Anak Blog
paman tyo

PAMAN TYO. Antyo Rentjoko, Tyo, Masé. Ayah dari dua putri dan suami dari satu istri. Bermukim di Pondokgede, Jawa Barat. Gombalan terbit setiap sempat dan ingat, tanpa mengenal tenggat. » KONTAK



berbagi





google
yahoo
bing

Taksi, Antarlah Tuanmu Pergi

Kamis, 06 Agustus 2009 @ 08:00 | Komedi Indonesia

PELATIHAN SOPIR DISERAHKAN KEPADA PENUMPANG.

Kenapa Anda naik taksi? Supaya diantar sampai tujuan, tak perlu berganti angkutan, lebih lekas tiba. Intinya: nyaman dan (semoga) aman. Yang terjadi, Anda tahu, bisa juga sebaliknya. Masing-masing dari Anda tampaknya punya pengalaman buruk dengan taksi, bahkan dari taksi ternama sekalipun.

Satu hal yang menjadi pengandaian bahkan keyakinan Anda adalah bahwa sopir taksi tahu tujuan Anda. Tak perlu titik lokasinya persis, tetapi setidaknya sopir paham jalan dan kawasan yang Anda tuju.

Nah, di kota ajaib nan mengesalkan seperti Jakarta, yang jalan searah dan putaran U-nya bisa menggenjot argometer, penentu tujuan (kalau ini pasti!) dan rute adalah penumpang, bukan sopirnya. Penumpang membayar dan memandu — sambil melatih kesabaran supaya tensi tidak melonjak.

Jika penumpang dan sopir sama-sama asing dengan Bentara Budaya di Palmerah Selatan, dan jarang melintasi Kompas Gramedia dari arah Permata Hijau ke Pejompongan, bisa dipastikan taksi akan nyasar ke Pasar Palmerah dan Palmerah Barat bahkan Palmerah Utara. Karena sama-sama Palmerah.

Abaikan saja paragraf barusan jika Anda kurang paham maksud saya. Bentara Budaya dan Kompas memang terkenal, tapi tidak semua orang tahu tempatnya. Bayangkan tempat tak terkenal seperti Jalan Langsat di Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Jika ancar-ancarnya adalah Gandaria, selamat tersesat.

Mau yang lebih mengacaukan orientasi? Jika sopir taksinya, dan penumpangnya, tak dapat membedakan Plaza  Blok M, Blok M Mall dan Blok M Square, maka selamat memmutari Blok M sampai Blok A dan Blok D di Kebayoran Baru, bahkan mungkin sampai Blok S.

Lagi-lagi abaikan paragraf barusan, karena memang tak jelas dan pasti membingungkan. Tapi kalau Anda menyukai kebingungan, inilah tambahannya: jangan masuk ke Jalan Senopati dari arah SCBD kalau Anda tak yakin titik yang Anda tuju, supaya Anda tak memutar jauh. Jika yang membaca posting ini adalah sopir taksi maka mestinya paham. Mestinya sih…

Jakarta terlalu luas. Jakarta juga memberi kesempatan kepada pemberani, termasuk pendatang baru yang jadi sopir taksi. Tinggal persoalannya si sopir mau mengaku atau sok tahu.

Dua pekan lalu saya naik taksi yang sopirnya baru narik tiga hari. Dia baru sebulan di Jakarta. Sebagai sopir baru dia tidak dibekali radio. Bagusnya, waktu saya menutup pintu dia mengaku terus terang. Maka jadilah saya pemandu: ini yang namanya Senayan City, yang itu Plaza Senayan, dan inilah tujuan saya, Ratu Plaza.

Dulu sekali, sudah lama, saya mendapatkan taksi yang sopirnya baru seminggu di Jakarta. Dia belum tahu mana Monas, Jalan Thamrin, Jalan Sudirman, Senayan, TVRI. Jadilah saya pemandu secara terpaksa, kesal sekaligus kagum karena setiap kali saya menjelaskan si Abang langsung menukas seperti ini, “Ah, jadi ini rupanya yang disébut Sénayan… Jauh sékali, Bos!” (Bayangkan logatnya — bunyi “é” seperti pada kafe dan tempe).

