Taksi, Antarlah Tuanmu Pergi
PELATIHAN SOPIR DISERAHKAN KEPADA PENUMPANG.
Kenapa Anda naik taksi? Supaya diantar sampai tujuan, tak perlu berganti angkutan, lebih lekas tiba. Intinya: nyaman dan (semoga) aman. Yang terjadi, Anda tahu, bisa juga sebaliknya. Masing-masing dari Anda tampaknya punya pengalaman buruk dengan taksi, bahkan dari taksi ternama sekalipun.
Satu hal yang menjadi pengandaian bahkan keyakinan Anda adalah bahwa sopir taksi tahu tujuan Anda. Tak perlu titik lokasinya persis, tetapi setidaknya sopir paham jalan dan kawasan yang Anda tuju.
Nah, di kota ajaib nan mengesalkan seperti Jakarta, yang jalan searah dan putaran U-nya bisa menggenjot argometer, penentu tujuan (kalau ini pasti!) dan rute adalah penumpang, bukan sopirnya. Penumpang membayar dan memandu — sambil melatih kesabaran supaya tensi tidak melonjak.
Jika penumpang dan sopir sama-sama asing dengan Bentara Budaya di Palmerah Selatan, dan jarang melintasi Kompas Gramedia dari arah Permata Hijau ke Pejompongan, bisa dipastikan taksi akan nyasar ke Pasar Palmerah dan Palmerah Barat bahkan Palmerah Utara. Karena sama-sama Palmerah.
Abaikan saja paragraf barusan jika Anda kurang paham maksud saya. Bentara Budaya dan Kompas memang terkenal, tapi tidak semua orang tahu tempatnya. Bayangkan tempat tak terkenal seperti Jalan Langsat di Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Jika ancar-ancarnya adalah Gandaria, selamat tersesat.
Mau yang lebih mengacaukan orientasi? Jika sopir taksinya, dan penumpangnya, tak dapat membedakan Plaza Blok M, Blok M Mall dan Blok M Square, maka selamat memmutari Blok M sampai Blok A dan Blok D di Kebayoran Baru, bahkan mungkin sampai Blok S.
Lagi-lagi abaikan paragraf barusan, karena memang tak jelas dan pasti membingungkan. Tapi kalau Anda menyukai kebingungan, inilah tambahannya: jangan masuk ke Jalan Senopati dari arah SCBD kalau Anda tak yakin titik yang Anda tuju, supaya Anda tak memutar jauh. Jika yang membaca posting ini adalah sopir taksi maka mestinya paham. Mestinya sih…
Jakarta terlalu luas. Jakarta juga memberi kesempatan kepada pemberani, termasuk pendatang baru yang jadi sopir taksi. Tinggal persoalannya si sopir mau mengaku atau sok tahu.
Dua pekan lalu saya naik taksi yang sopirnya baru narik tiga hari. Dia baru sebulan di Jakarta. Sebagai sopir baru dia tidak dibekali radio. Bagusnya, waktu saya menutup pintu dia mengaku terus terang. Maka jadilah saya pemandu: ini yang namanya Senayan City, yang itu Plaza Senayan, dan inilah tujuan saya, Ratu Plaza.
Dulu sekali, sudah lama, saya mendapatkan taksi yang sopirnya baru seminggu di Jakarta. Dia belum tahu mana Monas, Jalan Thamrin, Jalan Sudirman, Senayan, TVRI. Jadilah saya pemandu secara terpaksa, kesal sekaligus kagum karena setiap kali saya menjelaskan si Abang langsung menukas seperti ini, “Ah, jadi ini rupanya yang disébut Sénayan… Jauh sékali, Bos!” (Bayangkan logatnya — bunyi “é” seperti pada kafe dan tempe).
Sudahlah, akan terlalu panjang kalau disebut — apalagi jika saya menambahkan alamat Komunitas Salihara, di Jakarta Selatan — bisa-bisa menghabiskan kesempatan Anda untuk berbagi.
Saya hanya mau bilang bahwa satu hal yang memperparah ketersesatan adalah ponsel. Kalau begitu masuk taksi Anda asyik ber-SMS atau baca e-mail, padahal sopirnya buta peta tapi sok yakin, ya selamat tersesat.
Pada suatu pagi buta nan gelap, saya harus ke bandara naik penerbangan pertama. Begitu masuk taksi saya langsung membalas SMS penting yang dari tadi saya tunda.
Saya meleng. Hasilnya: sopir taksi memilih pintu tol yang salah, sampai saya tersadar bahwa saya menuju Bekasi. Sopir taksinya sih yakin, “Ini bener, Pak. Kita ke Soekarno-Hatta kan?” Padahal saya naik taksi dari pool dekat rumah, sehingga si sopir mestinya hapal jalan di lingkungan sana.
