Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Bus Sekolah: Untuk DKI atau Bodetabek Juga?

Jumat, 31 Juli 2009 @ 22:41 | Umum

KALAU SAJA INI BISA LEBIH DISERIUSI.

Pagi yang gelap pekan lalu, karena Matahari masih di utara, sekitar pukul lima seperempat, seruas jalan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, macet. Biasa, karena mobil-mobil menurunkan anak sekolah. Sepagi itu orangtua (atau sopir) sudah terpaksa mengantar anak-anak ke sekolahnya.

Ketika hari mulai terang, kemacetan pun berganti wajah. Lalu lintas tersendat karena siswa yang membawa mobil harus menata mobilnya secara on-street parking. Ya di depan sekolah, ya di jalanan sekitar sekolah, termasuk jalan kecil depan markas dagdigdug.com.

Saya tak tahu kenapa sekolah favorit negeri ini tak bisa setegas sekolah lain yang melarang murid membawa mobil. Sebuah SMA swasta di Jakarta Pusat selalu mengingatkan orangtua pada awal tahun ajaran baru bahwa anak mereka dilarang membawa mobil karena dua alasan. Pertama: kapasitas pelataran parkir di sekolah sangat terbatas. Kedua: membolehkan murid membawa mobil berarti memacetkan jalanan di sekitar sekolah, artinya secara sosial itu merugikan.

Saya pernah mendengar seseorang berkata, “Sekolah-sekolah itu kayaknya bangga kalo murid-muridnya pada bawa mobil, bagus-bagus lagi, tanpa peduli bahwa itu bikin macet.” Entahah siapa yang dia maksudkan, apakah kepala sekolah, gurunya, ataukah muridnya — atau semuanya? Walah, masa sih sampai bangga? Bukannya malu? Aneh kalau pakai alasan ala blogger Yogyakarta: “Lha wong mampu kok!” :D

Sebagai pendidik, para guru mungkin tahu bahwa mobil pribadi siswa itu bikin sesak — apalagi ada mobil yang hanya berisi satu anak. Tetapi sebagai bagian dari warga Jabodatabek yang mati akal, mereka akhirnya membiarkan saja, menutup mata terhadap semua masalah, karena mereka pikir tugasnya hanya mengajar (dan mendidik), bukan menanamkan etika sosial.

Adakah solusinya? Beberapa hari ini, setiap pagi saya selalu beriringan dengan sebuah bus sekolah. tak penuh penumpangnya. Entah kenapa. Sesampainya di perempatan CSW, Kebayoran Baru, bus itu sudah kosong. Padahal di sebuah halte Jalan M.T. Haryono, Jakarta Timur, saya lihat bus itu menepi. Mungkin menambah penumpang — selain menurunkan juga.

Dua tahun lalu, sebelum armada bus sekolah sempat beristirahat, anak saya bercerita bahwa menunggu busnya lama, lagi pula sering penuh.

Bus sekolah bagi saya adalah bagian dari solusi. Apalagi bulan ini Pemprov DKI menyatakan akan menambah sepuluh unit bus. Semakin banyak anak terangkut garis semakin baik. Lagi pula bukankah alasan pemajuan jam masuk sekolah ke pukul 06.30 itu untuk mengurangi kemacetan? Jika mobil pengantar maupun mobil pribadi yang dibawa siswa berkurang, tentulah lalu lintas lebih lancar.

Saya sadar, di tingkat para pengguna ini bukan soal mudah. Harus ada feeder untuk anak yang rumahnya jauh dari titik pemberangkatan. Siapa yang mengantar di pagi buta? Bagi orangtua mungkin lebih baik antarkan sekalian saja ke sekolahnya kalau ada motor atau mobil.

Dan jika bicara pengguna, kita harus realistis bahwa Jakarta ini menyatu dengan wilayah tetangga. Yang mondar-mandir bukan hanya para pekerja tetapi juga anak sekolah (dan mahasiswa). Itulah sebabnya pada hari libur panjang jalanan lebih lancar terutama di wilayah persekolahan dan pinggir(an) kota.

Artinya, armada bus sekolah mestinya melibatkan tetangga DKI. Untuk urusan sampah saja DKI bisa bekerja sama (atau memaksa?) tetangganya, apalagi untuk urusan anak sekolah.

Siapakah yang membiayai? Tentu para pembayar pajak di semua wilayah. Soal porsi kontribusi, biarlah legislatif dan eksekutif yang berembuk.

Semoga tak ada lagi pernyataan seperti ini di Berita Jakarta, medianya Pemprov DKI:

Sementara itu, menurut Arkeno, anggota Komis D DPRD DKI Jakarta, mengatakan, mengingat kondisi lalu lintas di Jakarta yang tingkat kemacetannya begitu tinggi, maka dewan menyetujui upaya Dinas Perhubungan DKI Jakarta mengusulkan bus sekolah. Tapi sayang, saat ini realiasasinya tidak maksimal. “Kalau memang bus sekolah itu tidak bisa dioperasikan lagi, hendaknya armadanya dialihfungsikan untuk kepentingan lain,” katanya.