Sudahlah, akan terlalu panjang kalau disebut — apalagi jika saya menambahkan alamat Komunitas Salihara, di Jakarta Selatan — bisa-bisa menghabiskan kesempatan Anda untuk berbagi.

Saya hanya mau bilang bahwa satu hal yang memperparah ketersesatan adalah ponsel. Kalau begitu masuk taksi Anda asyik ber-SMS atau baca e-mail, padahal sopirnya buta peta tapi sok yakin, ya selamat tersesat.

Pada suatu pagi buta nan gelap, saya harus ke bandara naik penerbangan pertama. Begitu masuk taksi saya langsung membalas SMS penting yang dari tadi saya tunda.

Saya meleng. Hasilnya: sopir taksi memilih pintu tol yang salah, sampai saya tersadar bahwa saya menuju Bekasi. Sopir taksinya sih yakin, “Ini bener, Pak. Kita ke Soekarno-Hatta kan?” Padahal saya naik taksi dari pool dekat rumah, sehingga si sopir mestinya hapal jalan di lingkungan sana.

Kesalahan utama perusahaan taksi dalam merekrut sopir baru tampaknya tidak ada tes pengenalan peta Jabodetabek. Perusahaan taksi menitipkan pelajaran itu kepada para penumpang. Padahal penumpang naik taksi karena berharap sopirnya khatam peta Ibu Kota.

Salah satu guru dalam masyarakat metropolitan sialan ini berwujud penumpang taksi yang mengajari sopir. Apapun profesi utama si penumpang.

Ada 41 komentar | trackback | Depan

#41

bumisegoro | 09 09 2009 @ 16.14.10

di daerah ambass, aku yg lg nunggu angkot pernah dipaksa orang korea untuk nganter dia ke apartemen rasuna. dia bilang diputer2in keliling jkt. ndilalah, nyampe di apartemen aku dituduh temennya sesama korea berkomplot dg sopir taksi. gara2 sopir taksi yg menyebalkan …


#40

titiw | 07 09 2009 @ 12.03.46

Duh paman.. aku sercing gugel mau nyari alamatnya inmark digital alah nyasar ke sini.. intinya kalo aku mau ke sana, ancer2nya apa dong kalo bukan gandaria..? huhuhu..


#39

ayaayawae | 28 08 2009 @ 3.20.54

taksi di indo harusnya sudah pake GPS om, kaya di singapura :)
biar ga kesasar melulu

Mestinya sih. Di sini penumpangnya yang memandu pakai GPS.
/tyo/


#38

Biyan | 27 08 2009 @ 15.18.31

Waduhhhhhh,,, lagi nyari rute ke gedung BBJ,.. eh nemu nie blog,, jadi takut nyasar… atau disasarin sama si taksi,, :(

Wah Anda orang yang kesasar ke blog ini. Maaf. :)
/tyo/


#37

windede | 18 08 2009 @ 15.58.03

pernah seorang kawan naik taksi dari bandara menuju kantor saya di jl raya kebayoran lama. gara-gara sopir taksi bloon dia memutari setengah wilayah jakarta: dari bandara masuk tol tanjung priok, nyasar ke arah bekasi, belok di cawang, trus ke pondok indah, senayan, bundaran hi, kota/gajah mada… tembus ke grogol, slipi… baru akhirnya nemu kantor lewat jalan palmerah!!! hahaha…

Argometernya panen dong? Kurang ajar! :(
/tyo/


#36

j4p | 18 08 2009 @ 14.37.55

Puji Tuhan kemaren 3 hari tugas di Jkt naek taksi ndak nemu sopir yang ndak tau jalan. Padahal saya juga buta sama sekali rute Jakarta. :D
Apa karena rute saya ke Grand Indonesia jadi semua supir sudah tau rutenya :D

Ketika Grand Indonesia masih soft opening, tak semua sopir taksi tahu tempat itu lho. :)
/tyo/


#35

francespolly | 16 08 2009 @ 18.10.01

tiga kali dari Blok M ke Salihara, tiga kali rutenya beda-beda, akhirnya naik metro 75..:-D

Tidak semua orang Jakarta tahu rute bus kota! Jadi, sampeyan santai saja. :D
/tyo/


#34

edratna | 16 08 2009 @ 7.24.26

Paman, rasanya setiap kali naik taksi, bahkan taksi BB yang terkenal itu, tetap aja saya yang memandu. Lha begitu duduk, pak sopir tanya, “ibu mau lewat mana?”