Kesalahan utama perusahaan taksi dalam merekrut sopir baru tampaknya tidak ada tes pengenalan peta Jabodetabek. Perusahaan taksi menitipkan pelajaran itu kepada para penumpang. Padahal penumpang naik taksi karena berharap sopirnya khatam peta Ibu Kota.
Salah satu guru dalam masyarakat metropolitan sialan ini berwujud penumpang taksi yang mengajari sopir. Apapun profesi utama si penumpang.
Antyo Rentjoko. Pondokgede - Jakarta PP. Ngeblog setiap sempat dan ingat tanpa mengenal tenggat. Tidak menolak sumbangan uang asal tanpa syarat. :)
Blog ini dan blog lainnya teragregasikan di antyo.rentjoko.net.
Message from publisher
Tentang blogombal.com, itu tidak ada hubungannya dengan saya. :)
Cicitcuit!- @kelakuan mana urlnya? /@PamanTyo May 22, 2012 snydez (snydez)
- pagi2 buka blog sendiri dan ngeliat @PamanTyo nge-like dan komentar di sana itu mendatangkan kegembiraan :D May 22, 2012 kelakuan (arya p)
Recent Posts
- Sulit Sekali Memahami FPI
- Warga Boleh Menghukum Mati Pencuri?
- Topik Paling Menjemukan: Korupsi
- Tentang Anjing dan Dawam
- Kisah Dua Keluarga Kretek
- Tentang Mayat Nenek Menteng
- Musiknya Guruh
- Moerdiono & Poppy Dharsono: Asmara Sire & Non
- Sopir: Pelengkap Mobil
- Mode, Modis, Modiste
- Anda Nanti Memilih Siapa?
- Data Rekaman Musik Indonesia: Perlukah? Pentingkah?
- Foke dalam Biennale Jakarta
- Semoga Serbabaiklah Semuanya
- Jual-Beli Ijazah Palsu
Archives
Random Posts
Suami Takut Istri
February 16, 2007 by AntyoKALAU ISTRI TAKUT SUAMI?
Guyon itu muncul lagi dalam kelas pagi ini. Tentang orang bermasalah, yang mengalami penjajahan berurutan. Dijajah Belanda, Jepang, Soekarno, Soeharto, bos kecil, bos besar, dan… istri. Kesimpulan: hanya lelaki sial yang mengalami itu. Para murid, pria maupun wanita, tertawa.
Dalam masyarakat patriarkal, dengan mitos tentang superioritas pria, suami yang didominasi [...]
Recent Comments
MY.O.Bz» ayo kunjungi situs kami yg akan memberi segala informasi yg anda butuhkan.. blog terdasyat di tahun 2012… yg paling penting akan diajarkan bagaimana mencari uang dengan blogspot secara GRATIS!! sekali lagi GRATIS!! kunjungi dan buktikan situs kami.. anda bisa mencotoh bagaimana...
obat alami jantung» bagus sekali artikelnya pak , semoga artikelnya bermanfaat bagi semua orang dan berguna :) sukses selalu iyah pak .
motorselow» wah memang mereka kepalanya sudah dari batu. gitu juga hatinya. ngatasin nya ya dengan air dari kehangatan kita
Cara Bisnis Pulsa» Kusimpan buat nambah pegetahuan..
jimmy» bagus sekali artikelnya, thx
Recent Trackbacks
- agcgoblog.info: Mainan Jadul,Perahu Kaleng Othok-othok
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- Blogombal [√]: Menuju Kesempurnaan — Hayah!
- http://www.8count.ca/forums/profile.php?mode=viewprofile&u=591638: Go big or go home. Because it's true. What do...
- Elsaelsi's Blog: Menelusuri Perjalanan Sebuah Award ala Narablog
Categories
- Advertorial (3)
- Keluarga (44)
- Komedi Indonesia (134)
- Lihat Baca Dengar (91)
- Maklumat (11)
- Ngeblog (27)
- Pekerjaan (4)
- Personal (101)
- Selingan (124)
- Umum (401)
Ebook Tipis
![Blogombal [√]](http://blogombal.org/wp-content/uploads/2010/11/blogombal-java691.png)





homo sapiens: cara berburu paling utama.
homo sapiensis urbanus: tahu alamat dan paham peta jauh lebih utama.
:)
—
Nah itu dia! :D
/tyo/
Malu bertanya sesat di jalan pepatah lama ini berlaku kalau si sopir sok tahu. Oleh karena itu, peta jalan keluaran Gunther W. Holtorf sering jadi pemandu sebelum saya bepergian, meski naik taksi sekalipun. Jangan mudah percaya kepada pengemudi taksi. Jadi, kalau ada gelagat si sopir mulai ngawur jalannya, arahkan saja sesuai dengan keyakinan terhadap diri sendiri. Meski demikian, peta pun sering enggak cocok di lapangan karena jalan di Ibu Kota cepat berubah. Nah, pepatah lama tadi hidup lagi. Bertanyalah kepada siapa pun. Dijamin tak ‘kan tersesat.
