DAN UJUNG-UJUNGNYA ADALAH KONTEN INDONESIA.

Wanita kurang menguasai peta? Oh, rasanya sih nggak. Toh saya juga kurang paham peta. Memang, seorang Simbok Venus mengaku bingung soal peta. Dia pernah saya buatkan denah dari kertas bekas. Bukan karena saya pintar tetapi karena rute yang dia butuhkan saya lalui saban hari. Yang dia tidak tahu, belum lama saya familiar dengan wilayah yang saya gambarkan.
Jakarta ini terlalu luas bagi saya dan orang lainnya. Hanya Jakarta? Tidak. Di Yogya pun saya pernah kehilangan orientasi karena kurang familiar dengan jalan lingkar selatan. Kalau seseorang kehilangan orientasi maka semuanya jadi kacau.
Ya, baiklah ada yang namanya GPS. Tetapi percayalah itu bukan berarti hebat. Kita mengikuti tuntunan, dan tiba di tujuan dengan si Slamet, tetapi belum tentu mengenal jalan. Tanpa panduan kita tidak bisa mengulang rute dari arah sebaliknya.
Meskipun begitu percayalah, setiap orang butuh peta, baik berupa kertas maupun paparan digital. Itulah sebabnya warga Ciledug bernama Kurniawan, dalam setengah hari kerja (di luar shift kerjanya di sebuah kantor) bisa menjual 25-an peta @ Rp 5.000 di Mayestik, Jakarta Selatan. Demikianlah pengakuannya kepada saya kemarin siang.
Setiap orang butuh peta, setidaknya pada saat tertentu. Dulu di sebuah kantor, buku peta Jabodetabek Gunther Holtorf sering hilang. Ada yang butuh tetapi malas membeli.
Saya pun pernah kehilangan, sehingga salah satu edisi peta Holtorf adalah barang yang tidak dijual, karena berisi tanda tangan sejumlah pegawai Penerbit Djambatan, sebagai kenang-kenangan untuk kepentingan internal. Sudah lusuh tetapi saya beli juga dengan harga baru di pameran buku di Istora Senayan. Manajernya tak tega karena saya memohon-mohon.
Peta Holtorf memang andal. Kartografinya dikerjakan secara profesional di Slovenia. Maka ketika beberapa tahun lalu terbit peta yang mirip, Holtorf bisa membuktikan bahwa sebagian peta baru itu membajak karya timnya karena ada kesamaan penanda rahasia.
Bikin peta bukanlah urusan gampang. Buktinya pemda di Jabodetabek tak membuat peta sebagus Holtorf yang orang Jerman. Malah peta pedesaan di Jawa sekitar Perang Dunia II itu bikinan Angkatan Darat Amerika Serikat dan menjadi rujukan pembuatan peta berikutnya. Pihak yang masih menyimpan, selain Direktorat Topografi Angkatan Darat dan Bakosurtanal, adalah PUSPICS UGM.
Saya belum tahu, adakah peta lanjutan tentang Indonesia yang sekomplet karya tim I Made Sandy tahun 80-an. Setahu saya buku peta ini tak dijual di toko buku. Dulu peminatnya harus membeli, antara lain, di Fakultas MIPA Universitas Indonesia — dan mungkin Fakultas Geografi UGM.
Begitu tak hiraunya kita akan pemetaan, sehingga seorang geografer bercerita kepada saya bahwa cara kerja birokrat itu aneh. Orang pemda dan Badan Pertanahan Nasional, misalnya, lebih percaya data di atas kertas, bahkan untuk lingkungannya sendiri. Lahan di depan sebuah kantor pemda diyakini sebagai sawah, padahal dengan mata telanjang tampak sebagai permukiman. Bisa dibayangkan seberapa andal data tentang tata guna lahan kalau pemetaan tak diurusi. Jangan bayangkan belang bontengnya data kehutanan.
Peta adalah upaya manusia mengenal tempatnya berpijak. Maka kita lihat, peta-peta awal bentuknya aneh. Pembuatnya belum menggunakan mata burung karena pesawat terbang dan satelit belum ada.
