KETIKA BAHASA INDONESIA KIAN MENJAWA.

Tak gendong ke mana-mana. Nanti tak angkut pakai truk. Kalau situ ke sini entar tak jemput. Oh tak kirain situ lupa. Yo wis nanti tak teleponnya… Tak gendongnya…
Ya, ya, ya. Karena lagu Tak Gendong-nya Mbah Surip (yang menghasilkan royati Rp 33 miliar itu)*, kata “tak” semakin terkukuhkan sebagai padanan “ku”, yaitu bentuk ringkas dari “aku”, tepatnya pronomina persona pertama.
Tak gendong itu ya kugendong. Maka “tak akan kubiarkan pergi” mestinya ya boleh menjadi “takkan tak biarkan pergi”.
Dari manakah kata pungut “tak” sehingga masuk ke dalam bahasa (yang saat ini masih) nonbaku? Dari orang Jawa, termasuk saya. “Tak” tidak hanya berarti “tidak”.
Saya tak (baca: tidak) tahu sejak kapan “tak” itu masuk ke dalam bahasa lisan secara “nasional” — maksud saya di luar Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur. Seingat saya sih ketika para pelawak Jawa itu, termasuk Srimulat, mengisi acara di TVRI Jakarta (dan belum ada TV partikelir), kata “tak” sebagai padanan “ku” mulai tersiar luas.
Bersamaan dengan “tak“, tersiar pula kata “orang saya…” sebagai pengindonesian “(lha) wong aku…” Repotnya, sejauh saya tahu, belum ada padanan bahasa Indonesia untuk “wong”.
Jadi bagaimana? Saya tak menentang maupun mendukung. Dalam bahasa yang hidup memang terkandung proses saling memengaruhi dan bahkan tarik-menarik.
Hanya saja saya sebagai orang Jawa, yang berpikir dan bertutur dalam cara Jawa yang kacau balau, tetap merindukan sebuah bahasa Indonesia yang lebih kaya, yang tak hanya didominasi oleh orang dan bahasa Jawa.
Tentu saya menyadari bahwa jumlah orang Jawa (yang bertutur Jawa) cukup banyak. Di Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timr saja jika digabung akan akan terjaring sekitar 66 juta orang. Itu masih ditambah orang dari etnis lain, termasuk keturunan Cina, yang hidup di ketiga kawasan itu. Hus, rasis ya, kok bawa-bawa keturunan Cina segala? Secara stereotipikal, keturunan Cina di ketiga wilayah itu juga medok dialek lokalnya.
Meskipun begitu, di kalangan penutur bahasa Jawa (yang ketika membatin angka pun dalam bahasa Jawa), terutama generasi saya dan yang lebih muda lagi, kemampuan bahasanya cenderung menurun.
Ada data? Tidak. Setidaknya kesan itulah yang saya peroleh dalam percakapan maupun terlebih tulisan. Bahasa Jawa zaman sekarang adalah bahasa Jawa yang agak mengindonesia karena sudah bercampur dengan aneka serapan.
Dalam kesimpulan yang ringkas sekaligus menggampangkan, dengan merujuk kasus saya: banyak orang Jawa yang tanggung. Bahasa Jawa saya tak sebagus bapak saya, begitu pun bahasa Indonesia saya. Bahkan dalam berbahasa asing pun saya ketinggalan jauh. Jangankan bahasa Belanda dan Jerman (yang memang tidak saya kuasai, padahal bapak saya bisa), bahasa Inggris saya pun kalah dari pengasong di daerah wisata.
Ya sudah, masalahé itu kalo tak perhatè’ké memang gitu, soalé Éndonesa itu sulit, saya sering ndak d(h)ong, jé. Baiklah tak tanyakan ke Paman Patih Blontank ingkang Mbois saja.
© Foto: Kontan/Warta Kota







Taufan | 30 08 2009 @ 11.03.13
Tak kèthak, tak pisuhi, tak apusi. Tak tratak…tak… He….he..
