Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Rasa Aman: Ada di Mana?

Jumat, 31 Juli 2009 @ 18:07 | Komedi Indonesia

TENTU BUKAN RELAKAN SEMUANYA, IKHLASKANLAH…

Wadah sampah di Jalan Ahmad Dahlan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, itu sudah karatan dan borot, tetapi dia terikat rantai. Si pemasang rantai pastilah khawatir bahwa wadah sampah akan diangkut oleh, misalnya saja, pemulung.

Siapakah yang salah? Saya hanya merasakan satu hal: rasa aman itu mahal. Apapun yang bisa diambil akan dirantai, seperti penutup saluran air, AC yang dikerangkeng, dan lampu taman yang dikandangkan.

Itu tadi yang di luar ruang. Sementara yang di dalam rumah, oh… jendela pun diberi teralis seperti penjara, kunci dibuat berlapis, bila perlu tersambung ke alarm. Motor diberi tambahan kunci cakram rem. Mobil beralarm ditambahi palang setir. Belum lagi CCTV yang terhubung ke hard disk 24 jam nonstop. Di luar itu semua, masih ada asuransi yang menanggung (bahkan semua) risiko kerugian. Tambahan: kita masih pula mempekerjakan satpam.

Mari kita berpikir sederhana. Sebetulnya keamanan itu tanggung jawab siapa? Banyak orang bilang tanggung jawab setiap orang, karena polisi yang digaji oleh rakyat belum sanggup melindungi segenap warga masyarakat.

Bagi saya, selama ada ketidakamanan berarti kita belum berhasil membangun ruang hidup bersama yang beradab. Saya sebut belum beradab karena masih ada kekhawatiran bahwa orang lain akan mencuri, setidaknya merusak, hak milik kita. Ada ketidakpercayaan terhadap manusia lain, dan terhadap penanggung jawab keamanan.

Jika menilik wadah sampah, tentu tidak pada tempatnya kita menyalahkan kemiskinan dan orang miskin. Lantas di manakah sebetulnya akar masalah kita?

Mungkin Anda punya jawaban. Yang berhak menjawab bukan hanya sosiolog dan kriminolog.

Posting sejenis: lampu dan remote controller pun diikat

Ada 22 komentar | trackback | Depan

#22

Tong Sampah Berbunyi Garing | oh! {blogombal} | 11 03 2010 @ 21.25.41

[...] tong sampah, berbahan drum bekas, yang dirantai dan digembok itu. Mungkin supaya tidak [...]


#21

vera | 07 10 2009 @ 16.34.56

di rumah sakit tempatku sekolah ada tempat sampah dari plastik, masih baru, makanya tidak dirantai..
tapi disimpen di dalam poliklinik.. padahal tempat sampahnya adalah yang gedhe dan seharusnya ditaro di luar

Mestinya di luar ada, di dalam ada. :)
/tyo/


#20

juncak jancuk | 07 08 2009 @ 15.26.43

mau aman, tinggal di sebelah kantor polisi dong :)

emang itu jaminan? :)
/tyo/


#19

j4p | 05 08 2009 @ 14.06.36

Rasa aman hanya kudapat di dalam DIA.
Pernah pagar & pintu rumah semalaman lupa ngunci, tapi puji Tuhan, tidak terjadi apa-apa. :D


#18

toko ribbon | 04 08 2009 @ 11.34.36

Hmmm… itulah realita masayakat ini yang dikenal ramah, guyub dan rukun. Menurut sy rasa aman akan tercipta jika Niat dan Kesempatan/peluang berbuat rusak sangat kecil.
Namun yang terpenting niat… karena setan akan selalu membisikkan ke dalam hati anak adam utk mencari kesenangan dengan jalan pintas…

Lho bukannya jalan pintas lebih hemat energi? :D
/tyo/


#17

andrias ekoyuono | 03 08 2009 @ 11.14.12

Di kompleks saya, mobil diparkir bahkan manasin mobil di jalan depan rumah. Berarti warga ngerasa aman ya ? Semoga rasa aman di tempat tinggal terus kami rasakan

Top! Di tempat saya, motor baru dipanasin, terus ditinggal ambil sesuatu, eh orang lain yang menunggangi motor itu, dan nggak ketangkep. Motor tentara lagi! Apalagi ninggalin mobil saat mesin menyala, kecuali pas ngunci pintu halaman.
/tyo/


#16

gothic_bless | 03 08 2009 @ 10.17.38

wajar kalo org takut seh…
gmn enggak, sodara saya pernah kecolongan motor pdhl hanya sebentar ditinggal, bkn cmn geto, ditmbh dy udh psg rantai,tapi msh bisa aj diambil..
bingung saya gmn bs diambil…
kalo dblg slh sapa seh,sbnrnya krna faktor ekonomi yg tidk ckp mknya org melakukan kriminal…

Ekonomi baru satu hal kan?
/tyo/


#15

DV | 03 08 2009 @ 6.13.42

Hal seperti ini ndak cuma terjadi di Indonesia, Paman…
Di sini pun juga demikian kok.

Sepertinya yang namanya orang “cluthak” itu dimanapun slalu ada ya :)

Hahaha! Cluthak, Don?
/tyo/


#14

edratna | 02 08 2009 @ 12.07.10

Padahal tempat sampahnya jelek ya paman…tapi justru termasuk yang dilirik pemulung. Coba jika tempat sampahnya dari semen, pasti aman deh, tapi tutup seng nya yang akan dilirik.

Tetangga saya mengalami. Tutup pelat besi tebal diangkut pemulung. Setelah terkejar, si pemulung gak mau balikin, malah bilang, “Bapak aja yang balikin sendiri.” Tempat sampah baru, tutup baru, karena rumah baru.
/tyo/


#13

zulham | 02 08 2009 @ 4.46.15

Daripada-daripada lebih baik waspada paman!