Sesederhana apapun tingkat pembuatannya, peta dan pemetaan adalah bagian dari proses berebut kekuasaan atas ruang. Sejarah pemetaan, dan cerita perteliksandian di dalamnya, adalah buktinya — ingat roman sejarah Jepang oleh Eiji Yoshikawa? Bahkan gereja dulu pun berkepentingan atas peta karena menyangkut hegemoni atas informasi dan “kebenaran”. Gereja tak hanya menyimpan perkamen Kitab Suci.
Begitulah, peta sebuah tempat adalah hasil revisi demi revisi melalui pengamatan lapangan dan pengolahan data. Untuk peta Jabodetabek, misalnya, Holtorf membangunnya dari peta situs proyek para pengembang perumahan, dan mengeceknya ke lapangan. Jika menyangkut keseriusan, saya salut kepada National Geographic Society yang punya departemen kartografi.
Membandingkan peta adalah melihat sebuah sejarah, sebuah pertumbuhan, dan perubahan lainnya. Hanya melihat, karena informasi pendukung harus dicari sendiri. Simbok, Suprie, Biho, dan Andrias Ekoyuono mungkin bisa bercerita kenapa di lintas Cibubur-Cileungsi ada nama jalan Trace Yogie. Untuk Pondokgede, saya agak tahu riwayat topinimisnya, tetapi saya tak tahu perkembangan batas “Ujungaspal” itu di mana saja titiknya.
Padahal itu semua bukan sejarah yang sudah lama berlalu. Maka saya bayangkan muatan lokal pelajaran sekolah mestinya memberikan informasi itu, sehingga orang Yogya bisa tahu kenapa ada Selokan Mataram.
Mungkin kelak komunitas blogger lokal bisa mulai membangun wadah info berbasis Wiki untuk wilayahnya. Cah Andong bercerita tentang perubahan sebelum dan sesudah ada jalan lingkar luar Yogyakarta. Bloggor punya cerita kenapa ada jalan bernama Kapten Muslihat di Bogor. Dan Batam Blogger Community punya cerita perubahan ruang bernama pertumbuhan ruko dan reklamasi pantai yang mengenyahkan hutan bakau.
Blog dan menjadi blogger (atau narablog) bukan tren sesaat. Jika diseriusi dengan riang ceria, mereka itulah yang (mestinya kelak) membangun konten Indonesia yang layak rujuk. Konten yang dibangun dengan kecintaan, seperti Wikipedia. Bagi saya sih PR Pesta Blogger dari waktu ke waktu memang bukan sekadar kopdar akbar nasional tetapi membangun konten Indonesia. Mari kita dukung.







venus | 10 09 2009 @ 23.27.41
owalah..ini ya? huahahaha…jadi malu. tapi iya e, jakarta ini terlalu luas, terlalu banyak belokan, prapatan, pertigaan, lampu merah, jalan layang. gmn saya yg wong ndeso gak bingung? :D
—
Sama Mbok. Saya juga. :D
/tyo/
j4p | 03 08 2009 @ 15.16.52
Malu bertanya, sesat di jalan.
Besar kemaluan, gak bisa jalan. :D
—
Buktinya Anton masih bisa jalan. :P
/tyo/
Fickry | 30 07 2009 @ 23.45.10
Sejarah dan Geografi itu sangat penting dan jadi mata kuliah favorit di bbrp negara barat… tpi kok ya banyak org barat yg ngira Bali itu negara sendiri..wkwkkw…
—
National Geographic Society pada tahun 90-an pernah melakukan survei pengetahuan siswa Amerika. Hasilnya: kurang. :D
Mungkin kayak orang Jawa memetakan Indonesia: Jawa dan Luar Jawa. Ini kebodohan atau keangkuhan? :D
/tyo/
toko ribbon | 30 07 2009 @ 20.22.36
Peta memang perlu banget untuk memberi petunjuk terhadap tujuan kita. Tp lebih mantab kalau didukung dh kompas, GPS & rambu petunjuk jalan. Sringkali sy alami, sy bs capai tujuan dg liat rambu ini plus banyak tanya di jalan…hee…he…hee
—
Banyak tanya. Asal ada yang mau jawab dengan jelas :D
/tyo/
KangBoed | 30 07 2009 @ 11.21.15
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk sahabatku
Apdeeeeeeeetttttttttt
—
Saam juga, Kang!