—
Waduh :D
/tyo/
tiyok | 28 08 2009 @ 13.41.12
Sejak kedatangan keluarga kami, maka tetangga sekitar pun mulai memakai “tak” dalam kehidupan sehari-hari. Padahal tetangga-tetangga saya itu orang Batak, Minang, Sunda, Melayu. Ibu saya memang kental sekali Jawanya
Lancar Basa Kromo Pam? Saya sering kagok bila mengobrol dengan simbah-simbah yang hanya bisa berbahasa Jawa. Akhirnya banyak ah-ih-uh dicampur kata-kata dari bahasa ngoko, sambil berharap penggunaannya benar.
Saya pernah ketemu kawan orang Purwokerto, keturunan Cina, dan ngapaknya bahkan melebihi kawan saya yang Jawa asli, ngapak pula sejak lahir! Begitupun dengan warga Cina-Jawa di Surabaya dan Semarang, rata-rata medok abis, mungkin malah melebihi orang Jawa!
—
Tanpa bermaksud melecehkan warga keturunan Cina, memang begitulah stereotipenya. Artinya kalau kita anggap mereka itu asing, jelas keliru. :)
/tyo/
yudha kartohadiprodjo | 25 08 2009 @ 12.51.55
Ini jelas wartawannya tidak melakukan riset dengan benar. Dalam bisnis content, lebih dari 50% dari biaya yg dibebankan kepada pelanggan akan diambil oleh telko. Setelah itu, 25 persen akan diambil lagi oleh Content Provider. Sisanya baru diambil oleh pemilik rights. Berdasarkan kontrak antara pencipta lagu, penyanyi,produser dan label maka 25% dari total tersebutlah yang dibagi. Agak memalukan kesimpangsiuran ini terjadi.
—
Mmmmmm gitu ya? Hahaha. :)
/tyo/
muntaha | 05 08 2009 @ 17.23.13
hanya ingin mengambil pelajaran dari fenomena mbah surip. ambil enaknya.
Lover | 27 07 2009 @ 20.40.10
Begitulah bahasa… biarkan sajalah mengalir apa adanya. Enak toh… Mantep toh…??
Joseph | 23 07 2009 @ 20.35.58
Rejeki orang memang ga bisa ditebak yah.. hanya dengan lagu yg simple dengan sedikit bahasa daerah bisa mengeruk 33M. Salut aja deh sama mbah surip bisa bikin orang merasa lucu dan teringat terus jadinya.
—
Oh ya?
/tyo/
gum | 16 07 2009 @ 16.14.52
begitulah, paman. bahasa itu hidup, seakan punya nyawa. selama nafasnya (kita, para pengguna) juga masih terus menggunakannya.
eh, paman. entar malem gue tungguin di enggok-enggokan deketnya jomplangan sepur ya.
—
enggok-enggokan. aha! lama nggak dengar!
/tyo/
Yusno | 16 07 2009 @ 14.12.25
33 milyar? Enak dong, asyik dong! Mendingan tak gendhong ke mana2.
—
walah, jangan terpukau angka dulu. lebaih baik nanya orang label dan… kantor pajak! :D
/tyo/
surip | 14 07 2009 @ 11.04.52
Mbah Surip yang Fenomenalllllllllll
Tau Ga… Dari “Tak Gendhong” Mbah Surip Dapat Royalty 4,5 M…????
buka sini (ada videonya lohhh)
http://ekojuli.wordpress.com/2009/07/14/wuih-dari-tak-gendhong-mbah-surip-dapat-royalty-45-m/
—
wuih. bener tuh?
/tyo/
Dony Alfan | 13 07 2009 @ 12.25.31
Saya inget ajaran dari paman blontank, menurutnya yang bener itu “dak”, bukan “tak”. Dan kata “dak” itu penulisannya juga digandeng, misalnya : dakgendong, daklakoni, daktumpaki.
Untuk lebih jelasnya, monggo langsung bertanya kepada penghisap samsu itu :D
edratna | 12 07 2009 @ 7.08.24
Padahal lagu mbah Surip banyak ketawa nya ya?
Mungkin karena bahasanya mudah, sehingga bisa dinikmati banyak orang. Bahasa Indonesia bukannya memang dinamis paman, bisa menerima apa aja?