Parahnya, pernah naik taksi dari menara BDN di Kebon Sirih, begitu taksi masuk jl. Thamrin, sopir baru tanya apa ibu bisa memandu, dia mengaku kalau taksi Bekasi…busyeet deh….padahal BB lho.

Uh, Bu Eni sampai bilang “busyet”. Memang begitulah. Kita yang memandu sopir taksi. :)
/tyo/


#33

blontankpoer | 15 08 2009 @ 15.10.49

kapan-kapan, aku akan jadi sopir saja kalau paman di solo. supaya bisa belajar langsung pada paman…

pertemuan pertama di restoran, kedua nyopir, ketiga ketemu di handphone. dan pada pertemuan kedualah saya bisa berguru secara langsung

Ngece! Sampai sekarang saya nggak hapal Solo! Dulu saya nyetir bersama keluarga, Blontank di depan, kasih panduan sambil cerita. Untung setelah antar dia ke Suara Merdeka, dia sempat kasih ancar-ancar ke Novotel. Suwun. :D
Untuk para pembaca, kalau mau ke Solo, kontaklah Kangmas Blontank ingkang Mbois ini. Dia adalah guide jempolan! Tahu semua hal tentang Solo.
/tyo/


#32

Dony Alfan | 15 08 2009 @ 12.06.32

Kalo sopir dan penumpang sama-sama tak hapal jalan, piye ya?
Btw, itu mr. Didinu ya? Wahahahaha

Penumpang dan sopir sama-sama tak tahu jalan? Itulah yang disebut malapetaka. Untuk mereka yang masih muda, dan pemberani, inilah kesempatan untuk mencari alasan pembenar berkelahi. Hajar, Bleh!
BTW, foto yang sampeyan mangsud itu sopir taksi cadangan. :D
/tyo/


#31

sigit | 13 08 2009 @ 23.41.19

Hahahahaha… saya ketawa, tapi bisa memahami kekesalam om tyo karena pernah juga mengalami hal yg sama..

Kenapa juga gak dibekali GPS di tiap2 taksi ya ? :P

Anehnya, di BB, sopir baru tidak dibekali radio komunikasi. Apalagi GPS! :D
/tyo/


#30

jun | 12 08 2009 @ 18.06.14

Saya jarang naik taksi, Paman. Naik di Solo sih aman. Maklum, kota kecil, dan kota saya sendiri (sendiri? orang-orang lain gimana, dong?. Tapi naik di Yogya, misalnya, beberapa kali dapat pengalaman buruk. Antara lain dapat sopir taksi yang (pura-pura) tidak hapal jalan : hari Jumat saya naik taksi dia dari Lempuyangan ke UPN, dia pakai rute pendek; Sabtu saya naik lagi taksi yang sama —karena sudah janjian sebelumnya— ke UPN, dia carikan rute lain seolah-olah lebih dekat, ternyata malah lebih jauh! Pas saya komplain, dia bilang tadi salah ambil belokan. Weks!

Tapi kalo kita bilang salah pilih taksi, kenapa sopirnya gak terima ya?
/tyo/


#29

grafis cetak | 11 08 2009 @ 12.50.09

hayo,,,yang merasa sopir taxi tuh,…

Saya? :D
/tyo/


#28

ATM TUKANG™ | 11 08 2009 @ 12.37.07

tapi untk bisa khatam daerah2 di jakarta itu butuh waktu lama lho paman,temen saya yg sudah 5 taon di jakarta aja gak hapal2 jalan,padahal sering bermotor ria dia

Jakarta terlalu luas. Bahkan orang kelahiran Jakarta belum tentu mengenal seluruh wilayah.
/tyo/


#27

Ahmad | 11 08 2009 @ 7.58.09

Paman, terima kasih. Saya telah menemukan pagi ceria dengan membaca tulisan ini.