Ada 25 komentar | trackback | Depan

#25

برامج كمبيوتر | 17 12 2009 @ 6.18.02

sebagian orang lalu kreatif, menciptakan bisnis antar-jemput anak sekolah. lumayan toh, 10-an anak dlm 1 mobil… empunya mobil dpt penghasilan tambahan :)


#24

برامج | 17 12 2009 @ 6.14.24

tyank you
good post


#23

برامج مجانية | 17 12 2009 @ 6.13.13

Nice post . keep up the good work


#22

Amim | 04 08 2009 @ 11.44.28

Bagai buah simalakama… agar gak macet jam sekolah di ajukan lebih pagi atau para murid dan mahasiswa di wajibkan naik angkot & bus?
Tp heran juga jika pihak sekolah sudah ngelarang wali murid agar anaknya gak bawa mobil malah gak ada respon..

Malarang murid bawa mobil, tapi tanpa solusi, itu juga tambahan masalah. :)
/tyo/


#21

titiw | 03 08 2009 @ 21.33.20

Iya loh paman, entah kenapa tiap ngeliat bus sekolah ini selalu kosong.. aku yg pegawai rendahan dan ingin duduk di bangku kosong kan jadi tergoda untuk naik.. heheh..

Cobalah pakai seragam sekolah, Tiw… :)
/tyo/


#20

gothic_bless | 03 08 2009 @ 16.06.59

daripada bikin macet dgn mobil” yg byk dan hanya 1 org/mobil…
mending direlain naeh bus sekolah, ato sekolah ksh kebijakan naek bus sekolah utk menghindari macet yg makin berlebih…..

Ya, kalau saja bisa kan? :)
/tyo/


#19

kw | 03 08 2009 @ 14.43.32

enaknya jadi orang kaya. bisa asal-asalan parkir, tak hanya anak sekolah loh…
:(

Oh gitu ya, Pak?
/tyo/


#18

tika nohara | 03 08 2009 @ 14.14.19

sebagian orang lalu kreatif, menciptakan bisnis antar-jemput anak sekolah. lumayan toh, 10-an anak dlm 1 mobil… empunya mobil dpt penghasilan tambahan :)

Saya mau buat. Patungan yuk, Tik! :D
/tyo/


#17

Pembelajar Biologi | 03 08 2009 @ 12.28.15

Enaknya kl dah kuliah, boleh nyari kos dkt skolahnya. Tak perlu naik bis tiap hari. Paman dulu gitu jg kan?

Kebetulan rumah saya jauhnya pas dari kampus. Kadang jalan kaki sih, sekitar 40 menit — tapi basah kuyup keringat. :D Kalau waktu SMA, jarak dengan rumah cuma 500 meteran (gak sampai ding).
/tyo/


#16

winy | 03 08 2009 @ 11.26.32

@johnherf: bis UI gak gratis, waktu naiknya memang gratis, tapi per semester mahasiswa bayar juga…

Nah berarti ada penumpang gelap. :D
/tyo/


#15

winy | 03 08 2009 @ 11.17.38

*clingak-clinguk…pak arif liat gak ya… itu mobil anak2 labschool udah makan tempat bgt tuh…*

Hehehehe… tau aja! :D
/tyo/


#14

DV | 03 08 2009 @ 6.16.08

Setuju, Paman!
Kalau dari kecil sudah diajari untuk memakai sesuatu milik pribadi begini apalagi besarnya nanti, semoga mereka ndak makin cuek dengan infrastruktur umum yang tidak pernah mereka pakai…

Mmmm gitu ya?
/tyo/


#13

johnherf | 02 08 2009 @ 13.57.16

Infrastruktur yang baik akan menunjang model transportasi sekolah.

Pada masa Gubernur Ali Sadikin, angkutan massal anak sekolah menjadi prioritas. Pada era yang lain, anak sekolah berkarcis dengan membeli sebulan penuh. Karcis disponsori oleh produk tertentu. Jadi, ada subsidi dari produsen.

Bus sekolah gratis, namanya “bikun” maksudnya “bus kuning” yang beroperasi di area kampus UI Depok. Bus ini selalu penuh oleh mahasiswa, bahkan dosen atau staf administrasi kerap bisa ikutan naik. Sayang, hanya ada di kampus UI.

Angkutan umum berkarcis? Hmmmm lagi mengingat-ingat, kapan ya terima karcis selain dari DAMRI bandara. :)
/tyo/


#12

edratna | 02 08 2009 @ 12.11.01

Mungkin perlu kebijakan yang agak keras paman…biaya parkir dinaikkan, jadi banyak yang nggak pake mobil. Tapi di satu sisi pem DKI harus membereskan public transport nya.

