Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Plastik, Plastik, dan Plastik Gratis

Rabu, 08 Juli 2009 @ 11:46 | Umum

KITA HANYA MENGANGGAPNYA SEBAGAI HAK KONSUMEN.

Dulu banget, karena lahan memungkinkan maka banyak keluarga membuat jugangan. Itu lho, lubang galian untuk sampah. Saya ingat, lama kelamaan pembuatan jugangan baru, di atas bekas jugangan lama, semakin sulit. Selalu ada plastik di dalam tanah.

Plastik apa? Macam-macam, tetapi paling banyak ya bungkus, termasuk kantong deterjen. Adapaun plastik kantong, yang disebut sebagai tas kresek karena bunyinya itu, seingat saya mulai dikenal di Indonesia pada awal 70-an.

Mulanya tas kresek macam itu berbahan lembut, tipis, umumnya bermotif (kembang, garis), tetapi kemudian kian beragam. Lalu muncullah tas kresek hitam hasil daur ulang yang kasar, berbau, kalau diterawang tampak belang-bonteng, tetapi masih dipaksakan untuk menampung gorengan.

Plastik menimbulkan masalah karena sulit diurai. Kemudian beberapa toko di sini, secara sporadis dan berkala, menyediakan kantong besar yang harus didapat dengan membeli. Carrefour pernah melakukannya. Dijual Rp 2.000-an per lembar.

Tentulah soal begituan bukan hal gampang. Tas plastik kadung ditempatkan sebagai hak konsumen. Orang berangkat berbelanja toh tak harus berbekal tas sendiri.

Sekarang beberapa toko menyediakan tas plastik degradable. Janjinya sih asal mikroorganisme tanah memadai maka dalam sepuluh minggu tas akan terurai.

Seberapa lebih mahalkah “tas ramah lingkungan (?)” ini bila dibandingkan tas kresek biasa, saya belum tahu. Pemasoknya belum membalasa SMS saya. Kapan itu saya kontak tak berjawab.

Akan lebih bagus jika kelak semua toko menyediakannya. Toko kecil penjual tinta kompatibel untuk printer (Veneta) saja berani masa toko yang jualannya lebih mahal nggak berani.

Tas lain yang rada ramah lingkungan mungkin yang menggunakan tinta berbahan air. Mudah luntur tetapi konsumen toh bisa diajari. Sudah beberapa tahun Kinokuniya menyediakan tas macam ini — tetapi saya tak tahu apakah plastiknya mudah terurai dalam tanah.

Dari sisi desain grafis, tas plastik beginian mestinya lebih menantang. Bagimanapun dalam kampanye lingkungan, pasal fashion dan hiburan mata itu tetap perlu.  Menurut Anda?

Ada 18 komentar | trackback | Depan

#18

susie koesman | 23 01 2010 @ 9.01.20

mau nanya, boleh gak gambar dan tulisan di halaman ini (ttg plastic bags)di-copy untuk mading sekolah anak saya?

Silakan, Bu :)
/tyo/


#17

tiyok | 28 08 2009 @ 13.45.09

Saya sudah membiasakan membawa tas kain, Paman. Jadi kalau mendadak harus beli sesuatu, saya bisa dengan gagah berkata, “Tidak usah Mas/Mbak, pakai ini saja!”
Sayangnya itu belum berlaku di toko buku. Gramedia misalnya, mereka pasti menggunakan tas plastik mereka sendiri, untuk kemudian struknya di-staples ke tas tsb.

Iya tuh, toko bukunya harus dididik :)
/tyo/


#16

Andy MSE | 03 08 2009 @ 9.24.49

saat berbelanja, kalau masih bisa saya bawa di tas atau di mana saja, saya sering menolak kantung plastik, males mbuwangnya Man! semales melihat gunungan sampah plastik di PutriCempo Solo…

Nah itu dia! Bung Andy pasti juga tahu, di pedesaan tuh yang namanya sampah plastik ada di mana-mana.
/tyo/


#15

muntoha | 23 07 2009 @ 11.39.05

kalo di kampung saya biasanya ibu-ibu pakai tas dan kantong belanja sendiri dari rumah..