—
Iya, tapi apa hanya dari bahasa Jawa saja? :)
/tyo/
ardyansah | 09 07 2009 @ 14.18.33
justru inilah letak kekuatan bahasa endonesia. memiliki daya serap yg luaarr biasa… gak engrish gak jawanesia… seng penting podo ngertine.. bhueheheheh
—
Jawanesia! Hahaha…
/tyo/
sigit | 08 07 2009 @ 10.24.39
hmmm, menurut saya bahasa indonesia memang berkembang semakin liar dan tak terkendali karena pihak yang seharusnya menjadi penjaga bahasa tidak bisa menjalankan fungsinya secara maksimal. Tetapi paling tidak asimilasi bahasa indonesia terjadi dengan bahasa-bahasa yang ada di indonesia sendiri (baca : bahasa daerah). Menurut saya, lebih baik begitu daripada bahasa indonesia berasimilasi dengan bahasa asing seperti bahasa inggris.
—
Menyerap bahasa mana pun gak soal buat saya asal cocok. :)
/tyo/
hosting | 07 07 2009 @ 6.09.08
bahasa jawa yang dipakai orang sekarang memang udah pada bercampur aduk
—
lha ya itu… :D
/tyo/
ebeSS | 06 07 2009 @ 11.18.33
motor dua ‘tak’ tidak boleh di sirkuit Laguna Seca! Kamus Besar Bahasa Indonesia hanya mencantumkan 3 arti kata tak : kependekan tidak, bunyi, dan sistim langkah mesin motor! Klo tak pikir, secara kamus, bahasa Jawa kalah sama bahasa inggris, lha wong arti ‘tak’ yang dari bahasa Jawa nggak ada da KBBI :P
—
Masa sih “tak” otomotif itu menyerap dari bahasa Inggris? Setahu saya “two stroke engine” dan “four stroke engine”. “Tak” kita serap dari Belanda, “takt”. :)
/tyo/
Surawan Tri Atmaja | 06 07 2009 @ 9.53.29
TAK KIRA tentang Lagunya Mbah Surip, JEBULANYA tentang Bahasa Indonesia.
—
Jebulnya sakndilalah halah, karepnya apa to? Piye iki… Orang saya nganu… :D
/tyo/
masoglek | 05 07 2009 @ 18.27.49
itulah sifat wong Jowo, sukanya menggampangkan masalah, termasuk berbahasa.
saya jadi inget pengasong-pengasong di Borobudur, bahasa Inggrisnya mantep-mantep walaupun kadang-kadang nggak jelas
—
Lha yes. Why not tenan, Kang?
/tyo/
kardjo | 04 07 2009 @ 17.19.26
Ada lagi yang hampir selalu tanpa sadar diucapkan penutur BI asal jawa.. kata ‘LHA’ di awal kalimat.
“Lha iya, yen takpikir-pikir, tidak semua bahasa Jawa ada padanannya di bahasa Indonesia… Lha wong kata kekunduran dan kebablasan saja ndak pernah ketemu je… Lha terus, kita harus bagaimana, jal”
Lha paman sendiri juga orang jawa tulen toh?? Pastilah sering mengucapkan sedemikian itu. Lha begitulah adanya….
—
Woooo sudah pasti. Lha iya gitu, ha wong saya ini anu je… :))
/tyo/
Bocah | 04 07 2009 @ 11.59.19
Paman, lagu Mbah Surip pasti dibikin dengan bantuan ilmu sihir. Soalnya, menjelang pilpres ini banyak yang pakai sihir. Omong-omong, apa sihir termasuk “ilmu” ya…?
—
Sihir? Ilmu atau ngelmu? :)
/tyo/
funkshit | 04 07 2009 @ 11.23.11
hiya… kata “tak” dan “mau” memang riskan.. sebab bisa bermakna ganda.. dan artinya pun berlawanan..