Anak-anak saya setelah mulai masuk SD, tak pernah diantar, naik angkot atau bis kota. Dan malah membuat mereka suka berpetualang di alam terbuka bersama teman-temannya. Kalau diantar terus menerus, malah kasihan anaknya.

Yang penting mereka pulang ke rumah kan, Bu? Sekarang sih udah pada dewasa ya. :)
/tyo/


#11

gum | 01 08 2009 @ 23.40.50

tiap pulang kerja lewat jalan kasablanka terus ke timur sana, saya kok sering liat bus sekolah yang malah dikomersilkan ya, paman? ada jurusannya juga tuh.

Wah? Perlu disiarkan di blog lengkap dengan pelat nomornya tuh.
/tyo/


#10

Abi_ha_ha | 01 08 2009 @ 21.17.15

Kapan hari saya yang jarang main ke ibukota, datang memanfaatkan busway dari Gambir-Senen-Gambir. Belanja onderdil. Cukup mengagumkan sih. Sebetulnya asal pengelolaan baik, load-carrier balance dan jalurnya konsisten steril, sudah jadi jalan keluar (sementara) yang sangat bagus.

Memang sementara dan butuh banyak syarat. Busway sekarang gak rapat jarak antarbusnya.
/tyo/


#9

Ananda Putra | 01 08 2009 @ 18.55.32

Bus Sekolah memang solusinya. Memang diperlukan adanya feeder dan feeder ini belum tentu menjadi masalah baru. Sejauh2nya feeder dari rumah tentu lebih jauh sekolahnya. Tinggal gimana caranya menentukan dan mengelola titik2 feeder tsb agar mudah diakses lingkungan sekitar.

Sudah saatnya Jakarta menerapkan sistem angkutan massal.

Satu lagi, numpang curhat, saya tidak setuju kalau di Jakarta (khususnya) ada mobil murah. Bayangkan betapa macetnya Jakarta jika semakin banyak orang bisa pakai mobil di Jakarta.

Sudah macet, repot parkir pula. Mungkin itu yang ditunggu pemerintah, biar orang pada kapok — kecuali pejabat. :D
/tyo/


#8

Nazieb | 01 08 2009 @ 18.50.56

Walah, lha wong di sekolah saya dulu saja, yang bawa motor bisa kena sanksi Paman..
*sekolah ndeso* :P

Bukan sekolah ndeso, itu sekolah disiplin. :D
/tyo/


#7

mastongki | 01 08 2009 @ 16.35.23

Itu maksudnya labschool? bilang aja Paman, kan Paman berpengaruh, siapa tau nanti lalulintas menuju mayestik bisa luruh perlahan ;p

Setuju! Paman, sekadar mengingatkan anggota DPRD pernah bilang kalau kebijakan masuk pukul 06.30 itu akan dievaluasi 6 bulan setelah penentapan kebijakan, alangkah baiknya jika dalam evaluasi (kalau ada) itu dimasukkan soal ini, soal bus sekolah.

Ngaco.Kalo saya berpengaruh sudah jadi kepala keamanan Langsat dan sekitarnya. :D
Iya, enam bulan. Belum dievaluasi sudah ganti DPRD baru. Ayo, ditulis di blog!
/tyo/


#6

adipati kademangan | 01 08 2009 @ 14.04.58

“… sepagi itu otangtua (atau sopir) …” typo juga bukan yah?
Memang seharusnya siswa tidak membawa mobil, membawa motor aja masih diragukan apalagi mobil?

Ya. Maaf dan terima kasih…
/tyo/


#5

gagahput3ra | 01 08 2009 @ 9.57.11

Hmm….ide megapolitan perlu dihidupkan kembali? *kompor*

Mestinya asal membawa maslahat :D
/tyo/


#4

Daus | 01 08 2009 @ 8.51.48

Bekasi selalu terpinggirkan :)

“Bek” ada di paling belakang dalam “jabodetabek”. Namanya juga “bek” kan?
/tyo/


#3

handaru | 01 08 2009 @ 2.16.51

Sebuah SMA swasta di Jakarta Pusat selalu mengingatkan orangtua pada awal tahun jaran baru bahwa anak mereka dilarang membawa mobil karena dua alasan.

‘Tahun Jaran’, Paman? He 3x

Maaf dan terima kasih. “A”-nya dimakan kuda. :D
/tyo/


#2

hedi | 31 07 2009 @ 23.38.44

Susah itu ngatur bus sekolah, ya siswanya, ya letak sekolahnya. Informasinya juga nggak jelas, misalnya soal rute.

Itulah perlunya sistem informasi terpadu dan koordinasi pemanfaatannya. Pada jalan sendiri-sendiri sih… :D
/tyo/


#1

adis | 31 07 2009 @ 23.20.00

Bus sekolah yang kutunggu… kutunggu..
Tiada yang datang…
Ku telah lelah berdiri…berdiri..
Menanti-nanti…

Zaman Koes Bros dulu sudah ada ternyata ya… BTW “bus sekolah” atau “bis sekolah” ya?
/tyo/