—
Antara lain bertanya kepada tukang ojek :D
/tyo/
hebat juga pengalaman anda bung! yg terpenting sebenarnya adalah rekrutmen di perusahaan taxi itu lho yg dipertanyakan. Masak orang gak tau rute disruh jadi pemandu…yg bener aja!!!! maaf agak emosi…he…he..
—
Nyari sopir pinter yang berpengalaman kan nggak gampang, Bos. :D
/tyo/
hahahaha kayaknya kalo mau daftar jadi sopir taksi harus tes baca peta. kalo gak, dikasih pelatihan tentang jalan-jalan di kota. kalo mau canggih, dikasih GPS aja satu-satu. Tapi mahal dong. kasian.
—
dilatih dulu jadi penumpang gratisan barang sebulan, day :D
/tyo/
Saya sering menjumpai sopir taksi yg memang gak tahu jalan di jakarta. Setelah itu saya biasakan nyari lokasi pakai peta google, apalagi sekarang sudah pake BB yg ada petanya. jadi nggak pernah tersesat lagi.
Salam kenal Pak Tyo
—
Salam kenal juga, Aji. Tapi kalau koneksi burook, BB jadi ngeselin. :D
/tyo/
Menghadapi supir taksi yg (pura-pura) gak tau jalan, saya beberapa kali diselamatkan ama googlemaps. Padahal saya jg buta dg belantara jakarta. Seperti beberapa minggu yg lalu sewaktu mencari jalan langsat, dr rumah sebelumnya udah liat di peta kira2 hrs lwt mana aja, sewaktu di dlm taksi, tinggal perhatiin jalan sambil sekali2 ngelirik peta di hp. Memang beberapa kali hrs memandu sang sopir (dg gaya sok tau jkt padahal nyontek ke gugel…hehehehe). Padahal mestinya kalo naek taksi tinggal duduk, tau2 sampe. Gak hrs ikutan pusing milih jalan *sigh*
—
Sudah bayar, masih memandu. Gak asik. Lain kali Bung Dheche minta dijemput Edo atau Epat gitu. Lalu Bung tinggal tidur pulas, tahu-tahu sampai. :D
/tyo/
Benar2 tak ada lagi tempat untuk berbagi, semua sudut telah tertelusuri. Agaknya postingan ini ditulis dengan ‘sepenuh hati, segenap jiwa raga’. :D
—
Maaf kalau saya tamak sekali. Bukan niat hamba sih. :)
/tyo/
saya pernah pengalaman sekali mau ke Jl. Bugis di Priok malah muter-muter, alhasil turun dari taksi cari taksi lain
—
Yeah! Memang mengesalkan! :(
/tyo/
pelatihan buat sopir taksi itu gimana ya sebenernya?
—
Keterampilan mengemudi, disiplin, dst. Tapi di BB, sopir baru tak dibekali radio. Jadilah mereka berburu penumpang di pinggir jalan sekalian menghapalkan jalan. :D
/tyo/
Berarti pak pos lebih hebat dong. Bisa mencari alamat surat tanpa dikasih ancar-ancar sama “penumpangnya”.
—
Pak Pos hanya edar di kawasan tertentu, bertahun-tahun. Pak Pos baru biasanya tandem bersama seniornya. :)
/tyo/
Dulu sekali, waktu pertama datang ke ibukota saya sok naik taksi, lalu terbaca di pintu samping bahwa tarip minimal Rp 15.000. (wasyem)
Begitu tiba di tujuan saya lihat di argometer tertera Rp 6.500. Dengan lagak sok tahu kaya, saya langsung menyodorkan uang Rp 15.000 dan turun. baru nyadar jika uang 15 ribu tadi untuk minimal pembayaran jika order by phone
oh.. susahnya ibukota…
Tips andalan saya: sok tahulah dengan jalan. Supaya dikira ngerti jalan. Paling tidak beberapa jalan utama sekitar tujuan anda. Biar tidak diputer2… kecuali anda kelebihan uang.
—
Wah repot juga. Mestinya jadi penumpang itu gak perlu sok tahu, pokoknya duduk manis, sampai, bayar. :)
/tyo/
Saya bacanya kok malah ngguya-ngguyu ya pakdhe.
Belum lama, akibat facebook, ada reuni di Jakarta. Lokasi di Gandaria. Kawan lama kasih patokan depan circle K Gandaria.
Susun rute, mulai shuttle travel BDG-JKT mana yang terdekat, kemudian lanjut taxi.