/tyo/
apakabarindonesia | 30 07 2009 @ 10.59.35
Kalo saya kehilangan orientasi kalo datang ke sbuah lokasi malam hari, lalu kembali lagi pada siang hari. Bingung deh…
—
Banyak kok yang gitu. Kadang saya juga :D
/tyo/
day | 29 07 2009 @ 19.33.58
hahaha peta itu memang berdaya guna banget pak. gak cuma untuk menyumbang nilai geografi di sekolah tapi juga bikin orang makin suka sejarah dengan membayangakan serunya rute-rute bersejarah :B
gothic_bless | 28 07 2009 @ 10.23.15
berarti yg buat GPS itu sapa?
emank seh GPS itu penting sekale lho…
g aj srg nyasar, padahal itupun cmn dari grogol – gading….
—
Grogol-Gading itu jauh lho. Lewat tol juga bisa nyasar.
/tyo/
Lover | 27 07 2009 @ 20.46.31
Peluang bisnis yang bagus kalo gitu ya..? :)
senimanpeta | 27 07 2009 @ 19.50.55
hore akhirnya paman bicara peta juga..
—
akhirnya… :D
/tyo/
edratna | 27 07 2009 @ 10.35.29
Ide bagus paman..siap dukung….
—
Mari Bu!
/tyo/
zulham | 27 07 2009 @ 6.17.43
Membawa peta mentiadakan istilah ‘malu bertanya sesat di jalan’.
—
Nggak juga. Kita bukakan peta lalu nanya, “Di manakah saya sekarang?” :D
/tyo/
nanninund | 26 07 2009 @ 13.57.28
duhaduh bingung…
duhaduh pusing… :P
The Tukang | 24 07 2009 @ 15.57.16
Makanya Dora The Explorer, butuh Peta untuk mencari lokasi :D.
Tidak hanya peta geografis tapi juga peta berfikir kita tentang sesuatu.Tanpa peta pemikiran yang jelas kita mudah tersesat.
—
Mapping memang penting, Bos.
/tyo/
KangBoed | 24 07 2009 @ 8.56.49
Waaaakaakakakak.. bagaimana kumaha.. apdeeeeeeeeeeeeettttt.. dunk
—
Ya harus, entah gimana caranya! :D
/tyo/
Joseph | 23 07 2009 @ 20.25.37
Selama ini sih saya cukup terbantu sama BlackBerry Maps, secara sering nyasar.
Terutama sewaktu di Bali bermodalkan hanya tau nama jalan dan daerah saya bisa nyetir kemana-mana loh.
Kalau di Jogja masih banyak jalan yang tidak muncul pada blackberry maps.
—
Di Yogya kalau nanya orang akan dijawab, “ke utara, lalu ke barat, setelah itu ke selatan.” :D
/tyo/
haris | 23 07 2009 @ 11.52.54
ya, blog bukan tren sesaat. orang2 yang mengabarkan senja kala blog akibat facebook, menurut saya, salah besar. sudah banyak blog yang mencoba membangun konten indonesia, juga daerah. di masa depan, info berbasis wiki di masing2 kota oleh komunitas blogger adalah sesuatu yg tak mustahil.
—
Ya betulll. Mari kita wujudukan impian kita di rumah mimpi :D
/tyo/
mr.arta | 23 07 2009 @ 10.20.09
Kalo saya si pronsipnya: malu bertanya sesat dijalan…
—
Kadang sudah bertanya masih tersesat juga.
/tyo/
sigit | 22 07 2009 @ 11.56.48
hehehehe… pintar dan jeli sekali melihat peluang nih orang yang jual peta jabodetabek. Gak usah orang luar Jakarta, lha wong orang Jakarta sendiri kadang gak ngerti kok dimana itu dimana. Jakarta memang pesat sekali pertumbuhannya :)
—
Selain pesat, Jakarta (plus Bodetabek) memang terlalu luas
/tyo/
nova | 21 07 2009 @ 21.26.35
temen saya bilang kalo belum nyasar belum tau jalan, padahal dia cuma ngeles tapi emang bener juga sih ndor hehehe
—
Jadi, bagaimana?