Tahniah.

Ahmad


Terima kasih, Ihwan. Oh ini bacaan pagi di perantauan ya? :D
/tyo/


#26

abu | 11 08 2009 @ 5.39.28

mampir mas, salam kenal pak dan semua pengunjung setia blogombal dari abu blogkublogmu.com.

wah, kalau sy main ke jkt, mudah-mudahan ga ketemu sopir taxi baru yang bisa bikin nyasar kesana kemari

Semoga gak ketemu. Soal nasib sih kadangkala… :)
/tyo/


#25

Mas Kopdang | 10 08 2009 @ 16.04.39

homo sapiens: cara berburu paling utama.
homo sapiensis urbanus: tahu alamat dan paham peta jauh lebih utama.
:)

Nah itu dia! :D
/tyo/


#24

johnherf | 09 08 2009 @ 21.29.51

Malu bertanya sesat di jalan pepatah lama ini berlaku kalau si sopir sok tahu. Oleh karena itu, peta jalan keluaran Gunther W. Holtorf sering jadi pemandu sebelum saya bepergian, meski naik taksi sekalipun. Jangan mudah percaya kepada pengemudi taksi. Jadi, kalau ada gelagat si sopir mulai ngawur jalannya, arahkan saja sesuai dengan keyakinan terhadap diri sendiri. Meski demikian, peta pun sering enggak cocok di lapangan karena jalan di Ibu Kota cepat berubah. Nah, pepatah lama tadi hidup lagi. Bertanyalah kepada siapa pun. Dijamin tak ‘kan tersesat.

Antara lain bertanya kepada tukang ojek :D
/tyo/


#23

Amim | 09 08 2009 @ 18.22.41

hebat juga pengalaman anda bung! yg terpenting sebenarnya adalah rekrutmen di perusahaan taxi itu lho yg dipertanyakan. Masak orang gak tau rute disruh jadi pemandu…yg bener aja!!!! maaf agak emosi…he…he..

Nyari sopir pinter yang berpengalaman kan nggak gampang, Bos. :D
/tyo/


#22

Day | 09 08 2009 @ 13.09.08

hahahaha kayaknya kalo mau daftar jadi sopir taksi harus tes baca peta. kalo gak, dikasih pelatihan tentang jalan-jalan di kota. kalo mau canggih, dikasih GPS aja satu-satu. Tapi mahal dong. kasian.

dilatih dulu jadi penumpang gratisan barang sebulan, day :D
/tyo/


#21

Aji | 08 08 2009 @ 17.07.09

Saya sering menjumpai sopir taksi yg memang gak tahu jalan di jakarta. Setelah itu saya biasakan nyari lokasi pakai peta google, apalagi sekarang sudah pake BB yg ada petanya. jadi nggak pernah tersesat lagi.
Salam kenal Pak Tyo

Salam kenal juga, Aji. Tapi kalau koneksi burook, BB jadi ngeselin. :D
/tyo/


#20

dheche | 07 08 2009 @ 16.43.51

Menghadapi supir taksi yg (pura-pura) gak tau jalan, saya beberapa kali diselamatkan ama googlemaps. Padahal saya jg buta dg belantara jakarta. Seperti beberapa minggu yg lalu sewaktu mencari jalan langsat, dr rumah sebelumnya udah liat di peta kira2 hrs lwt mana aja, sewaktu di dlm taksi, tinggal perhatiin jalan sambil sekali2 ngelirik peta di hp. Memang beberapa kali hrs memandu sang sopir (dg gaya sok tau jkt padahal nyontek ke gugel…hehehehe). Padahal mestinya kalo naek taksi tinggal duduk, tau2 sampe. Gak hrs ikutan pusing milih jalan *sigh*

Sudah bayar, masih memandu. Gak asik. Lain kali Bung Dheche minta dijemput Edo atau Epat gitu. Lalu Bung tinggal tidur pulas, tahu-tahu sampai. :D
/tyo/


