DARI YANG OUT OF DATE SAMPAI JAMU VALIUM.
Lama saya tak minum jamu. Selama tahun 2009 ini mungkin baru sekarang — dan tak ada hubungannya dengan pilpres. Jamu yang saya maksudkan adalah jamu terkemas yang siap seduh. Tinggal menambahkan air mendidih. Apalagi ada paket jamu komplet segala.
Seperti biasa, istri saya tertawa kalau melihat saya minum jamu dari cangkir, saya seruput perlahan, bertahap, aduk lagi.
Jamu apa yang saya minum, obat kuat? Bukan. Jamu orang uzur? Begini, yang saya minum adalah jamu ndesit: untuk pegal linu. Saya mengenal jamu ini sejak kecil. Dulu kalau siangnya ikut pelajaran olahraga yang melelahkan, malamnya minum jamu ini. Ibu saya selalu membelikan.
Menurut ibu saya, waktu saya masih kecil, balita, saya pun mencicipi jamu brotowali yang pahit. Entahlah, sekarang saya mungkin tak doyan.
Ya, ya, ya, baiklah, jamu itu minuman kuno. Ada juga sih versi cairan dalam sachet, dan iklannya aneh: menghubungkan kebiasaan minum jamu dengan inteligensia. Maka muncullah pelesetannya, seperti kaos yang saya dapatkan dari penyair cergas Hasan Aspahani: “Orang Pintar Tolak Minum Angin“.

Jamu memang kuno. Majalah remaja cewek, setahu saya, jarang memuat iklan jamu. Padahal cewek zaman saya dulu oleh ibunya, atau neneknya, dibiasakan minum jamu. Ada yang seduh, dan ada pula yang berupa pil kecokelatan.
Jamu memang kuno. Kata “jamu” memang kuno. Tapi kata “herbs” dan “herbal” tidak dianggap ketinggalan zaman, sehingga ada rokok aneh yang menyebut diri “herbal”.
Tak apa, inilah aspek psikolinguistik dan sosiolinguistik dalam keseharian kita. Kata bukan hanya kata sebagaimana adanya. Menyebut berondong tentulah kampungan ketimbang popcorn, seperti menyebut peturasan dan bukan toilet. Pelaku komunikasi pemasaran sangat sadar itu — dan memang harus.
Orang bule masih mengenal lemonade, dan kita akan menganggap seseorang sedang melucu, atau memang jadul tulen, kalau bilang limun. Atas nama adab gaul kita menyaring kata, dengan akibat kosakata kita bukannya bertambah kaya tetapi malah menyedikit.
Ah terlalu jauh ngelantur. Lantas urusan jamu tadi bagaimana? Penjualnya, di sekitar rumah saya, makin sedikit. Beberapa warung jamu semakin menjadi spesialis, hanya buka malam hari, saat sopir angkot selesai setoran.
Dulu di kota-kota kecil (Jawa), warung jamu seperti warung kopi, menjadi tempat sosialisasi. Yang datang umumnya pria dewasa, ngobrol ngalor-ngidul, dari bal-balan sampai politik.
Zaman berubah. Tetapi industri farmasi masih menghasilkan herbal. Dan bahan mentah jamu punseduhan masih dijual, dalam kantong plastik, hanya saja kita tak tahu takaran yang pas itu seperti apa. Self medication menyimpan bahaya.
Lebih berbahaya lagi industri rumah tangga yang menghasilkan jamu aneh-aneh. Sekali ditertibkan muncul lagi. Misalnya yang di Cilacap itu. Ada yang dicampuri valium segala.
Dan kita tahu, sebagian jamu gendong (sekarang si mbakyu pakai motor) berbekal jamu produk industri rumahan yang aneh-aneh itu. Penjualnya lebih mengutamakan stok air panas dalam termos.







nadia meuthia | 07 12 2009 @ 22.51.55
halo mas,
biarpun anak jaman sekarang ga dicekokin jamu sama ibunya, aku malah suka minum jamu. enak koq trus baik untuk kesehatan pula. tapi memang udah ga se asli dulu, sekarang aja jamu gendong gitu -yang nuangnya masih dari botol- ternyata jamunya instant dan dibotolin pas mau jualan. jadi ga ngulek dan ngeramu sendiri.
masa tukang jualan jamu deket rumahku malah kena stroke…. jadi ga jualan lagi deh si mbo’ nya..
Fajar Ramadhitya P | 16 11 2009 @ 21.59.35
Salam kenal.
Kita memang patut prihatin dengan fenomena jamu aneh-aneh tersebut. Padahal Indonesia dengan segala potensi sumber daya alamnya kan bisa dibilang negara jamu, tapi malah ternodai ulah oknum produsen-produsen nakal tersebut.
Bram | 21 08 2009 @ 14.01.30
Kalau saya waktu kecil sering minum jamu beras kencur. Rasanya agak pedes-pedes dikit tapi saya suka. Beberapa tahun belakangan, ibu saya belajar bikin jamu sendiri. Alasannya, biar higienis.