/tyo/
penchenk | 21 07 2009 @ 3.13.01
Wah kadang itu juga perlu banget bang.. slm kenal aja dech…
meong | 21 07 2009 @ 1.24.35
baca di mana ya, katanya duluuu peta diperlakukan selayaknya harta yg dijaga mati2an, selayaknya top secret juga.
omong2 GPS, jd inget sungguh2 terjadi pas anak2 mo ke klaten njagong manten. rombongan saya mengandalkan kemampuan navigasi sopir *pacar sendiri* dan tanya2 sama orang sekitar. dan walhasil perjalanan ditempuh cukup lancar. kesasar yaaaa…sekitar sekilo-an lah.
nah, rombongan lain lbh mengandalkan GPS. dan apa yang terjadi sodara-sodara? nyasar kemana-mana dan baru nyampe TKP setelah acara kondangan usai, gyahahha *maap utk skrg belum terlalu percaya GPS, masih percaya peta konvensional dan tanya2* :D
eh ples feeling juga deng, paman ^_^
—
Perasaan. Itu karunia yang berharga, Jeng.
/tyo/
mastongki | 19 07 2009 @ 0.02.16
Kadang di Jakarta itu GPS malah bisa membuat ayah saya melakukan hal yang jarang dia lakukan “bertanya nama jalan”, karena akurasi google maps yang kadang acak-acakan, dah ah ya, saya bersyukur diterima masuk Geografi UGM, semoga bikin saya lancar baca peta :D
—
Hidup Mas Tongki!
/tyo/
arya | 18 07 2009 @ 20.53.59
wogh, maestro geografi wicara peta. hehehe
—
ngawur! siapa yang maestro?
/tyo/
hedi | 18 07 2009 @ 20.19.19
simbok cincai lah, tinggal telpon pasti ada guide dadakan, ya mirip kertas bekas itu :P
—
halo, suprie di sini. :D
/tyo/
Mas Kopdang | 18 07 2009 @ 13.21.45
Sepakat.
Craig asal SF, bisa membuat craiglist.org yang ekspansif ke seluruh kota di dunia..
mungkin,untuk Indonesia, tiap daerah,para blogger lah yang punya kuasa dan hapal denyut nadi kota hingga daki-dakinya.
maklum: Nakpungni alias anakkampung sini..
:P
___
Nakpungni? Baguussss… :D
/tyo/
zam | 17 07 2009 @ 13.33.52
mau menyumbang konten, paman.
utk selokan mataram, itu sebenernya proyek dari kraton utk menghindarkan warganya dari kerja romusha Jepang. dengan dalih untuk memberikan kemudahan kepada Jepang bila ada sungai yang menghubungkan Kali progo dan Opak, sungai itu justru malah berguna utk mengairi sawah dan pedesaan yang dilalui selokan mataram tersebut. :D
soal jl. kapt muslihat, ada seorang tokoh pejuang bernama Kapt muslihat yg gugur di sekitar rel yang melintang di jalan itu. bahkan sebuah patung dibuatkan di sebuah taman yang ndak jauh dari rel (dan stasiun Bogor).
*buka Google Maps*
—
Bagus, Zam!
/tyo/
Nazieb | 17 07 2009 @ 9.19.19
Saya pernah nyasar pas dari blok M mau ke Pakubuwono, malah nyasar ke Bunderan HI :D
—
Jauh sekali?
/tyo/
muji | 17 07 2009 @ 9.05.07
saya kesulitan di jalan ketika malam hari. Bahkan jalan yang sudah saya kenal, kalau di malam hari saya sempat bingung.
—
Lha gimana lagi, yang siang tampak kentara pada malam hari jadi ngumpet sih.
/tyo/
adi | 17 07 2009 @ 8.54.06
kl bertanya di solo ato yogya malah lbh repot lagi. dari sini ke selatan sampai perempatan, trus belok ke timur sampe bunderan trus ke utara, lha sampe depan kodim sampean tanya saja sama prajurit yg jaga di gardu depan situ :D
guntur | 17 07 2009 @ 8.50.22
selalu mengandalkan GPS bila berada di wilayah yg asing….