#19

handaru | 07 08 2009 @ 15.07.36

Benar2 tak ada lagi tempat untuk berbagi, semua sudut telah tertelusuri. Agaknya postingan ini ditulis dengan ’sepenuh hati, segenap jiwa raga’. :D

Maaf kalau saya tamak sekali. Bukan niat hamba sih. :)
/tyo/


#18

Bram | 07 08 2009 @ 13.09.03

saya pernah pengalaman sekali mau ke Jl. Bugis di Priok malah muter-muter, alhasil turun dari taksi cari taksi lain

Yeah! Memang mengesalkan! :(
/tyo/


#17

phery | 07 08 2009 @ 10.53.04

pelatihan buat sopir taksi itu gimana ya sebenernya?

Keterampilan mengemudi, disiplin, dst. Tapi di BB, sopir baru tak dibekali radio. Jadilah mereka berburu penumpang di pinggir jalan sekalian menghapalkan jalan. :D
/tyo/


#16

Karunia | 07 08 2009 @ 10.34.23

Berarti pak pos lebih hebat dong. Bisa mencari alamat surat tanpa dikasih ancar-ancar sama “penumpangnya”.

Pak Pos hanya edar di kawasan tertentu, bertahun-tahun. Pak Pos baru biasanya tandem bersama seniornya. :)
/tyo/


#15

Embun | 07 08 2009 @ 7.04.48

Dulu sekali, waktu pertama datang ke ibukota saya sok naik taksi, lalu terbaca di pintu samping bahwa tarip minimal Rp 15.000. (wasyem)
Begitu tiba di tujuan saya lihat di argometer tertera Rp 6.500. Dengan lagak sok tahu kaya, saya langsung menyodorkan uang Rp 15.000 dan turun. baru nyadar jika uang 15 ribu tadi untuk minimal pembayaran jika order by phone

oh.. susahnya ibukota…

Tips andalan saya: sok tahulah dengan jalan. Supaya dikira ngerti jalan. Paling tidak beberapa jalan utama sekitar tujuan anda. Biar tidak diputer2… kecuali anda kelebihan uang.

Wah repot juga. Mestinya jadi penumpang itu gak perlu sok tahu, pokoknya duduk manis, sampai, bayar. :)
/tyo/


#14

Abi_ha_ha | 07 08 2009 @ 1.08.42

Saya bacanya kok malah ngguya-ngguyu ya pakdhe.
Belum lama, akibat facebook, ada reuni di Jakarta. Lokasi di Gandaria. Kawan lama kasih patokan depan circle K Gandaria.
Susun rute, mulai shuttle travel BDG-JKT mana yang terdekat, kemudian lanjut taxi.
Shuttle lancar, ndlalah kok taxinya Jl.Gandaria yo nggak tau.
Saya yang awalnya tutup pintu sudah sok tahu, “Gandaria pak, dekat circle K!”, gelagapan sewaktu ditanya, “dari apartemen itu kemana pak?”
Mbatin, “yo mbuuh!”. Tapi tetap pede, “oh ya sudah ke apartemen itu dulu saja patokannya” (sambil berdoa).
Alhamdulillah doa saya terkabul, yaitu ada warung rokok dekat apartemen. Information Desk bermodal beli Hexos.
Nggak jadi malu sama supir taxi, “prapatan depan satu lagi nanti kiri pak!”, mantap mengutip juragan warung.

Gayanya! Sangat Abihaha! :D
/tyo/


#13

dita.gigi | 06 08 2009 @ 19.02.12

taksi sekarang supirnya banyak yg baru2… jadi yg tadinya naik taksi kerena pengen cepet dan selamat (dibanding ngebus) malah jadi lama dan ndak selamat (gara2 tensi naik)

Itulah!
/tyo/


#12

zam | 06 08 2009 @ 18.30.05

mangkanya.. pake Express doms..

tapi ati-ati dengan taksi mirip yg berlogo KE alias Koperasi Express..