—
ya di pangsit. mau ke sini, itu hendak ke sini atau tadi ke sini? :)
/tyo/
Yan | 04 07 2009 @ 9.17.55
Imsto, Bahasa tidak statis… Bisa jadi bahasa indonesia seratus tahun ke depan sudah 99,9 persen unsur jawanya…
Lha wong didaerah saya sekarang (sarolangun, jambi) sudah 45 persen penduduk jawanya! Tanah saja mudah di kuasai, apalagi bahasa!
Huk huk!
—
Kalau nantinya terlalu banyak usnur Jawanya, uh menyedihkan juga. Bayangkan, 99,9 persen menurut Anda. :)
/tyo/
Karunia | 04 07 2009 @ 8.36.28
Mbah2 Jawa memang sip tenan. Ada Mbah Surip, juga ada Mbah Maridjan yang jadi seleb juga.
—
Semua akan jadi simbah, makanya nanti ada Mbah Karunia. :D
/tyo/
Yahya Kurniawan | 03 07 2009 @ 20.07.57
Jaman ndak enak dulu, ketika saya belum kumpul sama istri saya – yang waktu itu masih pacar saya – teman saya meninggalkan pesan seperti ini: tadi pacarnya nelpon tapi masnya lagi pergi, nanti katanya tak telpon lagi. Lha ndilalah teman saya itu orang Sunda, saya jadi rada berpikir keras soal kata “tak” yang dia tuliskan itu :p
—
Berpikir keras dan bingung…
/tyo/
nimbrung | 03 07 2009 @ 13.35.33
“ji, ro lu, pat, mo….”
wkakakakak… walaopun bertahun-tahun dijakarta
—
teman yang lama mukim di negeri bule saja masih begitu :))
/tyo/
zenteguh | 02 07 2009 @ 20.11.02
perspektif lain dari kemonceran mbah Surip, manteb tenan..
—
moncer? manteb? :D
/tyo/
Bang Del | 02 07 2009 @ 20.08.27
Terkadang sesuatu yang sederhana dan simpel bisa menghasilkan uang banyak ya Paman. Yo wislah, aku tak melu sik..
—
Hanya kadang, kan?
/tyo/
phery | 02 07 2009 @ 16.15.57
walah, tak pikir mbahas apa to
—
tak pikir…
/tyo/
Ahmad | 02 07 2009 @ 9.08.34
Saya malah makin disandera bahasa Melayu, bukan bahasa Indonesia, sebab yang terakhir ini banyak menyerap bahasa asing, meski bahasa sumbernya menyediakan padanannya, seperti identifikasi dengan mengenalpasti, variabel dengan pembolehubah, eksplorasi dengan carigali dan lain-lain.
Pusat Bahasa harus memerhatikan ini, segera!
—
Harus. Eh mungkin sudah. Dulu sebagian “pemerhati” bahasa memadankan variabel dengan “peubah”, level dengan “aras”, tetapi kalau identifikasi saya belum tahu…
/tyo/
adi | 02 07 2009 @ 7.46.10
kalo denger lagunya mbah surip, kadang-kadang suka mikir ini orang apa lagi ‘high’ ya pas bikin lagunya? lha wong kata-katanya semrawut gitu :D
—
entahlah. nyatanya banyak yang suka — untuk kemudian cepat bosan :))
/tyo/
jun | 01 07 2009 @ 22.08.06
Tak koplok! (Hehehehe, kalau ini versi tak yang galak, paman).
—
Tak kamplengi, tak ajar, tak antil, tak tempilingi… :D
/tyo/
zam | 01 07 2009 @ 18.43.31
tak tung tung!
se7en_pearl | 01 07 2009 @ 15.44.58
mbah itu emank hoki….
rejeki tumpah cm gara” lagu ini…
amponnn d….
tak gendong kemana”…..
—
hoki. sulit dinalar ya? :)
/tyo/
ahmad | 01 07 2009 @ 13.43.52
Hoki banget dah lagunya. Mungkin bertapa dulu kali yah digunung..
minta petuah..Wahahaha…
—
Yang bertapa sih banyak, yang dapet cuma segelintir. Harus di gunung ya? :D
/tyo/
Nazieb | 01 07 2009 @ 12.22.50
Kadang-kadang Bahasa Indonesia yang saya gunakan juga masih belepotan dengan bahasa Jawa..