Tapi waspada nonstop bikin sakit jiwa kan, Zul?
/tyo/


#12

jun | 01 08 2009 @ 10.22.43

sorry, typo pada # 11, paman. Mestinya Mat. 6:19…

OK. Ralat diterima, Bos! :D
/tyo/


#11

jun | 01 08 2009 @ 10.17.51

Rasa aman memang mahal, paman. Itu karena banyak manusia —termasuk saya— masih sulit menuruti nasihat Yesus dalam Alkitab (Mat.16:19) agar “berhenti menimbun harta di atas bumi, di mana ngengat dan karat menghabiskannya, dan di mana pencuri membongkar dan mencurinya….”.


#10

afithk | 01 08 2009 @ 9.11.29

itu masalah mindset om..

Betul!
/tyo/


#9

OchaIntroverto | 01 08 2009 @ 1.30.52

Paman, rumah saya tak berteralis, tak pula berkunci ganda ataupun bersatpam di depan. Saya bahkan sempat beberapa kali tidur siang tanpa mengunci pintu, dan kena omelan saat orang tua pulang ke rumah..hahaahah..tapi langsung saya jawab “Khan ada Molly n Rambo di depan”, jagoan saya yang berkaki 4 dan hobi nyalak kalo ada orang tak dikenal..

Sialnya 12 taon lalu, saat anjing saya sakit dan ga bisa tugas di depan, tape mobil ayah ilang digondol maling *sebel*

Sebenernya manusia terlahir bagai kertas putih (tabula rasa) dan yang menuliskan di atasnya adalah lingkungannya. Nah kalo sekarang ada yang jadi maling, berarti yang ngasih kesempatan n ngajarin dia jadi maling, lingkungannya? hihihi *pusink*

Memang bikin pusing. Kompleks sih kadang masalahnya…
/tyo/


#8

hedi | 31 07 2009 @ 23.42.59

Kalau kebutuhan dasar sudah terpenuhi (mininal pangan dan sandang), keamanan relatif terjaga.

Kapan itu terwujud, Sam? Lha wong orang kaya saja masih korup jé.
/tyo/


#7

Abihaha | 31 07 2009 @ 20.13.24

Saya pernah wirausaha jadi PKL, buka lapak jajanan tepi jalan. Siang hari lapak ditinggal. Meja-Kursi di tumpuk stake up lantas dirantai dan gembok, karena logikanya meja-kursi lah asetnya.
Jebul punya jebul, selang 1 minggu, rantainya yang hilang dicokot (boleh translate sunda ataupun jawa, wong tak berbekas, entah bagaimana cara ambilnya) sekaligus gemboknya yang hitam made in China. Kursinya utuh dan tetap utuh sampai setahun lebih berikutnya tanpa rantai.
Akar masalah? Rasa memiliki yang terlalu tinggi.

Menarik! Saya pernah dengar cerita, ada rumah tanpa gembok malah aman, tapi sebelahnya yang gemboknya rangkap, pakai gredel pula, sering disatroni maling. :D
/tyo/


#6

Chic | 31 07 2009 @ 20.07.59

paranoid ya? ketidakpercayaan pada aparat untuk menjaga keamanan?

lah ya gimana mau percaya.. bisa dibayar siiiiih
*nyungsep*

Yah, gak pecaya sama orang lain, gak percaya sama polisi. Repot kan? Lantas siapa yang dipercaya?
/tyo/


#5

handaru | 31 07 2009 @ 20.07.14

Hal apakah yg mencegah orang mencuri? Jawaban makhluk sosial: minimalisasi kesenjangan, ciptakan keadilan. Jawaban makhluk ‘beragama’: ancaman siksa neraka, atau kualat di dunia. Jawaban makhluk individualis: amankan barang sendiri, milik orang lain masa bodoh. Jawaban saya: saya tak punya jawaban.

Sama dong!
/tyo/


#4

cuplis | 31 07 2009 @ 19.25.19

Lapor ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Minta mereka mengawasi para pemulung yang suka main angkut besi nggeletak. Minta mereka bikin peringkat pengusaha lapak besi tua teladan. Minta mereka imbau pabrik peleburan, Krakatau Steel dkk, untuk menolak tong sampah besi yang diduga hasil comotan dari halaman rumah orang. Wadah sampah macam yang disebelah is steel business.

Waduh jauh banget langkahnya! :D
/tyo/


#3

adis | 31 07 2009 @ 18.59.44

Konon di Israel pakaian juga ada yang bergembok paman. Untuk melindungi barang yang “berharga”. :)

Misalnya apa? Harga diri atau harga mati? :D
/tyo/


#2

Karunia | 31 07 2009 @ 18.38.23

Rasa aman akan timbul kalau manusia merasakan selalu diawasi oleh Tuhan.

Diawasi? Bukannya malah merasa gak aman? Mungkin ditemani ya… :D
/tyo/


#1

sawung | 31 07 2009 @ 18.30.28

Teralis itu bisa mematikan kalo terjadi hal darurat sepeti kebakaran atau gempa bumi. Dikompas dulu sampe ada iklannya “mereka yang harusnya dibalik teralis bukan kita” dengan foto anak kecil memandang dari jendela berteralis

Betul! Aneh sekali kita bikin penjara di rumah sendiri. Pernah terjadi satu keluarga punah (ayah, ibu, dua anak) di Jakarta Timur karena terkurung oleh api dan teralis. Menyedihkan. Lebih menyedihkan lagi, itu rumah kontrakan karena rumah mereka di dekat situ sedang direnovasi.
/tyo/