Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Credit Point-nya untuk Saya, Ya?

Selasa, 23 Juni 2009 @ 17:10 | Umum

BERSYUKURLAH, SELALU ADA ORANG YANG BERMURAH HATI.

Seusai rapat dengan beberapa eksekutif BUMN, seorang kawan, sebagai orang luar, dihampiri salah satu manajer. “Pak, usulan yang tadi disetujui itu, kalo entar udah mateng diserahin ke saya, ya. Biar saya nanti yang kasihkan ke para bos. Saya kan butuh credit point, Pak!” kata si manajer.

Sebuah keterusterangan yang gamblang. Tanpa jalan melipir. Kawan saya menyanggupi, “Nggak masalah, Bos. Ambil aja. Yang penting usulan saya nanti jalan.”

Meminta poin orang lain? Ternyata ada. Dan sebagian orang menganggapnya biasa. Malah dianggap sebagai seni dalam hidup. Mungkin itu dianggapnya sewajar meminta tiket teman yang menang di TimeZone untuk menggenapi syarat penukaran hadiah yang lebih besar.

Bagusnya, itu dilakukan dengan meminta. Bukan mencuri. Saya pun teringat teman semasa sekolah yang meminjam gambar saya, yang sudah dinilai, untuk dia pinjam lalu disodorkan ke guru yang berjuluk tukang bakso.

Cukup dengan menutupi salah satu ujung lembar gambar yang ada nilainya (pakai tangan), maka dia pun mendapatkan nilai. Dan nilainya selalu dua angka di atas saya. Saya membiarkannya karena selalu ingin tahu perbedaan nilai berdasarkan siapa yang menyodorkan gambar.

Banyak cara untuk menjadikan hidup lebih mudah. Mana yang cerdas, mana yang culas, itu harus ditimbang dengan hati saat menimbang kasus demi kasus.

Pernah seorang wanita dosen menelepon seorang jurnalis. Mulanya menanya kabar, lalu diawali dengan (anggap saja begini), “Oh ya, cara menanam bayam itu gimana sih? Aku asing sama sekali.”

Lantas pertanyaan Bu Dosen kian menjurus, lebih tajam, dan runtut. “Kamu mau bikin makalah ya?” tanya si jurnalis. Waktu itu belum internet apalagi Google, sehingga peta koginisi di benak sangat diandalkan, begitu pula daya ingat. Bahkan judul buku dan penerbitnya pun diangsurkan via telepon.

Makalah? Hanya ada tawa kecil. Lalu good bye. Kebetulan si jurnalis beberapa kali bilang sedang sibuk dikejar tenggat. Dua hari kemudian Bu Dosen tampil di seminar (konon) penuh percaya diri. Isinya ya bersumber dari obrolan telepon itu.

Dari beberapa kawan, si jurnalis akhirnya tahu bahwa semasa kuliah Bu Dosen itu terkenal dengan jurus sadap: menempel cowok-cowok yang pintar, apalagi saat ujian.

Namanya juga hidup. Ada ilmu untuk bertahan. Maka bisa dimaklumi jika seorang editor penerbitan selalu menjaga ketat naskah buku komplet dari penulis yang merangkap desainer grafis, yang lugu dan jujur. Alasannya, “Kalo naskah ini ketauan orang bisnis, mereka akan cari orang dalam buat niru naskah ini.”

Dalam rapat terbukti, ada celetukan dari si pencari uang ketika melihat kopian sampel naskah itu, “Ada teman kita yang bisa bikin gini, nggak? Daripada dikasih ke orang luar, kan kita bisa hemat…” Hemat itu, orang dalam yang ditugasi menjiplak juga tak perlu dibayar lagi karena dia sudah digaji.

Mahalkah ide? Mahalkah kreativitas? Tidak, kata sebagian orang yang kreatif dan sangat pede. Kalau hanya bermodal gagasan, tanpa know how, maka sebagus apapun sebuah rancangan tak akan berjalan.