Susah sih, Paman kalau harus ngomong pake Bahasa Indonesia yang baku. Apalagi yang diajak omong masih orang Jawa juga..
Medhok-e metu wes..
—
Begitulah…. :)
/tyo/
Ndoro Seten | 01 07 2009 @ 12.18.03
Mbah Surip pancen I love u full….
Handaru Sakti | 01 07 2009 @ 11.25.07
Kejelian paman satu ini memang menakjubkan.
bangsari | 01 07 2009 @ 10.56.57
asyik iki.
padahal para pendiri negara ini sudah berusaha membendung pengaruh jawa.
—
Kita perkuat lagi bendungannya :D
/tyo/
Samsul | 01 07 2009 @ 10.50.03
Umar Kayam bolehnya nulis novel ya pake bahasa Jawa-Indonesia kayak itu kok, paman
—
Bolehnya…. Hahaha…
/tyo/
parta | 01 07 2009 @ 10.30.49
maaf paman saya lebih tertarik dengan royaltinya mbah surip itu :)
angka sebesar itu sangat fantastis paman, perbulan Rp 33 milyar (kalau benar), gak perlu mikir membuat lagu yang bagus dan serius, cukup yang gampang diterima oleh telinga semua orang, lucu dan uniq lalu meledak royalti pun mengalir beresss kan..? :)
—
Memang fantastis. Masa sih sebesar itu? :D
/tyo/
Chic | 01 07 2009 @ 10.30.39
bisa gini juga Mas Paman:
“Aku mau ke gedung sebelah”
kalo orang Jawa yang denger, bisa jadi dua pengertian: mau = akan atau mau = tadi.. hihihihihi
susah ya kalo ngomong campur-campur…
*inget postingan Funkshit kapan tau itu*
—
Betul, Bu Chichi!
/tyo/
andrias ekoyuono | 01 07 2009 @ 9.41.29
60% ? banyak amat :-)
—
Huahahahahahahaa. Padahal persentase terbesar itu di operator. Masa sih artis dapat 60 persen? :))
/tyo/
adis | 01 07 2009 @ 9.07.53
Sebenarnya di bahasa jawa sendiri kata “tak” bukan awalan yang baku. Awalan yang baku adalah dak, yang merupakan satu dari tiga awalan depan yaitu dak, ko dan di. Jadi “tak” sendiri merupakan bahasa jawa gaul hehe.. :)
—
Betul. Memang “dak”. :)
/tyo/
Erwin M | 01 07 2009 @ 8.51.04
Paman, kemarin di kantor saya sempat motret dia :
http://www.flickr.com/photos/erwinmul/3660946429/
—
Minta tanda tangan, gak? :D
/tyo/
avianto | 01 07 2009 @ 7.52.57
tak tik tuk tik tak tik tuk… komentar iseng di malam mendung nan hujan :P
DV | 01 07 2009 @ 7.00.03
Itu yang mbikin saya bangga menjadi orang Jawa, Paman hehehe..
Yo wes, nek gitu biar Bahasa Endonesa itu ndak dipengaruhi Jawa terlalu banyak, nek menurutku mendhing presidennya bukan dari Jawa wae.. Piye?
—
Misalkan presidennya bukan Jawa, itu pun bukan jaminan. :)
/tyo/
didut | 01 07 2009 @ 5.34.15
tak pikir pikir ya mbah surip mak jos tenan kui :P
—
“mak jos”. ini juga istilah yang relatif baru. maksud saya baru ada belasan tahun terakhir ini… :)
/tyo/
Oca V | 01 07 2009 @ 5.10.59
Yai hidup mbah Surip!*komen apa ini?g nyambung* Beneran tuh royaltinya segitu?wuih hebat euy
—
Anda percaya bahwa royaltinya sampai segitu? :)
/tyo/
Abihaha | 01 07 2009 @ 4.58.54
Lha takrasa dan takpikir pakdhe ada andilnya juga dalam guyub blog-blogan ini tho?
—
Yen tak pikir-pikir, situ juga :D
/tyo/