Funkshit | 20 08 2009 @ 16.16.20
jamu .. waktu saya kecil adalah momok menakutkan…
klo saya berbuat nakal.. akan ditakut2in dengan “nanti dicekokki jamu”
dan itu sangat mengerikan
AngelNdutz | 20 08 2009 @ 7.43.26
Ndutz sampe sekarang masih membiasakan minum jamu setelah menstruasi,,,di kampung ndutz jg masih banyak yang jualan jamu keliling, Paman…
Dawam Multazam | 20 08 2009 @ 6.38.18
Jika Jamu sekedar dimodernkan namanya mungkin bisa kembali marak. Seperti sekarang banyak yang lebih suka #indonesiaunite padahal kita sudah punya bhinneka tunggal ika. ;-)
Hasan Aspahani | 10 07 2009 @ 22.54.06
Wah, kaos kita tampil di sini. Makasih, ya, Paman. Tapi, stok sudah abis… kalau ada yang pesan harus nunggu nyablon lagi deh….
—
ayo nyablon!
/tyo/
zam | 10 07 2009 @ 0.15.15
paman mau sate jamu?
*ambil bumbu rica-rica*
—
ndak, zam.
/tyo/
ardyansah | 09 07 2009 @ 14.04.01
dulu sekalinya minum jamu karena penyakit yg tak kalah ndesit paman : udunen… jah :(
—
Lho jamu apa itu? Setahu saya bisulan diobati pake salep yang kayak petis itu. :))
/tyo/
mpokb | 09 07 2009 @ 10.12.25
lucu, orang sekarang kadang menyebut jamu tradisional sebagai “alternatif”, padahal asal mula obat ya dari pengembangan ramuan tumbuhan juga kan yak.. kata orang, minum jamu kudu diimbangi minum air putih, agar endapannya nggak menimbun di ginjal dan malah bikin sakit..
—
Setuju, Mpok. Istilah “jamu tradisional” itu punya lawan bernama “jamu modern” gak? :)
Mari minum air putih. Mpok juga banyak minum kan?
/tyo/
nad | 09 07 2009 @ 9.08.50
di komplekku masih ada thu penjual jamu gendong.. entah mereka keliling kemana aja.. :D
—
ya keliling kompleks dong :)
/tyo/
DV | 09 07 2009 @ 6.20.53
Penjual jamu gendong yang bahenol masih banyak nggak ya hehehe :)
Trus, saya pernah datang ke warung jamu khusus pria, di sana ada tangkur buaya, kidungan (anak menjangan) dan yang pasti obrolan2 seputar selangkangan…
Hahaha, kangen aku!
—
Walah Don, kenapa pake bahenol segala sih? Bikin kangen ya? :D
Di Oz gak ada kan?
/tyo/
handaru | 08 07 2009 @ 22.48.41
Yang aman memang jamu yang diproduksi merk terkenal, kecuali kita tahu takaran dalam meraciknya sendiri. Mengenai filter [baca pilihan/modernisasi]kata utk keperluan pemasaran, itulah ’sihir’ marketing dalam bentuk ‘pengemasan’ dalam semua aspek barang dagangan. Dan tren bisa diciptakan seperti kasus herbal atau organik yg sekarang sedang digandrungi.
—
Hmmm aman. Tentu ada syaratnya kan? Yang namanya khasiat kalau tanpa takaran, apalagi kalau tak cocok, juga jadi racun. :)
/tyo/
Karunia | 08 07 2009 @ 18.40.57
Kalau sekarang minum kopi sudah merupakan gaya hidup, namun jamu belum demikian. Jamu masih membawa kesan ndeso, kuno dan diminum hanya pada saat sakit. Lagi-lagi masalah pembentukan citra.
—
“Halo lagi di mana?”
“Lagi ‘njamu’. Gabung aja ke sini.”
Hehehehe… Gitu ya?
/tyo/
Yan Adyaswara | 08 07 2009 @ 15.22.10
Disini si mbakyu masih jalan kaki, paman! Kenes, kemayu, katanya rahasia supaya awet muda plus jamunya laris.
Di sini Jambi, paman! Melayu asli, dan bukan satu dua orang mbak yu, ratusan atau mungkin ribuan, semuanya ya pasti Jawa!
Sepertinya bukan hanya “tak gendong”, jamu gendong pun sudah menjajah pelosok nusantara ini.
—
Salam untuk Mbakyu yang m(e)layu…
/tyo/
Anang | 08 07 2009 @ 12.40.06
kaose lucu paman
—
Cak Anang jua minum jamu pintar? :D
/tyo/
muji | 08 07 2009 @ 11.25.21
nama juga mengikuti jaman, mengikuti teknologi, pak.
—
oh gitu ya?
/tyo/
sigit | 08 07 2009 @ 11.13.59
kalau saya sendiri, hampir tidak pernah minum jamu… selaiin tidak pernah dibiasakan sejak kecil, juga karena sudah terlanjur terdoktrin dengan kata “jamu itu pahit dan tidak enak”.. :)
Tetapi salut buat paman tyo kalau masih membiasakan diri meminum jamu..
—
Kok salut? Saya nggak membiasakan diri kok… :D
/tyo/