Kalau cetak biru berada di tangan yang pintar? “Nasib,” kata seorang teman saya. Lantas dia lanjutkan, “Ya kita mengasah diri lagi, bikin sesuatu lagi.”

Masalahnya bukan di hukum, apalagi sampai ke non-disclosure agreement, tetapi di watak. Dulu banget seorang kawan menyumpah serapah ketika tahu bahwa seminggu setelah proposalnya ditolak perusahaan telko, maka perusahaan itu menggelar kegiatan yang mirip banget dengan proposalnya. Tak ada bukti memang, tapi gelaran usulan itu dulu masih langka, operator (baca: manajer baru) belum memikirkannya.

Karena menyangkut watak, maka ujung-ujungnya adalah komitmen diri. Misalkan memesan desain web, dan desain itu tertolak, maka ada sekadar pengganti biaya lelah dari pemesan — dan lebih dari itu ada jaminan bahwa desain tersebut tak akan dipakai, bahkan kalau perlu dimusnahkan. Itu untuk bisnis kelas garage company yang main percaya saja tanpa banyak paper works.

Tetapi, aha, kita kan hidup di era internet? Justru di situ bagusnya. Banyak orang berbagi, dan orang pun saling mengawasi — hanya soal waktu (dan nasib) yang akan membuktikan apakah seseorang memperlakukan karya orang lain semaunya.

Mengambil theme untuk blog misalnya, bisa saja CSS-nya diakalin, tautan ke kreator dhapus, lalu kreditasi diklaim karya sendiri, tetapi akhirnya toh ketahuan. Begitu pula dengan gagasan yang dibagikan di Slideshare atau Scribd. Pencomot dan pemerkosa hak cipta akan ketahuan.

Memang, kemiripan ide di mana pun dan kapan pun itu ada, karena pengetahuan juga menyebar ke mana-mana. Tetapi kejujuran ternyata belum tentu ada di mana-mana tempat. Pernah saya dengar, seorang guru melakukan “kopas” demi credit point untuk mendapatkan sertifikat mengajar, dan kepala sekolahnya cincai saja (bandingkan dengan posting saya tentang sanksi di sebuah sekolah). 

Mira Lesmana, dalam sebuah buku yang saya reviu, saya kutip, “Kalau ini memang karya lo, tolong hargai, dan simpan baik-baik. Jangan biasain ngasih-ngasih hasil kerja keras kita ke orang yang lo sebetulnya belum kenal.” 

Mungkin ini “ilmu hidup” juga, yang dirumuskan sebagai “ya gimana pintar-pintarnya kita” dan “ngapain capek kalo ada cara gampang?”.

Etos. Etika. Masa sih itu barang mahal? Oh emang ada yang jual, pakai diskon tengah malam pula? :D

© Ilustrasi: Treehugger — tanpa izin

NB: Masih lebih sopan penikmat lagu bajakan — mereka tak pernah mengaku-aku MP3-nya sebagai karya sendiri. :)

Ada 26 komentar | trackback | Depan

#26

Bajuri | 10 10 2009 @ 8.13.26

Mana yang asli dan mana yang tiruan. Hmmm… hingga mau bikin comment aja saya lihat comment yang sudah ada satu persatu biar tidak menyamai comment yang sudah ada…

Santai aja Mas. Suwun. :)
/tyo/


#25

mantan kyai | 30 06 2009 @ 8.11.02

orang yang masih mikirin kredit panci macam saya belum maqomnya mikir kredit poin paman … :D

kredit poin berhadiah panci, mau? :D
/tyo/


#24

Eko & Kanty | 29 06 2009 @ 17.06.19

Dear Paman,

Terima kasih, tulisan yang menarik

Kadang keadaan ini membuat sebagian dari kita enggan berbagi. Tapi kami percaya tidak akan pernah rugi untuk berbagi, tetapi pasti akan rugi jika kita selalu menyimpan segala sesuatu hanya untuk sendiri.