bagus ini!
/tyo/


#14

antown | 22 07 2009 @ 21.16.17

yoi. sepakat paman tyo. desain grafis fungsinya tetap memperindah sebuah kemasan

saya belum menjumpai kresek yang dijual itu. pingin beli dari dulu

Carrefour jual dua macam tas kok…
/tyo/


#13

zakki | 16 07 2009 @ 1.28.05

di rumah buka toko kecil, sulitnya kalo pembeli minta tas kresek tapi barang yg dibeli cuman sdikit. aku sih jarang ngasih tas kresek kalo pembelinya gak minta (biar disangka pelit,saya gak peduli)

lebih baik pelit tapi mengedukasi soal lingkungan :D
/tyo/


#12

mesinbisnisuang.com | 16 07 2009 @ 0.28.51

hati2 bnyk orng g tau klo plastik jga berbahaya,
jgn lupa lihat Kodenya

selain kode ya warnanya, jauhi yang hitam menerawang, bau pula!
/tyo/


#11

edratna | 12 07 2009 @ 7.01.49

Zaman saya kecil sampai SMA (kelihatan udah jadul banget), kalau belanja ke pasar di kampungku, dibungkusnya pakai daun jati….kalau beli kain di toko dibungkusnya pake kertas. Jadi barang-barang ini jika dibuatkan jugangan, seperti cerita Paman masih mudah terurai di tanah.

Lha rumahku di Jakarta sempit paman, ga bisa bikin jugangan…. dan tukang sampah dua hari sekali datang….memang sayang sih banyak plastik yang nanti sulit terurai.
Paman, tas plastik ini memang bisa dibuat atau diurai lagi jadi bijih plastik, walau dibersihkan warna nya tak bisa putih lagi….jadi biasanya dibuat untuk bahan yang berwarna, seperti hitam, hijau, merah dsb nya.

plastik. solusi sesaat tetapi jadi sumber masalah.
/tyo/


#10

Fiz | 10 07 2009 @ 8.40.54

Salah satu toko waralaba di sekitar kost saya malah tidak keberatan kalau sang Konsumennya bilang, “Ndak usah wadah mbak, jok motor saya masih bisa dipake kok…!!” atau, “Ndak usah pake struk mas, nanti akhirnya toh pasti saya buang…!!”

bagus itu!
/tyo/


#9

Gejul | 09 07 2009 @ 23.19.26

Plastik = kesalahan manusia

kalau manusianya bijak mestinya nggak sampe segitunyalah :D
/tyo/


#8

ardyansah | 09 07 2009 @ 14.27.22

sarung emang gak ada matinya ya paman. huehehe

Taplak batik dan kotak-kotak juga bisa :D
/tyo/


#7

mpokb | 09 07 2009 @ 10.01.27

kantong plastik supermarket hero juga sekarang lebih cepat terurai, bangpaman *keduluan maning posting soal kantong plastik :P*
sekarang saya lagi cari kantong kain yang bisa dicuci pakai berkali2, seperti kantong belanjanya londo itu. dulu bodyshop pernah bikin. bangpaman mau bikin yang ada cap dagdigdug?

Lho, ada apa kok pakai pasal “keduluan maning”, Mpok?
Soal tas kain, ya ya ya ya… :)
/tyo/


#6

DV | 09 07 2009 @ 6.11.34

Kemarin saya sempat kaget pas belanja grocery, kasirnya bilang “Kamu mau beli tas?” ya terang saya bilang nggak.. eh lha kok kasirnya lantas membiarkan barang2 belian begitu saja trus saya baru nyadar, jebul sekarang tas plastik aja mbayar :)

Go Green!

Mari, Bung!
/tyo/


#5

Abihaha | 09 07 2009 @ 0.11.56

Jaman kapan itu pernah dapat konsumen toko roti. Sempat bersemangat berkelingkungan, hitung punya hitung dengan kertas dorslag tetap 3-4x lebih mahal dari plastik.
Konon gerakan tanam ’sengon’ bisa mempermurah bahan baku kertas. Ayo bertanam sengon.

Nanam sengon memang menjanjikan. Abi punya lahan luas? :D
/tyo/


#4

handaru | 08 07 2009 @ 23.53.29

Background foto pertama ‘gilani’. :D

Maaf, Bos. Namanya juga tempat sampah. ;)
/tyo/


#3

Karunia | 08 07 2009 @ 18.32.47

Ayo kembali ke budaya ‘nggembol’. Bawa tas sendiri setiap berbelanja. Setiap manusia adalah “pabrik” sampah dan setiap pabrik harus mengolah limbahnya masing-masing.

Lha kalo belanjanya tanpa rencana? :)
/tyo/


#2

adis | 08 07 2009 @ 14.44.38

Tas plastik itu juga sangat berbahaya bagi anak-anak lho paman. Baca nih… http://adis.web.id/2008/02/02/tas-plastik-itu-sangat-berbahaya/

Memang berbahaya, misalnya kantong buat mengerudungi kepala sendiri dan temannya. Bisa-bisa kehabisan napas.
/tyo/


#1

Anang | 08 07 2009 @ 12.37.58

di swalayan waralaba juga ada peringatan jangan memakai tas plastik.. he lha tapi piye nggawane ngko jal?

pake karung beras, cak!
/tyo/