Shuttle lancar, ndlalah kok taxinya Jl.Gandaria yo nggak tau.
Saya yang awalnya tutup pintu sudah sok tahu, “Gandaria pak, dekat circle K!”, gelagapan sewaktu ditanya, “dari apartemen itu kemana pak?”
Mbatin, “yo mbuuh!”. Tapi tetap pede, “oh ya sudah ke apartemen itu dulu saja patokannya” (sambil berdoa).
Alhamdulillah doa saya terkabul, yaitu ada warung rokok dekat apartemen. Information Desk bermodal beli Hexos.
Nggak jadi malu sama supir taxi, “prapatan depan satu lagi nanti kiri pak!”, mantap mengutip juragan warung.
—
Gayanya! Sangat Abihaha! :D
/tyo/
taksi sekarang supirnya banyak yg baru2… jadi yg tadinya naik taksi kerena pengen cepet dan selamat (dibanding ngebus) malah jadi lama dan ndak selamat (gara2 tensi naik)
—
Itulah!
/tyo/
mangkanya.. pake Express doms..
tapi ati-ati dengan taksi mirip yg berlogo KE alias Koperasi Express..
hehehehe
—
Taksi apapun bukan jaminan, Le.
/tyo/
Jakarta menyebalkan…
—
Memang!
/tyo/
Aku malah pernah ketipu, dari Kampung Rambutan ke Cibubur yang katanya dekat (dan memang dekat) kena 130 rebu gara2 ngga bisa ngebedain taksi BB dan taksi ‘mirip’ BB..:)
—
Waduh! Rp 130.000? Cilaka! :(
/tyo/
Haduuuh.. Sopir taksi armada terkenal itu pun bukan jaminan tahu arah. Dulu ada sih sopir yang kasih penjelasan kode2 di badan mobil. Kalau mau ke Jakarta Selatan pilih kode ini saja, kalo ke Tangerang pilih kode itu.. Lha, kalo di jalan, apalagi malam2, masak kita mesti pilih2 dulu kode poolnya apa?
Saran saya buat penumpang yang sudah kadung naik, segera turun di tempat aman terdekat kalau sopir bergelagat (sok) bingung. Dan mulai sekarang, sepertinya sebelum naik kita harus tanya dulu, tahu nggak arah yang dituju. Kalau nggak tahu, tunggu yang berikutnya aja deh daripada bete. Penumpang taksi di Jakarta sudah terlalu baikkkk dan pengertian..
—
Dari sebuah pool belum tentu kenal wilayah sekitarnya — kecuali rute berangkat dan pulang dari/ke pool. Percayalah.
/tyo/
Paman, di blog paman kok tidak ada icon ‘share to facebook’ ya? atau saya yang tidak nemu letaknya?
–
Nanti ditambahi. Terima kasih. :)
/tyo/
.
Fyuuuuh….
Menahan napas. Sering ngalami ketemu sopir model gitu, soale.
Paling parah ketemu sopir bangkotan yang pura-pura bego, biar dapet argo tinggi dia sengaja salah arah….
—
Hajar saja, Pak Mbel! Hajar! :D
/tyo/
Dungaren sampeyan numpak taksi, biasae mlaku :D
tapi bener, jangan masuk Senopati lewat SCBD kalo ga tau jalan, muternya jauh dan macet pula hihihi
—
Biasanya sih jalan, Sam.
/tyo/
Kalau orang dari luar kota sering berpendapat supir taksi pasti hapal jakarta sampai ke gang2nya :-)
—
Mitos ya? :D
/tyo/
Walaah.. kocak Paman.. :lol:
Saya juga pernah mau ke TIM, karena yakin sopir taksi di Jakarta sudah hafal semua tempat, yah saya naik taksi B**e B**d. Tapi pas sudah jalan cukup jauh dia baru ngaku kalau tidak tahu di mana itu TIM..
:-|
—
Nah! Lagi! Memang payah orang-orang itu! :(
/tyo/
ah…baru saja saya mengalami hal yang sama. dan ini terjadi beberapa kali dengan taksi ternama yang berlogo burung biru itu. ah….menguji kesabaran banget. mana supirnya sok tahu lagi.
—
Betul, menguji kesabaran. Mereka dapat pahala. :)
/tyo/
bekali taksinya dengan peta murah meriah masak perusahaannya tak mampu?
—
Ide bagus. Sawung layak jadi manajer HRD, atau manajer pool :)
/tyo/
waks saya blm tau seluk beluk jakarta paman, ndak kebayang kalau dilepas sendiri mungkin bakalan ndak sampe tujuan hihihihi katrok sayah
—
Bukan sampeyan yang katro, tapi sopir taksinya. Percayalah. :)
/tyo/