Ilmu dan kebijaksanaan tidak akan habis walau dibagikan :)
/tyo/


#23

STR | 27 06 2009 @ 7.34.39

Iya deh, saya ngaku. Saya emang suka ngakalin CSS. :P

Huahahahaa :D
/tyo/


#22

donny | 27 06 2009 @ 3.16.40

Gimana kalau dibagi bayarin credit card, pasti pada lari

Mari kita coba, Don! )
/tyo/


#21

mpokb | 26 06 2009 @ 11.25.37

oh, soal berbagi kebahagiaan, begawan blog adalah pakar. nggak perlu diajari :)

Ah Miss Mpok berlebihan… :))
/tyo/


#20

Ibunya Aria Gaung | 26 06 2009 @ 10.49.05

aku seneng kalau bisa bagi2 ide. mau dipake, dikopi, dirojer… sumonggo kerso. sayang selama ini aku tdk pernah punya ide untuk dibagikan.

ah si mbak sih sering berbagi ide — dan tugas! :D
/tyo/


#19

Abihaha | 26 06 2009 @ 2.07.13

Bagi pemberinya, ini merupaken kesesuaian daripada kepribadian bangsa yang mana menyesuaiken pendapet daripada pendahulu kita, terutama yang mana istilah jawanya : “weweh tanpa kelangan”

betul, saudara abi. :)
/tyo/


#18

pecinta indonesia | 25 06 2009 @ 8.53.44

dengan membagi ide, kreatifitas, dan ilmu yakin tidak akan mengurangi rezeki seseorang.

kadang ada orang yang sangat sulit membagi ilmu & pengetahuannya di dunia IT, mungkin dia takut semakin banyak yang menyaingi nya atau entah alasan yang lain,saya perhatikan kondisi nya biasa saja.

Dan saya perhatikan mereka yang membagi-bagikan ilmu nya seperti programming, aplikasi, dll, kehidupannya malah lebih baik, temannya banyak, walaupun ada juga yang secara ekonomi kondisi nya biasa, tetapi kehidupan sosial nya baik.

terus mengapa pelit dengan ide, kreatifitas dan ilmu?

setuju! setuju banget! :D
/tyo/


#17

Ahmad | 25 06 2009 @ 7.22.54

Saya pernah mengalami hal yang sama, ketika senior meminta untuk dibuatin makalah. Saya tak menggubrisnya, tentu dengan halus.

percaya. cara ahmad selalu santun. :)
/tyo/


#16

minanube | 24 06 2009 @ 14.54.28

Memang paling jijik dengan orang yang ngelakuin apa saja asal dirinya bisa nongol, lebih menyebalkan lagi jika dia adalah orang yang harus kita turuti perintahnya.

Padahal sholat dan wiritanya panjang juga, apa yang salah dengan dunia sekarang ?

waduh waduh, serius nih kayaknya. santai aja bos. :)
/tyo/


#15

iPhone 3GS | 24 06 2009 @ 14.20.46

jadi klo punya ide langsung saja dituliskan di blog ya paman. ntar kalo ada yg niru jadikliatan deh. tapi masalahnya idenya itu orisinal atau niru juga..hehe

wah gak asyik ngeblognya, soalnya dilandasi kekhawatiran, bukan kesenangan :)
/tyo/


#14

cenil | 24 06 2009 @ 12.53.47

Pakde, seorang sahabat saya, pemilik sebuah EO dari Surabaya, hobi sekali membagi-bagikan ide2 kreatifnya. Menurut dia, rezeki gak kemana. Dia bahkan tahu konsekuensinya: kalau sudah melontarkan sebuah ide pada orang lain, artinya dia harus mencari ide lain yang bisa dijual untuk kelangsungan hidup EO-nya.

Sampai hari ini, dia survive. Bahkan menurut seorang kawan lain yang juga mengenalnya, sahabat saya itu termasuk sukses.