(GPS = Ganggu Penduduk Sekitar)
—
Mari kita ganggu…
/tyo/
KangBoed | 17 07 2009 @ 3.26.42
Waaaah.. kadang memang perlu banget tuh
Salam Sayang
dewanto | 16 07 2009 @ 22.13.51
saya sekitar tiga tahunan di puspics tapi jarang sekali masuk ke ruang peta, pengetahuan saya tentang koleksi di sana barangkali malah kalah sama paman tyo, hiks…
pula kalah jauh sama juru kunci ruang peta, pak bachrun.
sewaktu saya di sana, lebih banyak berhubungan sama pemrosesan citra digital dan pelatihan serta proyek-proyek. perkembangan sekarang saya kurang tahu, namun sepertinya pelatihan masih terus jalan.
semoga saja, pak bachrun masih sabar mengurusi peta di rak-raknya.
tambahan paragraf sepuluh, paman, setiap instansi membuat peta-peta sendiri yang spesifik sesuai kebutuhannya padahal sudah ada bakosurtanal, bukan hal yang salah, namun terkadang berbeda datum, sistem koordinat yang digunakan dan lain-lain sehingga sangat menyulitkan bila ingin menggabung-gabungkannya.
—
Terima kasih untuk tambahan paragraf sepuluh. :)
/tyo/
pitik | 16 07 2009 @ 20.06.24
om, ijin untuk ngasih link tulisan ini ke milis IA-GD (Ikatan Alumni Geodesi) ya…boleh ga?
—
silakan, silakan. dulu kalo ada orang pake teodolit, ada yang ribut, “ana suting, ana suting!”
/tyo/
adis | 16 07 2009 @ 19.44.41
google earth lebih bisa dipercaya paman?
—
persoalannya yang muncul itu jepretan edisi kapan kan? :)
ada yang masih berupa lapangan padahal sejatinya gedung. tapi yah namanya foto udara gratisan, kita terima saja. jangan, misalnya, nuntut foto mutakhir instalasi militer. :D
/tyo/
pitik | 16 07 2009 @ 17.38.56
begitulah masalah pemetaan di endonesa om. masalah toponimi aja saat ini kacau balau. Petunjuk yang mendekati ketepatan adalah peta belanda, yang diperbarui oleh AD Amerika, secara umum (ketelitian kontur, ketepatan bentang alam dll) mungkin masih bisa dipakai, tetapi kalo masalah perubahan tataletak produk manusia (bangunan, waduk baru, dll) memang harus ada pembaruan. sebuah tantangan bagi geodet (juru ukur pembuat peta) saat ini…tapi duite teko ngendi??hehehe
—
butuh duit, niat, dan kejujuran. lha wong pemetaan hutan yang ngabisin duit aja dikorupsi. holtorf gak diduiti pemerintah kan?
soal penulisan? hehehehe… tanjung priok, tanjungpriok, tanjung priuk, tanjungpriuk…
/tyo/
siais | 16 07 2009 @ 16.32.11
Sekarang sih aturan pake GPS aja…
—
Lha GPS kan butuh pasokan data terestrial? :D
/tyo/
-GoenRock- | 16 07 2009 @ 16.30.44
Simbok kan sudah punya GPS.. Global Positioning Suprie
—
Sekalian ajudan ya? Kalo ngantuk dikeplak nyonya besar. :D
/tyo/
mikow | 16 07 2009 @ 15.32.07
buat simbok, supir taxi lebih hebat daripada peta dan gps :)
—
asal sopirnya ngerti lokasi. :P
/tyo/
lukman | 16 07 2009 @ 15.20.30
sudah liat peta kadang sering linglung jugak om, akhirnya minggir nanya tukang ojek ato sekuriti ato orang yang mukanya meyakinkan deh :p
btw, ide bagus tuh, peran aktif blogger dalam membangun wadah info berbasis wilayah, biar gak “tren sesaat” :)
—
yah nanya orang memang butuh kejelian :D
/tyo/
video editing tutorial | 16 07 2009 @ 14.49.52
wah, liat peta jakarta aku masih pusing klo nyasar ya ujung2nya ke terminal blok M
—
itulah yang namaya landmark andalan: terminal blok m.
/tyo/
andrias ekoyuono | 16 07 2009 @ 14.39.11
Ah paman inget aja obrolan di cibujang waktu itu. Skrg saya sudah tahu asal Trans Yogie paman (atau sekarang juga disebut jl. alternatif cibubur-cileungsi).Trans Yogie berasal dari nama Gubernur Jabar masa itu, Yogie S Memet.
