorer yang bisa search file image tampang tikabanget misalnya . . apalagi yang lagi nggak pakai . . . kacamata . . :P
—
lha ya kalo hapal terus :P
/tyo/
Indra | 18 06 2009 @ 11.03.21
Karena facebook udah berbaik hati nyiapin harddisk 2,5PB untuk poto poto kita, Paman.
—
makin besar storage makin tamak kita :)
/tyo/
benx | 18 06 2009 @ 10.40.39
Menarik.
mastongki | 18 06 2009 @ 10.21.28
Paman, kan untuk tahu ini-itunya sebuah foto tinggal tilik metadatanya ;p
—
oh gitu ya Tong? :D
/tyo/
Chic | 18 06 2009 @ 9.49.37
oyaaaaa… kemaren sempet meriwili Paman selagi melihat-lihat koleksi photo-photonya… :D
Jadi Paman, ada berapa jumlah koleksi photo di harddisk Paman? :P
—
buanyakkk :D
/tyo/
Yahya Kurniawan | 18 06 2009 @ 9.16.50
Yach, itulah kemajuan jaman, Paman.
Namun tak sedikit pula yang memanfaatkan kemajuan tsb untuk kejahatan (doh)
—
Wah gak ikutan deh
/tyo/
didut | 18 06 2009 @ 9.14.10
habis membaca ini kok rasanya akan smkn selektif deh :D
—
mari eh semoga, tapi kita lihat :P
/tyo/
galihsatria | 18 06 2009 @ 8.54.23
Buat saya, Flickr memang tetap galeri, jadi saya pakai buat foto-foto “serius”, sedangkan facebook buat foto narsis dan foto keluarga saja :D
—
Nah! Hahahaha.
/tyo/
adi | 18 06 2009 @ 8.09.47
Pak dhe, disaat teknologi sudah memungkinkan orang berfoto ria, saya tetep mendapat perlakuan “paranoid” dari satpam di beberapa mall dan juga ah di bandara udara. Adakah alasan “keamanan” sehingga tidak membolehkan jeprat jepret di mall? Anehnya mereka beralasan kalau foto2 orang boleh, klo foto2 bukan orang gak boleh, lah!!!! kalau gw foto 2 bukan orang dengang pura2 lagi memfoto orang gimana???
—
Pura2 motret orang padahal nggak, itu namanya trik, Mas Bowo! :D
Soal keamanan, yeahhh hak pemilik properti (termasuk kita dan isi rumah kita) untuk membolehkan atau melarang pemotretan. :)
/tyo/