hehehehe

Taksi apapun bukan jaminan, Le.
/tyo/


#11

Andy MSE | 06 08 2009 @ 15.25.13

Jakarta menyebalkan…

Memang!
/tyo/


#10

DV | 06 08 2009 @ 13.23.32

Aku malah pernah ketipu, dari Kampung Rambutan ke Cibubur yang katanya dekat (dan memang dekat) kena 130 rebu gara2 ngga bisa ngebedain taksi BB dan taksi ‘mirip’ BB..:)

Waduh! Rp 130.000? Cilaka! :(
/tyo/


#9

mpokb | 06 08 2009 @ 12.13.37

Haduuuh.. Sopir taksi armada terkenal itu pun bukan jaminan tahu arah. Dulu ada sih sopir yang kasih penjelasan kode2 di badan mobil. Kalau mau ke Jakarta Selatan pilih kode ini saja, kalo ke Tangerang pilih kode itu.. Lha, kalo di jalan, apalagi malam2, masak kita mesti pilih2 dulu kode poolnya apa?

Saran saya buat penumpang yang sudah kadung naik, segera turun di tempat aman terdekat kalau sopir bergelagat (sok) bingung. Dan mulai sekarang, sepertinya sebelum naik kita harus tanya dulu, tahu nggak arah yang dituju. Kalau nggak tahu, tunggu yang berikutnya aja deh daripada bete. Penumpang taksi di Jakarta sudah terlalu baikkkk dan pengertian..

Dari sebuah pool belum tentu kenal wilayah sekitarnya — kecuali rute berangkat dan pulang dari/ke pool. Percayalah.
/tyo/


#8

Erwin M | 06 08 2009 @ 11.16.38

Paman, di blog paman kok tidak ada icon ’share to facebook’ ya? atau saya yang tidak nemu letaknya?

Nanti ditambahi. Terima kasih. :)
/tyo/


#7

mbelgedez™ | 06 08 2009 @ 10.16.44

.
Fyuuuuh….
Menahan napas. Sering ngalami ketemu sopir model gitu, soale.

Paling parah ketemu sopir bangkotan yang pura-pura bego, biar dapet argo tinggi dia sengaja salah arah….

Hajar saja, Pak Mbel! Hajar! :D
/tyo/


#6

Hedi | 06 08 2009 @ 10.00.36

Dungaren sampeyan numpak taksi, biasae mlaku :D
tapi bener, jangan masuk Senopati lewat SCBD kalo ga tau jalan, muternya jauh dan macet pula hihihi

Biasanya sih jalan, Sam.
/tyo/


#5

andrias ekoyuono | 06 08 2009 @ 9.42.29

Kalau orang dari luar kota sering berpendapat supir taksi pasti hapal jakarta sampai ke gang2nya :-)

Mitos ya? :D
/tyo/


#4

Nazieb | 06 08 2009 @ 9.37.53

Walaah.. kocak Paman.. :lol:

Saya juga pernah mau ke TIM, karena yakin sopir taksi di Jakarta sudah hafal semua tempat, yah saya naik taksi B**e B**d. Tapi pas sudah jalan cukup jauh dia baru ngaku kalau tidak tahu di mana itu TIM..
:-|

Nah! Lagi! Memang payah orang-orang itu! :(
/tyo/


#3

frozzy | 06 08 2009 @ 9.17.40

ah…baru saja saya mengalami hal yang sama. dan ini terjadi beberapa kali dengan taksi ternama yang berlogo burung biru itu. ah….menguji kesabaran banget. mana supirnya sok tahu lagi.

Betul, menguji kesabaran. Mereka dapat pahala. :)
/tyo/


#2

sawung | 06 08 2009 @ 8.44.21

bekali taksinya dengan peta murah meriah masak perusahaannya tak mampu?

Ide bagus. Sawung layak jadi manajer HRD, atau manajer pool :)
/tyo/


#1

geblek | 06 08 2009 @ 8.15.15

waks saya blm tau seluk beluk jakarta paman, ndak kebayang kalau dilepas sendiri mungkin bakalan ndak sampe tujuan hihihihi katrok sayah

Bukan sampeyan yang katro, tapi sopir taksinya. Percayalah. :)
/tyo/