—
Aha!
/tyo/
Vavai | 16 07 2009 @ 14.29.38
Wah, saya penggemar utama peta tuh, soalnya gampang lupaan. Lha masuk ke mall saja bisa susah cari jalan keluar, apalagi kalau disuruh mencari satu alamat yang nyungsep ditengah lingkungan :-P
Kalau lagi main dan jalan ke JKT, langganan kena tilang karena nggak hapal jalur, hehehe…
—
Beberapa kali saya masuk ke toserba gede dan nanya: “Pintu keluar mana? Kasir di mana?” Terutama kalo ada sale atau jelang hari raya, saat toko banyak barang dan dekor dan… banyak orang!
/tyo/
melly | 16 07 2009 @ 14.16.08
aku suka sekali peta. aku koleksi peta-peta tempat-tempat yang aku kunjungi.
tapi, aku jarang mencari tempat sambil bawa-bawa peta.
bagian ini “Sesederhana apapun tingkat pembuatannya, peta dan pemetaan adalah bagian dari proses berebut kekuasaan atas ruang.”… bikin aku melihat peta dari sisi yang berbeda
—
peta memang bisa membantu kita menata kenangan :)
/tyo/
Daus | 16 07 2009 @ 13.47.27
Divisi peta NGI sebenarnya sedang merancang produk semacam wikimap. Belum jadi tapi :)
—
Ayo, Bung!
/tyo/
DV | 16 07 2009 @ 13.38.53
Saya sejak dulu paling suka mbaca (atau ngeliat?) peta.
Apalagi ada GPS, wah jadi suka berpetualang, Paman :)
Tapi ada satu pertanyaan menarik yang OOT, kenapa Paman sepertinya tak terlibat aktif dalam PB 2009? :)
—
Lha saya kan memang bukan aktivis :)
/tyo/
mpokb | 16 07 2009 @ 13.16.23
patokan saya untuk jakarta sekarang streetdirectory.co.id bikinan singapura yang cukup detail sampai ke jalan kecil. heran juga, singapura itu seperberapanya jakarta yak..
—
Nah, itu dia Mpok! Seperberapanya Jakarta? Ujung-ujungnya ya penguasaan informasi.
/tyo/
dazkudakumping | 16 07 2009 @ 13.13.45
Bukan peta manual bukan peta digital yg akurat Paman, tapi “peta cangkem”, hee….asal dapat menyampaikan pertanyaan dan mengejawantahkan jawaban dengan tepat, dijamin gak bakalan tersesat :)
—
Peta cangkeman dan imajinasi “kanan, kit, depannya, belok, seberangnya…”
/tyo/
kyai slamet | 16 07 2009 @ 13.01.46
dari Blok M naik ojek ke langsat!
beres!!!
—
Untung tukang ojeknya tahu. Nggak semua orang ngerti Langsat.
/tyo/
gum | 16 07 2009 @ 12.40.43
di prj kemarin, saya, istri dan adek2 masing2 saya kasih peta satu2. istri saya ngotot, “halaah, nggak usah pake ginian. cewek tuh paling gak bisa baca peta. ketemuan di stan anu aja jam segini.”
nyatanya, sepanjang perjalanan dia malah jadi navigator saya. ya pakai peta itu tadi :D
—
nah! :D
/tyo/
Chic | 16 07 2009 @ 12.26.21
bahkan sekelas google maps pun ngga sanggup membuat peta canggih… wakakakaka
inget beberapa waktu lalu, menghadiri undangan teman smp untuk reunian di rumahnya yang mengattached kan google map sebagai petunjuk. saya patuh, dan sukses nyasar!!! nyahahahahaha…
akhirnya saya menyalakan GPS navigasi saya di BB…. dan taaaraaaa saya tiba dengan selamat di tujuan bahkan tanpa bertanya.
tapi bener e paman, kalo disuruh ngulang ke sana tanpa GPS, saya pasti ngga bisa. Jalannya ruwet tenan!
—
Paling efektif ya ini: meminta tukang ojek di depan, memandu kita. :D
/tyo/
kw | 16 07 2009 @ 12.19.14
yuk yuk paman….
mari kita dukung….
–
ayo!
/tyo/