Moral of the storynya… hm… ah, gak perlu moral of the story kan ya? Hehe…

Ilmu itu gak habis. Dikasihkan orang juga gak bikin kita jadi miskin kok, Nil. :)
Coba ada konglomerat membuka jurus sukses kepada 100 orang, paling yang sukses cuma satu. :D
/tyo/


#13

Sky | 24 06 2009 @ 12.34.21

paman memang paling ciamik kalau ngebahas soal beginian, ilustrasinya juga lucu, dapet momennya :D


#12

bangsari | 24 06 2009 @ 11.01.11

sayangnya, norma adat tidak berlaku di jakarta ini. :P

masa sih?
/tyo/


#11

hedi | 24 06 2009 @ 10.15.03

Kognitif…konon para roadies itu lebih jago dari musisi yg dibantuin…untungnya sih mereka bukan orang gila kredit ;)

Nyetem gitar, mereka jago dan cepet. :) Piyu Padi dulu roadie di Dewa kan? :))
/tyo/


#10

j4p | 24 06 2009 @ 9.06.34

Di tempatku ada dua orang manager yang mendapatkan penghargaan dari perusahaan. Sebenarnya mereka tidak berhak karena penghargaan itu adalah hasil kerja & ide anak buahnya.
Manager A dengan tenangnya menerima dengan senang hati, sedang manager B langsung mengutarakan kalau sebenarnya dia tidak berhak mendapat penghargaan, yang lebih berhak adalah si C, anak buahnya.
Perusahaan sangat menghargai ketulusan hati manager B. Jadi selain si C, sang manager B juga dapat penghargaan.

Cerita yang bagus. Dibikin posting menarik nih. :)
/tyo/


#9

geblek | 24 06 2009 @ 7.16.49

kalau terjadi pencurian ide bisa dituntut dg uu ite ndak paman

buktinya apa pencurian ide? :)
/tyo/


#8

DV | 24 06 2009 @ 6.10.57

Hehhehehe…
Menarik tulisanmu, Paman :)

Saatnya sekarang memang harus saling sharing, bekerja sama meski ada saja pihak yang ingin mengerjasamakan segala hal termasuk menjajah ide orang lain ya?

Kalau grup musik njiplak lagu barat piye?

sharing oke. soal mbajak karya musisi lain, mmmmmmm yahhhh gitu deh :))
/tyo/


#7

jun | 23 06 2009 @ 23.00.06

Ah, kasihan deh jurnalis yang diakali wanita-dosen tersebut. Jurnalis yang kala itu belum kenal internet, apalagi Google. Apakah dia sekarang mahir internet, dan jadi blogger top yang tak lagi gampang diakali —meski oleh seorang wanita sekalipun?

“gampang diakali —meski oleh seorang wanita sekalipun?” — lho wanita ndak boleh pinter nipu ya? :D
/tyo/


#6

network_pirates | 23 06 2009 @ 21.27.44

oalah paman, sampeyan mari kemalingan tah?


#5

mpokb | 23 06 2009 @ 19.27.46

lho? bisa :D
sebaiknya sih simbiosis mutualisme, jangan setelah diambil credit-nya terus si pemberi jasa diabaikan. kasihlah imbalan sewajarnya, tidak perlu berupa materi.. lho, tapi ini termasuk KKN nggak ya?

ooo gitu mpok? ajarin dong…
/tyo/


#4

mpokb | 23 06 2009 @ 19.26.21

kok jadi susah komen di sini yak?


#3

Ben | 23 06 2009 @ 19.09.15

kirain mau bahas seseorang yg tiba-tiba mau jadi jurkam itu… :D

duh sapa lagi yang dimaksud benny ini :))
/tyo/


#2

didut | 23 06 2009 @ 19.06.06

*dengerin lagu bajakan* :P

asal gak diaku sebagai karya sendiri :D
/tyo/


#1

Chic | 23 06 2009 @ 17.44.50

sayang ide itu tidak dilindungi hak cipta ya Paman, jadi siapa saja boleh nge-claim.. padahal proses kreatif itu kan awalnya dari ide :|

lha mbajak itu prosesnya juga dari ide lho bu :D
/tyo/